
Zahra kembali tersadar beberapa saat, rasa tidak enak dihatinya segera ditepis begitu saja demi ketenangan batinnya, setelah itu dirinya segera mempersiapkan diri untuk pergi bekerja seperti biasanya di Milton Company.
Saat dirinya sudah tiba di perusahaan, rupanya sudah ada Christopher yang menunggunya.
"Tidak biasanya seorang Zahra Marina Milton datang terlambat" ucap Christopher saat melihat sahabatnya itu baru saja masuk dan kini duduk dan bersiap di meja kerjanya.
"Ada hal mendadak yang aku bicarakan dengan Daddy" ucap Zahra dengan sedikit senyum.
"Kenapa, apa kalian ada masalah?" Tanya Christopher.
Zahra tidak langsung menjawab, sedikit berpikir dan diam lalu menarik nafas panjang, "Entahlah Chris, aku hanya merasakan kurang nyaman dengan Daddy akhir-akhir ini, seperti ada sesuatu yang sengaja dia tutupi dariku" ucap Zahra.
"Oh ya..soal apa?" Sahut Christopher.
Zahra menarik nafas panjang kembali sebelum akhirnya menjawab, "Kalau aku tau, tidak mungkin aku se resah ini Chris" jawab Zahra.
"Lalu..?" Ucap Christopher.
"Lalu kita bekerja saja, tidak usah memikirkan hal yang tidak pasti, bagaimana?" Jawab Zahra sengaja mengalihkan pembicaraan untuk berkonsentrasi di Bisnisnya.
"Ok..tentu saja" Sahut Christopher yang kemudian segera mengeluarkan beberapa dokumen penting terkait dengan kerjasamanya dengan Milton Company.
Keduanya kini tengah serius membicarakan hal-hal penting seputar kerjasama perusahaan, bahkan kini sekertaris Zahra ikut membantu. Kurang lebih dua jam pembicaraan serius itu berlangsung, hingga pada akhirnya Christoper harus kembali ke perusahaan setelah mencapai kesepakatan.
"Aku pergi dulu, dan aku harap kau berhati-hati saat keluar Ra, diluar masih banyak pemburu berita yang menjadikanmu sasarannya" ucap Christopher.
"Aku tau..kini ruang gerakku masih sangat terbatas, dan entahlah sampai kapan semua ini berlalu"
"Sabar, aku yakin Alfaro tidak tinggal diam, dia akan berusaha menyelesaikan masalah ini dengan cara yang bijak, apalagi Kirana aku dengar tengah hamil, dia harus ekstra hati-hati menjaga semuanya" ucap Christopher.
"Hem, aku tau" sahut Zahra.
Christopher segera pergi, meninggalkan perusahaan raksasa yang berada di bawah pimpinan sahabatnya, tidak langsung menuju ke perusahaan, rupanya dirinya teringat dan begitu merindukan sang kekasih, hingga pilihan laju mobilnya langsung ke perusahaan Eagle Company, selain memang ada hal penting dengan pemiliknya.
Louis yang kebetulan keluar dari ruang meeting bersama dengan Alfaro terlihat sedikit terkejut melihat Christopher sudah tersenyum dan melambaikan tangan diruang tunggu yang berada tepat di depannya.
Sementara Alfaro mengerutkan kening melihat keberadaan Christopher di perusahaannya. "Ada apa kau disini?" Tanya Alfaro sambil mendekat.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, apa ada waktu?" Tanya Christopher lalu menoleh ke sang kekasih.
"Dengan ku?, Apa kau tidak salah?" Sahut Alfaro sambil menoleh Louise yang berlagak cuek.
"Tenang saja, setelah itu aku ingin meminjam sekretaris mu, Bagaimana?" Ucap Christopher sambil tertawa melihat sang kekasih sudah melotot ke arahnya.
"Dasar kau ini..sebaiknya tunggu sampai jam istirahat siang, kecuali Louise sudah menyelesaikan semua tugasnya" jawab Alfaro segera melanjutkan langkahnya, disusul oleh Christopher, sementara Louise segera masuk ke ruangan kerjanya.
__ADS_1
Christopher segera membuka pembicaraan. "Aku ingin membicarakan soal Zahra, sebagai sahabatnya aku sangat mengkhawatirkan keadaannya"
"Aku tau, dan aku sudah menemukan seseorang yang akan menjadi saksi atas kasus ini"
"Oh ya.. syukurlah kalau begitu, aku merasa lega juga, bagaimana pun sekarang ini keadaan Zahra merasa di pojokan, kalau masalah ini segera teratasi aku ikut senang"
"Tentu saja, aku akan segera menyelesaikan hal ini, mudah-mudahan tidak ada kejadian yang tidak diinginkan lagi"
"Maksudnya?"
"Dua orang saksi sudah terbunuh, tinggal satu orang ini dalam lindungan ku"
Christopher sangat terkejut mendengar hal itu, "Apa..?!!, Bukankah itu berarti ada yang dengan sengaja menjebak Kalian?" Tanya Christopher.
"Apa menurutmu aku masuk kamar Zahra dengan sengaja?" Sahut Alfaro.
"Bukan begitu, tentu saja kau tidak mungkin mengkhianati Kirana, tapi aku tidak menyangka kalau semua ini telah direncanakan dan sulit sekali terbongkar sampai sekarang" ucap Christopher.
"Hem, dari sini aku tau bahwa yang merencanakan hal ini bukan orang sembarangan" jawab Alfaro.
Christopher ikut terdiam sejenak dengan wajah seriusnya, "Kau harus berhati-hati Alfaro, sepertinya orang yang menjebak mu orang yang mempunyai kekuasaan"
Alfaro tersenyum tipis sambil mengangguk, dalam hati dia sebenarnya siap untuk menghadapi musuhnya-musuhnya, tapi sayang sekali mereka masih belum nampak dan susah di pastikan. "Sebentar lagi kebenaran akan terungkap" ucap lirih Alfaro.
