
Hampir saja Zahra tertabrak, beruntung tangan seseorang dengan sigap menyambarnya, walaupun akhirnya Zahra tetap terjatuh, setidaknya masih bisa terhindar dari bahaya yang lebih besar.
"Nyonya tidak apa-apa?" Tanya pengawalnya yang berhasil menyelamatkan majikannya.
"Iya, tapi perutku_" ucap Zahra yang tiba-tiba saja merasakan nyeri, hingga membuatnya meringis.
"Ya Tuhan, kita bawa nyonya ke Rumah sakit, cepat!" Ucap asisten rumah tangga yang menemaninya.
Pengawal, sopir dan juga asisten rumah tangganya segera membantu Zahra untuk membawanya ke Rumah Sakit, salah satu dari mereka juga segera menghubungi Hendri secepatnya.
Kurang lebih hampir 30 menit Zahra menahan sakit di perutnya yang semakin lama semakin tak tertahan, dan kini beberapa tenaga medis sudah memberikan pelayanan dan memeriksa keadaannya dengan teliti.
"Dimana istriku?!" Terdengar suara sedikit keras dari luar ruangan tindakan.
"Ada di dalam Tuan, masih dilakukan pemeriksaan" ucap sang pengawal dengan tertunduk dan wajah yang ketakutan.
"Kenapa ini bisa terjadi?!" Teriak Hendri sambil mengepalkan tangannya.
"Ma-maaf Tuan, kami juga tidak menyangka akan hal ini, nyonya menyeberang jalan, sebelum saya sempat menjemputnya, saya bersalah Tuan" ucap sang pengawal yang merasa lalai dalam menjaga majikannya.
"Kau benar-benar_"
"Maaf, adakah suami atau keluarga dari Nyoya Zahra?" Tiba-tiba saja seorang dokter tengah bersuara sebelum Hendri melanjutkan kata-katanya.
"Saya, saya suaminya dokter" sahut Hendri cepat dan segera mendekat.
"Bisa ikut saya Tuan, akan saya jelaskan beberapa hal sebelum nyonya Zahra dipindahkan ke ruang perawatan" ucap sang Dokter.
Hendri segera bergegas mengikuti langkah dokter kesebuah ruangan.
"Keadaan nyonya Zahra sudah secepatnya kita tangani, dan Alhamdulillah sekarang dalam kondisi yang stabil"
"Alhamdulillah, terimakasih dokter" ucap Hendri merasa sedikit lega.
"Tapi Tuan Hendri harus menjaganya dengan baik setelah ini, karena kehamilan nyonya Zahra beresiko setelah insiden kecelakaan tadi" lanjut sang dokter.
"Saya akan menjaganya dengan_" sejenak Hendri berdiam dan mencerna kembali kata-kata sang dokter, lalu dirinya menyadari sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Tunggu!, Dokter tadi bilang apa?" Lanjut Hendri.
"Istri anda sedang hamil, sekarang usia kehamilan baru tiga Minggu"
"Apa?!, Hamil?, Benarkah?" Ucap Hendri tak percaya karena sebelumnya Zahra mengatakan tidak bisa memberikan keturunan.
"Iya, Hamil, kami sudah memeriksanya dengan lengkap tadi, hasil USG juga menunjukkan hal yang sama, memangnya kenapa?" Tanya dokter merasa heran.
Hendri sedikit menceritakan kondisi istrinya dimana pernah di nyatakan tidak akan bisa mempunyai anak saat berada di luar negeri, sang dokter pun mengerutkan kening, karena merasa heran dimana dari hasil pemeriksaan tidak ada hal apapun dengan alat reproduksi Zahra, bahkan bisa dibilang sehat-sehat saja.
Hendri terdiam, dan baru mengerti, mungkin sebenarnya yang ada masalah bukan Zahra, tapi mantan suaminya sebelumnya.
Hendri tersenyum bahagia, saat keluar dari ruangan segera memeluk sang pengawal dan mengucapkan terimakasih telah menyelamatkan istrinya.
