SELEMBAR KERTAS

SELEMBAR KERTAS
Episode 182


__ADS_3

Pagi hari yang begitu cerah, setelah melakukan ibadah subuh, Zahra sengaja kembali tidur karena matanya masih begitu mengantuk.


Di kamar yang berbeda, Hendri juga melakukan hal yang sama, hingga sinar matahari menyapanya dan membuat dirinya mau tak mau harus membuka matanya kembali.


"Jam berapa ini?" Ucap lirih Hendri bicara sendiri, lalu kemudian melihat jam yang ada di sampingnya.


"Oh my God, sudah jam 9 pagi?" Hendri segera melompat dan masuk ke dalam kamar mandi.


Tak lama kemudian dirinya segera pergi ke bawah untuk melihat menu sarapan pagi,


"Maaf Tuan, kami belum membuat sarapannya, tidak bisa membangunkan Tuan dari tadi" ucap Pelayan.


"Tidak apa-apa, pergilah kerjakan yang lain, biar aku yang memasak pagi ini" jawab Hendri yang sering melakukan hal itu walaupun tak pernah kekurangan asisten rumah tangga.


Sedang asik berkonsentrasi membuat makanan lezat untuk mengisi perutnya di pagi hari, tiba-tiba saja terdengar suara langkah yang semakin mendekati, Hendri menoleh sejenak dan ternyata Zahra dengan muka bantalnya.


"Pagi Hen"


"Pagi, baru bangun?" Tanya Hendri dengan tangan yang masih sibuk.


"Iya, maaf, aku terlambat" jawab Zahra.


"Tidak apa-apa, kamu pasti sangat lelah" ucap Hendri.


"Begitulah" Jawab Zahra sambil kemudian duduk dan menopang kepalanya mengamati Hendri yang dengan piawai menggerakkan tangannya.


"Kamu masak sendiri Hen?" Tanya Zahra.


"Tidak, hanya kadang-kadang saja kalau aku ingin, dan hari ini pekerjaanku tidak banyak, jadi aku masih sempat melakukannya" jawab Hendri kemudian menggerakkan tangannya untuk membuat sesuatu.


Zahra masih nyaman duduk di meja sambil terus mengamati Hendri.


"Teh atau coklat hangat?" Tanya Hendri kemudian.


"Tidak usah repot-repot Hen, biar aku membuatnya sendiri" jawab Zahra merasa tidak enak hati.


"Kamu duduk saja, tubuhmu masih harus banyak istirahat Zahra" sahut Hendri yang kini sudah membawa segelas teh untuk Zahra nikmati.


"Terimakasih Hen" ucap Zahra sambil tersenyum dan meminum seteguk teh hangat yang membuat nyaman perutnya.


"Hem harum sekali, kamu masak apa Hen?" Tanya Zahra lagi.


"Masi goreng special"


"Dengan daging cincang dan saos tiram istimewa?" Sahut Zahra cepat.


"Hem, rupanya masih ingat" ucap Hendri merasa senang karena Zahra masih mengingat makanan yang dulu sering di buatkan untuk nya, lalu menatap Zahra sekejab dengan senyuman yang begitu menawan.


Zahra yang melihat hal itu sejenak tertegun akan ketampanan Hendri yang kini semakin terlihat, lalu segera mengalihkan pandangan.


"Apa ada masalah?" Tanya Hendri yang sekilas melihat Zahra dengan muka memerah.


"Ha, oh, tidak, aku hanya semakin lapar saja melihatmu" jawab Zahra gugup dan membuat Hendri menaikkan satu alisnya.

__ADS_1


"Kamu lapar melihat ku?" Tanya Hendri dengan tatapan intens nya.


"Apa?!, Oh tidak , maksudku aku semakin lapar melihat masakan mu" Zahra membenarkan kata-kata nya.


"Lain kali jangan salah berkata, karena menghasilkan makna yang berbeda" sahut Hendri dengan senyuman tipisnya, dan kembali menyelesaikan sesuatu yang tinggal sebentar lagi.


"Done!, Saatnya kita sarapan" seru Hendri.


"Wah baunya sangat menggugah selera, biar aku bantu untuk toping dan menyiapkan di meja" sahut Zahra segera beranjak dari duduknya, bergabung bersama Hendri dan mencari-cari tempat yang tepat untuk makanan spesial yang akan di santap nya.


"My God, tinggi sekali" Zahra berusaha mengambil piring besar untuk tempat makanan.


Hendri melihat hal itu,segera melangkah mendekati dan dengan entengnya mengangkat tubuh Zahra hingga bisa meraih apa yang ingin diambilnya.


Zahra merasa terkejut, jantungnya berdetak begitu keras, namun seperti tak mampu berbuat apapun, hanya bisa menikmati bau rambut Hendri, dimana kini posisi kepalanya sedang ada di depan perutnya.


"Sudah?" Tanya Hendri yang merasa Zahra hanya diam saja.


