
Alena menegakkan tubuhnya, perlahan menyandarkan punggungnya di kursi sambil melihat kearah Kirana seolah menuntut untuk menceritakan lebih lanjut.
Sedangkan Edward hanya tersenyum melihat interaksi kedua wanita yang sepertinya harus melanjutkan ceritanya, "Maaf kak Al, dia wanita yang luar biasa menurut ku waktu itu, tapi sekarang aku tidak akan lagi melakukan hal itu, kan aku sudah menjelaskan semuanya tadi" ucap Kirana.
"Aku tidak menyangka, pintar sekali kau mencari wanita untuk dijadikan madu mu..dasar..lalu bagaimana dengan wanita itu, apa dia sudah tau akan rencana mu waktu itu?" Tanya Alena kembali.
"Tidak..tapi_, entahlah..aku rasa tidak" ucap Kirana tak pasti.
"Kau ini..jawabanmu tidak bisa aku pegang kebenarannya, bagaimana denganmu Alfaro, apa wanita itu sering datang menemui mu?" Tanya Alena.
"Tentu saja_"
"Wow..keren juga kau Faro!" Sahut Edward.
Plak.
Satu pukulan dari tangan Alena menyapa dengan keras di lengan Edward.
"Sorry Bee..!" Ucap Edward yang kini sudah mendapati tatapan tajam dari Alena.
"Sudahlah..kau jangan terlalu berprasangka Al, tentu saja aku sering bertemu karena kerjasama bisnis, kau lupa Zahra itu anak dari pemilik perusahaan Milton Company?" Ucap Alfaro berusaha menetralkan suasana.
"Aku tau..untuk itu kau harus lebih hati-hati, wanita seperti itu tidak mudah menerima sebuah alasan kalau sudah menginginkan sesuatu, ingat..dia wanita dengan power diatas mu Alfaro, jangan main-main dengan perasaanya" jawab Alena.
"Iya Al, aku tau..jangan khawatir akan hal itu" ucap Alfaro.
"Dan nanti malam, kita akan bertemu dengan Harry Milton Bee, mungkin juga kita akan bertemu dengan anaknya, dari sana kau bisa menilai seperti apa wanita itu kan?" Sahut Edward.
"Hem..bagus juga ide mu honey, kalau begitu aku akan ikut nanti malam"
"Apa kau membutuhkan ku untuk datang kesana Ed?" Sahut Alfaro menawarkan diri.
"Tidak perlu, aku hanya ingin informasi selengkapnya tentang tuan Harry dan juga Milton Company, itu saja" jawab Edward.
"Okey..aku akan memberikan informasi yang kau inginkan dan semoga itu bisa membuat mu puas" jawab Alfaro.
Lalu mereka akhirnya berbincang tentang bisnis dan seputar Milton Company yang kini menjadi perusahaan terbesar di Paris, Edward tampak begitu antusias dengan apa yang dibicarakan oleh Alfaro, begitu juga dengan Alena yang tentu saja tidak akan pernah membiarkan apapun membahayakan nasip suaminya dan juga perusahaannya.
__ADS_1
*
Sementara itu di tempat lain, tampak Harry Milton sedang berbicara dengan anak buahnya, "Apa benar informasi yang kau berikan ini, aku kira Mereka akan naik pesawat pribadi" ucap Harry.
"Ini foto yang saya dapat di bandara waktu kedatangan mereka berdua tuan, bisa anda lihat sendiri kebenarannya" ucap sang anak buahnya.
Harry segera menerima beberapa foto yang dikirim ke handphone nya, "Hem..Cantik" gumam Harry sesaat dan terdengar oleh anak buahnya yang langsung merasa heran.
"Maaf tuan..?"
Harry langsung tersadar dengan apa yang diucapkan dan merasa gugup, "Tidak..aku hanya mengagumi kecantikan wanita ini, apa dia sekertaris nya?"
"Maaf tuan, yang saya dengar..wanita itu adalah istrinya..dia wanita hebat yang pernah kita dengar, dan berasal dari keluarga Nugraha" sahutnya.
"Apa .?, Oh..jadi wanita ini..seorang Alena Bilqis Nugraha?"
"Begitulah Tuan.."
"Pantas.. semua kolega Bisnisku yang pernah kerja sama dengan Edward dan pernah melihat istrinya sangat mengagumi nya, wanita yang tidak tersentuh.." ucap Harry dengan senyuman penasarannya.
"Benar sekali tuan..mereka_"
Selepas kepergian anak buahnya, Harry masih mengamati foto yang ada dalam handphone nya, "Edward..masih begitu muda dan sangat berkuasa, perusahaannya bahkan hampir menyamai ku, aku harus lebih berhati-hati bekerjasama dengannya, dan aku harus bisa mendapatkan tender kontrak kerjasama dengannya, itu akan sangat menguntungkan perusahaan ku untuk melebarkan sayap di Asia" ucapnya lirih.
