
Menggunakan pakaian yang rapi dan berdandan sederhana seperti biasanya, itu yang kini sedang dilakukan oleh Kirana, sedangkan sosok cantik yang ada dibelakangnya tengah tersenyum melihat apa yang tengah dilakukan adiknya.
"Kenapa kak Al senyumnya gitu?" Tanya Kirana, lalu membalikkan badannya.
"Tidak ada, hanya senang saja bisa kumpul kembali kayak dulu, walaupun empat hari lagi aku akan kembali"
"Kenapa cepet banget sih kak?"
"Kau lupa Ada tiga keponakanmu yang harus aku jaga, mereka hampir tiap jam telpon, ada saja yang di adukan dan diributkan" sahut Alena.
"Hehe..aku jadi kangen sama mereka, tiga bocah kembar yang membuatku selalu merindukan, lihat mereka rasanya dunia begitu indah kak" ucap Kirana lalu menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
Alena menarik nafas panjang, dia mengerti apa yang dirasakan oleh Kirana saat ini, "Sudahlah.. jangan terlalu bersedih, berdoa dan berikhtiar terus, Allah pasti akan memberikan jalan terbaik, ketiga bocah kembar ku juga anak-anak mu Kirana" ucap Alena lalu memeluk Kirana erat.
"Iya kak, terimakasih..," balas Kirana.
"Sudah jangan nangis, makeup nya nanti luntur, ini sudah jam 7 malam lebih, aku juga sudah capek menunggumu, mau aku antar apa enggak?" Ucap Alena.
"Harus lah kak, aku takut kalau Zahra nanti tidak terima dan emosi, atau terjadi hal buruk, entah kenapa perasaanku tidak enak malam ini, kak Al merasakan juga gak?"
Alena mengangguk pelan, seolah sedang berfikir dengan waspada, "aku juga merasakan hal yang sama, entahlah itu apa, semoga Edward tidak mengetahui apa yang aku rasakan, kalau tidak..urusan jadi panjang, dia bisa membuat kita tidak bebas malam ini" jawab Alena.
"Hehehe.. sama kak, suami kita itu emang posesifnya kadang keterlaluan" sahut Kirana.
"Ya maklumlah, mereka kan saudara, punya hubungan darah yang kuat" ucap Alena lalu tertawa.
Setelah susah payah keduanya membuat alasan yang masuk akal, akhirnya Edward dan Alfaro membolehkan mereka berdua keluar tanpa di temani. Hanya dua pengawal yang mendampingi keduanya menuju sebuah Restoran mewah yang sudah di pesan untuk bertemu dengan Zahra Malina Milton.
*
Sementara itu, Harry Milton sudah memanggil beberapa pengawal pribadinya untuk mengurusi sesuatu, "Aku ingin semua ini jangan sampai gagal, dan ingat satu hal, hanya kita yang tau akan hal ini"
"Baik Tuan, jadi Nona Zahra?"
"Tidak..jangan sampai dia tau, dan aku tidak ingin dia sampai tau, mengerti?!" Ucap Harry Milton.
Pengawal pribadi itupun mengangguk dan segera pergi untuk melakukan tugasnya. Harry tersenyum saat membayangkan rencananya akan berhasil hingga apa yang diinginkan segera terwujud tanpa kendala.
__ADS_1
Zahra yang sedang menghubungi seseorang sampai merasa jengkel sendiri, karena tidak segera diangkat, "heh...dimana sih Christopher, kenapa tidak diangkat juga handphone nya.. dasar..katanya bisa ngantar, bisa telat aku ini" Zahra menggerutu.
Dan kemudian sebuah mobil mewah memasuki Mansionnya, penjaga yang mengabarkan kedatangan sang pemilik mobil membuat Zahra akhirnya bisa tersenyum lebar.
"Akhirnya.. kau datang juga Chris, ayo kita berangkat, kita pasti sudah telat" ucap Zahra dengan hati yang bahagia.
Christopher segera masuk kembali kedalam mobilnya, di tengah perjalanan Zahra tersenyum beberapa kali, hingga membuat Christopher tidak tahan lagi untuk bertanya.
"Sebenarnya kita ini mau kemana, ketemu siapa, bahagia banget kamu malam ini" ucapnya.
"Tentu saja, Kirana mengundangku makan malam, Aku yakin dia akan menanyakan ku tentang niatnya soal poligami "
Uhuk uhuk..
Christopher langsung tersedak mendengar hal itu, dan segera menghentikan mobilnya.
"Tunggu...apa kau gila, mana mungkin Kirana mau melakukan hal itu, gak usah ngawur" ucap Christopher.
"Siapa yang ngawur, kamu lupa, aku pernah cerita kalau dia pernah minta pendapat ku soal poligami..dan aku yakin, sebenarnya waktu itu dia ingin aku mau menjadi istri suaminya, dan kemaren kamu gak lihat..waktu Louise salah paham padaku?" Sahut Zahra.
