SELEMBAR KERTAS

SELEMBAR KERTAS
Episode 96


__ADS_3

Baik Hani dan Kirana sangat terkejut melihat apa yang dilakukan dua orang yang berada dalam satu ruangan.


"Bukankah itu Ronan dan Louise?" Ucap lirih Kirana yang masih terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Sementara Hani menarik nafas panjang, dan segera mengalihkan pandangannya saat merasakan sakit yang mencubit hatinya.


Hingga sesaat kemudian keduanya dikagetkan dengan suara seseorang, "Kenapa kalian masih disini?"


"Astagfirullah honey..kau mengagetkan kami, ish..!" Ucap Kirana sambil mengelus dadanya, sementara Hani segera melangkah pergi menuju ruang Rapat.


"Kenapa dengan Hani?" Tanya Alfaro heran.


"Ngga tau, sudahlah..ayo pergi" ucap Kirana.


Alfaro tersenyum dan menggandeng tangan Kirana masuk ke dalam ruang Rapat, semua orang yang ada diruangan itu tersenyum dan menyapa kedatangan keduanya dengan hangat.


Sementara itu Ronan masih meringis kesakitan saat Louis membantunya mengenakan kemejanya setelah memastikan Luka operasinya baik-baik saja.


"Makasih bantuannya.." ucap Ronan sambil merapikan lengan bajunya.


"Mangkanya lain kali kalau jalan hati-hati, daun pintu di terjang gitu saja, untung gak kena luka operasinya" jawab Louis.


Setelah itu keduanya segera pergi meninggalkan tempat menuju ke Ruang Rapat untuk membantu Alfaro.


Rapat dimulai, Alfaro terlihat sangat mesra dengan istrinya, beberapa kali memberikan masukan ide ke istrinya dengan tatapan asih sayang yang sangat terlihat nyata, sementara semua anggota rapat hanya tersenyum melihat kemesraan mereka.


Tidak dengan Hani yang kini harus berhadapan dengan sosok Ronan dan Louise yang tepat berada di depan matanya.


Ronan tekejut dg sikap dingin Hani, beberapa kali dia menyapa dengan senyumannya, tapi Hani seolah tidak melihat keberadaan nya.


Tidak terasa Rapat telah selesai dan semua akan bekerja dengan perencanaan yang sudah tersusun dengan matang, semua perusahan yang ikut bergabung merasa puas dengan sistem kerjasama yang dilakukan.


Ronan mendekati Hani dan menyapanya, "Bagaimana kabar mu Han?" Tanya Ronan.


"Aku?" Tunjuk Hani pada dirinya sendiri, "tentu saja aku baik-baik saja, memangnya kenapa?" Tanya Kirana balik.


"Tidak ada, maaf waktu itu tidak bisa melindungi mu" ucap Ronan, dan Hani hanya terdiam, lalu tak lama kemudian datanglah Louise dan menyapa mereka berdua.


Melihat kedatangan Louise, Hani balas menyapa, hanya tersenyum sebentar, lalu pergi meninggalkan tempat. Ronan terkejut saat Hani tiba-tiba saja pamit untuk pergi begitu saja.

__ADS_1


"Han..tunggu..Hani..!!" Teriak Ronan, tanpa ada tanggapan sama sekali dari wanita yang dipanggilnya.


Ronan mengejar Hani, sambil memegangi dadanya yang sedikit terasa nyeri, hingga akhirnya Ronan berhasil mengejar dan masuk di dalam liff yang sama.


"Ada apa denganmu sih han, aku bicara denganmu..kenapa kau malah pergi begitu saja, apa aku melakukan kesalahan?"


"Tidak ada yang salah, kecuali saat ini kau mengejar ku dan menanyakan kesalahanmu padaku, seorang wanita yang bukan muhrim mu" jawab ketus Hani.


"Tapi sikapmu berubah padaku Han, kau sepertinya sangat membenciku?"


Hani tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya kembali, Ronan mengejar kembali dan menghadang langkah Hani.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Hani terkejut.


"Jawab pertanyaan ku, baru aku akan membiarkanmu pergi"


"Kau ini benar-benar tidak tau malu, menyingkirkan sebelum Louise tau apa yang kau lakukan sekarang ini"


"Louise..?, Maksudmu?"


"Pikir saja sendiri, apa aku harus memberitahu mu juga"


"Bukan urusanku, mau kalian punya hubungan, ataupun sudah berhubungan dan bahkan bermesraan sekalipun itu bukan urusanku!" Teriak Hani yang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan luka dihatinya.


Ronan sangat terkejut dan terdiam, dia tidak pernah melihat Hani se marah ini sebelumnya, sementara Hani juga tidak menyangka akan lepas kendali dan membuat dirinya bingung sendiri, dengan langkah cepat Hani segera pergi dari hadapan Ronan yang masih diam mematung.


