
"Tunggu..!" Ucap laki-laki itu disaat Kirana kini telah semakin dekat dan akhirnya berlalu begitu saja.
Hanya mata yang menatapnya sekejab dan laki-laki itupun segera turun lalu masuk ke dalam minimarket.
Sementara itu, Kirana dengan senang hati kini sudah berada di dalam mobil dengan membawa sekantong penuh buah yang sangat diinginkan nya.
"Ayo pak.. kita jalan" ucapnya dan kemudian segera meluncur ke Mansion miliknya.
Kirana segera membersihkan diri dan menyantap buah satu persatu, rasanya sangat puas hingga tanpa disadari keberadaan sang suami yang baru saja datang tidak di sadari nya.
Alfaro tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang sedang berada di ruang tengah sambil menikmati aktifitasnya.
"Assalamualaikum honey.."
"Astagfirullah.." Kirana terkejut kaget saat Alfarao mengucapkan salam lekat di telinganya. "Waalkum salam..jangan mengagetkanku honey..dasar.." ucap Kirana yang masih memegangi dadanya.
"Aku sudah mengucap salam dari depan mulai tadi, kamu gak dengar, rupanya sedang menikmati makan buah disini Hem..?"
"Oh ya..hehe..maaf honey" ucap Kirana sambil nyengir.
Alfaro tersenyum, berjalan kearah wastafel terdekat untuk mencuci tangan dan detik berikutnya duduk di belakang istrinya, sambil memeluk mesra dari belakang ikut menikmati buah yang sudah tersaji diatas meja.
"Jangan lupa besok ikut jumpa pers.." ucap Alfaro membuat Kirana mengerutkan keningnya.
"Jumpa pers.. konfirmasi soal apa?" Tanya Kirana tak mengerti.
"Soal masalah ku dengan Zahra, semua sudah bisa di buktikan, dan publik akan segera mengetahui kebenarannya, aku harap setelah itu nama ku dan terutama Zahra akan bersih kembali"
"Alhamdulillah.. memangnya tuan Harry sudah mau memberikan pernyataan lesan?"
"Hem.. begitulah, dengan syarat.."
"Apa?" Tanya Kirana penasaran.
"Kita harus membatu dan melindungi Zahra" jawab Alfaro yang masih menikmati buah dan sedikit jahil menci-umi pipi istrinya.
"Ish..hentikan honey..geli..!!" Kirana sedikit meronta saat mendapati serangan sah Sumi semakin tak terkendali.
"Gemas..pengen nggigit ibu hamil" ucap Alfaro.
"Gak bisa..aku masih pengen menikmati ini semua..jangan me rusuh!" Jawab Kirana.
Alfaro terkekeh lalu membelai kepala istrinya dengan lembut, mencium dan menikmati bau harum rambut Kirana yang selalu dia rindukan.
"Kita besok berangkat pagi, acara jam delapan dimulai, hanya dua puluh menit, setelah itu aku akan langsung ke perusahaan Milton Company " ucap Alfaro lagi.
"Ada apa?, Sepertinya hal penting" tanya Kirana sambil menghentikan tangannya yang akan mengambil buah diatas meja.
"Penting sekali, perpindahan kepemimpinan sementara, itu yang aku dengar"
__ADS_1
"Oh ya..secepat ini?" Tanya Kirana kaget.
"Hem.. entahlah, kita lihat saja besok"
"Aku jadi khawatir honey,"
"Tenang saja, aku sudah berjanji akan membantu Zahra, Ronan juga akan membantu, semoga kita bisa mencari jalan keluar yang terbaik" ucap Alfaro menenangkan istrinya.
"Semoga honey.." ucap Kirana yang kemudian memekik saat Alfaro tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya dan membawanya ke dalam kamar.
"Honey..apa yang_ emmhh.." tidak terdengar lagi jeritan Kirana disaat bibirnya sudah di penuhi oleh luma-tan ganas sang suami, walaupun pada akhirnya terlepas juga mengingat Alfaro masih belum membersihkan diri.
**
Keesokan harinya Ronan bersiap pagi-pagi sekali dengan raut wajah yang sedikit tegang, rupanya hal itu mengundang rasa ingin tau dari sang istri yang kini tengah hamil di trimester ke tiga.
"Yang..ada apa?" Tanya Hani yang tengah memasangkan dasi Ronan.
"Tidak ada..jangan khawatir"
Hani tersenyum melihat suaminya berusaha menyembunyikan masalahnya. "Kamu tidak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dariku sayang..ada apa Hem?" Ucap Hani mengulangi.
"Hehh.. sepertinya percuma aku menyembunyikan apapun darimu yang.." sahut Ronan yang kemudian duduk dan menarik Hani kedalam pangkuannya.
"Katakan saja..aku tidak apa-apa" lanjut Hani dengan senyuman yang menenangkan.
"Hari ini kita akan mengadakan rapat di Milton Company sebagai perusahaan yang melakukan kerjasama saham disana, dan aku dengar sekaligus pengalihan jabatan kepemimpinan untuk sementara"
"Itulah..aku kira juga begitu, tapi rupanya Nona Zahra masih belum siap akan hal itu karena keadaannya yang sekarang ini"
"Bener juga, musibah yang dihadapi Nona Zahra dengan kelumpuhan yang dialaminya memang pukulan berat baginya, aku bisa merasakan hal itu, tapi kepemimpinan perusahan sebesar itu mana bisa di limpahkan begitu saja, lalu siapa yang akan memegangnya?"