Tak lama datanglah Zahra yang membuat Harry terkejut dan segera meletakkan handphone nya diatas meja kerjanya, Zahra yang ternyata sempat memperhatikan apa yang sedang dilakukan Deddy nya hanya tersenyum.
"Apa yang Deddy sembunyikan dariku, Hem..?" Tanya Zahra sambil tersenyum dan langsung mengambil handphone Harry untuk melihatnya.
"Hei..itu_"
"Wow..wanita yang sangat cantik, siapa ini Dad?, Tidak ku sangka" ucap Zahra saat melihat foto yang ada dalam ponsel Daddy-nya.
"Ish..kau ini, aku hanya sedang melihat informasi tentang seseorang yang aku undang untuk melakukan kerja sama bisnis, intinya Dady ingin tau semua informasi tentangnya agar mudah nanti untuk berbincang" sahut Harry.
"Oh..jadi wanita cantik ini yang akan berbisnis dengan Daddy?" Tanya Zahra.
"Bukan, dia istrinya"
__ADS_1
"Oh begitu, lalu..kenapa yang Daddy lihat adalah istrinya?"
"Karena wanita itu adalah satu-satunya kelemahan yang aku lihat darinya" sahut Harry.
"Oo..jadi begitu, aku juga penasaran, apa nanti aku boleh ikut?"
"Tentu saja Zahra, kau bahkan harus ikut, tidak boleh tidak" ucap Harry memperingatkan.
"Siap Dad, dan aku akan pastikan datang bersama mu" jawab Zahra yang kemudian segera keluar untuk melanjutkan pekerjaannya.
Lain halnya dengan Louise yang kini sedang berjuang sendiri menggantikan tugas Alfaro yang sudah melimpahkan pekerjaan nya kali ini, dan yang terakhir untuk tugas kali ini, harus ikut meeting di perusahaan Nolan Company, artinya dia mau tidak mau harus bertemu dengan pemiliknya yang tak lain adalah Christopher Nolan.
Louise sudah duduk dengan manis di kursi yang sudah di sediakan untuk nya, dan kemudian Christopher berjalan masuk, menatap sekilas Louise yang tengah menyiapkan diri, tampak senyuman dibibir Christopher saat menyadari Louise sudah berada disana.
Louise yang tengah sibuk dan tidak menyadari kedatangan Christopher terkejut saat kakinya merasakan sebuah sentuhan dan lebih tepatnya injakan yang tentu saja tidak menyakitkan.
"Aw!, Hei kenapa anda_, Chris?" Ucap Louise yang tidak jadi marah karena terkejut.
"Maaf Nona Louise, saya tidak sengaja" ucap Christopher Nolan sambil tersenyum aneh. "Baiklah.. meeting kita mulai, silahkan segera menyajikan apa yang akan kita bahas kali ini" ucap Christopher kemudian.
Louise hanya menarik nafas panjang untuk mengontrol emosinya, Karena tidak mungkin lagi dia melakukan protes saat meeting sudah berlangsung. Masih dengan konsentrasi yang tinggi Louise memperhatikan dan beberapa kali memberikan pendapat tentang rencana bisnis yang dilakukan oleh Nolan Company.
Sementara Christopher Nolan semakin takjub akan kecerdasan Louise dalam memberikan masukan dan jalan keluar di setiap masalah yang sedang dihadapi oleh perusahaan, hingga meeting pun selesai.
"Permisi tuan Christopher Nolan, saya pamit untuk kembali ke perusahaan dulu, terimakasih kerjasamanya" ucap Louise dengan penuh hormat, mengingat banyaknya karyawan yang masih berada di dalam ruang rapat.
"Yang lain silahkan pergi, dan khusus anda nona Louise, ada yang ingin saya bicarakan..ikut keruangan saya..penting!" Ucap Christopher datar dan membuat Louise terkejut dengan apa yang diperintahkan nya.
"Ada apa lagi ini, awas saja kalau sampai macam-macam kau Christopher Nolan, aku tidak akan segan menghajar mu!" Batin Louise yang kini tengah mengikuti langkah Christopher ke ruangannya.
Keduanya kini sudah berada dalam ruang kerja Christopher, pintu otomatis tertutup saat Louis sudah berada di dalamnya, belum sempat Louise melangkah kembali untuk duduk di kursi, Christopher dengan cepat mendekat dan mengikis jarah hingga beberapa Senti saja berada di depan Louise.
"Apa yang kau lakukan!" Ucap Louise berjalan mundur dan menabrak tembok.
Ayo waktunya VOTE VOTE VOTE.. Jangan lupa ya, ditunggu juga HADIAH, LIKE, dan KOMENnya.
Ketik: Sinho Channel di YouTube, untuk menikmati Cerpen-cerpen karya Author yang tak kalah seru.
__ADS_1
Bersambung.