Hani mengubungi Kirana dan pamit akan kembali ke Agensi membawa mobilnya karena tidak enak badan, lalu dengan langkah cepat dirinya membuka pintu mobilnya, disaat itulah Ronan ikut masuk kedalam.


"Apa yang kau lakukan..keluar!" Ucap Hani.


"Ada yang ingin aku bicarakan, sepertinya ada kesalahpahaman diantara aku, kamu dan Louise" ucap Ronan yang kemudian menatap lekat Hani yang masih dengan muka jengkelnya.


"Sudah aku bilang, aku tidak perduli dengan urusanmu Ron, kita tidak ada hubungan apapun dan tidak meng haruskan kamu untuk menjelaskan sesuatu padaku, jadi keluarlah dari mobilku sekarang juga!" Ucap Hani sedikit keras.


"Justru apa yang aku bicarakan ini akan membuat suatu hubungan di antara kita nantinya, jadi tolong dengarkan aku dulu" paksa Ronan.


"Apa maksudmu..?"


"Aku mencintaimu Han"

__ADS_1


"Apa..?!, kau_, omong kosong!" Jawab Hani dengan wajah yang sangat terkejut.


"Aku sungguh-sungguh Han, tapi aku takut mengatakannya, dan hari ini aku memberanikan diri mengatakannya padamu" ucap Ronan.


Hani tersenyum sedikit, kemudian menyandarkan kepalanya, "Jangan membohongi ku Ron, itu tidak akan ada gunanya, aku bukan wanita yang Ingin berpacaran"


"Aku tau dan aku akan melamar mu, atau menikahi mu langsung kalau perlu, bagaimana?"


"Kau gila!!" Sahut Hani.


"Kau yang sudah membuatku gila, soal aku dan Louise, demi Allah aku tidak ada hubungan apapun" ucap Ronan dengan tatapan tajamnya.


Hani terdiam, dia tidak bisa memberikan jawaban apapun. Kemudian Ronan segera turun dari mobilnya, "Aku serius Han, ku tunggu jawaban mu..Besok.. dan aku akan ke Indonesia menemui orang tuamu" ucap Ronan dengan tegas.


Hani terkesiap dengan apa yang diucapkan oleh Ronan, sepeninggalan Ronan perasaanya menjadi tak menentu, ada rasa Bahagia dan Bimbang yang bercampur aduk menjadi satu, hingga akhirnya diapun memutuskan kembali ke tempat kerjanya.


**


Sementara itu Aliando yang berada di Mansion, sibuk mempersiapkan bukti-bukti kejahatan Vaden dan Viona yang akan diserahkan ke pihak berwenang, hingga kemudian dirinya merasakan keluhan di badannya yang kembali muncul dan membuat keringat dingin bercucuran.


Tanpa berpikir panjang, Aliando segera menghubungi Alena untuk menceritakan keluhan yang beberapa hari ini dia rasakan ketika dirinya terlalu lelah berpikir ataupun melakukan aktifitas fisik.


"Mulai kapan paman mengalami hal itu?" Tanya Alena.


"Baru dua hari yang lalu, badanku terasa sangat dingin saat mengalami hal itu Alena"


"Oh,.mungkin karena suhu udara disana yang berbeda paman, sebaiknya paman segera menghubungi ibu Aisyah untuk meminta bantuannya membuatkan obat herbal untuk menghangatkan tubuh, saya yakin paman akan segera membaik" jawab Alena.


Panggilan di handphone segera diakhiri dan sesaat kemudian Aliando terdiam sejenak. "Jadi aku harus menghubungi ibu Aisyah, hehh..tapi bagaimana aku melakukannya, aku takut nanti dikira berani lancang padanya" ucap lirih Aliando dengan dirinya sendiri.


Akhirnya dengan terpaksa Aliando menghubungi Ibu Aisyah demi obat herbal yang sangat di butuhkan oleh tubuhnya, tangan Aliando sedikit gemetar saat memegang handphone yang digunakan untuk menghubungi ibu Aisyah.


" Bismillah..semoga ibu Aisyah bisa menerima penjelasan ku dan tidak berpikir macam-macam denganku" ucap lirih Aliando, lalu kemudian menghubungi Ibu Aisyah.


Nada suara panggilan tersambung, tak berapa lama terdengar ibu Aisyah menjawab salam, namun saat Aliando ingin melanjutkan bicaranya..


"Hentikan..!!" Terdengar suara gaduh teriakan dari ibu Aisyah dan sambungan handphone langsung terputus.


Apa yang terjadi dengan ibu Aisyah?, yuk kita tunggu di episode selanjutnya, jangan lupa berikan VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2