
Kini Baik Louise maupun Christopher sudah ada di dalam ruangan yang sama, di tambah dengan adanya wajah Alfaro yang menyorot mereka berdua, sedangkan Kirana kini sudah duduk di dekatnya setelah memanggil Louise dan Christopher.
"Ehem..ada apa ini, apa kita akan diskusi bisnis?" Ucap Christopher membuka pembicaraan.
"Ya..tapi bukan bisnis" sahut Kirana sedikit ketus.
"Lalu?" Tanya Christopher.
"Kalau soal apa yang kami lakukan barusan, aku minta maaf" sahut Louise dengan wajah cemas.
"Ck..jangan berlebihan saat menjalin hubungan sebelum menikah, bersabarlah Chris" ucap Alfaro menimpali.
"Sudah-sudah, aku bukan membahas masalah ini, ada yang lebih penting ingin aku tanyakan " ucap Kirana.
"Apa?" Sahut Alfaro, Christopher dan Louise hampir bareng.
"Soal Zahra"
Deg
Sesaat suasana menjadi sepi, semua terdiam dan hanya saling lirik.
"Honey..ayolah, nanti aku jelaskan" ucap Alfaro berusaha merayu Kirana.
"Apa kalian tau kejadian yang sebenarnya?" Ucap Kirana melanjutkan ucapannya tanpa mempedulikan perkataan suaminya.
"Kami_" ucap Christopher menggantung.
"Baik, biar aku yang menceritakan " sahut Alfaro segera memberikan kode untuk diam ke Christopher.
"Zahra kecelakaan dan lumpuh karena serangan tenaga dalam ku"
Deg
"Apa..?" Sahut Kirana sangat terkejut.
"Maaf honey..aku melakukannya tanpa sengaja, semua kecelakaan saat aku juga tengah menyelamatkan nyawa seseorang" Alfaro menjelaskan.
Kirana masih terdiam mendengar semua penjelasan suaminya, begitu juga Christopher dan Louise yang sekarang benar-benar cemas akan reaksi Kirana nantinya.
"Oke..jadi hanya aku disini yang tidak tau kejadian sebenarnya?" Tanya Kirana lagi setelah penjelasan berakhir.
"Bukannya begitu, kita hanya ingin menjaga keadaanmu" sahut Christopher.
"Tapi kasian Zahra, kenapa hanya aku yang kalian pikirkan, lihat dia.. seorang wanita yang terbiasa mandiri dan mengurusi segalanya harus berakhir di kursi roda"
"Aku tau honey...kita juga memberikan support semaksimal mungkin padanya" sahut Alfaro.
"Iya..aku dan Christopher juga selalu mendampinginya, karena kita tau saat ini Zahra membutuhkan orang-orang disampingnya untuk menguatkan hatinya" ucap Louise yang akhirnya membuka suara.
"Kirana..kita tidak ada niatan apapun darimu, jagalah kandungan mu, kamu juga baru saja sembuh..itu yang terpenting" lanjut Christopher.
Kirana terdiam, masih ada kemarahan di raut wajahnya, seketika Alfaro mendekat dan memeluk posesif istrinya, beberapa kecupan di berikan untuk menenangkan emosi wanitanya.
"Jaga emosinya honey..ingat anak kita, okey.?" Ucap lirih Alfaro yang masih memeluk erat Kirana.
__ADS_1
Perlahan Kirana mengangguk, Alfaro memberikan kode ke Louise untuk segera keluar dari ruangannya, setelah keduanya beranjak dan keluar lalu menutup pintu, Alfaro membingkai wajah Istrinya.
"Masih marah Hem?" Tanya lirih Alfaro yang sedang menatap lekat mata Kirana.
"Sedikit" sahut Kirana.
"Bagaimana caraku untuk bisa menghilangkan amarahmu honey?" Ucap Alfaro.
Kirana masih terdiam, hingga dia terkejut saat tangan jahil suaminya yang sudah berada di bagian kenyal yang ada di dadanya.
"Honey..!" Ucap Kirana memekik berusaha mencegah remasan tangan Alfaro.
"Apa..?,Kata dokter boleh kan, asal pelan " jawab Alfaro.
"Iya, tapi ini diruang kerjamu honey" jawab Kirana cepat.
"Lalu?"
"Hentikan Alfaro Rich Eagle..!" Ucap Kirana yang mendapati suaminya makin gencar memberi rang-sangan padanya.
"Tidak akan.."
"Aww..honey..!!" Teriak Kirana lagi saat tubuhnya sudah di angkat dan dibawa masuk kedalam kamar rahasia yang ada di dalam ruangan kerja.
(21++, Mohon bijak dalam membaca)
Luma-tan demi luma-tan kini perlahan membuat Kirana terbuai, seketika tubuhnya merespon aktif apa yang tengah dilakukan oleh Suaminya yang kini berada di atasnya.
"Pelan..shh.." desa-han suara Kirana mulai terdengar disaat tangan Alfaro menjelajah bagian bawahnya, usapan lembut di pusat inti-mnya membuat tubuhnya menegang.
"Aku akan melakukan pelan Honey.." ucap lirih Alfaro yang mulai menang-galkan semua kain yang ada di tubuh Kirana.
Kirana semakin melayang disaat tubuhnya terasa panas mendapati kecu-pan dahsyat yang hampir menjelajahi seluruh tubuhnya.
"Honey...emmhh.."
Keadaan semakin tidak terkendali, Alfaro yang sudah mulai terbakar ge-lora penyatuan tubuhnya, perlahan membuka kedua kaki Kirana, menciumi area yang mendekati sebuah tempat kenikmatan yang sangat di damba, suara desa-han dari istrinya membuat dirinya semakin tidak tahan.
