
Sosok laki-laki itu terus melangkah maju, tatapannya begitu aneh dan terlihat sangat merindukan Zahra.
Aku hanya merindukan mu Sayang" ucap DENTA REZIAN, yang tak lain adalah mantan suami Zahra.
"Kita sudah berce-rai, dan tidak ada hubungan apapun lagi, pergilah!" Zahra mengusir dan membuka pintu Apartemen kembali dengan lebar.
Denta terkejut, lalu menahan lengan Zahra dan segera di tepis oleh Zahra.
"Kamu semakin Cantik Zahra, tolong jangan sakit hati dengan perceraian kita, aku juga butuh pewaris, dan kebetulan aku bisa mendapatkannya dari dia, tapi percayalah, aku masih sangat mengharapkan mu, aku masih mencintai mu" ucap Denta benar-benar tak tau malu.
"Aku benar-benar ji-jik padamu Denta, pergilah!" Ucap Zahra yang terus menjauhi mantan suaminya.
Zahra terpaksa mendorong Denta untuk keluar melewati pintunya, namun keadaan tidak seperti yang diharapkan, tiba-tiba saja Denta menarik dan merengkuh pinggang Zahra, detik berikutnya dengan paksa mencoba mencium bibirnya.
Zahra mendorong dengan sekuat tenaga, lalu dengan penuh emosi menampar dengan keras pipinya.
"Sia-lan!, Kau berani menamparku?!" Teriak Denta dengan tatapan yang berubah begitu nyalang.
Lalu dengan cepat menarik hijab Zahra dan menghempaskannya begitu saja, kekerasan itu terjadi kembali, rambut Zahra yang tergerai di jambak dengan kuat oleh Denta.
Zahra tidak mau menjerit atau merintih seperti dulu lagi, dengan sekuat tenaga menendang bagian tengah Denta dan membuat laki-laki itu berteriak kesakitan, melepaskan cengkeramannya lalu kini berjongkok menahan sakit.
"Aku bukan Zahra yang dulu diam dan begitu lemah saat kau tindas, dan ingat baik-baik, kamu bukan apa-apa bagiku, di luaran sana banyak pria yang mengantri untuk mendapatkan ku, kau tak lebih dari sampah!" teriak Zahra yang kini mendorong Denta dan segera menutup pintu Apartemennya.
Gedoran pintu terdengar begitu keras, bahkan teriakan cac-ian dan ancaman dari Denta membuat tubuh Zahra kini bergetar hebat, bayangan sik-saan yang pernah dia Alami dulu masih begitu membekas dan menimbulkan trauma yang mendalam.
"Dasar Ba-ji-ngan, pergi kau dari sini!" Teriak Zahra tak tahan lagi, air matanya kini mulai menetes, dirinya segera masuk ke dalam kamar dan meringkuk di pojokan Rungan.
Tak terdengar lagi teriakan dan gedoran dari mantan suaminya yang sudah seperti psiko-pat baginya, lalu Zahra mengambil air minum untuk menenangkan dirinya, tak lama kemudian rasa cemas mulai datang menyerang.
Zahra berjalan pelan mendekati pintu, melihat lewat monitor dan tak nampak lagi ada seseorang, sepi dan terasa sudah aman.
"Syukurlah" ucap lirih Zahra, lalu berjalan kembali masuk menuju dapur karena merasakan dahaga yang luar biasa, dan sekali lagi, sepertinya keberuntungan belum berada di pihaknya.
"Astagfirullah, airnya habis, aku lupa mengisi air minumnya" dengan terpaksa Zahra harus turun untuk membeli sir minum di minimarket yang berada di lantai satu Apartemennya.
Zahra membuka pintu perlahan, memastikan keadaan benar-benar aman, lalu berjalan dengan tenang, saat memasuki lif, matanya melotot melihat Denta sudah berlari menuju ke arahnya.
__ADS_1
Sekuat tenaga Zahra kembali mendorong tubuh Denta dan dengan susah payah akhirnya berhasil membuat lif tertutup sebelum Denta berhasil masuk.
"Bre-ng-sek, kenapa dia belum pergi juga" gumam Zahra yang seketika berkeringat dingin karena kecemasannya.
Dia sungguh tak mengerti bagaimana mantan suaminya itu bisa tau tempat tinggalnya begitu cepat, bahkan sampai menyusulnya ke Indonesia.
"Ini Gawat!" Gumam Zahra berusaha untuk menghubungi Kirana.
Karena hari sudah malam, tentu saja sambungan itu tidak mendapat jawaban, kini zahra segera memesan taksi online, saat ini yang terpenting adalah keluar dari Apartemen sejauh-jauhnya.
