SELEMBAR KERTAS

SELEMBAR KERTAS
Episode 181


__ADS_3

Hendri segera membawa Zahra masuk ke dalam mobilnya, perjalanan berlanjut menuju Mansion Hendri yang letaknya hanya beberapa menit dari sana.


Masih hening dalam suasana malam yang begitu dingin, Hendri tak berani bertanya apapun saat Zahra hanya menatap jendela mobil untuk melihat pemandangan yang menembus malam.


"Maaf" ucap lirih Zahra samar terdengar di telinga Hendri.


"Apa?" Tanya Hendri.


"Aku minta maaf, sudah merepotkan mu, ini hampir saja pagi, harusnya kamu beristirahat dengan tenang saat ini" ucap Zahra menatap sekejab Hendri yang masih fokus menyetir.


"Tidak apa-apa, yang penting kamu selamat dan tidak terjadi apapun" jawab Hendri sambil tersenyum kalem.


"Terimakasih Hen" hanya itu yang Zahra ucapkan.


Hendri lagi-lagi hanya bisa tersenyum, tak ingin dirinya memaksa Zahra untuk menceritakan semua yang terjadi, walaupun sebenarnya sangat ingin.


Nampak Zahra menggosok punggung tangannya yang merasa kedinginan, melihat hal itu Hendri segera mengatur kembali tombol AC yang berada di dalam mobil.


"Apa kamu kedinginan?" Tanya Hendri.


"Lumayan, mungkin karena baju aneh ku juga, aku tak berniat pergi jauh dari Apartemen, tapi malah harus berakhir disini bersamamu, semua gara-gara di bre-ng-sek itu" ucap Zahra membuat Hendri mengerutkan kening.


"Ada yang mau menyakitimu?" Tanya Hendri menelisik.


"Apa?" Sahut Zahra.


"Apa ada seseorang yang mau menyakitimu?" Tanya Hendri lagi.


"Aku tidak tau, maaf" jawab Zahra yang masih enggan untuk bercerita kejadian yang baru dialaminya.


Hendri lagi-lagi hanya tersenyum, fokus kembali ke jalanan, hingga akhirnya sampai di tempat tujuan.


Zahra mendongak saat mobil memasuki kawasan Mansion mewah dengan nuansa yang di dominasi warna putih, nampak beberapa penjaga di sana, Zahra bersyukur dalam hati karena kehidupan Hendri sudah sangat sukses saat ini.


Zahra keluar dari mobil saat Hendri belum sempat membukakan pintu, dan Zahra hanya tersenyum.


"Jangan terlalu memanjakan ku, aku bukan Zahra yang harus meminta bantuanmu seperti dulu" ucap Zahra.


"Sorry, mungkin sudah terbiasa, aku selalu menganggap mu seperti seorang Puteri" jawab Hendri.


Zahra terkekeh, lalu berjalan di samping Hendri untuk segera masuk ke dalam Mansion yang begitu mewah dan megah.


"Sepi sekali" ucap Zahra.

__ADS_1


"Akan ramai bertambah kamu jika bersedia untuk tinggal disini" sahut Hendri.


"Apa ini sebuah permintaan?"


"Tentu saja, aku akan sangat senang bertambah satu anggota lagi di Mansion sebesar ini"


"Akan banyak isu miring kalau sampai aku tinggal disini, apalagi kamu sekarang begitu terkenal di dunia bisnis" ucap Zahra.


"Itu bukan masalah yang sulit" sahut Hendri yang kini mengulurkan tangan saat Zahra menaiki teras menuju ke pintu utama Mansion.


"Ayo masuk" ucap Hendri.


"Terimakasih, aku serasa sudah tua kalau kamu perlakukan seperti ini" sahut Zahra membuat Hendri tertawa kembali.


Kini Hendri sudah menggenggam tangan Zahra dan membawa nya masuk melewati ruang utama menuju rumah tengah, dimana ada sofa yang berjajar dan sebuah televisi yang cukup besar, lengkap dengan semua pernak perniknya.


"Tangan mu dingin sekali" ucap Hendri yang kini sudah melepaskan tangan Zahra dan mempersilahkan duduk di kursi sofa.


"Ya, cuaca lumayan dingin tadi, dan aku hanya memakai pakaian seadanya seperti ini" jawab Zahra.


Hendri kembali memegang tangan Zahra, menggosok punggung tangannya agar terasa lebih hangat, beberapa asisten rumah tangga juga diperintahkan untuk menyiapkan kamar tidur dan juga minuman hangat.


