SELEMBAR KERTAS

SELEMBAR KERTAS
Episode 183


__ADS_3

Hendri terkekeh merasa berhasil menggoda Zahra, walaupun di relung hati terdalam masih mengharapkan hal itu terjadi.


"Hari ini aku tidak akan ke kantor" ucap Hendri setelah menyelesaikan sarapan paginya.


"Oh ya, kenapa?" Tanya Zahra agak bingung.


"Aku mengambil cuti untuk beristirahat 3 hari, jadi kamu bebas jika meminta bantuan kapan saja" ucap Hendri.


"Oh my _, kamu melakukan semua itu bukan karena aku kan Hen?" Tanya Zahra.


"Tentu saja tidak, aku memang ingin beristirahat setelah berhasil memenangkan ten-der" jawab Hendra.


"Wow, selamat Hen, kamu luar biasa!" Seru Zahra sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Masih kalah hebat denganmu yang masih bisa tersenyum disaat masalah begitu berat menimpamu" ucap Hendri yang kini banyak tau tentang Zahra.


Zahra hanya terdiam, tidak ingin mengingat semua cerita hidupnya yang menyedihkan.


"Maaf Hen, aku boleh untuk sementara tinggal disini kan?" Ucap Zahra.


"Aku sudah bilang, tinggallah disini seterusnya, tapi ada syaratnya"


"Oh ya, apa itu?, Sepertinya aku merasakan sesuatu yang kurang enak" jawab Zahra.


"Katakan padaku dengan terus terang, apa yang sebenarnya telah terjadi padamu?" Tanya Hendri dengan serius kali ini.


Sejenak Zahra terdiam, lalu menarik nafas panjang sebelum akhirnya menceritakan sedikit detail nya.


"Yang membuat kerusuhan dan huru hara di Apartment ku kemaren adalah mantan Suamiku" jawab singkat Zahra.


"Apa lagi yang diinginkannya?" Tanya Hendri.


Zahra masih terdiam, hanya menatap mata Hendri sesaat, lalu memejamkan mata sekejab, seolah sedang menahan sakit yang teramat dalam.


"Baiklah, aku tidak akan bertanya macam-macam, hanya ingin memastikan saja, apa dia melalukan kekerasan Fisik padamu?" Tanya Hendri lagi.


Zahra kembali menatap mata Hendri, dadanya terasa penuh, berusaha untuk mengurangi nyeri di hatinya, Zahra menggigit bibirnya, mengumbar masalah rumah tangganya adalah hal yang paling tidak di sukai oleh Zahra, bahkan kepada kerabatnya sendiri waktu itu.

__ADS_1


"Please Hen, aku tidak ingin membicarakan masa laluku yang menyedihkan, dan aku tidak ingin menceritakan hal itu, biarlah semua itu aku buang dalam kenangan pahit yang terdalam, cukup aku yang tahu dan merasakannya" jawab Zahra dengan mata kesedihan yang begitu terlihat.


Hendri hanya tersenyum, lalu mendekat dan menggenggam tangan Zahra, "Baiklah aku mengerti, jika dia sudah membahayakan mu, katakan padaku, okey?" Ucap Hendri.


Zahra masih menunduk dan melihat tangan Hendri yang memegang tangannya, entah kenapa hal itu begitu menenangkan.


"Aku bisa memahami apa yang terjadi dengan masa lalu mu, maaf, karena aku sudah mencari tau akan hal itu, mungkin tidak sedetail yang terjadi, tapi aku yakin kamu wanita kuat yang mampu untuk menjalaninya" ucap Hendri memberikan semangat.


"Masalahku tak sesederhana kelihatannya Hen, itu sangat memusingkan" jawab Zahra.


"Dan kamu merasa lelah dengan semua itu?" Tanya Hendri.


"Fisik dan mentalku rasanya tidak kuat Hen, untuk itu kenapa aku akhirnya memutuskan untuk berpisah, meskipun keluarga besarnya begitu menentang dan mereka terlalu egois memintaku untuk tetap bertahan, sampai sekarang mereka semua sangat marah padaku" jawab Zahra.


Menceritakan sedikit saja membuat Zahra rasanya ingin menangis, dari tadi berusaha untuk menahan air matanya, namun bercerita kepada Hendri membuat hatinya menjadi sedikit lega.


"Kamu tau Hen, aku merasakan bebanku sedikit ringan saat bercerita denganmu, aku mohon, jadilah sahabatku selamanya dan jangan pernah meninggalkanku" ucap Zahra.


Hendri tersenyum dan kini mengusap perlahan punggung Zahra untuk membuatnya lebih nyaman dan tenang.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, bukankah kamu adalah sang Puteri yang harus selalu aku jaga?" Goda Hendri untuk mencairkan suasana.


