
Hendri tersenyum penuh arti dan melanjutkan kembali penjelasannya.
"Istri Denta adalah wanita simpanan seseorang sebelum menikah, dan aku sangat mengenalnya, dari penjelasan yang dia berikan, kemungkinan yang di kandungnya belum tentu anak dari Denta" ucap Hendri.
"Astaghfirullah, benarkah?" Begitu terkejutnya Zahra.
"Hem, kita lihat saja nanti, aku yakin saat ini Denta sedang murka dan segera melakukan tes DNA walaupun bayi itu masih berada dalam kandungan, karena bukti Foto-foto akan istrinya sudah terkirim padanya"
"Oh my God, aku benar-benar tak menyangka" ucap lirih Zahra.
"Kenapa, kamu menyesal berpisah dengan Denta?" Ucap Hendri sedikit cemburu.
"Bukan begitu, aku merasa semakin jatuh cinta" jawab Zahra.
"Apa?!" Hendri terkejut.
"Pada mu honey" sahut Zahra sambil tersenyum dan mengedipkan mata.
"Sepertinya istri ku benar-benar minta di hajar, Hem?" ucap Hendri lalu menarik kembali Zahra untuk kembali menempel di tubuhnya, memaksa menci-um dengan sekuat tenaga karena Zahra terus meronta.
*
*
Seminggu kabar akan kebobrokan seorang Denta dan keluarga besarnya tersebar di semua media masa dan juga media sosial, bahkan kini status beberapa perusahaan masih dalam pemeriksaan pihak yang berwajib.
Alih-alih menyia-nyiakan Zahra karena tak juga bisa memberikan keturunan, justru Denta terjebak dalam permasalahan pelik bersama dengan istri barunya, apalagi hasil tes DNA ternyata seperti apa yang di perkirakan oleh Hendri sebelumnya.
Zahra melihat semua berita tentang Denta dari handphone nya, ada perasaan kasihan walaupun dirinya sudah di sakiti begitu hebat oleh laki-laki itu yang dulu pernah menjadi seseorang yang berada di sampingnya.
"Mungkin ini adalah akibat dari semua perbuatan mu, dan aku berharap akan menyadarkan mu" ucap lirih Zahra yang sedang berdiri di balkon kamar menikmati tenangnya angin malam.
"Sepertinya istri ku sedang memikirkan laki-laki lain" ucap Hendri yang tiba-tiba saja memeluk dari belakang
"Honey?" Zahra terkejut.
"Apa aku harus menghukum mu kembali, Hem?" Sahut Hendri sedikit meremas bukit kembar milik sang istri.
"Sorry, aku hanya kasian dengannya, tidak lebih" ucap Zahra yang tentu saja mulai menikmati tangan lembut yang terus mere-mas area bukit kembarnya.
"Dan aku akan mengalihkan pikiranmu sekarang juga" sahut Hendri yang sudah berhasil melepaskan kain yang menutupi milik sang istri.
"Emhh, honey!" Zahra terpekik saat salah satu jari Hendri terasa memasuki miliknya.
Reflek alam tubuh Zahra mengimbangi apa yang diinginkan Hendri, meletakkan tangan di pagar balkon dan mencondongkan tubuhnya.
Posisi yang sudah nampak sangat sempurna dan se-ksi di mata Hendri, lalu perlahan mengganti jarinya dengan miliknya yang sudah menegang sempurna untuk di masukkan dari belakang.
"Sshh, oohh" Zahra mende-sis saat ujung pusaka suaminya mulai memasukinya, sedikit melebarkan kakinya lagi untuk memudahkan akses karena merasa sedikit sakit dengan posisi berdiri dan di masuki dari belakang.
Hendri menekan sangat pelan, menyibak bagian bawah baju Zahra hingga terlihat kulit mulus Zahra dan juga miliknya yang terus masuk dengan sempurna, sungguh pemandangan yang membuat Hendri benar-benar tidak tahan lagi.
__ADS_1
"Akh!, Pelan honey" ucap Zahra saat Hendri mulai memompa miliknya.
"Sorry, Oohh, ini sangat Nik-mat!" Ucap Hendri dengan posisi berdiri kini perlahan menggerakkan miliknya keluar masuk berulang kali.
Zahra merasakan sensasi luar biasa kembali, milik Hendri begitu mengobrak Abrik miliknya dari dalam sana, tubuhnya makin berguncang dan sudah tak merasakan sakit lagi walaupun Hendri kini begitu cepat dan kuat terus bergerak.
"Akh, honey, aku ingin_"
"Kita bersama!" Sahut Hendri.
Beberapa detik kemudian keduanya berteriak mencapai puncak has-rat yang begitu nikmat, gerakan terakhir Hendri menancapkan miliknya dengan kuat, menyemburkan benihnya begitu masuk ke dalam, membuat Zahra berteriak kembali.
Hendri tersenyum, mencium punggung Zahra dan menggosoknya lembut, memberikan sentuhan di area pan-tat sang istri dan masih terus membenamkan miliknya.
"Apa ini belum selesai?" Tanya Zahra yang sudah mulai menata nafasnya kembali.
"Tunggu sebentar, milikku masih ingin di dalam sana" ucap Hendri memandang kulit mulus bagian bawah sang istri dan terus membelainya.
"Aku masih terus berdiri honey, kakiku mulai gemetar" sahut Zahra dan membuat Hendri langsung tertawa.
"Baiklah, aku akan melepasnya" ucap Hendri yang sebenarnya mulai On kembali, namun tentu saja di tahannya karena tidak ingin memforsir tenaga sang istri dan juga dirinya sendiri, karena besok pagi akan melakukan pesta meriah pernikahannya.