"Enggak...memang apa hubungannya dengan hal itu?" Tanya Christopher masih belum mengerti.
"Ya ampun Ra, kamu jangan gila ya, jangan menyimpulkan sesuatu atas dasar keinginan kamu sendiri, nanti kamu kecewa, bisa saja malam ini Kirana ingin bertemu denganmu untuk bicara hal lain" jawab Christopher Nolan.
"Ya nggak mungkinlah.. dia tidak ada urusan apa-apa dengan ku"
"Ya siapa tau, dia pengen gabung bisnis dengan perusahaan mu, atau punya ide soal pengembangan Agensinya dengan Perusahaan mu, bisa kan?" Sahut Christopher.
"Ya gak mungkinlah..ngapain juga, sudahlah, mangkanya aku ingin kamu ikut, sebagai saksi apa yang akan dikatakan oleh Kirana nanti" ucap Zahra.
"Iya iya..terserah kamu sajalah, yang penting aku sudah memperingatkan" sahut Christopher Nolan.
Setibanya di tempat tujuan, Zahra segera masuk bersama dengan Christopher, dan senyumnya mengembang saat melihat sosok wanita yang tengah duduk menunggu dirinya di sebuah meja.
"Kirana bersama siapa?" Tanya Christopher masih belum bisa melihat dengan jelas.
"Iya, sepertinya... bukankah itu Nona Alena Bilqis Nugraha?" Sahut Zahra langsung mengehentikan langkahnya.
__ADS_1
"Iya benar, lalu kenapa kau berhenti?" Tanya Christopher tak mengerti.
"Aku kurang suka dengan wanita itu , cantiknya sih tidak terbantahkan, tapi sikap menyerang dan waspada nya sangat menyebalkan" ucap Zahra.
"Terus..kita mau balik atau lanjut?' sahut Christopher.
"Apa sih..ya lanjut lah, ngapain balik, gak enak sama Kirana yang udah nunggu kita" ucap Zahra, dan kedua nya kini melangkahkan kaki untuk segera bergabung.
Setelah saling menyapa, akhirnya mereka kini duduk bersama, dengan beberapa hidangan yang sudah siap diatas meja, makan malam berjalan lancar, setelah itu Kirana mulai membuka kembali pembicaraan yang kali ini lebih serius.
"Jadi begini, aku minta maaf akan sesuatu padamu nona Zahra" ucap Kirana pelan tapi pasti.
"Iya..katakan saja Nona Kirana, ada apa?" Tanya Zahra seolah tidak sabar lagi.
Alena tersenyum ngirit melihat ekspresi wajah Zahra yang begitu senang, dia bisa memastikan bahwa Zahra kini sedang dalam keadaan salah paham.
Kirana segera menjelaskan semuanya Dimana dia pernah mempunyai niatan untuk menjodohkannya dengan suaminya, lalu kemudian Kirana mengatakan menyesal telah melakukan hal itu, Karena faktanya Alfaro tidak bisa menerima hal itu, hingga akhirnya Kirana meminta maaf akan apa yang sudah dilakukannya.
Zahra terkejut, tampak sekali rasa kecewa yang begitu dalam dimatanya, apalagi saat ini dia sudah terlanjur jatuh hati kepada Alfaro.
Christopher mengelus punggung Zahra sekejab, dia tau apa yang sedang dirasakan oleh sahabat nya saat ini.
"Aku sungguh minta maaf nona Zahra.." ucap Kirana kemudian.
Zahra masih terdiam, tidak tau apa yang harus dikatakan.
Disaat itu, Alena merasakan kepalanya begitu pusing, dan perutnya sangat mual, tubuhnya seolah seperti lemah, "Maaf, aku ke toilet dulu, kalian mengobrol lah kembali, ingat..jangan dengan emosi" pesan Alena sebelum akhirnya pergi.
Dengan semua tenaga Alena berusaha untuk menyadarkan dirinya yang mengalami serangan ngantuk dan mual lua biasa. "Sepertinya ada yang tidak beres dengan tubuhku, mungkinkah ada seseorang yang sengaja meracuniku?" Ucap lirih Alena saat berada didalam Toilet.
Dan kemudian dengan cepat Alena membasuh mukanya, berusaha terus untuk mengontrol dirinya, dengan menggunakan tenaga dalamnya, Alena berusaha mengeluarkan racun-racun yang ada dalam tubuhnya, tehnik yang sudah sering diajarkan oleh suaminya nyatanya sangat bermanfaat saat ini.
Hingga Akhirnya Alena berhasil mengatasinya, walaupun merasa di tubuhnya masih ada sisa racun yang ada.
"Aku harus melihat keadaan Kirana" batin Alena penuh cemas dan langsung keluar dari Toilet untuk melihat keadaan Kirana.
Jangan lupa VOTE HADIAH LIKE dan KOMEN.
__ADS_1
Bersambung.