Hendri tertawa lirih, kemudian melepaskan tangannya, "Aku rasa perbincangan ini sudah cukup, aku ada pekerjaan sedikit, dan akan aku lihat di ruang kerjaku, apa kamu tak keberatan?" Tanya Hendri sengaja menghindari pertanyaan.


Zahra hanya tersenyum dan mengangguk, "Terimakasih Hen, maaf kalau aku merepotkan mu" ucap Zahra.


Keduanya segera beranjak, Berjalan beriringan dengan tujuan yang berbeda, namun arah jalan yang sama, karena letak ruang kerja Hendri ada di sebelah kamarnya.


Sampai di sana, Hendri Bersiap membuka pintu ruang kerjanya, dan Zahra mengucapkan sesuatu, "semoga sukses dan bahagia selalu Tuan Hendri Pramudi"


"Amin, terimakasih doanya Tuan puteri, namaku begitu indah saat kamu yang menyebutkannya " jawab Hendri dengan senyumannya.


Zahra tertawa pelan, lalu kemudian segera masuk kedalam kamarnya, begitu juga dengan Hendri yang kini langsung duduk termenung di kursi kerjanya.


Rupanya Zahra juga tak tinggal diam di kamarnya, dirinya menghandle pekerjaan di perusahaan dengan laptop yang sudah berada di atas meja, Hendri mengurus semuanya dengan baik, hingga semua keperluannya kini sudah berpindah rapi di kamar yang di tempati.


"Hem, Hendri selalu detail dalam memenuhi semua keinginanku, tidak berubah sama sekali, walaupun kini dia sudah menjadi Bos di perusahan besar miliknya sendiri" batin Zahra sambil tersenyum.

__ADS_1


Di hari pertama Zahra bekerja harus ada insiden yang mengerikan, itu membuat Zahra sebenarnya begitu tertekan, namun apa yang di lakukan oleh Hendri padanya, membuat semua masalah pekerjaannya bukan sesuatu yang sulit, karena itu semua bisa diatur dalam kamar yang di tempati nya.


Tak terasa hari sudah cukup siang, terdengar suara ketukan pintu yang membuat Zahra tersentak.


"Iya sebentar Hen" jawab Zahra saat mendengar Hendri sudah memanggilnya.


Pintu segera terbuka, dan nampak Zahra masih memakai kacamatanya.


Hendri melihat hal itu dan tersenyum melihat wajah Zahra yang nampak begitu serius, lalu kedua tangannya meraih kacamata di wajah Zahra perlahan.


"Istirahatlah dulu, sudah siang, sebentar lagi aku akan makan siang diluar sambil membicarakan bisnis, kamu mau ikut?" ajak Hendri.


"Ck, aku rasa itu tidak perlu, Kirana ingin bertemu denganku" jawab Zahra.


"Oh ya?, Di mana?" Tanya Hendri.


"Di luar Hen, aku juga ingin berjalan-jalan, aku rasa hal itu akan membuatku lebih nyaman" jawab Zahra.


"Baiklah, pakai saja salah satu mobilku, dan sesuai janjiku, ambil satu untuk mu, biar kalau kemana-mana kamu bisa menggunakannya" ucap Hendri.


"Apa ini sebuah Su-ap, agar aku tidak meninggalkan Mansion ini" sahut Zahra sambil menaikkan satu alisnya.


"Bisa di bilang seperti itu" jawab Hendri membuat keduanya lalu tertawa.


Zahra merasa tak enak hati, dia bukan orang yang kekurangan uang, hingga kemudian dengan halus menolak tawaran Hendri untuk mengambil salah satu mobil sport mewahnya.


Siang itu Hendri sengaja mengantarkan Zahra untuk membeli mobil baru yang diinginkan, selain Hendri sudah cukup kenal lama dengan pemilik showroom, dia juga tidak ingin Zahra harus bersusah payah mencari taksi menuju ke beberapa tempat.


"Alhamdulillah, aku sangat menyukai mobil ini Hen, terimakasih untuk bantuannya, kamu bisa pergi sekarang, dan aku akan memamerkan mobil ini ke Kirana" ucap Zahra konyol dan membuat Hendri tertawa sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Zahra segera melesat ke jalanan setelah Hendri pergi, tujuannya kali ini adalah sebuah Restoran untuk makan siang bersama dengan Kirana, tak berselang lama, akhirnya tiba di tempat yang di tuju.


Baru saja senyum Zahra sudah begitu lebar melihat keberadaan Kirana di salah satu tempat di Resto itu, namu tiba-tiba saja langkahnya di hadang oleh seseorang.


Zahra terkejut bukan main, segera mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak.


"Apa yang kau inginkan!" Teriak Zahra dengan tatapan mata yang nyalang.

__ADS_1


"Tentu saja dirimu!"


__ADS_2