
Empat Tahun telah berlalu, dan kini pasangan suami istri yang sedang berbahagia dengan adanya buah Hati yang tumbuh dengan sehat.
Yah Kirana dan Alfaro sudah dilengkapi dengan kehadiran sosok pangeran tampan yang bernama ARKANA RICH EAGLE, Bocah kecil itu tumbuh dengan baik dilingkungan yang penuh dengan kasih sayang.
Hubungan keduanya juga begitu erat dengan Zahra Malina Milton yang kini hidup hanya sebatang kara sebagai pengusaha wanita yang sukses, Namun tidak dengan kehidupan pribadinya.
Hari itu Zahra memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah menghadapi masalah besar di hidupnya, dan kebetulan sekali Kirana dan keluarga kecilnya sedang berada di Jakarta.
"Jadi kamu akan bertempat di Indonesia?" Tanya Kirana.
"Iya, aku sudah memutuskan hal ini, dan ingin melupakan empat tahun masa kelam ku" ucap Zahra.
"Baiklah kalau memang itu yang terbaik untukmu Zahra, aku mendukungmu, keluarga besar Nugraha juga berada di sini, kalau kamu membutuhkan sesuatu jangan sungkan, kami akan membantumu" Kirana memberikan semangat lalu memeluk Zahra dengan erat.
"Tenang saja, disini ada Hendri yang siap aku ganggu kapanpun aku mau" sahut Zahra saat Kirana sudah melepaskan pelukannya, lalu keduanya tertawa.
"Aku kira kalian dulu berjodoh, tapi rupanya kamu duluan yang meninggalkannya" ucap Alfaro yang kini sudah duduk di samping Kirana sambil menggendong Arka.
"Bukan Zahra bermaksud seperti itu, tapi Hendri sendiri yang pasif dan tidak menampakkan apapun" sambung Kirana.
"Sudahlah, kita ngobrol sesuatu yang menyenangkan saja, aku sudah terlalu capek dengan urusanku, okey?" Ucap Zahra.
Obrolan di malam itu berlanjut, sampai pukul delapan malam, Zahra segera pamit untuk undur diri karena mendapat pesan dari Hendri bahwa salah satu perusahaan yang ada di Jakarta sedang mengadakan pesta menyambut kedatangannya.
*
*
Di sela-sela acara pesta, Zahra kini sudah duduk berbincang dengan sahabat lama yang dulu merupakan asisten pribadinya.
"Kelihatanya kamu betah sekali di Indonesia, bahkan kamu sudah berhasil mendirikan perusahaan mu sendiri" ucap Zahra.
"Tentu saja, semua aku pelajari darimu juga bukan?" Jawab Hendri Pramudi yang kini sudah menjadi CEO di perusahaannya sendiri.
"Hem, kamu juga kelihatan sangat sibuk, tapi syukurlah masih bisa membantu anak buahku untuk menyiapkan acara pesta ini" ucap Zahra.
"Tentu saja, aku sangat senang melakukannya, dan melihat mu kini sudah bisa berjalan dengan Normal kembali membuatku sangat bahagia" ucap Hendri.
"Sayang kau tidak mengikuti prosesnya" sahut Zahra.
__ADS_1
Hendri hanya menatap Zahra dan tersenyum. Kemudian tampak dari kejauhan beberapa kolega bisnis yang sudah diundang dalam pesta penyambutan, kini menuju ke arah mereka.
"Wow, baru kali ini bisa bertemu dengan pemilik sesungguhnya beberapa perusahan besar milik Milton Company yang ada di Indonesia" ucap salah satu laki-laki yang merupakan salah satu kolega bisnis nya.
Zahra tersenyum, lalu memberikan Slam hormat yang membuat semua orang-orang itu menjadi segan.
"Mereka sangat liar" bisik Zahra ke Handri saat orang-orang itu kini telah pergi untuk melanjutkan pestanya.
Hendri tertawa, kagum akan sifat Zahra yang selalu di jaga, walaupun pergaulan bisnisnya begitu luas.
"Aku siap mengantarmu kemana saja Zahra, kapanpun kamu membutuhkanku" ucap Hendri yang sudah beberapa tahun lalu memutuskan untuk meninggalkan perusahaan Zahra dan berkomitmen untuk menjalin persahabatan saja.
"Terimakasih Hen, aku akan menagih kata-kata mu" jawab Zahra.
"Aku siap dengan hal itu" sahut Hendri dengan mengedipkan salah satu matanya.
Sontak Zahra langsung tertawa, begitulah dari dulu Hendri menghiburnya, namun semua sirna disaat Hendri berada jauh darinya.
"Dimana kamu tinggal?" Tanya Zahra.
