
Saat Kia sampai kubik tempatnya bekerja, terlihat Vio yang sudah duduk manis di kursinya dengan Kevin yang duduk di meja melihat ke arah Vio.
"Vin, cepat sana pulang! Nanti keburu yang lain pada datang," usir Vio jengah karena sekarang Kevin suka sekali menguntitnya.
"Oke! Tapi kamu janji dulu, nanti malam pulang ke apartemen," ucap Kevin dengan menatap lekat istrinya yang belum dia sentuh.
"Iya bawel," ketus Vio
"Gak boleh galak-galak sama suami, dosa." Setelah membisikkan kata-kata itu, Kevin langsung menuju ke ruangannya.
Vio terpaku mendengar apa yang Kevin katakan, selama dia menjadi istri Kevin, Vio masih suka bersikap judes padanya. Meski sebenarnya dia tidak tidak bermaksud untuk melakukan hal itu.
Kia yang sedari tadi memperhatikan interaksi Vio dan Kevin sedikitnya ada rasa curiga pada sahabatnya itu. Bilangnya mau lepas diri dari Kevin, tapi selalu terlihat manut pada ucapan Kevin.
"Vio, kamu kelihatan makin lengket aja sama Pak Kevin. Jadian lagi ya?" tebak Kia
Vio menempelkan telunjuk di bibirnya dan meminta Kia untuk mendekat ke arahnya. "Sebenarnya aku udah nikah sama dia, tapi kamu gak boleh bilang sama siapa-siapa," bisik Vio
"What??? Nikah???" jerit Kia histeris, membuat Vio langsung menutup mulut Kia dengan tangannya.
"Siapa yang mau nikah Kia?" tanya Oryza yang baru datang dari makan siangnya.
"Kia mau nikah sama Dito Pak Ryza," ceplos Vio asal, membuat Kia membulatkan matanya.
"Beneran Kia?" tanya Oryza dengan penekanan
"Eh itu Pak, anu...." belum Kia selesai bicara, Vio langsung memotongnya.
"Tentu saja Pak, Lagian Dito lumayan ganteng kho, anaknya sopan lagi." tutur Vio
"Oh begitu ya!" Oryza langsung melengos pergi tanpa bicara lagi
"Baru semalam keluargaku dan keluarganya bicara tentang perjodohan, ternyata dia ingin menikah dengan orang lain. Memangnya apa kurangnya aku?" gerutu Oryza dalam hati
Kia hanya menatap sendu kepergian Oryza, "Sangat terlihat jelas dia memang tidak menginginkanku. Ibu, andai saja aku bisa menolak keinginan Ibu." Batin Kia
Merasa ada suatu cairan yang ingin keluar dari matanya, Kia pun langsung pergi menuju toilet.
Kia terus membasuh mukanya berkali-kali agar tak seorang pun melihat air mata yang sudah mengembun. "Sepertinya cukup, semangat Kia!!! Kamu pasti bisa!!!" ujar Kia dengan mengepalkan tangannya ke udara.
Saat dia keluar dari toilet, tiba-tiba ada tangan yang menariknya hingga dia menabrak dada bidang milik Oryza.
__ADS_1
Kia yang tersentak kaget hanya diam mematung, membiarkan Oryza memeluknya. "Apa benar apa yang dikatakan Vio tadi?" tanya Oryza
"Meski aku ingin, tapi aku sudah tidak bisa mengambil keputusan sendiri," ucap Kia dengan memalingkan mukanya.
Saat terdengar suara sepatu yang mendekat, Oryza langsung melepaskan Kia dan berlalu pergi meninggalkan Kia yang diam mematung. Namun Kia cepat tersadar dan segera berlalu pergi dengan terus bersenandung lirih.
"Oh Tuhan, ku cinta dia, ku sayang dia, inginkan dia. Utuhkanlah rasa cinta di hatiku, hanya padanya dan untuk dia."
Saat sampai kubik tempatnya bekerja pun, dia masih asyik dengan nyanyiannya, Dia tidak peduli dengan tatapan orang di sekelilingnya yang mendengar sayup-sayup senandung lagu yang dinyanyikan Kia.
"Wah Kia sepertinya sedang jatuh cinta ya?" Goda Adit, rekan kerja Kia yang duduk tepat di sebelah Kia.
"Iya dong bang! Secara Kia masih muda, masih hot hotnya. Buat apa terpuruk karena cinta coba," sarkas Kia yang berbanding terbalik dengan apa yang sebenaya terjadi.
"Betul banget apa yang kamu bilang. Aku aja gak pernah tuh yang namanya nangis karena putus cinta," ucap Adit
"Emang Bang Adit pernah pacaran?" Kia jadi penasaran seperti apa pacarnya Adit, lai-laki dengan celanna cungkring dan janggut yag sengaja dia pelihara.
