SELEMBAR KERTAS

SELEMBAR KERTAS
Episode 184.


__ADS_3

Zahra segera mundur satu langkah kembali untuk menjaga jarak dengan mantan suaminya.


"Untuk apa kamu menginginkanku, bukankah sudah jelas kita tidak punya hubungan apapun lagi?" Zahra menegaskan kepada sosok laki-laki yang benar-benar tidak tahu malu.


"Tapi aku masih sangat merindukanmu, bukan hal yang sulit untuk kita kembali lagi kan?"


"Apa kau bilang, sungguh sangat lucu, pergilah dan jangan menggangguku, aku sudah sangat bahagia lepas darimu, dan aku harap jangan sekali-kali menampakkan wajahmu di hadapanku lagi" ucap Zahra dengan ketus.


Tentu saja Denta sangat tidak bisa menerima akan hal itu, seperti yang pernah dia lakukan, tangannya bergerak untuk menarik lengan Zahra dengan paksa.


"Lepaskan!" Ucap Zahra sedikit keras hingga membuat beberapa orang yang sedang menikmati makan siang menatap ke arahnya.


"Tidak akan, sebelum kau ikut denganku" jawab Denta.


Keadaan semakin memburuk, bahkan tarikan tangan Zahra tidak mampu untuk membuat Denta melepaskan cengkraman tangannya.


Hingga kemudian seseorang berhasil menepis genggaman Denta hingga kemudian membuatnya berhuyung ke belakang.


"Sialan, siapa kamu ikut campur urusanku ha!" Denta membentak.


"Jangan mengganggu temanku, atau aku akan berbuat lebih dari ini!" Ucap seorang wanita yang kini sudah berada di depan Zahra untuk melindungi.


"Kirana, dia mantan suamiku" Zahra berbisik untuk menjelaskan sesuatu.


"Aku tahu, dan sepertinya saat ini kamu butuh perlindunganku" ucap Kirana lirih sambil terus menatap tajam ke arah Denta untuk waspada.


Petugas keamanan yang saat itu berlari mendekat dengan dorongan yang keras dari Denta, membuatnya terjatuh.


Kirana semakin geram melihat hal itu, hingga kemudian hanya menggunakan satu gerakan dengan cepat mendorong dan membuat Denta akhirnya terjatuh kembali.


"Sh-it!, Berani kau_"


"Selangkah lagi kamu maju, Aku pastikan setelah itu kau tidak akan bisa berjalan kembali" ucap Kirana dengan tatapan tajamnya.


Denta merasakan ada sesuatu yang tidak biasa, l hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu masuk ke dalam mobil dan dengan kasar melajukan mobilnya ke jalanan.


"Kau tidak apa-apa Zahra?" Tanya Kirana


"Aku baik-baik saja, terima kasih" jawab Zahra


Kirana tersenyum lalu mengajak Zahra menuju ke tempat yang sudah disediakan sebelumnya.

__ADS_1


"Jadi dia Denta Razian, mantan suamimu?" Tanya Kirana mengawali perbincangan selanjutnya.


"Iya, dan aku tidak tahu bagaimana bisa dia menemukanku di negara ini"


"Jangan lupa siapa mantan suamimu itu, yang aku dengar bukankah dia dari keluarga yang kaya raya dan sangat berkuasa?" tanya Kirana.


"Aku tahu, dan semua keluarganya ada di Paris, mungkin kamu dan suamimu sangat mengenalnya" ucap Zahra.


"Hem, Alfaro mungkin iya, yang aku tahu dia pernah punya bisnis bersama dengan keluarga Razian, dan yang aku dengar keluarga itu terlihat begitu menyukai uang dan kekuasaan" kawan Kirana.


"Seperti itulah, sedangkan aku adalah wanita yang paling malang, karena dulu pernah menjadi anggota keluarganya" sahut Zahra penuh penyesalan.


"Setiap kejadian pada manusia selalu ada hikmahnya, bukankah begitu aturannya Zahra?" ucap Kirana.


"Aku tahu Kirana, terima kasih atas bantuan dan supportnya" jawab Zahra.


Tak lama kemudian makan siang pun telah datang, beberapa menu yang dipesan juga sudah nampak begitu lezat untuk segera dinikmati, butuh waktu kurang lebih 20 menit mereka berdua menyelesaikan makan siang.


Kirana meneguk air minumnya untuk yang kesekian kali, lalu kemudian membersihkan mulutnya dan menatap Zahra sesaat.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Zahra yang merasa heran.