"Aku berada di Apartemen yang dekat dengan tempat kerja, untuk menghemat waktu dan tidak terlalu pusing jika ada hal yang harus aku lakukan dengan segera" jawab Hendri.
"Bukannya kamu memiliki banyak teman selain Nona Kirana?" Tanya Hendri.
"Aku sudah lama membatasinya, hanya kirana yang menurutku sangat tulus padaku" jawab Zahra.
"Kamu tidak menyebutkan namaku?" Tanya Hendri
Zahra tertawa, lalu memegang tangan Hendri sebentar, "tentu saja, kau juga adalah teman terbaikku, terimakasih kamu tidak pernah melupakan ku" ucap Zahra dengan senyum manisnya.
Hendri tersenyum, lalu keduanya saling menatap walau dalam sekejab, Zahra segera mengalihkan pandangan saat Hendri menatapnya dengan intens.
Setelah pesta itu selesai hampir tengah malam, akhirnya keduanya pulang, Hendri sengaja mengantarkan Zahra dulu sebelum dirinya nanti kembali pulang.
"Apa menurut mu aku harus membeli mobil pribadi untuk kesibukanku nanti?" Tanya Zahra.
"Kalau kamu mau boleh saja, tapi kalau jamu tidak keberatan, pakai saja mobil sport ku yang ada di garasi Mansion ku, di sana ada dua yang tidak terpakai, kamu boleh mengambil salah satunya" jawab Hendri.
"Wow, apa kamu sedang menyombongkan diri?" Sahut Zahra yang sudah tertawa.
__ADS_1
"Bukan menyombongkan diri, lebih pada membalas semua kebaikanmu di masa lalu, tanpa jasamu aku juga tidak mungkin akan menjadi seperti ini"
"Hem, benarkah?, Sepertinya aku sangat berjasa sekali padamu Hen"
Keduanya tertawa kembali, begitulah Zahra saat bersama dengan Hendri, sahabatnya itu selalu bisa membuatnya tertawa dan bahagia, walaupun dalam keadaan yang se hancur-hancur nya.
Walaupun hidup dalam keluarga yang kaya raya, Zahra sudah terbiasa dengan kehidupan yang sewajarnya, dia tidak terlalu suka menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu, hingga akhirnya menerima permintaan Hendri untuk mengambil salah satu mobil sportnya yang tidak terpakai.
"Silahkan keluar nyonya" Goda Hendri sat dirinya membukakan pintu agar Zahra Segera turun menuju ke Apartemen mewahnya.
"Benar kamu tidak ingin pergi saja ke Mansion ku, semalaman kita bisa bercerita" Hendri menawarkan.
"Tidak terimakasih, kapan-kapan saja aku akan ke tempatmu, akan ku pastikan hal itu, tapi tidak untuk malam ini" jawab Zahra.
"Baiklah kalau begitu, aku sudah mengirimkan nomer handphone pribadiku, dan aku akan segera mengangkat nya kalau itu panggilan dari nomer mu" ucap Hendri sebelum pamit pergi.
"Okey, sekali lagi terimakasih Hen"
"Okey, masuklah, lalu akan segera pergi" sahut Hendri lagi, membuat hati Zahra merasakan sesuatu yang begitu terlindungi.
Zahra mengangguk, lalu segera masuk ke dalam apartemennya, setelah itu Hendri bergegas pergi.
Saat memasuki lif, tanpa sengaja Hendri hampir saja menabrak seseorang yang terlihat berjalan dengan tergesa-gesa, dan sebelum pintu lif tertutup Hendri melihat laki-laki itu menuju ke arah lorong apartemen Zahra, sat pintu lif tertutup rapat, tiba-tiba saja hati Hendri merasa tak tenang.
"Ada apa ini, heh, semoga saja tak terjadi apapun" gumam Handri berusaha menenangkan batinnya, hingga sampai di lantai bawah, dirinya segera masuk ke dalam mobil namun dan masih terdiam.
*
*
Zahra baru saja akan membuka pintu kamar, tubuhnya begitu lelah hingga dia ingin segera beristirahat, namun suara bel pintu membuatnya terkejut.
"Apa lagi, Dasar Hendri, mungkinkah ada sesuatu yang dia lupakan?" Zahra berbicara dengan dirinya sendiri.
Lalu berjalan perlahan dengan memakai hijab rumahan yang sudah di sediakan untuk memudah ya memakainya dengan cepat.
Ceklek
Pintu Apartemen di buka tanpa melihat monitor terlebih dahulu, dan Sontak Zahra begitu kaget melihat seseorang sudah berada di depan pintunya dengan wajah yang tak ramah.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?!" Teriak Zahra ketus dan segera mundur beberapa langkah.