SELEMBAR KERTAS

SELEMBAR KERTAS
Episode 167


__ADS_3

Zahra mendongak, terdiam dan menatap Christopher lalu melanjutkan dengan menggelengkan kepalanya, sesaat kemudian keduanya terdiam, hingga kemudian Zahra mengeluarkan suara lirihnya.


"Siapapun yang salah harus menerima konsekuensinya..aku sadar akan hal itu, tapi untuk kehilangan Daddy..saat ini aku belum siap, siapa lagi di dunia ini yang aku punya Chris"


"Tapi kau tau sendiri kan..hal itu pasti akan terjadi, yang dihadapi Daddy mu adalah keluarga Eagle, aku yakin sedikit lagi mereka bis meringkus Daddy mu, merek tidak main-main mengerahkan orang-orang khusus untuk mencari bukti dan menyelidiki hal ini, apalagi Daddy mu sudah hampir menghilangkan nyawa Kirana"


"Apa?!"


"Memang belum ada yang buka mulut siapa yang menyuruh mereka, tapi dari salah satu pimpinannya yang sudah meninggal, nama Harry Milton sempat terucap"


"Lalu?" Tanya Zahra.


"Lalu..aku rasa sebentar lagi semua akan terbongkar "


"Bukan itu, bagaimana dengan Kirana?"


"Dia dan bayinya selamat, sekarang masih dalam perawatan, ada racun yang berhasil masuk di tubuhnya, jadi pemulihannya mungkin butuh waktu agak lama, tapi untunglah semua kini baik-baik saja"


Zahra terdiam, pikirannya benar-benar kalut, tidak percaya bagaimana Daddy nya kini benar-benar berubah, semakin arogan dan kejam, dengan tarikan nafas dalam yang juga bisa dirasakan oleh Christopher, akhirnya Zahra berbicara.


"Aku akan membantu Kirana untuk membuktikan semuanya, Daddy benar-benar sudah di luar batas"


Christopher sempat terkejut dan menatap Zahra sekejab, lalu tersenyum sambil menepuk bahu wanita yang kini sudah menatapnya dengan tajam.


"Inilah Zahra yang aku kenal, tidak pernah lemah dengan keadaan, tidak pernah membolak-balik kan kesalahan dan kebenaran apapun yang terjadi"


"Terimakasih Chris, aku sudah bisa menentukan keputusan ku, sebaiknya aku pulang dulu"


"Ini sudah jam berapa?, Hampir pagi, sebaiknya istirahat disini saja"


"Mau istirahat dimana aku, kamar tamu sudah ada Louise, aku tidak ingin mengganggu nya"


"Aku akan memindahkan Louise ke kamarku, kau bisa beristirahat di kamar tamu setelah itu"


"Ha!!...jangan macam-macam Chris, kalian akan tidur berdua?"


"Kau ini..aku bisa tidur di sofa kamarku..tenang saja, Louise tidak akan aku makan, belum waktunya"


"Dasar.. awas saja kau melewati batas mu, sebaiknya kalian cepat nikah, bukankah aku dengar kau juga sudah memeluk ajaran agamaku..itu artinya kau sudah seiman dengan Louis, apa lagi yang kau tunggu?!"


"Iya, sebentar lagi, sudah.. aku ngantuk mau tidur dulu, biar aku bawa Louise ke kamarku, kau juga bersiap"


Kemudian Christopher segera masuk ke kamar tamu, benar saja, Louise sudah tidur pulas, bahkan saat Christopher mengangkat tubuhnya dia hanya menggeliat sebentar dan terdiam kembali, Zahra yang melihat itu menggelengkan kepala, lalu segera tidur setelah Christopher meninggalkan kamar dengan membopong tubuh kekasihnya.

__ADS_1


Louise tertidur dengan nyaman, selimut sudah membalut tubuhnya, sementara Christopher sudah menyusul sang kekasih masuk ke alam mimpi dengan tidur diatas sofa kamarnya.


**


Disebuah Ruang ICU, beberapa penjaga dikejutkan dengan suara seseorang yang mulai tersadar dan memanggil untuk meminta bantuan, rupanya laki-laki yang telah diantar oleh Zahra telah sadar.


Dokter segera memeriksanya dengan intensif, dan kemudian menyatakan kalau perkembangan keadaan sang pasien mulai membaik.


"Maaf, kalau boleh saya tau, apa anda sudah mengingat semua kejadian?" Tanya sang dokter.


Laki-laki itu masih terdiam, memejamkan mata sejenak, lalu kemudian mengangguk perlahan, dilanjutkan dengan pertanyaan sang dokter kembali.


"Apa anda ingat nama anda siapa?"


"Hendri Pramudi dokter, dan terakhir yang saya ingat sedang lari dan tidak sengaja menabrak sebuah mobil yang lewat" jawab Hendri lirih.


