
Terdengar kembali suara Hendri dalam sambungan ponselnya.
"Zahra!, Halo, Zahra!"
Zahra terkejut dan segera kembali dalam alam sadarnya.
"Oh, iya Hen, sorry!"
"Sepertinya kamu sedang sibuk" Ucap Hendri.
"Begitulah, ada beberapa berkas yang sedang aku pelajari" jawab Zahra.
"Baiklah, aku tutup dulu, jangan pulang terlambat hari ini, aku akan membuatkan mu makan malam yang lezat" Hendri memberi pesan.
Tut Tut Tut
Sambungan segera terputus disaat Zahra masih terkejut dan akhirnya tanpa disadari tersenyum dengan sendirinya saat mendengar kalimat terakhir Hendri yang akan membuatkan makan malam.
Hari ini Zahra benar-benar disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang baru saja di pelajari nya dengan serius, tentu saja karena dirinya tak ingin sampai tidak tau apapun soal perusahaannya sendiri yang selama ini hanya di handel dari jauh lewat orang-orang kepercayaannya.
"Oh My God, hampir jam lima sore" guman zahra terkejut dan segera merapikan meja kerja, bersiap untuk segera pulang ke Mansion Hendri.
"Maaf Nona Zahra, apa kita akan lembur sampai malam hari ini?" Tanya Syifa yang baru saja membuka pintu ruangan Zahra.
"Tidak, kamu belum pulang?" Tanya Zahra merasa bersalah karena membiarkan Syifa menunggunya.
"Belum, saya menunggu Nona menyelesaikan pekerjaan" jawab Syifa.
"Oh, sorry, aku tidak menyadari melewatkan waktu bekerja, lain kali saat jam pulang kamu boleh masuk dan memberitahukan padaku" perintah Zahra.
"Baiklah Nona, saya tidak keberatan juga menunggu Nona Zahra" ucap Syifa.
"Terimakasih Syifa, pulanglah dulu, aku masih bersiap, sebentar lagi juga akan segera pulang"
"Baiklah Nona" jawab Syifa sambil tersenyum dan segera pamit untuk pulang.
Zahra segera meninggalkan perusahaanya, menaiki mobil barunya ke jalanan dengan sedikit tergesa-gesa karena tidak ingin Hendri menyiapkan makan malam sendiri tanpa bantuannya.
Setelah tiba di Mansion, Zahra segera bergegas masuk dengan mengucap salam sebelumnya.
Benar saja, terlihat Hendri sudah sibuk di dapur dan tanpa bantuan asisten rumah tangga satupun.
"Sorry Hen, aku telat, sebentar lagi aku akan membantumu!" Teriak Zahra segera berlari ke lantai atas untuk membersihkan diri sebelum membantu Hendri.
"Jangan berlarian, nanti kau terjatuh, aku tidak membutuhkan bantuan mu Zahra!" Jawab Hendri sambil tersenyum, menggelengkan kepala melihat apa yang di lakukan Zahra dan terlihat menyenangkan di matanya.
Zahra segera melanjutkan ibadah sholat magrib sekalian sebelum akhirnya turun menyusul keberadaan Handri.
"Biar aku gantikan, waktunya sholat Magrib bukan?" Ucap Zahra.
"Okey, aku serahkan padamu, jangan dipaksakan kalau tidak bisa, biar aku lanjutkan nanti"
"Ck, aku tidak sebodoh itu Hen" jawab Zahra.
__ADS_1
"Hahaha, baiklah, aku percaya padamu" ucap Hendri lalu segera pergi untuk menjalankan ibadahnya.
Hingga kemudian terdengar suara berisik dari pintu utama, beberapa penjaga dan seorang asisten rumah tangga datang menghampiri Zahra.
"Ada apa?" Tanya Zahra yang nampak heran.
"Maaf Nona, apa Tuan Hendri bisa kita temui?" Tanya salah satu penjaga dengan wajah paniknya.
"Memangnya ada apa?" Tanya Zahra lagi yang merasakan ada sesuatu yang aneh.
"Ada seseorang yang mencari anda, membawa pengawal dan membuat kerusuhan di pintu depan"
"Apa?!, Biar aku saja" ucap Zahra terkejut dan langsung membersihkan tangan bersiap melangkah ke arah pintu depan.
"Jangan Nona, tuan Hendri sudah berpesan kepada kami agar menjaga anda dari laki-laki yang tidak dikenal" sahut penjaga dengan wajah yang semakin khawatir.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa, Hendri masih ada di kamarnya, sedang menjalankan ibadah, jangan di ganggu" perintah Zahra.
"Tapi Nona_"
"Diamlah, ikut aku, dan jangan menghalangi ku" sahut Zahra memperingatkan, Sabil terus melangkah maju.
Zahra terkejut, tak menyangka sama sekali dengan apa yang dilakukan seorang laki-laki di Mansion Hendri saat ini.
"Denta?, Apa yang kamu lakukan disini!" Ucap Zahra yang segera berhenti dan tak melanjutkan langkahnya lagi.