Sang pengawal sampai merasa heran, namun tetap mengucapkan permintaan maaf berkali-kali, begitu juga dengan asisten rumah tangga dan sopirnya.
Hendri pun memberitahukan kabar bahagianya, sontak semua mengucap syukur dan ikut merasakan kebahagiaan yang mendalam atas kehamilan majikannya.
"Ada apa?" Ucap Zahra yang kini sudah merasa diruang perawatan dan menatap heran Hendri yang dari tadi terus tersenyum dan menciumi wajahnya.
__ADS_1
"Aku bahagia" ucap Hendri.
"Apa?!, Kamu bahagia melihat ku menderita seperti ini?" Sahut Zahra terkejut.
"Bukan, bukan seperti itu honey, aku sudah mengurus siapa Ba-ji-ngan yang hampir saja membuatmu celaka, dan pihak berwajib sudah menangkap nya" Jawab Hendri.
"Lalu, kenapa kamu tadi bilang bahagia?" tanya Zahra.
"Apa dokter belum memberitahukan mu?" ucap Hendri.
"Memberitahukan apa?, Aku hanya disuruh banyak istirahat karena kandunganku masih rawan" ucap Zahra masih belum paham apa yang dimaksudkan oleh sang Dokter.
"Nah itu dia, kamu tidak merasakan bahagia?" Tanya Hendri merasa heran.
"Bahagia apanya, mau di jaga atau tidak, kandunganku tetap tidak akan bisa menghasilkan apapun bukan?" Ucap Zahra dengan entengnya.
"What?!, Oh My God, jadi kamu belum paham?" Sahut Hendri.
"Paham apa?" tanya Zahra.
"Kamu sedang mengandung anak kita honey" jawab Handri dengan segera.
"Hahaha, jangan menghiburku kelewatan honey, itu tidak lucu" sahut Zahra.
"Aku sungguh-sungguh honey, lihat ini!" Ucap Hendri menunjukkan hasil pemeriksaan USG dan laboratorium yang baru saja di berikan oleh dokter padanya.
Zahra mengambil dengan perlahan, lalu melihat hasil USG yang baru saja di berikan dan masih belum sepenuhnya di pahami, saat melihat hasil laboratorium yang dengan jelas menyatakan kehamilannya, seketika mata indah Zahra melebar tak percaya.
"I-ini, benarkah?, Tapi _"
"Ini benar, semua ini hasil pemeriksaan mu honey" ucap Hendri meyakinkan sang istri.
"Iya, itu semua benar" jawab Hendri.
"Alhamdulillah ya Allah" ucap Zahra langsung menangis dalam pelukan suaminya.
Hendri tidak mampu lagi menahan air matanya, ikut merasakan kebahagian yang luar biasa seperti yang dirasakan oleh Zahra, keduanya saling berpelukan beberapa lama sebelum akhirnya datang Kirana yang terlihat berlarian masuk ke dalam ruangan.
"Zahra!" Teriak Kirana, dan sontak terkejut melihat kedua orang yang berpelukan sedang menangis.
"Ada apa?" Tanya Kirana yang merasa sangat khawatir.
Zahra melepaskan pelukannya, menatap Kirana dan semakin menangis sejadi-jadinya.
"Hei, ada apa?, Katakan Hendri jangan membuatku khawatir!" Teriak Kirana yang semakin cemas akan keadaan Zahra.
"Jangan khawatir, Zahra sedang menangis bahagia" ucap Hendri dan membuat Kirana mengerutkan kening tak mengerti maksudnya.
"Bahagia?, Maksud nya?"
"Aku hamil Kirana, aku hamil" sahut Zahra ditengah tangisnya yang mulai mereda.
"Apa?, Alhamdulillah!" Teriak Kirana yang kini ikut menangis dan memeluk erat Zahra.
"Ada apa ini?" Tanya seseorang lagi yang baru saja muncul dari pintu.
Hendri tersenyum dan memberi salam, Alfaro berjalan mendekati dan merangkul Hendri untuk menguatkan hatinya.