Hendri menggendong Zahra masuk ke dalam kamar mandi, keduanya bersuci dan membersihkan diri sebelum akhirnya tertidur sangat pulas diatas tempat tidur dan dalam selimut yang sama.
Keesokan paginya keadaan sudah berubah begitu riuh di dalam Mansion, nampak persiapan pesta pernikahan sudah di mulai, semua makanan yang di pesan sudah datang dan mulai di tata dengan rapi.
Tentu saja Kirana dan Alfaro sudah ikut bergerak membantu, begitu juga dengan beberapa keluarga Nugraha yang berada di Indonesia dan bisa membantunya.
Kedatangan Alena dan Edward bersama dengan ketiga anak kembarnya begitu meramaikan suasana.
Para relasi yang datangpun ikut terkejut di buatnya, mendapati beberapa anggota keluarga Nugraha ternyata ada di sana.
Pesta berlangsung dengan lancar, semua ikut berbahagia, dan berakhir tepat di jam sebelas malam.
"Kita akan pulang dulu, doa yang terbaik untuk kalian" ucap Kirana lalu memeluk Zahra.
"Dan aku selalu pegang kata-katamu Hendri" ucap Alfaro lalu memeluknya.
"Insyaallah, saya akan berusaha dengan segenap jiwa dan raga menjaga Zahra sampai akhir hayat" jawab Hendri.
"Terimakasih" sahut Zahra.
Hendri tersenyum menatap istrinya dan mendekatkan bibirnya.
"Ehem, tunggu kami pulang dulu" ucap Kirana menyadarkan kedua pasangan yang masih di mabuk asmara.
Keduanya terkejut, tersadar dan kemudian sedikit menjauh, lalu mengantarkan Kirana dan Alfaro untuk kembali pulang.
Sebelum melangkah kembali masuk ke dalam Mansion, Hendri melihat Zahra mulai dari ujung kepala sampai kaki, membuat sang istrinya itu tentu saja merasa heran.
"Ada apa?" Tanya Zahra penasaran.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, istriku sangat cantik dan semakin bertambah cantik" ucap Hendri.
"Ish, aku tau apa yang kamu inginkan honey, dasar!" Jawab Zahra dan membuat Hendri tertawa.
"Kalau begitu bersiap kan dirimu honey, kita akan mencoba gaya yang baru, bagaimana?" sahut Hendri.
"Apa?!, Oh my_, baru saja semalam honey, dan kita baru saja berpesta, kamu tidak capek?" tanya Zahra.
"Justru itu obat capek ku semenjak aku punya istri tersayang dan tercantik ku ini" ucap Hendri yang sudah menarik Zahra dan bersiap melahap bibirnya.
"Eh, tunggu!, Ini di luar, banyak orang yang sedang ber beres, dasar!" Zahra segera menahan wajah Hendri agar tidak terjadi adegan panas di tempat umum.
Dan tak kalah cepat juga Hendri langsung menggendong Zahra yang spontan menjerit kaget dan segera membawa masuk kedalam kamar, tatapan mata banyak orang dan senyuman malu dari mereka semua tidak dipedulikan sama sekali oleh Hendri, baginya semua orang dewasa yang harusnya memaklumi apa yang akan di perbuat nya.
"Akh!, Hendri tunggu!" Teriak Zahra saat Hendri sudah tak sabar membuka baju pesta pengantin milik Zahra yang amat ketat menempel di tubuh.
Beberapa detik keduanya sudah begitu polos tanpa sehelai benangpun yang menempel, setelah membaca doa seperti biasanya, Hendri langsung melancarkan aksinya, Zahra juga begitu menikmati, pelayanan yang terbaik di berikan kepada sang suami.
*
*
Sebulan telah berlalu.
Pagi yang cukup melelahkan di hari Sabtu, namun karena ada hal penting di perusahaan, terpaksa Hendri harus datang ke sana.
"Aku hanya sebentar saja honey, dan akan segera pulang" ucap Hendri setelah selesai sarapan.
"Tidak apa-apa honey, pergilah, aku akan memindahkan dan menata ulang barang-barang ku di kamar kita" jawab Zahra.
"Jangan terlalu capek, aku tidak bisa membantu mu, maaf ya" ucap Hendri lalu mencium puncak kepala Zahra dan mencium bibirnya.
"Okey, hati-hati dijalan" ucap Zahra dengan senyuman terindahnya mengantar kepergian suami untuk bekerja seperti yang sudah biasa dilakukan beberapa Minggu ini.
Kesibukan Zahra berlanjut dibantu oleh beberapa asisten rumah tangganya, tak terasa hampir jam dua belas siang Zahra baru saja selesai.
"Kenapa aku ingin sekali jalan-jalan keluar mencari buah segar ya?" Gumam Zahra yang merasakan keanehan akan dirinya.
"Ada yang bisa saya bantu lagi nyonya?" Tanya salah satu asisten rumah tangganya.
"Hem, bisa menemaniku keluar?, Aku ingin sekali buah segar, sudah beberapa hari yang lalu"
"Benarkah nyonya?, Wah sepertinya akan ada kabar gembira" sahut asisten rumah tangganya.
"Jangan bercanda, kalau yang kamu maksud hamil, itu tidak mungkin, sudahlah, ayo temani aku" ucap Zahra yang kemudian segera bersiap.
Zahra kini berada di pusat pembelanjaan, berjalan kesana kemari dengan senyuman yang terus mengembang karena apa yang diinginkan Benyak di depan matanya.
"Banyak sekali buah yang aku beli, aku rasa ini sudah cukup" ucap lirih Zahra melihat penuhnya keranjang yang terisi oleh buah-buahan, lalu segera keluar untuk menunggu di dalam mobil.
"Nyonya awas!!" Suara jeritan terdengar saat tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang menghampiri Zahra.
__ADS_1
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.