SELEMBAR KERTAS

SELEMBAR KERTAS
Episode 153


__ADS_3

Baru saja Alfaro keluar dari kamar mandi dan bersiap membuka laptop untuk menge cek persiapan rapat yang akan dilakukan sebentar lagi, tiba-tiba saja dirinya teringat akan sang istri tercinta.


"Apa yang sedang dilakukan Kirana sekarang?" Batin Alfaro yang kini sudah menghubungi wanita yang selalu di rindukannya.


Berapa detik kemudian terdengar suara Kirana yang rupanya masih berada di pusat pembelanjaan bersama dengan Alena.


"Aku akan segera pulang setelah kak Alena mendapatkan oleh-oleh yang di cari honey" ucap Kirana di dalam saluran ponsel.


"Baiklah.. hati-hati honey, aku juga sedang menge cek ulang persiapan rapat nanti malam"


"Ok honey.. hati-hati disana ya, jaga kesehatan, jangan telat makan dan istirahat nya jangan lupa" sahut Kirana.


Alfaro tersenyum mendengar semua pesan panjang dari istri tercintanya, lalu setelah percakapan berakhir, Alfaro segera kembali bergulat dengan laptop dan beberapa arsip.


Tak terasa malam pun tiba, dan rapat yang diadakan di sebuah ruangan hotel yang sudah di persiapkan dengan baik kini mulai di penuhi dengan orang-orang pemegang saham di dalam kerjasama yang akan dilakukan bersama.


Terlihat juga Zahra kini sudah melangkah masuk, banyak pasang mata takjub, membungkuk dan memberi hormat kepada Zahra saat memasuki ruangan rapat.


Disusul kedatangan Alfaro, Bersama dengan Ronan yang ada di sampingnya, keduanya kini sudah duduk tak jauh dari Zahra.


Tak lama kemudian tampak sepasang kekasih juga telah memasuki area ruang Rapat malam itu, Christopher dan Louise segera mengambil tempat yang telah disediakan.


Rapat pun segera dimulai, dari pihak perusahaan yang baru saja mengajukan kerjasama mulai menyajikan profil perusahaanya dan alasan kenapa ingin melakukan kerjasama, semua nampak sangat serius di rapat kali ini, karena melibatkan begitu banyak dana dan juga beberapa perusahaan besar yang ada di sana.


Hingga akhirnya rapat pun bisa diselesaikan dengan baik, dengan kata sepakat yang jelas dengan surat kontrak kerjasama dari berbagai pihak yang terkait, Alfaro dan Ronan tersenyum senang, begitu juga dengan Zahra, Christopher dan Louise.


"Rasanya lega sekali, kini semuanya sudah terselesaikan dengan baik" ucap Ronan sambil berjalan di samping Alfaro.


"Alhamdulillah..aku juga sangat senang, semuanya sesuai dengan yang kita inginkan, besok pagi aku sudah bisa kembali" sahut Alfaro sambil tersenyum senang saat membayangkan wajah istrinya.


"Kamu pulang begitu saja?, apa tidak membawakan oleh-oleh buat Kirana dan yang lainya?" Sahut Ronan.


"Tentu saja, aku sudah memikirkan hal itu, besok pagi sebelum pulang aku akan mencarikan beberapa barang"


"Oh jadi begitu"


"Berarti besok saya jadi mengantar anda kan tuan Alfaro?" Sahut Louise yang berjalan di belakang Alfaro bersama dengan Zahra dan Christopher.


"Tentu saja"

__ADS_1


"Aku juga ikut" sahut Christopher sambil menoleh ke Louise seakan tidak terima kalau kekasihnya harus jalan berdua dengan laki-laki lain.


"Dan sebaiknya kita merayakan keberhasilan kita dulu sambil pesan makanan, rapat berjam-jam tadi membuat energi kita terkuras dan kita butuh mengembalikannya lagi, bagaimana?" Ucap Ronan.


"Tentu saja" jawab Alfaro.


Dan akhirnya semua mengikuti langkah Louise yang di beri tugas untuk mencari tempat yang nyaman untuk mengadakan pesta kecil malam itu.


Semua merasakan kebahagiaan, saling bercanda dan membahas hal-hal kecil yang menyenangkan, Alfaro tersenyum saat membaca pesan mesra dari istri tercintanya, lalu kembali lagi bergabung dengan yang lain, tentu saja tidak ada minuman keras lagi dalam kamus pestanya, hanya soft drink yang menemani pesta malam itu.


Beberapa saat kemudian, semuanya sudah bersiap kembali ke kamar masing-masing, Hani yang melihat sudah hampir jam satu malam, segera memperingatkan semua untuk segera kembali beristirahat.


Kebetulan Alfaro berjalan sendiri di belakang saat kembali ke kamar, ada rasa aneh saat kepalanya tiba-tiba saja menjadi sangat berat.


"Ada apa denganku, apa aku terlalu tegang tadi saat rapat ya, kepalaku sangat berat dan tubuhku terasa sangat panas" ucapnya lirih sambil berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya.


Hingga akhirnya Alfaro susah payah sampai di kamarnya, didalam kesadarannya yang mulai menghilang, dia begitu sulit untuk membuka pintu, hingga ada seseorang yang tiba-tiba saja membatunya, tanpa pikir panjang Alfaro segera masuk ke kamar.