"Ya nggak pernah sih. Kan aku inginnya ta'arufan biar langsung nikah," jelas Adit
"Udah dapat belum buat teman ta'arufnya," tanya Kia lagi.
Adit malah cengengesan saat ditanya begitu oleh Kia, "Belum Kia, masih dalam penjajakan mencari jodoh," jelasnya kemudian.
Adit ingin menjawab, tapi saat melihat kilatan kekesalan Oryza yang keluar dari ruangannya, membuat Adit mengurungkan niatnya.
"Kiara Prameswari! Mau sampai kapan kamu mengobrolnya? Apa kamu ingin dihukum lagi sama pak CEO?" tegur Oryza yang sudah berdiri di belakang Kia.
"Maaf Pak, kita silent kho suaranya," bela Kia
"Kamu bilang silent, tapi kenapa aku bisa dengar?" tanya Oryza dengan mata yang menatap lekat pada Kia.
"Hehehe...mungkin Bapak sengaja ingin nguping," ucap Kia.
"KIARA...." Oryza hilang kesabaran saat Kia terus menjawabnya.
Kiara langsung terdiam tidak lagi bersuara saat Oryza memanggilnya dengan nada tinggi.
"Maaf Pak," lirih Kia dengan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Bagaimana bisa aku dijodohkan dengan gadis berisik ini, bisa-bisa tiap hari aku mendengar ocehannya yang un-faedah itu," gumam Oryza pelan seraya berlalu pergi kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Yura yang melihat itu hanya tersenyum remeh pada Kia. "Kamu kenapa Za? Kusut amat mukanya," tegur Yura
"Aku tuh aneh sama dia, kenapa selalu saja menjawab kalau aku bilangin," gerutu Oryza
Yura langsung menghampiri ke kursi kebesaran Oryza. Dengan tanpa malu, dia duduk di pangkuan Oryza.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Yura, sontak saja Oryza merasa kaget karena tidak terbiasa. Namun otaknya mendadak blank saat Yura mulai mengelus dadanya.
"Yura, turunlah! Aku lelaki dewasa, kamu jangan memancingnya," titah Oryza
Mendengar apa yang Oryza katakan, Yura bukannya turun, tapi dia malah terus mengelus dada Oryza. "Kenapa Za? Apa kamu menikmatinya?" ucap Yura dengan nada sensual
"Yura turunlah! Aku tidak ingin bermasalah dengan Al. Kalau kamu menginginkannya, nanti saja sepulang kerja," dengan sekuat tenaga Oryza menahan hasratnya yang sukses sudah dibangunkan oleh sentuhan Yura.
"Za, tubuhmu cepat sekali bereaksi," Yura merasakan ada sesuatu dibawah sana yang ingin terlepas dari sangkarnya.
"Tidak, aku tidak akan rela jika Oryza jatuh ke dalam pelukan temannya gadis kampung itu. Lebih baik jika bersamaku. Lagipula aku yakin , kalau Oryza ada rasa padaku" batin Yura
Yura tidak bergeming, masih duduk dalam pangkuan Oryza dengan tangannya berkelana meyentuh titik sensitif Oryza. Merasa imannya sudah goyah, Oryza segera meraup benda kenyal dengan pewarna bibi yang mencolok itu. Dia mulai menyesapnya, menikmati sensasi yang Yura berikan, hingga tangan nakal Oryza mulai memainkan bukit kembar Yura ditengah-tengah pergulatan lidah yang saling melilit dan bertukar saliva.
Tanpa mereka sadari, ada seorang gadis yang diam mematung dengan hati remuk redam melihat pemandangan di depannya.
Sebenarnya Kia pergi ke ruangan Oryza untuk meminta tanda tangannya. Namun saat tiba di depan pintu, ternyata pintunya tidak tertutup rapat sehingga dia dapat melihat apa yang terjadi di dalam lewat celah yang lumayan lebar.
Setelah dapat menguasai dirinya, Kia pun memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan Oryza.
Tok tok tok
Oryza yang kaget mendengar suara ketukan pintu, segera melepaskan pagutannya dan langsung berdiri dari duduknya, hingga terdengar suara benda jatuh yang cukup keras.
Gedebuk!
"Astaga! Yura kenapa kamu jatuh," panik Oryza saat mendapati sekertaris sekaligus sahabatnya itu jatuh terjengkang dengan cukup keras.
Sementara Kia, yang mendengar suara benda jatuh yang cukup keras dari ruangan Oryza, segera membuka pintu meski belum diijinkan masuk. Kia hanya menutup mulutnya saat melihat Yura yang terduduk di lantai.
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan, dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih ππ»...
__ADS_1
πNext part