"Akh..honey pelan..Sshh..emhh.." ucapan Kirana yang kemudian dibungkam oleh ciu-man panas bibir Alfaro.
Dengan lebih berhati-hati, Alfaro memasukkan senjatanya yang sudah begitu tegak menjulang dengan sangat perlahan, basah dan masih begitu sempit saat sang pusaka dimasukkan, dengan posisi sedikit duduk Alfaro memanjakan perut Kirana dengan usapan lembut tangannya.
"Sakit honey..?" Tanya Alfaro dengan hati-hati saat sang pusaka mulai masuk perlahan.
"Sedikit..pelan honey..sshh.."
"Shh..ohhh..Nikmat, hem..?"tanya Alfaro di tengah desa-hannya saat mendapati milik istrinya begitu nikmat saat di masu-ki.
Kirana mengangguk, mele-nguh beberapa kali saat sesuatu yang keras dan besar memenuhi organ inti-mnya, tubuhnya mengge-linjang mendapati gesekan nikmat yang berulang kali, tangannya mencengkeram apapun yang di dapatnya saat gelombang dahsyat hampir memenuhi has-ratnya.
Hormon kehamilan rupanya memberikan efek yang luar biasa, bahkan Alfaro hampir tidak percaya saat merasakan kenikmatan luar biasa dari tubuh istrinya. Hangat, sempit dan menggigit dirasakan oleh batang keperkasaan nya, hingga goya-ngan maju mundur tubuhnya membuat keringat mulai bercucuran.
"Sshh.. honey..sangat nikmat .oohh.." des-ah Alfaro berkali-kali.
Hingga keduanya berakhir dengan teriakan yang hampir bersama disaat puncak kenikmatan dirasakan begitu dahsyat mengguncang tubuh mereka.
__ADS_1
"Sshh..mmhh.. honey..love you" ucap Alfaro saat terakhir mendorong masuk begitu dalam saat terakhir kli-maks didapatkan.
Kegiatan panas itupun berakhir dengan sempurna, Kirana berbaring dalam pelukan suaminya dan menenangkan kerja jantungnya kembali, tak lama keduanya melakukan ritual wajib dengan membersihkan diri di kamar mandi berdua.
"Aku ingin nanti kita menemui Zahra, tidak tega aku melihatnya honey" ucap Kirana.
"Hem.." sambil membantu sang istri membersihkan badannya.
"Kita harus membantu dia honey..jangan biarkan masalah apapun sampai membahayakan Zahra" ucap Kirana lagi.
"Aku tau.." sahut Alfaro.
"Aku dengar perusahaannya akan dilimpahkan ke pamannya untuk sementara waktu, itu berarti Zahra akan pasif di Milton Company, apa menurutmu itu tidak apa-apa honey?" Tanya Kirana.
"Aku juga masih belum tau pasti, yang aku dengar pamannya sangat ambisius menginginkan jabatan kepemimpinan itu, dan misalkan itu terjadi, aku harus bekerjasama dengannya bukan?" ucap Alfaro.
"Hem..apalagi perusahaan kita masih terikat lumayan lama kerjasama dengan Milton Company, tapi menurutku itu justru memberikan kesempatan kita untuk membantu memantau perusahaan Milton Company, bagiamana menurutmu honey?"
"Itu yang sudah aku pikirkan sebelumnya, jangan terlalu khawatir aku dan Ronan akan mengawasi" sahut Alfaro.
"Baguslah..aku lega honey, ada alasan juga kenapa kalian melakukan, karena perusahaan kalian masih lama dalam bekerja sama" sahut Kirana.
Alfaro tersenyum, ternyata istrinya tidak begitu lama dalam kemarahannya, segera keduanya berganti baju, Kirana segera beranjak dan meminta ijin untuk pulang duluan.
"Kenapa tidak menunggu ku sebentar lagi honey?" Ucap Alfaro.
"Aku ingin segera beristirahat honey..kamu membuatku benar-benar lelah tadi" jawab Kirana.
Alfaro tersenyum, membelai kepala istrinya lalu mencium kening dan bibirnya. "Maaf, aku sangat merindukanmu" ucapnya lirih.
"Aku juga menikmatinya.. terimakasih honey" sahut lembut Kirana dengan mengerlingkan matanya.
"Kau menggodaku?" Ucap Alfaro gemas.
"Aku pulang dulu!" Teriak Kirana yang segera menjauh sebelum suaminya makin merusuh kembali.
Alfaro hanya tersenyum setelah menjawab salam dari sang istri yang kini sudah menghilang dari hadapannya, "Dasar.. membuatku semakin mencintai mu" batin Alfarao mengingat tingkah menggemaskan istrinya.
**
Mobil Kirana berhenti di sebuah minimarket, keinginannya yang tiba-tiba ingin makan buah segar mengharuskan dia turun untuk mencari yang diinginkan.
"Wah..seger sekali kelihatan nya" gumam Kirana saat mendapatkan buah apel yang menggugah seleranya.
Beberapa buah berhasil di borongnya, setelah membayar di kasir, Kirana segera melangkah kan kakinya dengan senyuman kebahagiaan yang menambah aura kecantikannya begitu nyata, hingga membuat seseorang yang hendak keluar dari mobilnya terpana.
"Cantik.." ucapnya tanpa di sadari.
"Tuan..apa kita jadi turun?"
"Hah..apa?" Seseorang tersentak saat sang sopir menyadarkannya.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMENnya.
Bersambung.
__ADS_1