
Tanpa membuang waktu, Zahra segera mempercepat langkahnya untuk menyusul keberadaan mereka yang ternyata sudah masuk ke dalam ruangan Hendri.
"Kenapa mereka masuk ke sana, ada apa sebenarnya?" Batin Zahra yang akhirnya sedikit berlari dan menyusul masuk ke dalam ruangan.
Zahra sangat terkejut melihat kini Hendri sudah jatuh dari tempat tidurnya dengan dada diinjak oleh salah satu dari mereka.
"Apa-apaan ini, lepaskan dia..!!" Teriak Zahra membuat ke empat orang asing itu langsung menoleh kearahnya.
"Nona Zah Ra" ucap salah satunya dengan membelalakkan mata.
"Iya..ini aku, kau tentu mengenalku bukan..?, Jadi aku perintahkan, menjauh dari dia..dan jangan berani-berani menyentuhnya!" Ucap Zahra yang kini sudah berada semakin dekat dengan Hendri.
Dengan satu kode dari salah satu orang itu, semuanya segera mundur, mereka rupanya sudah menyadari kalau sekarang sedang berhadapan dengan putri satu-satunya dari sang Bos yang membayar mereka.
Hendri segera tertatih untuk bangkit, Zahra segera membantunya untuk duduk kembali di kasurnya.
"Ada urusan apa kalian sampai melakukan hal ini dengan temanku?" Tanya Zahra kemudian.
"Maaf Nona, sebaiknya anda tidak ikut campur urusan kita, silahkan anda pergi dari sini"
"Lancang..!!" Bentak Zahra.
"Maaf Nona, tapi ini adalah_"
"Perintah Dady bukan..?, Katakan padanya, jangan berni menyentuh laki-laki ini, dia adalah temanku, kalian pergilah, dan ingat.. aku akan meminta penjelasan nantinya"
"Tapi Nona.."
"Pergilah..atau kalian akan menghadapi ku!"
Dan dengan wajah terpaksa, keempat orang itu segera pergi, kemudian Zahra segera membantu Hendri berbaring kembali. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Zahra.
Hendri mengangguk dan terdiam, "Bagaimana mungkin wanita sebaik ini adalah putri dari seorang Harry Milton, dan apakah dia tidak mengerti sama sekali rencana keji tuan Harry?, Benarkah dia juga di jebak oleh Daddy-nya sendiri?" Banyak sekali pertanyaan yang kini tengah berputar-putar dalam benak Hendri yang masih merasakan nyeri di dadanya.
Begitu juga dengan Zahra yang kini semakin bingung dengan apa yang baru saja terjadi, hingga dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada urusan apa kau dengan orang-orang itu?"
"Maaf Nona, apa anda mengenal mereka?" Hendri berpura-pura tidak tau.
"Iya..mereka adalah orang-orang Daddy ku"
"Oh..jadi begitu, apa anda benar-benar tidak tau?"
"Maksud mu?"
__ADS_1
"Bukankah mereka sangat mengenal anda Nona Zahra?"
"Tentu saja, kenapa aku merasa pertanyaan mu berbelit-belit, ada apa..?" tanya Zahra semakin penasaran.
"Tidak ada Nona, hanya saja mereka menginginkan nyawa saya, tentu saja atas suruhan tuan Herry Milton "
"Iya..aku tau..tapi kenapa, kau ada urusan apa dengan Deddy ku dan mereka?"
"Saya..Saya.."
"Katakan saja dengan jujur, jangan takut, aku tidak ada di pihak Daddy ku, ayo..katakan.."
"Saya adalah salah satu orang yang masih hidup dan bisa memberikan kesaksian atas apa yang telah tuan Harry lakukan ke Anda dan tuan Alfaro"
Deg
"Apa..?!!" tanya Zahra terkejut.
"Iya nona Zahra, saya adalah orang yang kini sangat dicari untuk di habisi oleh ayah anda" sahut Hendri.
"Astagfirullah..jadi kau_" Zahra masih terpaku tidak percaya, beruntung kerja otaknya segera aktif kembali dan langsung menghubungi seseorang, setelah itu Zahra segera mendekat kembali.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini, kau tidak aman Hendri..ayo ikut aku, tidak ada waktu lagi, mereka pasti akan datang kembali " ucap Zahra lagi dan kali ini segera membantu Hendri untuk duduk dan turun dari tempat tidurnya.
Tampak berpikir sejenak, Hendri berhenti dan terdiam saat akan menaiki mobil Zahra.
"Kenapa?" Tanya Zahra.
"Sebaiknya kita berpisah, anda akan ikut dalam bahaya jika terus bersama saya nona" ucap Hendri.
