
Jantung Zahra berdegup kencang, antara terkejut di tambah kata-kata Hendri yang membuat nya berpikir dewasa.
"Oh my God, apa yang kau pikirkan, sadar Zahra, mungkin Hendri masih belum sadar sepenuhnya dengan apa yang diomongkan" ucap Zahra bicara pada dirinya sendiri, lalu segera berjalan untuk menunaikan ibadah.
Masih terlalu gelap untuk keluar beraktifitas, Zahra dikejutkan dengan keluarnya Hendri dari kamar mandi.
"Kenapa?" Tanya Zahra melihat aneh Hendri yang masih berdiri memandanginya.
"Ikut aku.." ucap Hendri sudah berjalan menghampiri dan menarik tangan Zahra.
"Tunggu, kemana?" Tanya Zahra heran, lalu menahan langkahnya.
"Ke kamarku, hari ini asisten rumah tangga banyak yang libur, siapkan baju kerjaku, bisa kan?" Ucap Hendri.
"Oh My God, tentu saja Hen, tidak perlu sampai menarik ku seperti ini" ucap Zahra yang kini sudah berjalan mendahului.
Setelah berada di kamar Hendri, Zahra segera menuju ke ruangan yang berisi segala baju yang aksesoris milik Hendri, memilihkan baju yang cocok untuk hari ini, sementara Hendri melakukan ibadahnya.
Tak lama kemudian, Zahra dikejutkan dengan pelukan erat dari tangan kekar yang kini sudah menyambangi pinggang nya.
"Hen?" Ucap Zahra.
"Hem" jawab Hendri masih memeluk Zahra.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Tentu saja memeluk istri ku" jawab Hendri tepat di telinga Zahra hingga membuatnya merinding.
Zahra terdiam, tak lagi mampu menolak sentuhan Hendri yang kini sudah menjadi sosok suaminya, dan berikutnya Hendri membuka hijab dan menci-um lembut leher jenjang Zahra dari belakang.
Hasrat yang sudah lama sekali tak pernah muncul dalam dirinya kini perlahan menyeruak, timbul begitu saja dan memenuhi jiwanya hingga Zahra memejamkan mata ingin mereguk semuanya.
Begitu juga dengan Hendri yang kini sudah membalikkan tubuh Zahra dan menempelkan bibirnya.
"Emmh" terdengar suara indah dari Zahra yang merasakan hal luar biasa saat lidah dan tangan Hendri mulai bekerja sama.
Hendri melu-mat, menyesap dan terkadang mengigit bibir Zahra, tangannya menyentuh kedua bukit kembar dari dalam baju Zahra yang sudah mulai tak karuan bentuknya.
Detik berikutnya, Hendri sudah tak tahan lagi, mengangkat tubuh Zahra dan membawanya di atas tempat tidurnya.
"Tunggu, kita lakukan sekarang?" Tanya Zahra.
"Apa kamu keberatan?" Jawab Hendri.
"Aku _, Akh!" Belum sempat Zahra menjawab, Hendri sudah menyentuh tempat paling sensitif milik Zahra yang sudah basah.
Hendri tersenyum, memastikan bahwa Zahra merasa semakin nyaman dan menginginkan hal yang sama.
"Pelan" ucap Zahra saat milik Hendri sudah bersiap menerjangnya.
"Aku akan pelan, kamu boleh memintaku untuk menghentikan jika terlalu menyakitimu" ucap lirih Hendri dan mendapat anggukan dari Zahra yang merasa khawatir karena sudah beberapa tahun tak melakukannya.
Perlahan Hendri memasukkan, sedikit mengejutkan bagi Hendri yang sebenarnya pernah melakukan hal itu sebelumnya dengan wanita yang menjalin kasih dengannya, walaupun pada akhirnya harus kandas.
Hendri memberikan tekanan yang lebih lagi, milik Zahra masih terlalu sempit baginya, hingga Zahra sedikit meringis saat milik suaminya kini hampir bersarang penuh di dalam miliknya.
"Ohhh" desis Zahra.
__ADS_1
Zahra merasakan hal yang luar biasa, bahkan tidak pernah dialami saat masih melakukan dengan Denta mantan suaminya.
Begitu juga dengan Hendri, matanya sampai terpejam untuk menahan hasratnya. Ingin sekali menggerakkan tubuhnya lebih intens lagi, namun masih harus bersabar melihat kondisi Zahra yang masih berusaha membiasakan diri.
"Masukkan lebih dalam, sshh" ucap Zahra yang semakin melebarkan kakinya dan memberi ruang untuk tubuh Hendri menekan miliknya.
Hendri menempatkan tangannya diatas tangan Zahra, seolah memberikan kenyamanan jika itu nantinya akan menyakitkan.
"Tahan sedikit lagi, ough!" Ucap Hendri.
"Akh!" Teriak Zahra
"Sakit?" Tanya Hendri menghentikan geraknya saat miliknya sudah terbenam penuh disana.
Zahra tersenyum, dan membuat Hendri lega, kembali memacu menuju puncak yang diinginkan, tubuh Zahra terguncang, mengimbangi apa yang tengah di lakukan oleh Suaminya.
Zahra berteriak saat ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam tubuhnya.
"Hen, aku_"
"Lepaskan" ucap Hendri.
"Akh!" Teriak Zahra mendapati pele-pasan yang pertama.
Hendri tersenyum dan membelai dengan lembut wajah Zahra, mendiamkan miliknya yang tentu saja masih belum terpuaskan.