"Coklat hangat?" Ucap Zahra sedikit terkejut karena Hendri masih ingat akan minuman kesukaannya.


"Tidak akan, aku sangat menyukai ini" jawab Zahra yang kini sudah mengambil coklat hangat dan meminumnya perlahan.


Zahra menikmati Kemewahan Mansion Hendri sambil menunggu kamar yang akan di tempati nya siap.


"Apa kau sudah mengantuk?" Tanya Hendri yang kini duduk lebih dekat lagi dengan Zahra.


"Lumayan, aku ingin segera beristirahat" jawab Zahra.


"Maaf, kamar sepertinya masih di bersihkan" ucap Hendri.


"Tidak apa-apa, aku bisa menunggunya"


"Bagaimana kalau kamu tidur disini dulu, nanti aku akan membangunkan mu kalau semua sudah siap" ucap Hendri yang melihat mata Zahra tampak memerah dan lelah.


"Hem, terimakasih" ucap Zahra yang kini merebahkan kepalanya di sandaran sofa dan sangat nyaman di rasakannya.


"Aku akan menceritakan semuanya besok Hen, sekarang ini aku ingin beristirahat dulu" ucap Zahra yang mulai memejamkan matanya.


"Tidak apa-apa, kapanpun kamu siap, aku bersedia mendengarkannya" jawab Hendri tersenyum melihat Zahra dengan wajah tanpa makeup tapi nampak lebih segar dan manis.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, mungkin sudah terlalu lelah batin dan raganya, hingga kini Zahra tertidur dengan mudahnya.


Hendri membenarkan hijab Zahra yang nampak sedikit miring, lalu perlahan membenarkan posisinya untuk terlentang agar lebih nyaman.


"Sepertinya kamu benar-benar lelah" ucap lirih Hendri.


Tak lama kemudian, Hendri di kejutkan dengan kedatangan asisten rumah tangganya yang akan memberitahukan kamar sudah siap.


"Sst, jangan terlalu keras"


"Maaf Tuan, kamar sudah siap"


"Okey, pergilah"


Asisten rumah tangga itu segera menunduk dan pergi dari sana, sementara Hendri nampak bingung, mau membangunkan Zahra tak tega, tapi bagaimana pun Zahra harus tidur di tempat yang semestinya.


Akhirnya keputusan terakhir, Hendri memberanikan diri menggendong Zahra untuk pindah ke kamar yang sudah tersedia.


"Maaf Zahra, kalau besok kamu marah, aku akan terima" ucap Hendri kini sudah menggendong Zahra yang tidak terbangun sama sekali saat tubuhnya diangkat olehnya.


Menurunkan dengan pelan tubuh Zahra diatas tempat tidur adalah hal terberat bagi Hendri, tak di pungkiri has-rat laki-laki nya segera timbul saat tubuhnya bersentuhan dengan erat, walaupun masih terbatasi dengan kain yang menempel di tubuh Zahra.


"Oh sh-it!" Ucap Hendri melihat bibir Zahra nampak sedikit terbuka dan begitu Se-ksi menggoda.


Buru-buru Hendri keluar dari kamar Zahra sebelum dirinya benar-benar tak bisa menahan diri, hingga tanpa sadar hampir saja menabrak salah satu pelayan yang di tugaskan untuk menjaga Zahra.


"Maaf Tuan" ucap pelayan itu, dan beruntung masih bisa mempertahankan air minum dalam tempatnya.


"Oh my_, sorry, aku tak melihatnya, itu air untuk siapa?" Tanya Hendri.


"Yang ini buat Tuan Hendri, dan yang ini untuk Nona_?" Ucapan Pelayan itu tertahan.


"Zahra, itu Nama panggilannya" sahut Hendri.


"Oh iya Tuan, Nona Zahra, nama yang cantik" ucap Pelayan itu sambil tersenyum dan berlalu.


"Secantik orangnya" gumam Hendri meneruskan kata-kata yang di rasa kurang lengkap.


Hendri segera masuk kedalam kamarnya, menghidupkan AC, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian yang lebih nyaman untuk istirahat nya.


"Aku ingin tau semua tentang kabar kehidupan pribadi Zahra Malina Milton, bahkan tentang perceraiannya" suara Hendri terdengar dalam sambungan ponsel.


Setelah itu, Hendri segera tidur dalam balutan selimut seperti malam-malam sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2