"Oh iya, maaf" sahut Zahra segera meraih piring sebelum Hendri menurunkannya kembali.


"Tubuhmu ringan sekali, kamu harus rajin makan biar lebih berisi Zahra"


"Ish, kau ini, di luaran sana para wanita lagi sibuk bersusah payah menurunkan badannya, beruntung aku sudah langsing tanpa harus melakukan hal itu Hen" jawab Zahra yang membuat Hendri terkekeh.


"Sudah Siap!" Teriak Zahra merasa puas dengan pekerjaannya.


"Hem, lumayan, ayo kita sarapan" sahut Hendri kemudian.


Begitu juga dengan Zahra, ada hati yang berdesir, seolah kerinduan yang tidak dia mengerti terasa terobati, hingga tanpa disadari senyumannya pun mengembang.


"Kenapa kamu tersenyum?" Tanya Hendri nampak heran.


"Tidak ada, rasanya masih sama, dan bahkan semakin nikmat" jawab Zahra.


"Aku akan membuatkanmu setiap pagi, kalau memang itu yang kamu inginkan" sahut Hendri.


"Jangan bercanda Hen, itu tidak lucu" jawab Zahra.


Hendri hanya membalas tatapan Zahra dengan senyuman, lalu melanjutkan sarapan paginya dengan tenang, diakhir suapan Zahra seperti mengingat sesuatu.


"Oh iya, semalam aku begitu lelah, sampai tidak ingat kapan aku masuk ke dalam kamar" ucap Zahra.


"Aku yang menggendong mu masuk"


Uhuk uhuk


Seketika Zahra langsung tersedak saking kagetnya.


"Pelan-pelan saat meminumnya" Hendri cepat berdiri dan berpindah di belakang Zahra sambil menggosok pelan punggungnya.


"Sorry, aku hanya kaget, kenapa tidak membangunkan ku saja?" Ucap Zahra.


"Kamu tidur seperti orang yang enggan bangun lagi, tidak bergerak dan bahkan membuka mulutmu"

__ADS_1


"Apa?!" Teriak Zahra lagi.


Hendri langsung tertawa melihat ekspresi tak jelas dari wajah Zahra.


"Jangan tertawa Hen, itu gak lucu!" Teriak Zahra lagi.


"Tenang-tenang, wajahmu saat itu masih aman, terlihat alami dan lucu, tidak ada air liur yang menetes, jadi aku aman"


"Maksudmu aman gimana?"


"Aman dari rabies"


"Hendri!" Teriak Zahra lagi, kaki ini sudah menyambar kain lap dan melemparkan ke wajah Hendri cukup keras.


Bukanya marah, justru Hendri semakin tertawa keras, suasana pagi itu di Mansion yang biasanya sepi, kini terasa ramai dan lebih hidup dari biasanya.


Tak berapa lama terdengar suara panggilan dari ponsel milik Zahra, dan segera di buka oleh pemiliknya, raut wajah Zahra seketika berubah.


"Ada apa?" Tanya Hendri yang merasakan ada sesuatu.


"Telpon dari mantan suamiku" ucap Zahra segera mematikan panggilan.


Hendri masih terdiam, sengaja tidak ingin membuka suara dahulu sebelum Zahra sendiri yang akan memulai, tak lama kemudian terdengar panggilan lagi, dan seperti sebelumnya, Zahra tidak mau mengangkatnya.


Untuk ketiga kalinya panggilan berbunyi, Zahra kini menyembunyikan wajah di lipatan tangannya, Hendri segera mengambil handphone dari genggaman tangan Zahra.


"Ini dari Nona Kirana, apa kamu tidak ingin mengangkatnya?" Ucap Hendri.


"Apa?, Oh sorry!" Zahra langsung meraih kembali ponselnya.


Disaat yang sama, Hendri mendapat sebuah pesan tentang kabar yang diinginkan dari seseorang yang sudah dia percaya.


"Rupanya suaminya benar-benar pria bre-ng-sek yang lumayan punya kekuasaan, pantas Zahra merasa begitu ketakutan dan ditindas" batin Hendri masih terus membaca semua pesan yang cukup panjang.


Perbincangan dengan Kirana juga tengah berlangsung.


"Jangan kembali ke Apartemen mu Zahra, sekarang kamu ada dimana?" Tanya Kirana.


"Aku ada di Mansion Hendri" jawab Zahra.


"Apa?!, Mansion Hendri?, Kalian hanya berdua?" Seru Kirana.


"Tentu tidak, di sini ada beberapa pelayan, dan juga penjaga"


"Oh okey, tempat tidur kalian terpisah bukan?"


"Oh my_, tentu saja Kirana, mana mungkin aku tidur seranjang berdua"


"Kalau itu terjadi, aku orang pertama yang akan menyeret kalian ke KUA!" Teriak Kirana begitu kencang


Hendri yang sudah berada di dekat Zahra, langsung berbisik,"AMIN!"


"Hendri!" Teriak Zahra.

__ADS_1


__ADS_2