"Mengingat bagaimana perangai mantan suamimu, Apa kamu tidak takut tinggal sendirian di apartemen?" Tanya Kirana.


"Kalau begitu lebih baik tinggallah bersamaku di Mansion, aku jamin di sana kamu lebih aman, ada banyak penjaga dan juga asisten rumah tangga.


"Tidak terima kasih, bukan aku menolak niat baikmu Kirana, tapi aku sudah mempunyai Hendri di sampingku saat ini, aku rasa Dia sangat bisa diandalkan" jawab Zahra.


"Oh iya, aku lupa, kalian dulu pernah bekerja bersama selama beberapa tahun, aku rasa Hendri bisa melindungimu seperti yang dulu selalu dia lakukan" ucap Kirana.


"Terima kasih kamu sudah mau mengerti Kirana, Dan aku harap kehidupanku mendatang jauh dari gangguan mantan suamiku" Doa Zahra.


"Amin, aku rasa semua itu akan cepat terjadi jika kamu sudah memiliki pasangan yang bisa melindungimu" sahut Kirana.


"Aku sama sekali belum memikirkan hal itu Kirana, kamu tahu sendiri bukan, Aku wanita yang tidak sempurna"


"Kesempurnaan hanyalah milik sang pencipta, jangan lupakan itu" jawab Kirana dan membuat Zahra seketika tertegun.


Kirana tersenyum lalu kemudian mengusap lembut punggung tangan Zahra seolah memberikan semangat untuk menyambut hidup yang lebih bahagia.


Zahra sangat berterima kasih, lalu kemudian keduanya melanjutkan aktivitas masing-masing di mana Zahra memulai pekerjaannya dengan masuk di perusahaan miliknya siang ini.

__ADS_1


*


*


Seorang wanita muda dan cantik menghampiri Zahra saat dirinya sampai di perusahaan, dia adalah sekretarisnya yang bernama SHYFA ANANTA PUTRI.


Semua mata memandang dan memberi hormat karena sudah mengenal Zahra sebagai pemilik dan bos mereka.


"Nona, tadi ada Tuan Denta datang kemari" ucap sekretaris nya.


"Apa?!" Nampak Zahra sangat terkejut dengan laporan sekretarisnya.


"Iya Bu Maaf terpaksa saya mengusirnya sedikit kasar karena Pak Denta berbuat yang Tidak sepantasnya"


"Aku tahu, dan tidak menyalahkanmu, Apa yang kamu lakukan sudah benar, terima kasih Syifa" ucap Zahra tersenyum lalu kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Maaf Bu, Pak Denta memberi pesan akan kembali lagi nanti, Apa yang harus saya lakukan?"


"Usir saja bagaimanapun caranya aku sudah tidak peduli" Zahra lalu kemudian duduk dan melihat beberapa berkas untuk dipelajarinya.


Sesaat kemudian Syifa segera pergi meninggalkan ruangan dan melanjutkan pekerjaannya kembali, ruangan Syifa yang sengaja ditata berdekatan dengan ruang kerja Zahra, membuat pekerjaan Zahra menjadi lebih ringan karena kapanpun Syifa bisa dipanggil dan segera membantunya.


Setelah beberapa jam Zahra begitu serius mempelajari tentang pembukuan yang ada di perusahaan, akhirnya Zahra menyandarkan kepala untuk mengurangi beban berat yang dirasakan.


"Heh, cukup melelahkan hari ini" ucap Zahra bergumam berbicara dengan dirinya sendiri.


Sekelebat bayangan mantan suaminya mengganggu konsentrasinya, Zahra menghela nafas panjang dan berpikir bahwa saat ini berada di samping Hendri adalah tempat yang teraman.


Zahra terkejut saat mendengar suara ponselnya lalu kemudian segera menerima sebuah panggilan yang ternyata berasal dari orang yang baru saja dipikirkannya.


"Ada apa Hen?"tanya Zahra.


"Apa kamu sedang memikirkanku?" Ucap Hendri dan membuat Zahra terkejut karena apa yang dikatakan begitu tepat.


"Sepertinya kamu mempunyai indra keenam Bagaimana bisa mengerti apa yang baru saja aku pikirkan"


"Oh ya?, Mungkin lebih dari Indra ke enam" jawab Hendri.


"Maksudmu?" Tanya Zahra penasaran.


"Ikatan batin" jawab Hendri.

__ADS_1


Selanjutnya tak ada suara apapun dari Zahra yang tiba-tiba saja langsung terdiam.


__ADS_2