Sang dokter tersenyum, dalam hati merasa lega karena wanita yang sempat membuatnya ragu ternyata tidak berbohong.


"Baiklah..saya rasa anda akan segera kami pindahkan, tapi sebelumya akan saya ceritakan semuanya"


"Baiklah dokter, terimakasih" sahut Hendri.


Selanjutnya penjelasan perlahan-lahan didengar oleh Hendri, dimana dirinya telah menabrak mobil seorang wanita yang kini telah bersedia menanggung semua biaya perawatannya.


"Maaf, wanita ini sengaja meminta saya untuk tidak memberikan identitasnya, nanti beliau sendiri yang akan menemui anda, jadi sebaiknya saya segera menghubunginya dan memberitahu bahwa tuan Hendri sudah sadar dan dalam keadaan membaik"


"Baiklah dokter, maaf dan terimakasih" sahut Hendri yang sebenarnya masih penasaran dengan wanita yang telah menolong nya.


Tak lama kemudian percakapan antara dokter dengan seseorang yang di hubungi pun terjadi.


"Baik Nona Zahra, saya akan menunggu kedatangan anda"


Ceklek


Sambungan telepon segera ditutup kembali.


Satu jam kemudian kedatangan seorang wanita dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa mulai meramaikan lantai ruang perawatan.


"Permisi dokter, bisa saya masuk?"


"Nona Zahra..Silahkan, kebetulan sekali saya memang sedang menunggu anda" jawab sang dokter ramah.


Setelah duduk dengan baik, dokter pun menjelaskan semuanya, Zahra merasa sangat bersyukur dengan kabar baik yang didengarnya.

__ADS_1


"Saya akan melihat keadaannya dokter, saya permisi dulu" ucap Zahra kemudian.


Sang dokter mempersilakan Zahra keluar dengan sebelumnya memberikan arahan tempat ruang perawatan laki-laki yang diantarnya kemaren.


Suara ketukan pintu terdengar, Zahra segera masuk dan bertemu pandang dengan laki-laki yang kondisinya jauh lebih baik dari sewaktu pertama kali Zahra melihatnya.


Sementara Hendri yang baru saja melihat kedatangan Zahra, sangat terkejut karena dia tau siapa sebenarnya wanita yang kini ada di hadapannya, walaupun dia sangat yakin Zahra tidak akan mengenalnya.


"Maaf, saya tidak sengaja menabrak mobil anda waktu itu" ucap Hendri saat Zahra mulai mendekat.


"Oh..iya, tidak mengapa, bagaimana kondisi anda tuan?" Tanya Zahra.


"Saya sudah membaik, terimakasih sudah mengantar kan saya sampai kesini nona" ucap Hendra dengan wajah yang terlihat mulai cemas.


"Syukurlah tuan_, maaf saya bisa memanggil anda dengan_"


"Hendri..panggil saja saya Hendri.." sahut Hendri seketika.


"Oh..tuan Hendri, saya Zahra.."


"Iya nona Zahra, sebaiknya panggil saya Hendri saja"


"Oh..baiklah Hendri"


Perbincangan pun terjadi kemudian, berbeda dengan Zahra yang memang tidak tau siapa laki-laki yang ada didepannya, Handri justru bersikap sangat hati-hati dan waspada, semua perkataan yang keluar dari mulutnya benar-benar di tata dengan baik.


Hingga tak lama Zahra menghentikan percakapan saat terdengar suara memanggil dari handphone nya. "Maaf Hen, saya keluar sebentar untuk menerima panggilan"


"Silahkan Nona Zahra" sahut Hendri.


Zahra segera bergegas keluar dari ruangan untuk mendapatkan tempat yang lebih nyaman untuk menerima panggilan telepon yang rupanya dari Daddy nya.


"Maaf Dad..aku semalam sengaja tidak pulang, ada kerjaan yang harus ku kerjakan di kantor" jawab Zahra, rupanya Harry baru menyadari kalau anak satu-satunya telah tidur di luar semalam.


Detik berikutnya Zahra tanpa sengaja tersenggol oleh tangan seseorang, reflek nya segera menoleh ke orang itu sekejab, dan Zahra sangat terkejut ketika menyadari sangat mengenal wajah laki-laki yang terus berjalan bersama dengan tiga orang lainnya.


Sesaat kemudian Zahra segera keluar dari percakapan di handphone karena urusan telah selesai, berbalik dengan cepat untuk mengamati kembali orang yang baru saja membuatnya terkejut.


Dan betapa kagetnya Zahra, saat orang itu beserta dengan tiga orang lainnya masuk kesebuah ruangan perawatan.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMENnya.. ditunggu Episode berikutnya yang pasti akan semakin menarik.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2