
Kirana dan Alfaro kini sudah berada di ruang tunggu depan kamar operasi, begitu juga dengan Hani dan Ronan yang masih menanti mereka. Alfaro melihat Kirana yang terduduk sambil menunduk menatap lantai, dia baru tersadar kalau baju Kirana berantakan dan kotor, bahkan ada sedikit luka gores di tangannya.
"Hani, bisakah kau pulang untuk mengambilkan baju Kirana dulu, aku yakin kalau aku menyuruhnya pulang pasti dia tidak akan mau" ucap Alfaro yang kini sudah mendekati Hani dan Ronan.
Hani terkejut dan menoleh ke arah Kirana yang masih termenung, lalu dirinya segera beranjak pergi.
"Aku akan mengantarmu, jangan menolak, biar aku yang menyetir, berikan kuncinya" ucap Ronan yang sudah menyahut kunci mobil dari tangan Hani yang baru saja dikeluarkan dari tas kecilnya.
Sementara Alfaro perlahan mendekat ke arah Kirana dan duduk disampingnya.
"Terimakasih sudah menyelamatkan Daddy" ucap pelan Alfaro dan mengejutkan Kirana.
"Oh..itu sudah kewajiban ku melakukannya, aku tidak menyangka kecelakaan tunggal bisa terjadi begitu dahsyat, aku bersyukur datang disaat yang tepat, sebelum mobil paman Ali meledak" jawab Kirana.
Alfaro terdiam dan terkejut melihat luka lecet yang ada di punggung tangan Kirana, lalu memeriksanya sekejap.
"Kau bersihkan dulu lukanya, jangan sampai infeksi nanti"
"Sudah tadi.. saat baru saja sampai disini" jawab Kirana lalu terdiam kembali.
"Kalau kau memikirkan permintaan Daddy, kau tidak perlu khawatir..aku tidak akan memaksa mu" ucap Alfaro membuat Kirana langsung menatap nya sejenak.
"Kau sendiri, apa keberatan dengan permintaan paman Ali?" Tanya Kirana.
"Tentu saja tidak" ucap singkat Alfaro.
DEG.
Kirana terkejut dengan apa yang diucapkan Alfaro dan itu artinya, Alfaro juga menginginkan dirinya untuk menjadi istrinya, entah apa lagi yang harus diucapkan oleh Kirana, hingga akhirnya Kirana kembali terdiam.
"Aku tidak ingin kau memenuhi permintaan Daddy dengan hati yang terpaksa Kirana, aku tau..kau pasti takut terluka lagi setelah apa yang sudah aku lakukan padamu" ucap Alfaro lagi.
"Sebuah janji yang terucap adalah hutang yang harus dibayar seumur hidupmu Faro, aku tidak bisa mengingkarinya karena dosanya tidak main-main besarnya" jawab Kirana.
"Jadi..?" Tanya Alfaro lagi.
"Aku akan melakukannya, dan aku harap ini jalan terbaik untuk kita yang di tetapkan oleh-NYA, walaupun hatiku masih sangat Ragu" ucap Kirana.
"Terimakasih, maafkan aku, sudah membuat mu masuk dalam lingkaran masalahku yang sangat membebani mu"
Kirana terdiam kembali, hatinya masih diselimuti dengan berjuta keraguan akan keputusan yang mengharuskan dia akan melakukan pernikahan dengan Alfaro karena janji yang sudah terlanjur terucap.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, operasi sudah selesai dilakukan dan seorang dokter Ahli bedah sudah berdiri di depan pintu untuk memberikan kabar keadaan Aliando Runcel Eagle kepada keluarganya.
"Bagaiman keadaan Daddy saya dokter?" Tanya Alfaro, dan Kirana pun segera ikut mendekat.
"Operasinya berjalan lancar, tapi perdarahan yang terjadi di luka kepalanya sangat hebat, jadi kemungkinan tuan Aliando akan mengalami Koma, tapi diperkirakan itu tidak akan lama"
"Astagfirullah..Daddy.." ucap Alfaro seketika tubuhnya terhuyung, beruntung Kirana segera menahan tubuhnya lalu membawanya duduk kembali.
Kirana segera kembali mendekat ke dokter yang masih berdiri dan menanyakan semua yang ingin diketahui tentang Aliando, setelah penjelasan yang diberikan, Kirana segera mengucapkan terimakasih dan kembali di samping Alfaro yang masih kelihatan shock.
"Aku akan ke masjid Rumah Sakit untuk sholat dhuhur Kirana" ucap Alfaro berjalan keluar dari ruang tunggu meninggalkan Kirana, setelah melihat jam yang menunjukkan waktu saatnya sholat dhuhur.
Tak lama kemudian datanglah Hani dan Ronan yang sudah membawa pakaian Kirana.
"Bagaimana paman Ali?" Tanya Hani.
"Operasi sudah berhasil, namun..paman Ali di perkirakan akan Koma beberapa hari kedepan" ucap Kirana dan membuat Hani dan Ronan terkejut mendengarnya.
"Lalu di mana Alfaro?" Tanya Ronan begitu cemas.
"Ada di Masjid, sedang sholat dhuhur" jawab Kirana, dan Ronan langsung berlari keluar untuk menyusul keberadaan sahabatnya.
"Sebaiknya kita tunggu dulu Ronan dan tuan Alfaro datang sebelum kita ke masjid, biar mereka nanti tidak kebingungan saat kembali ke sini" ucap Hani.