__ADS_1
"Apa ada yang serius dengan luka Zahra?" Tanya Alfaro yang masih belum memahami situasi.
"Tidak ada, hanya saja kami harus ekstra menjaga kehamilannya" jawab Hendri.
"Hamil?, Zahra?" Tanya Alfaro memastikan tidak salah dengar.
Hendri tersenyum dan mengangguk dengan pasti.
"Alhamdulillah, ini benar-benar keajaiban" sahut Alfaro ikut merasakan kebahagiaan.
Tak lama setelah itu, banyak teman dan kerabat yang datang dan mendengar kabar bahagia, tak butuh waktu lama kabar itupun tersebar di media.
Di balik jeruji besi, Denta yang juga berhasil mendengar kabar bahagia mantan istrinya merasa sangat terkejut.
"Zahra hamil, apa itu berarti aku yang sebenarnya tidak bisa memberikan keturunan" gumam Denta dengan penuh penyesalan karena sudah berbuat tidak adil dengan Zahra.
Begitu juga dengan kedua orang tuanya yang kini tinggal di rumah yang sangat sederhana dan sakit-sakitan, mereka tak percaya ternyata Zahra yang sudah dia sia-siakan selama ini karena tidak bisa memberikan keturunan, sebenarnya wanita sehat yang tidak ada masalah.
*
*
Kebahagiaan menyelimuti keluarga Zahra dan Hendri, tak jarang sang suami begitu ketat menjaga dirinya yang kadang membuat Zahra kesal sendiri.
"Aku bisa berjalan sendiri honey, tidak perlu di gendong seperti ini" ucap Zahra yang pagi itu berada di tepi pantai yang begitu indah.
"Aku tidak ingin terjadi apapun dengan mu, aku menginginkan istri dan anakku semuanya sehat dan jangan sampai menderita apalagi sakit" jawab Handri.
Zahra tanya tersenyum mendengar jawaban suaminya, kini keduanya menatap jauh deburan ombak yang membuatnya senang.
Hendri membawa istrinya ke dalam pelukannya, membelai lembut kepalanya dan mencium nya beberapa kali, seolah harum tubuh istrinya ingin terus dinikmati setiap saat.
"Aku sangat bahagia, terimakasih honey, untuk semuanya" ucap Zahra sambil mengusap lembut perutnya yang mulai nampak besar di kehamilan dua puluh minggunya.
"Sama-sama, aku juga berterimakasih, sudah memberikanku keajaiban yang luar biasa, rasanya aku tak percaya, bisa bersanding dengan wanita yang tak pernah bisa aku hilangkan dari hatiku" ucap Hendri.
"Benarkah?"
"Hem, aku bahkan tidak sanggup saat melihatmu memilih hidup dengan yang lain waktu itu, tapi aku tidak bisa berbuat apapun, karena kebahagiaan mu adalah segalanya bagiku" ucap Hendri.
"Apa perlu itu dibahas honey?" Tanya Zahra.
"Maaf, aku hanya ingin kamu tau" jawab Hendri.
Zahra tersenyum, mendongak dan menatap Hendri sejenak tanpa melepaskan pelukannya.
Sementara di sudut pantai yang lain, nampak Kirana juga berada di dalam pelukan Alfaro, mengamati putra tercintanya sedang bermain di tepian pantai bersama dengan anak-anak kecil yang lainya.
\=T A M A T\=
Alhamdulillah, Author sudah bisa menyelesaikan Novel SELEMBAR KERTAS.
Diucapkan terimakasih atas dukungan semua pembaca yang sudah mampir dan menikmati Novel yang Author suguhkan.
Semoga apa yang Author tulis bisa menginspirasi sesuatu yang baik dan bermanfaat buat para pembaca, selain merupakan hiburan yang ringan dan menyenangkan.
Nantikan Novel-novel terbaru yang akan segera hadir dari Author Sinho.
__ADS_1
Salam Sehat, Semangat dan jangan lupa Bahagia.