Setelah dirasa Zahra sudah siap kembali, Hendri perlahan menggerakkan badannya, berawal pelan, semakin lama bertambah kuat dan dalam hingga peluh keduanya kembali bercucuran.
Hendri merasa seakan mau meledak, hasrat kenik-matan rupanya sudah hampir mencapai puncaknya, begitu juga dengan Zahra, merasakan tubuhnya menegang kembali, tubuhnya terasa terbakar dan akhirnya_
Kali ini rasa puas dirasakan begitu luar biasa, Hendri merobohkan tubuhnya diatas Zahra yang juga masih berusaha mengatur nafasnya.
"Apa masih terasa sakit?" Tanya Hendri sambil mengatur nafas dan kemudian bergeser kesamping untuk menyamankan posisinya di dekat Zahra.
"Sudah tak terasa" jawab Zahra.
"Capek?" Tanya Hendri lagi.
"Lumayan" sahut Zahra sambil memejamkan matanya.
"Maaf membuatmu berkeringat seperti ini" ucap Hendri membeli lembut wajah sang istri yang sudah di tarik dalam pelukannya.
"Aku suka" jawab Zahra.
"Sepertinya aku sangat memuaskan" ucap Hendri.
"Hem, lumayan" jawab Zahra sambil tersenyum.
"Ingin nambah lagi?" Tanya Hendri.
"Apa?!"
"Hahaha, aku hanya bercanda" sahut Hendri.
Zahra memukul lengan Hendri yang sudah membuatnya terkejut, lalu kemudian mereka berdua segera membersihkan diri ke kamar mandi untuk bersiap melakukan konferensi pers terkait dengan masalah yang ditimbulkan oleh Denta.
*
__ADS_1
*
Tepat pukul sebelas apa yang di rencanakan oleh Hendri sudah berjalan dengan baik.
"Alhamdulillah, tidak ada insiden apapun di dalam konferensi pers tadi" ucap Zahra melepas ketegangan nya.
"Hem, dan kali ini saatnya aku memberikan pelajaran pada si Bre-ng-sek itu, beraninya sudah mengusik ku" jawab Hendri.
Zahra terkejut, lalu menoleh dan menatap Hendri dengan serius.
"Apa yang kamu rencanakan?" Tanya Zahra.
"Kamu lihat saja, sebentar lagi akan ada berita tentang seorang Denta Rezian yang pasti akan sangat menghebohkan" jawab Hendri sambil tersenyum menatap sang istri yang terlihat begitu cantik dimatanya.
"Maksud nya?" Ucap Zahra.
"Beri aku satu ciu-man, dan akan aku beri sedikit bocoran" jawab Hendri dengan senyum penuh maksud.
"Ck, Hendri!, Aku serius" jawab Zahra.
"Aku lebih serius, dan satu lagi, bisakah kamu lebih manis memanggil suamimu ini?, Mungkin dengan begitu aku akan membocorkan semua rencanaku, bagaimana?" Ucap Hendri yang sudah menarik Zahra begitu dekat tanpa peduli sedang berada di dalam mobil.
"Baiklah, jelaskan semua rencanamu honey" ucap Zahra.
"Oh my God, aku sangat bahagia mendengarnya, tapi sayang" sahut Hendri.
"Kenapa?" Tanya Zahra penasaran.
"Kurang sebuah ciu-man" jawab Hendri.
Zahra melebarkan matanya, lalu kemudian menempelkan bibirnya, niat hati ingin segera menyudahi, namun dengan cepat Hendri memegang tengkuknya dan melakukan luma-tan yang sedikit kasar dan dalam.
Hendri sengaja menggigit bibir Zahra hingga sedikit terpekik lalu memasukkan lidahnya dan menyesap semua kenik-matan di sana.
Zahra terkejut, bingung mau melepaskan diri karena sungkan dengan sang sopir, namun tak jua bisa dilakukannya karena Hendri begitu menguasai nya, dan kesempatan digunakan saat sang suami memberi waktu untuk menghirup udara.
"Hentikan honey!" Ucap lirih Zahra.
"Hahaha, Sorry, aku tidak bisa menahan diri" Hendri tertawa dan membenarkan hijab sang istri yang sedikit berantakan karena perbuatannya.
Lalu Hendri menceritakan apa yang sudah direncanakan untuk memberikan efek jera ke Denta, seorang Hendri tentunya cukup mudah mengakses dan mencari tau kelemahan Denta Rezian.
Dan ternyata, beberapa perusahaan milik keluarga Rezian adalah perusahaan yang bisa dikatakan di bawah kendali Hendri saat ini. Belum lagi semua bukti dan Fakta bagaimana Denta dan sang Papa terlibat pencucian uang yang sudah siap di buka ke publik oleh Hendri.
"Apa?!" Ucap Zahra.
"Kamu terkejut bukan, keluarga mereka begitu haus akan harta, tak perduli bagaimana cara harus mendapatkannya, hingga semua jalan yang terlarang di terjang begitu saja" ucap Hendri.
"Astagfirullah, aku benar-benar tidak menyangka" jawab Zahra.
"Satu lagi yang pasti akan membuatmu terkejut honey?" Ucap Hendri.
"Apa?" Tanya Zahra penasaran.
Yang penasaran, tunggu episode selanjutnya, jangan lupa HADIAH VOTE LIKE KOMEN dan Tonton IKLANnya ya.
Bersambung.
__ADS_1