Kebetulan sekali, tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, rupanya sang istri telah datang untuk menyapa Alfaro, setelah mengucap salam dan masuk ke dalam ruangan.
"Iya..ada urusan bisnis, bagaimana kabarmu, selamat ya, aku dengar sudah ada calon Alfaro junior", ucap Christopher.
"Alhamdulillah..semua sehat, baiklah lanjutkan obrolan kalian, aku akan ke ruangan Louise untuk berbincang" ucap Kirana, segera meninggalkan ruang kerja suaminya.
Sementara Alfaro melanjutkan lagi obrolan serius tentang bisnis dengan Christopher, Kirana sudah tersenyum gembira saat mendapat ucapan selamat dan pelukan dari Louise yang terkejut saat dirinya datang.
Setelah membicarakan Fashion dan sebagainya, Louise segera menanyakan desas desus rumor yang tanpa sengaja dia dengar, dimana sebenarnya kejadian yang menimpa Bos nya adalah sebuah jebakan dari seseorang yang berkuasa.
Kirana mendengarkan dengan hati-hati lalu kemudian memberikan penjelasan jika ada yang tidak benar dari kabar itu.
"Sebenarnya kita juga belum tau ini semua ulah siapa, tidak bisa juga kita asal nuduh, walaupun kita sebenarnya sudah punya sedikit petunjuk" ucap Kirana.
"Setuju..sekarang ini kita harus punya bukti yang kuat untuk urusan yang sangat sensitif seperti ini, apalagi kalau ternyata ini benar-benar jebakan yang sudah di buat sedemikian rupa, pasti bukan orang sembarangan yang merancangnya" jawab Louise.
"Hem.. untuk itu, kita sangat hati-hati, tidak ingin kecolongan lagi" sahut Kirana.
"Lalu, bagaimana dengan satu-satunya saksi itu, apa sudah mau bicara?"
"Dia bersedia bicara nanti kalau sudah saatnya, apalagi kondisinya sekarang masih sangat lemah di Rumah Sakit" ucap Kirana.
__ADS_1
"Oh..begitu, tapi_"
"Tenang saja, kita sudah melakukan penjagaan disana" sahut Kirana lagi.
Louise menganggukkan kepala tanda mengerti, disaat itulah terdengar suara ketukan pintu yang kemudian berakhir dengan munculnya sosok sahabat yang sangat dirindukan oleh Kirana.
"Hani..!" Ucap Kirana begitu antusias, Louise yang melihat tingkah ibu hamil itu tersenyum.
"Wah..kalian ngumpul gak ngajak aku rupanya?" Sahut Hani kemudian langsung memeluk hangat keduanya.
"Kita gak sengaja juga tadi akhirnya ngobrol begini, masalahnya Pasangan kita pada rapat penting di ruangan, jadinya ya aku nyusul Louis kesini" jawab Kirana setelah duduk santai kembali diantara Hani dan Louise.
"Wah kebetulan sekali, aku kesini juga tadi diajak sama Ronan, katanya ada hal penting yang mau dibicarakan juga, rupanya mereka sudah ada janjian ketemuan bareng ya?"
"Seperti begitu, urusan bisnis pastinya, Seneng juga kita ya, bersahabat sekaligus bisa kerja sama bisnis" sahut Louise.
"Alhamdulillah" sahut Kirana dan Hani bersamaan lalu Saling menatap dan tersenyum.
Perbincangan pun berlanjut, lebih tepatnya kini mereka bertiga membahas sosok saksi yang tengah dilindungi oleh pengawal Alfaro, Hani juga sangat penasaran dengan masalah yang tengah dialami oleh sahabatnya, hingga akhirnya Kirana memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit untuk melihat orang yang tengah dilindungi nya.
"Kita barengan saja satu mobil, biar pakai sopir dan pengawal ku, bagaimana?" Tanya Kirana, Kedua wanita yang sudah bersiap itu segera mengangguk tanda setuju dengan saran Kirana untuk pergi bersama ke Rumah sakit.
Ketiganya segera ke ruangan kerja di mana para pasangan mereka berada.
"Honey..aku mau pergi ke Rumah Sakit bersama dengan Louise dan Hani" ucap Kirana ber pamit.
"Apa tidak sebaiknya kita berangkat bersama honey?" Tanya Alfaro.
"Nanti kalian bisa menyusul honey, kalian perlu berkonsentrasi membahas bisnis bukan?" Sahut Kirana.
"Baiklah.. hati-hati "
Setelah mendapat ijin dari pasangan masing-masing, akhirnya ketiganya segera meninggalkan tempat dan kemudian menuju ke Rumah Sakit dengan satu mobil sesuai yang direncanakan.
Perjalanan yang sangat menyenangkan, penuh dengan obrolan hangat dan kadang bercanda yang bikin tertawa, hingga tiba mereka harus berhenti karena lampu rambu-rambu menyala merah.
Tanpa sengaja Kirana yang duduk di pinggir menoleh ke arah mobil yang tepat berhenti di sebelahnya, sedikit mengerutkan kening saat ada beberapa orang yang tinggi besar seperti pernah dilihatnya.
"Sepertinya aku pernah melihat orang-orang ini" Batin Kirana.
Belum selesai Kirana berpikir keras untuk mengingat, rupanya kini lampu hijau mengharuskan semu mobil untuk melaju, hingga beberapa menit kemudian.
"Kejar mobil itu..!!" Teriak Kirana membuat kedua temannya sampai ter lonjak kaget, begitu juga dengan sopir dan pengawalnya.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMENnya..
__ADS_1
Bersambung.