"Oh, rupanya benar dugaanku, kau wanita sok suci yang dengan rapat menutup kebejatan mu kumpul ke-bo di Mansion pengusaha ternama Hendri Pramudi, sejak kapan kau jadi sim-panannya ha!" bentak Denta.
"Cukup!, Apapun itu, bukan urusanmu!" Teriak Zahra begitu menahan amarahnya.
"Berani kau melakukan hal itu, aku akan melakukan apapun untuk menghancurkan mu juga, sudah cukup aku bersabar selama ini" ancam Zahra tak tanggung lagi.
"Dasar wanita Ja-la-ng, kita lihat bagaimana kau bisa menghancurkan ku, ingat, aku menikahi sah wanita itu setelah proses perceraian kita, jadi tidak ada alasan kau menyalahkan hubungan kami, justru yang perlu kau pikirkan adalah hubungan ha-ram mu ini!" Teriak Denta penuh emosi.
"Aku akan segera menghalalkan nya!" Suara seseorang membuat Zahra dan Denta terkejut.
"Hendri?" Ucap lirih Zahra.
"Tenanglah, jangan khawatir, aku tau dia sengaja ke sini dengan mencari bukti keberadaan kita di Mansion ini, tidak ada gunanya kita mengelak" ucap Hendri.
"Tapi Hen_"
Hendri menatap mata Zahra dengan serius, mengisyaratkan untuk mengikuti apa yang di lakukannya saat ini.
Zahra pun terdiam, lalu kemudian menatap Denta dengan tajam.
"Apa kau sudah puas?, Sekarang silahkan pergi dari sini!" Zahra berusaha untuk mengusir keberadaan mantan suami.
"Konyol, aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja!" Ucap Denta sebelum akhirnya pergi keluar bersama dengan beberapa pengawalnya.
Zahra masih terdiam, menatap kepergian Denta dengan hati yang masih bingung harus berbuat apa setelah apa yang dilakukan oleh Hendri.
"Sebaiknya kita masuk dan makan malam, aku sudah sangat lapar sekali" ucap Hendri sambil tersenyum seolah tidak terjadi apapun.
__ADS_1
"Maaf, aku belum menyelesaikan masakannya" ucap Zahra yang kini sudah berjalan masuk di belakang Hendri.
"Aku akan membantumu jangan khawatir tuan Puteri"
"Jangan menggodaku Hen, aku pasti sudah menyelesaikannya kalau tidak ada insiden tadi" Zahra membela diri.
"Aku tau, dan itu tidak masalah, kita kerjakan bersama-sama, bukankah itu akan bertambah mesra?" Jawab Hendri.
"Kau ini!" Sahut Zahra sengaja menutupi wajahnya yang tersipu malu.
Keduanya kini melanjutkan mempersiapkan makan malam, Hendri memimpin doa sebelum menikmati makan malam bersama dengan Zahra.
Hingga selesai menyantap semua hidangan yang di sajikan, Zahra masih terlihat menikmati setiap apa yang masuk dalam mulutnya, detik terakhir puding manis buatan Hendri membuatnya tersenyum.
"Alhamdulillah, sangat lezat" ucap Zahra.
"Terimakasih kalau kau suka" sahut Hendri dengan senyuman.
Keadaan hening kembali, terlihat bagaimana Zahra nampak cemas seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Hendri.
"Maaf Hen, besok pasti Denta akan menyebarkan berita tidak benar tentang kita, dan aku takut akan berpengaruh buruk dengan mu"
"Bukan hanya dengan ku, aku lebih mengkhawatirkan mu, maaf, aku hanya bisa melindungi mu dengan berbohong kalau kita akan meresmikan hubungan, Karena aku tau, kamu pasti akan menolak hal itu" ucap Hendri.
"Aku wanita dengan banyak kekurangan, kau tau aku tidak bisa memberikan keturunan Hen, jadi untuk apa aku menikah lagi" jawab Zahra.
"Menurutmu pernikahan itu hanya punya tujuan itu saja?" Tanya Hendri.
"Apa lagi?"
"Bagiku tidak" Jawa Hendri.
"Maksudmu?"
"Aku tidak perduli akan hal itu, bagiku pernikahan adalah sesuatu yang suci, ikatan yang tidak main-main, dan yang terpenting saling mengisi kekurangan menuju kebahagiaan, pada akhirnya adalah menuju Ridho -NYA, itu saja sudah cukup, soal keturunan, kesuksesan dan yang lain adalah bonus yang di berikan oleh-NYA" ucap Hendri.
Deg
Zahra terdiam, tak percaya dengan apa yang dijelaskan, betapa dirinya merasa sangat rendah di mata laki-laki yang ada didepannya, lalu Zahra pun menunduk.
"Maaf, semua membuatku sakit, hingga aku memandang semua laki-laki itu sama saja" ucap lirih Zahra.
Hendri masih terdiam, tak merespon apapun, hanya duduk dan memandang Zahra yang masih tertunduk di depannya.
Hingga tak lama kemudian, Zahra mengucapkan sesuatu yang membuat Hendri terkejut.
"Bisakah kita menikah malam ini?" Tanya Zahra.
"Apa?"
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya ya.
__ADS_1
Bersambung.