SELEMBAR KERTAS

SELEMBAR KERTAS
Episode 166


__ADS_3

Zahra menegakkan tubuhnya, berusaha untuk mencerna apa yang telah dikatakan oleh seorang dokter yang ada di depannya.


"Maaf dokter, bisa anda jelaskan lagi?" Ulang Zahra.


"Bagaimana kalau kita ke ruangan saya, biar lebih leluasa saya menyampaikan penjelasan, sementara orang yang anda bawa tadi akan kami pindahkan ke ruang ICU, sampai keadaannya stabil" ucap sang dokter.


Keduanya segera bergegas masuk kedalam ruangan dokter, Zahra segera duduk dan tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari dokter yang masih membenarkan posisi duduknya.


"Bisa kita mulai dokter?"


Sang dokter menatap sekejab ke arah Zahra, "Baik, sepertinya anda sudah tidak sabar lagi Nona_, maaf siapa saya bisa memanggil anda?"


"Zahra Dok.."


"Oh Nona Zahra..baiklah" ucap sang dokter, "jadi anda tidak mengenal pasien ini sama sekali?"


"Tidak dokter " jawab Zahra cepat.


"Hem..jadi nona Zahra tidak mengerti sama sekali keadaan sebelumnya, dan sepertinya ini sudah masuk ke dalam ranah Kepolisian, bagaimana menurut anda?"


"Hah.?!" Zahra sangat terkejut. "Tapi dokter, saya tidak ingin nama saya ikut terlibat, Bagaimana kalau dokter jangan dulu melibatkan pihak berwajib, bisa kan?" Mohon Zahra.


"Tapi_" sang dokter tampak berpikir sejenak.


"Tolonglah, setidaknya sampai orang ini sadar dokter, setelah itu terserah dokter mau apa, Anda bisa menanyakan langsung ke pasien, apa yang sudah terjadi agar lebih jelas " sahut Zahra.


"Masalahnya pembiayaan Rumah Sakit juga harus saya pikirkan Nona, kalau masalah seperti ini sesuai prosedur biasanya kami menyerahkan ke pihak berwajib untuk pertanggungjawaban biaya yang sementara akan di tanggung oleh pemerintah dahulu, sampai ada keluarga yang mengganti"


"Jangan khawatir soal itu, biar semua biaya Rumah Sakit saya yang tanggung, sampai nanti pasien sadar dan menjelaskan semuanya, saya bersumpah..tidak terlibat apapun dengan orang ini dokter "


Zahra segera memberikan identitasnya, seketika dokter yang menerima itu mengerutkan kening dan baru menyadari siapa wanita yang ada di depannya.


"Oh..jadi anda Nona Zahra Malina Milton putri tunggal pemilik Milton Company?" Tanya sang dokter terkejut.


"Benar, dan saya mohon bantuan anda dokter"


"Hem..baiklah, saya harap anda benar-benar tidak terlibat dengan masalah pasien ini"


"Terimakasih atas kepercayaan dokter, apa bisa saya permisi dulu?"


"Silahkan.."

__ADS_1


"kalau ada kabar apapun tentang perkembangan pasien ini, tolong langsung hubungi saya Dokter"


Zahra segera membalikkan badan dan melangkah pergi, sejenak melihat keadaan laki-laki yang ditolongnya dari jendela kaca besar yang kebetulan dilewatinya.


"Semoga laki-laki ini cepat sadar dan bisa menjelaskan semuanya, sudah terlalu berat masalahku, jangan Engkau tambah lagi ya Allah.." batin Zahra sambil melanjutkan langkahnya kembali.


Tidak mau ambil pusing dengan keadaan Daddy-nya lagi, Zahra kali ini tidak kembali ke Mansion walaupun sudah tengah malam. Laju mobilnya kembali ke Arah Apartemen sahabatnya untuk menumpahkan segala sesak yang menghimpit dadanya.


Kebetulan sekali Christopher baru saja sampai bersama dengan sang kekasih yaitu Louise, melihat kedatangan Zahra yang hampir bersamaan membuat keduanya terkejut.


"Nona Zahra?" Ucap Louise.


"Hai Louise..maaf aku datang kesini untuk bertemu Christopher, ada hal penting, tapi sepertinya _" Zahra menjawab dengan tidak enak hati.


"Ada apa?, Masuklah, kebetulan juga ada Louise, kita bisa bicara di dalam" sahut Christopher.


Louise mendekat sambil tersenyum, mengajak Zahra untuk segera masuk kedalam Apartemen. Setelah Zahra duduk, Louise segera beranjak ke belakang untuk membuatkan minuman, sementara Christopher yang takut akan salah memutuskan, segera menyusul keberadaan kekasihnya.


Sebuah pelukan hangat dari belakang membuat Louise tersentak.