"Jangan menunda waktu sholat Han, kamu ke masjid saja dulu, memberitahu Ronan untuk menggantikan ku berjaga disini, setelah itu aku akan menyusul mu ke Masjid, bagaimana?"
Hani langsung mengangguk dan kemudian segera bergegas meninggalkan ruangan untuk memberitahu Ronan, tak lama terlihat Ronan dan Alfaro sudah berjalan masuk kedalam ruangan yang diberitahukan oleh Hani untuk menggantikan Kirana.
"Pergilah sholat dulu Kirana, aku dan Ronan yang akan menunggu disini" ucap Alfaro.
"Iya, jangan pernah meninggalkan paman dulu, sekarang masa kritisnya masih belum berakhir, aku akan ke Masjid menyusul Hani" jawab Kirana yang kemudian segera pergi.
Saat langkah Kirana hampir saja keluar ruangan, tiba-tiba saja dia berbalik arah dan mendekat ke arah Alfaro yang tentu saja terkejut melihat kedatangan Kirana kembali.
"Ada apa?" Tanya Alfaro penasaran.
"Aku akan membelikan makan siang, katakan pesanan kalian menu apa yang diinginkan?" Tanya Kirana.
Alfaro terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Kirana, dalam hatinya juga merasakan bahagia saat wanita yang ada didepannya begitu perhatian akan dirinya, hingga tanpa sadar Alfaro terus menatap mata Kirana.
"Ya sudah..kalian beli sendiri saja, sepertinya otak temanmu itu mulai gak waras Ron" ucap Kirana yang kemudian segera pergi begitu saja.
__ADS_1
Ronan tekejut lalu menatap ke arah Alfaro yang masih juga terdiam mematung dan hanya menatap kepergian Kirana, hingga Ronan Segera memukul lengannya untuk menyadarkan Alfaro kembali.
"Hah..iya, ada apa Ron?" Tanya Alfaro tergagap saat dirinya sudah tersadar.
"Telat..yang mau belikan makanan sudah kabur..dasar!!" Ucap Ronan sambil menatap ke arah sahabatnya.
Alfaro hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mereka berdua kini masih diruang tunggu ICU dan sesekali bergantian melihat keadaan Aliando lewat kaca besar yang memang disediakan untuk keluarga pasien ikut memantau keadaan pasien yang dirawat di dalam ruangan khusus itu.
Kirana melantunkan doa setelah menyelesaikan sholat nya, dia memohon ketetapan dan juga keikhlasan hatinya akan keputusannya memenuhi janjinya yang sudah terucap. Tetesan air mata kini tidak bisa dibendung lagi, rasa khawatir akan pengkhianatan dari Alfaro membuatnya takut dan memohon perlindungan dari Allah SWT.
Tak lama kemudian dirinya segera menyudahi doanya dan duduk sebentar di serambi Masjid yang sudah sepi, Hani segera mendekat.
"Ada apa Kirana, aku melihatmu menangis tadi" ucap Hani.
Kirana segera memeluk Hani, tangisannya kini tumpah kembali, Hani makin terkejut melihat apa yang dilakukan oleh sahabatnya, hingga akhirnya Kirana menceritakan soal janjinya untuk menjaga Alfaro sekaligus menikah dengannya.
"Bismillah Kirana..Allah pasti sudah menyiapkan sesuatu yang indah untuk mu, kalau memang kamu ditakdirkan untuk bersanding dengan tuan Alfaro, setiap orang bisa berubah, begitu juga Tuan Alfaro.." ucap Hani membesarkan hati sahabatnya.
Kirana kini sudah bisa tenang, nasehat yang diberikan oleh Hani, membuat bebannya terasa ringan kembali, dan akhirnya Kirana segera mengeluarkan handphone untuk menghubungi seseorang.
"Apa yang ingi Kau lakukan?" Tanya Hani penasaran.
"Aku akan memberi kabar kak Alena dan juga kak Edward tentang keadaan paman Ali sekarang ini, bagaimanapun paman Ali adalah saudara kembar Daddy kak Edward"
"Oh iya ya..kenapa aku bisa lupa gini, okey Kirana..sebaiknya segera hubungi keluarga Eagle tentang hal ini" sahut Hani.
Kirana segera menghubungi Alena dan berbincang serius dengannya, keluarga Edward tentu saja sangat shock dengan kabar berita yang di bawa oleh Kirana, dan kemudian Kirana juga menceritakan masalahnya yang tengah terjadi antara dirinya dan juga Alfaro.
"Jadi kau sudah menyanggupi janji itu, dan kau melakukannya dengan sadar, berarti sekarang tau kan apa yang harus kau lakukan, karena mengingkari janji yang diucapkan adalah dosa yang tidak main-main Kirana" ucap Alena mengingatkan.
"Iya kak, aku bingung harus bagaimana sekarang, janji adalah hutang yang hukumnya adalah wajib untuk dibayar" sahut Kirana.
"Sholat dan berdoa meminta petunjuk darinya, ketetapan apapun yang pada akhirnya di terjadi padamu adalah yang terbaik dari Allah untukmu, yakinlah akan hal itu, walaupun awalnya akan terasa sangat berat" jawab Alena.
"Iya kak..terimakasih nasehatnya, dan keadaan paman Ali sekarang ini masih kritis, aku sangat khawatir kak" ucap Kirana dengan suara tergetar menahan tangisnya.
"Okey..tenanglah Kirana..kami akan segera kesana" ucap Alena di dalam sambungan handphone.
Bersambung.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMEN selalu di tunggu.
__ADS_1