"Jangan konyol..dengan keadaanmu seperti ini, memangnya kau bisa berbuat apa?" Sahut Zahra yang segera menarik Handri untuk masuk kedalam mobilnya.
Hendri terkejut dengan keputusan Zahra yang bersikeras untuk membantu dan melindunginya, hingga tanpa terasa tidak melepaskan tatapannya.
"Jangan menatapku seperti itu, aku masih manusia seperti dirimu, bukan zombi yang akan memakan mu" ucap Zahra
Hendri terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya."Bukan zombi tapi bidadari dengan semua kebaikan hati" ucap Hendri dalam hati, seulas senyum tampak sekejab menghiasi bibirnya.
Hingga kemudian Zahra segera melajukan mobilnya dengan cepat, ketegangan tampak dari wajah keduanya, dan beberapa menit kemudian.
Ciiitt...
Zahra spontan mengerem di saat ada dua mobil yang menyalip dengan cepat dan kini sudah menghadangnya.
"Anda tidak apa-apa Nona Zahra?" Tanya Hendri berusaha memeriksa keadaan Zahra yang masih shock dengan kejadian barusan.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, kau..?"
"Saya baik, jangan keluar dari mobil nona, biar saya saja" ucap Hendri yang sudah bersiap turun dari mobil.
"Jangan Hen, berhentilah, kita dalam mobil saja sampai bantuan datang..mereka bukan orang sembarangan" ucap Zahra, tentu saja hal itu tidak di gubris sama sekali oleh Hendri yang terus melangkah maju.
"Hendri..!, Kembali..!" Teriak Zahra lagi, berharap Hendri masih mu mendengarnya, namun percuma.
Detik berikutnya Hendri sudah mendapat tendangan kuat hingga ambruk ke tanah, sebuah pistol sudah diarahkan ke kepalanya sebelum dia sempat untuk bangkit kembali.
Zahra tidak tahan lagi, menjerit dalam mobil pun percuma, hingga dia hilang kendali berlari keluar untuk mencegah kejadian yang lebih mengerikan terjadi.
"Hentikan..!, Jangan berani menyakitinya!, atau kalian akan berurusan dengan ku!" Teriak Zahra yang kini sudah melindungi Hendri.
"Minggir Zahra..sudah cukup kekacauan yang kau lakukan!" Terdengar suara bariton yang mengejutkan Zahra dari belakang.
"Deddy..?" Ucap Zahra terkejut.
"Pergi dari tempat ini, dan anggap kau tidak melihat apapun, pulanglah..aku akan bicara dengan mu nanti"
"Lalu apa yang akan Deddy lakukan kali ini, Daddy akan membu-nuhnya seperti teman-temannya yang lain..begitu?"
"Jangan ikut campur urusanku..kau cukup melanjutkan hidupmu seperti biasanya, biar Daddy yang mengurus masalahnya"
"Kali ini tidak bisa, jangan pikir aku tidak tau apapun tentang apa yang sudah Daddy lakukan, hentikan sekarang juga Dad.. Zahra mohon..jangan di teruskan lagi"
"Diam..!!, aku tidak suka melihat orang yang lemah, Bisnis bagiku segalanya, tidak ada yang boleh menghalangi langkahku untuk menguasai dunia bisnis tanpa batas!!"
"Tapi bukan begini caranya Dad..tidak dengan menyakiti banyak orang, apalagi sampai menghilangkan nyawa..itu sangat keji, apa Dady tidak menyadarinya?!"
"Dasar anak tidak tau diri..seret dia dari sini, paksa pulang, dan segera lenyap kan laki-laki bodoh itu!!" Perintah Harry Milton dengan penuh amarah.
Zahra berlari, menghampiri Hendri dan berusaha melindungi, namun apalah daya, Zahra hanya seorang wanita tanpa kekutan apapun, dengan satu kali cekal saja meronta pun percuma.
Satu tembakan terdengar cukup keras dan di depan matanya, Zahra melihat darah muncrat dari dada Hendri saat peluru menembus tanpa ampun.
"Tidak..Hendri..!, Hentikan..!!" Teriak Zahra memohon.
Dan kini senjata api sudah bersiap menembus kepala Hendri yang sudah terkapar di tanah tidak sadarkan diri. Zahra ambruk terduduk, masih dengan teriakan meminta untuk tidak menembakkan peluru berikutnya.
Dan disaat terdengar nyaring tembakan kedua, sebuah kejadian diluar nalar telah terjadi, peluru terpental jauh, begitu juga dengan anak buah Harry yang melepaskan tembakan nya, semuanya sangat terkejut, dan disaat yang sama tampak seorang laki-laki sedang berjalan mendekat.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMENnya.
Bersambung.
__ADS_1