Ronan menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang istri, "Aku dengar kakak dari tuan Harry Milton, yang berarti itu adalah tuan Fargo Milton"
"Fargo Milton..??" Ucap Hani sambil mengingat-ingat sesuatu, "tunggu-tunggu..bukannya Fargo Milton adalah pemilik perusahaan Milton yang sebelumnya dan terjerat banyak sekali kasus dan hampir saja bangkrut waktu itu?"
"Hem.. begitulah yang.. mangkanya aku juga sangat khawatir, tapi mau bagaimana lagi, Nona Zahra yang menyetujui hal itu walaupun dia masih ikut berada di dalam kepengurusan perusahaan"
"Astagfirullah yang..apa orang itu bisa di percaya?" Sahut Hani terlihat cemas.
"Aku tidak tau..untuk itulah aku dan Alfaro berusaha ikut membantu Zahra, tapi keputusan sudah dibuat dan Zahra sepertinya akan melimpahkan ke pamannya"
"Hari ini..?" Tanya Hani.
"Iya..rapat hari ini, semuanya akan berkumpul, agendanya seperti itu"
"Aku hanya bisa berdoa yang terbaik yang..masalahnya perusahan kita masih bekerjasama dengan Milton Company, itu berarti mau tidak mau harus kerja sama dengan tuan Fargo Milton kalau dia yang menjadi pimpinan sementara Milton Company " sahut Hani
"Dan hal itu yang aku khawatir kan, begitu juga dengan Alfaro" jawab Ronan.
__ADS_1
"Kita berserah diri dan berusaha yang..semoga nanti menemukan solusi yang terbaik" ucap Hani yang kemudian menci-um lembut bibir suaminya.
Ronan mendapati sesuatu yang hangat dibibir nya tidak membiarkan begitu saja, menahan tengkuk sang istri dan membalas dengan melu-mat bibirnya berkali-kali sampai Hani hampir kehabisan nafas.
"Yang..hentikan..!" Teriak Hani berusaha mengambil nafas di tengah panasnya luma-tan sang suami.
Ronan tertawa kecil, menyeka lembut bibir sang istri, "sepertinya si kecil menginginkan ku menyambangi nya" ucap Ronan.
Hani langsung melebarkan matanya, terkejut mendengar perkataan suaminya, apa jadinya dengan baju yang rapi dan siap berangkat ke Kantor akan berantakan kembali jika apa yang diinginkan Ronan benar-benar terjadi, beruntung semua masih bisa terkendali dan Ronan segera melepaskan istrinya untuk melanjutkan urusan di perusahaan Milton Company.
Sementara itu, telah terjadi kehebohan sejenak setelah acara konferensi pers di gelar, semua bukti yang nyata telah di unggah hingga publik pun mengerti akan masalah yang sebenarnya.
Kirana dan Alfaro bisa bernafas lega, acara berjalan lancar sesuai yang diharapkan, "Alhamdulillah semua berjalan lancar honey.." ucap Alfaro.
"Iya.. Alhamdulillah" jawab Kirana yang kini berjalan dengan di gandeng mesra dan menuju ke dalam sebuah mobil yang akan mengantarkan ke perusahaan Milton Company.
Perbincangan selama perjalanan membahas seputar Zahra yang nanti juga akan hadir di rapat Perusahaan.
"Jadi aku boleh ikut honey?" Tanya Kirana.
"Tentu saja, nantinya Christopher dan juga Louise akan ada disana"
"Oh ya.. syukurlah kalau begitu, sepertinya Hani juga akan mendampingi Ronan"
"Benarkah?" Tanya Alfaro.
Kirana mengangguk meyakinkan."Tadi dia sempat menghubungi ku, sekalian akan mendampingi Zahra, kita sepakat untuk hadir memberikan support" ucap Kirana.
"Hem..good" ucap Alfaro yang kemudian segera menghubungi Ronan untuk mengetahui posisi sahabatnya itu dan rupanya Ronan sudah berada di perusahaan Milton Company bersama dengan istrinya.
Begitu juga dengan Louise sebagai sekretaris Alfaro mewakili sementara kedatangan sang bos yang masih berada di perjalanan, sementara Christopher datang dengan membantu mendorong kursi roda Zahra yang tentu saja dengan izin sang kekasih sebelumnya.
Alfaro segera berjalan masuk dengan menggandeng tangan Kirana saat sudah tiba di Milton Company.
"Honey..aku akan ke toilet sebentar ya?" Ucap Kirana tiba-tiba yang mereka tidak tahan lagi ingin buang air kecil.
"Aku antar" sahut Alfaro.
"Tidak perlu,l honey.. aku bisa sendiri, kehadiranmu di tunggu di ruang rapat, aku akan segera menyusul nanti" ucap Kirana yang kemudian segera berlalu ke kamar mandi setelah mendapat anggukan dari sang suami.
lega dengan ritual yang dilakoni, Kirana segera merapikan diri dan segera pergi menyusul keberadaan Alfaro, rupanya dengan berjalan sedikit cepat membuatnya menabrak seseorang.
Brug.
"Akh..! Maaf tuan.." pekik Kirana terkejut.
"Tidak apa-apa, anda_?" Jawab laki-laki yang hampir saja terjatuh dan kemudian terkejut melihat sosok Kirana yang berada tepat di depannya.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMENnya.
__ADS_1
Bersambung.