"Maaf..aku tidak tega membiarkan Zahra pergi dengan wajah penuh beban seperti itu" ucap Christopher mengeratkan dekapannya.


"Tidak keberatan kan?" Tanya Christopher lagi.


"Tentu saja tidak, disini kan ada aku juga, kecuali kalian cuma berdua..gak akan aku biarkan..!"


Christopher terkekeh, gemas dengan aura kekasihnya yang marah tapi membuatnya senang. "Sudah jangan kelamaan pelukan disini..kasian Nona Zahra, nanti kalian bicara saja berdua, aku akan menunggu di kamar tamu, mataku lumayan ngantuk, butuh tidur" Louise menginterupsi.


"Okey..Makasih my love..boleh cium?" Ucap Christopher mulai me rusuh.


"Ish..nggak usah aneh-aneh, sana..!" Louise mendorong tubuh kekasihnya untuk segera berjarak dan memudahkan langkahnya menuju ke ruang tamu sambil membawa dua cangkir minuman hangat.


Christopher yang tersenyum senang masih mengikuti langkah kekasihnya dari belakang, setelah mempersilahkan keduanya untuk berbincang, Louise segera undur diri untuk istirahat diruang tamu yang tak jauh dari sana.


"Maaf Chris, Aku tidak tau lagi harus kemana" Zahra mengawali perbincangannya dengan wajah menunduk.


"Sudahlah..tidak apa-apa, kau datang ke orang yang tepat..aku lebih senang kau kemari dari pada di luaran sana"


"Iya..tapi Louise?"


"Dia sendiri kan tadi yang membawamu masuk ke sini, itu berarti dia punya pemikiran yang sama denganku, jangan khawatir"

__ADS_1


"Iya.. terimakasih"


"Ada masalah apa?" Lanjut Christopher.


"Aku..Daddy.." ucap Zahra yang sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.


"Ya Tuhan..ada apa lagi dengan kalian?" Ucap Christopher sambil mendekat kan box tissue ke tangan Zahra.


"Aku tidak tau harus bagaimana lagi Chris, Daddy begitu tega, demi tujuannya bahkan dia rela menjebak putrinya sendiri"


"Tunggu-tunggu, maksudnya bagaimana?, dia menjebak mu..dalam hal apa?"


"Masalah ku dengan Tuan Alfaro, dia yang merencanakan semuanya, dan aku mendengar dengan telingaku sendiri sore tadi..Aku_" ucap Zahra tertahan.


"What..!?, Gila..!, Daddy mu benar-benar sudah gak waras" shut Christopher terasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, "Jadi Kejadian kalian dalam satu kamar dan para wartawan itu ulah Daddy mu?" Tanya Christopher memastikan lagi.


Zahra terdiam dan mengangguk sambil terus membersihkan tetesan air matanya, Christopher sungguh tidak tega melihat Zahra, hingga akhirnya memberikan pelukan singkat dan tepukan lembut di punggung untuk menenangkannya.


"Aku harus bagaimana Chris?" pertanyaan Zahra yang membuat Christopher juga sangat prihatin.


"Aku juga bingung, kalau kau membongkar semuanya otomatis Daddy mu bisa di pastikan masuk penjara, aku yakin Alfaro tidak akan tinggal diam" ucap lirih Christopher.


"Dan kejadian yang menimpa Kirana beberapa waktu lalu juga ulah Daddy" sahut lirih Zahra dan sukses membuat mata Christopher membulat dengan sempurna.


"Apa.?!, Daddy mu benar-benar cari mati" jawab Christopher yang kali ini langsung memijit kepalanya.


"Aku mendengar semuanya dengan jelas Chris, aku pun sangat terkejut, Daddy benar-benar semakin tidak terkendali, berbuat apapun demi tujuannya menguasai pasar Asia dengan menjadikanku istri Alfaro walaupun dengan cara yang picik dan kejam"


"Oh ya Tuhan.. apa Daddy mu lupa, siapa keluarga Eagle, belum lagi keluarga Nugraha, mereka bukan orang-orang biasa..!" Ucap Christopher sedikit keras karena menahan emosinya.


"Aku tau Chris, aku juga bingung, takut dan putus asa, disisi lain apapun kondisinya ada Daddy ku, tapi juga ada orang-orang yang tidak bersalah terluka karena perbuatannya, dan aku tau semuanya..!"


"Cukup..lirih kan suaramu, kita harus berpikir jernih menanggapi hal ini, jangan gegabah" sahut Christopher dengan cepat.


Zahra terdiam dan menunduk, air matanya tidak pernah surut menetes di pipinya. Tangannya sibuk menghilangkan jejak itu berkali-kali hingga membuat Christopher semakin khawatir.


"Lalu..apa kau punya rencana?"


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMENnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2