Hingga kemudian dirinya terjatuh tepat di depan pintu, pandangannya terasa makin buram, berulang kali dia berusaha untuk mengembalikan kesadarannya tapi rupanya sesuatu yang menyerang dirinya begitu kuat.


Hingga akhirnya dia menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur dengan membuka baju luar untuk mengurangi panas tubuhnya, dan semuanya terasa begitu gelap.


*


"Astagfirullah..ada apa denganku" ucap lirih Kirana yang kemudian berjalan pelan keluar dari kamar menuruni tangga untuk membuat minuman hangat.


"Kirana, kau kenapa?" Tanya Alena yang rupanya sudah ada di bawah duluan untuk mengambil air putih yang akan di bawa ke kamarnya.


"Entahlah kak, perutku mual banget, pusing, ini tadi habis muntah, mungkin kebanyakan jajanan tadi siang" ucap Kirana yang kini sudah duduk di kursi makan.


"Diamlah, biar aku yang membuatkan mu minuman hangat" ucap Alena yang kemudian segera bertindak.


Kirana yang merasa masih sedikit lemas hanya terdiam melihat Alena membuatkan minuman, tak lama kemudian minuman hangat yang sudah dibuat segera diminum oleh Kirana, sesaat perutnya mulai terasa nyaman kembali.


"Bagaimana?" Tanya Alena.


"Makasih kak, sudah enakan"


"Syukurlah.. aku akan menemanimu tidur dulu, khawatir kamu kenapa-napa nanti" ucap Alena.

__ADS_1


"Nggak usah Kak, udah enakan kok, cuman pusingnya yang masih terasa, mual nya berkurang banyak, hanya saja_"


"Kenapa?" Tanya Alena.


"Perasaan ku tidak enak banget malam ini, jadi ingat sama Alfaro, padahal beberapa jam yang lalu sebelum tidur, kita masih bicara lewat handphone"


"Mungkin kamu saja yang kurang enak badan, jadi kebawa ke pikiran juga, sebaiknya segera istirahat lagi, ini sudah hampir jam tiga pagi, dan aku akan menemanimu, tidak ada penolakan" ucap Alena yang kemudian segera membantu Kirana berjalan menuju kamarnya, lalu keduanya beristirahat dikamar yang sama.


*


Pagi hari, sosok laki-laki yang baru saja menggeliat di atas tempat tidur, terkejut saat dia mendengar banyak percakapan di kamarnya, apa lagi sayup terdengar juga suara tangisan.


Alfaro yang berusaha untuk membuka mata dan mengembalikan kesadarannya, dengan kepala yang masih sangat berat dia sangat terkejut dimana dalam kamar sudah ada banyak orang yang tak lain adalah petugas hotel dan beberapa wartawan yang berusaha di cegah untuk masuk.


Segera Alfaro berusaha untuk duduk dan baru menyadari dirinya hanya memakai pakaian dalam saja. Alfaro semakin shock saat melihat sosok wanita sedang menangis di sebuah kursi yang tak jauh dari tempatnya.


Jantungnya terasa mau berhenti berdetak, ketika melihat dengan jelas wanita itu adalah Zahra.


"Apa yang terjadi, s-hit..!, Ini tidak mungkin!" Batin Alfaro yang kemudian segera masuk ke kamar mandi untuk merapikan dirinya tanpa perduli orang-orang yang masih ada disana.


Tak lama Alfaro keluar, lalu menanyakan yang terjadi, dirinya baru menyadari kalau salah masuk kamar dari semalam, beruntung kini situasi sudah diamankan dari awak media, begitu juga dengan Zahra yang sudah lebih tenang keadaannya.


"Katakan Nona Zahra, apa yang sebenarnya terjadi, sebelumnya aku minta maaf karena tidak menyadari masuk ke dalam kamarmu" ucap Alfaro.


"Aku juga tidak tahu, semalam kepalaku sangat pusing, dan sampai dikamar ku segera tertidur, lalu tak lama aku merasakan ada yang datang, tapi ku tidak kuat lagi menahan rasa kantukku dan_"


"Pagi tadi kau terbangun melihatku ada di sampingmu, begitu kan?"


Zahra mengangguk sambil menyeka air matanya yang menetes kembali, Alfaro menarik nafas panjang, dia baru menyadari apa yang terjadi dan memastikan bahwa ini adalah perbuatan seseorang.


"Brengsek..!!, pasti ada seseorang yang menjebak kita disini, aku juga merasakan hal yang sama denganmu" ucap Alfaro yang masih duduk di depan Zahra.


"Aku juga berpikir begitu, tapi bagaimana denganku, ada beberapa awak media yang berhasil melihat kita dan mereka pasti sudah_, aku harus apa..?!!" Ucap Zahra yang kini menangis kembali.


Alfaro sangat mengerti apa yang di khawatirkan oleh Zahra, apalagi statusnya sebagai wanita sukses dan masih lajang.


Alfaro segera menghubungi Ronan dan Christopher untuk segera ke kamar Zahra.


Jangan lupa VOTE HADIAH LIKE dan KOMENnya

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2