Dan saat lif terbuka, Zahra segera berlari sambil menghubungi Taksi yang di pesan, beruntung Taksi itu sudah siap membawa Zahra untuk pergi.
Zahra menyandarkan kepalanya di kursi mobil, dia masih tak habis pikir mengapa Denta masih saja menganggu nya, padahal perceraian sudah di resmikan 4 Bulan yang lalu.
Kabar kehamilan wanita yang diam-diam menjadi peliharaan suaminya juga sudah terdengar di bulan sebelum Zahra benar-benar memutuskan untuk berpisah. Begitu hebat rasa sakit dirasakan Zahra saat itu, karena pada kenyataanya pernikahannya selama ini tak jua memberikan keturunan.
Itulah kenapa kini Zahra bertekad untuk tidak menikah lagi, selain merasa dirinya penuh dengan kekurangan, Zahra tidak mau lagi mengalami kekerasan bahkan penghinaan karena rahimnya tak bisa menghasilkan keturunan.
Sebenarnya dirinya juga sempat merasa heran, karena dari pemeriksaan berapa dokter ahli, Zahra dinyatakan sehat-sehat saja dan tak mengalami kelainan apapun di rahimnya.
Zahra hanya melihat nama yang tertera di ponselnya, dan tidak segera menjawab, saat nama Hendri tertera di sana, dirinya bingung harus menjelaskan apa.
Sampai akhirnya Zahra memutuskan untuk mengangkatnya.
"Hallo Hen" ucap Zahra dengan suara yang sedikit serak karena tadi sempat menangis.
"Are you okey?" Tanya Hendri.
"Tentu saja, ada apa?" Tanya Zahra balik.
"Suara mu berbeda Zahra, bukankah seharusnya aku yang bertanya ada apa?" Sahut Hendri.
"Aku tidak apa-apa, mungkin karena badanku kelelahan saja"
"Badanmu yang kelelahan, kenapa suara mu yang kena imbasnya, jangan membohongiku Zahra" Hendri memperingatkan.
"Ayolah Hen, aku baik-baik saja" ucap Zahra berusaha untuk meyakinkan Henri akan keadaannya.
__ADS_1
"Berhenti, dan tetaplah diam disana, aku tau sekarang posisimu ada dimana, mengerti!, Jangan protes lagi, aku akan menjemput mu!"
Tut Tut Tut
Panggilan itu segera diputus oleh Hendri.
Tentu saja Zahra sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Hendri, baru saja tadi bertemu dengannya, apa mungkin dia sudah bisa meretas handphone yang dipakainya?
Zahra mau tak mau menuruti apa yang di perintahkan Hendri, tujuan awalnya kesebuah hotel segera diurungkan, beruntung sopir taksi yang dinaikinya juga begitu baik, menghentikan taksinya ditempat yang diinginkan oleh Zahra, walaupun tidak sesuai lagi dengan Aplikasi.
"Terimakasih pak" ucap Zahra.
"Sama-sama Nona, di minimarket ini akan selalu ramai orang sampai pagi, anda akan aman berada disini"
"Iya pak, terimakasih informasinya" jawab Zahra yang kini sudah turun dan duduk di depan ruang tunggu minimarket yang sudah di sediakan.
Tak lama kemudian, datang sebuah mobil mewah yang sudah di kenali oleh Zahra sebelumnya, hatinya tiba-tiba saja merasa begitu lega.
Hendri turun dari mobil dan sedikit berlari menghampiri Zahra, tanpa di duga, Hendri langsung menubruk dan memeluk Zahra dengan erat.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja?" Tanya Hendri tanpa melepaskan rengku-han nya.
Beberapa orang yang melintas di buat malu sendiri melihat adegan yang di buat oleh Hendri, sedangkan Zahra yang masih terkejut, hanya terdiam tanpa kata.
"Zahra, kamu baik-baik saja?" Tanya Hendri sekali lagi dan membuat Zahra segera tersadar.
"Ehem, kamu ingin memelukku apa memangsa ku, aku hampir tak bisa nafas Hen" ucap Zahra.
Hendri seketika melepaskan pelukannya, lalu tersenyum aneh dan menatap Zahra yang hanya memakai sandal jepit dan gaun rumahan bergambar boneka yang nampak begitu lucu.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Zahra merasa aneh.
"Kau imut sekali nona Zahra, pemilik perusahaan raksasa Milton Company" goda Hendri dan membuat Zahra langsung memukulnya.
"Jangan bercanda!"
"Aku serius, hahaha" suara tawa Hendri pecah kembali, sebelum akhirnya Zahra langsung membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
__ADS_1