
Sepertinya hari ini keberuntungan tidak berpihak pada Allana, karena apa yang dikatakan oleh guru BK-nya bukan hanya sekedar ancaman. Di ruangan Pak Benyamin memang ada Andrea papanya bersama dengan papanya Dika yang sedang membicarakan Dika.
Pak Benyamin sengaja memanggil Al mengenai penempatan kelas untuk putranya. Karena saat Dika sekolah di London, dia sempat mengikuti kelas akselerasi sehingga Dika loncat kelas yang seharusnya masih kelas X meloncat menjadi kelas XII.
Di saat mereka asyik berbincang, terdengar pintu ruangan Pak Benyamin ada yang mengetuk dari luar. Setelah dipersilakan masuk, terlihat Tiara pun masuk dan berbincang dengan Pak Benyamin.
"Ndre, Tiara sepertinya ada perlu denganmu," ucap Pak Benyamin.
Andrea yang sedang asyik berbincang dengan Al pun menghentikan perbincangannya saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh pamannya.
"Ada perlu apa?" tanya Andrea datar.
"Maaf, Pak Andrea! Bisa ikut saya sebentar? Ini mengenai Allana dan Arabella," ucap Tiara.
"Baiklah! Al aku tinggal sebentar ya! Kamu lanjutkan saja sama Om Bens," pamit Andrea.
"Permisi, Pak!" Tiara pun undur diri dan diikuti oleh Andrea dari belakang.
Saat sampai ruang BK, nampak Allana dan Arabella sedang asyik berbincang ditemani oleh Gala sebagai ketua OSIS, karena tadi Tiara memintanya untuk menjaga Allana. Bisa kabur lagi kalau Allana dan Arabella ditinggalkan tanpa pengawasan.
Andrea yang mengerti maksud dari Tiara mengajaknya untuk ke ruang BK, langsung menggelengkan kepala melihat Allana dan putri sahabatnya ada di ruang BK.
"Apa yang sudah dilakukannya?" tanya Andrea.
"Maaf, Pak! Tadi Allana dan Arabella tidak mengikuti kelas, mereka malah asyik menonton konser boyband di handphone-nya." Tiara langsung mengadukan apa yang dilakukan oleh putri pemilik sekolah tempatnya bekerja.
"Apa dia sering melakukan hal seperti itu?" tanya Andrea lagi dengan sorot mata yang terus menelisik putrinya.
"Bukan hanya sering, Pak! Tapi Allana dan Arabella selalu berbuat semaunya." Tiara tak tanggung-tanggung mengadu pada Andrea, karena kalau bilang pada Pak Benyamin, pasti hanya disuruh untuk memberikan tugas. Berbeda jika bilang pada Andrea, pasti ada perubahan selama beberapa hari ke depan bahkan beberapa minggu berikutnya.
"Suruh saja mereka untuk menyapu halaman sekolah!" ujar Andrea seperti tanpa beban. Berbeda dengan Allana dan Arabella yang langsung melotot tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh papanya.
"Tidak perlu melotot, itu hanya sebagian hukuman yang akan kamu terima," ujar Andrea.
"Papa ...." Allana menggantungkan ucapannya saat melihat Andrea akan berbalik dan tidak melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Sudah kan, Bu! Saya permisi, kembali ke sana!" ujar Andrea lalu pergi begitu saja.
Sepertinya Allana mewarisi sifat papanya, batin Tiara.
Mana bisa aku mendebat papa, bisa-bisa semua fasilitas yang diberikan padaku malah dicabut, batin Allana.
Seperti apa yang dikatakan oleh Andrea, kini Allana dan Arabella sedang membersihkan daun-daun yang berguguran di taman belakang sekolah, tapi memang dasarnya anak mami yang tidak pernah memegang sapu dan pengki, mereka menyapu taman belakang sampai menghabiskan waktu dua jam.
Taman belakang kini sudah terlihat bersih tanpa daun-daun yang berserakan. Badan yang terasa lelah, membuat Allana dan Arabella tiduran di bangku taman yang berada di bawah pohon rindang. Perlahan Allana memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang menerpa kulitnya sampai tidak menyadari kehadiran seorang anak lelaki tampan yang sudah duduk di sampingnya. Sementara Arabella sudah di suruh kembali ke kelas oleh Dika.
Dika terus memandangi wajah cantik yang ada di depannya. Dulu dia sangat mengagumi Allana karena kepiawaiannya dalam olah raga ektrim. Namun, untuk sekarang Dika belum bisa menyimpulkan tentang perasaannya pada Allana. Hanya saja rasa kagumnya tidak berkurang sedikit pun.
Perlahan Dika mendekatkan wajahnya mengecup singkat bibir Allana sebelum dia memberikan minuman dingin pada Allana. Merasa ada yang menempel dingin di bibirnya, Allana pun langsung membuka matanya dan melihat Dika sedang tersenyum manis seraya membawa minuman di tangannya.
"Dika, kapan kamu ke sini?" tanya Allana kaget.
"Dari tadi saat kamu masih memejamkan mata," sahut Dika.
"Kenapa kamu tidak bangunkan aku?" tanya Allana sewot.
"Tidak apa, nih minum!" Dika memberikan minuman yang sudah dia buka pada Allana.
"Tumben kena hukuman? Kata teman-teman biasanya kamu gak pernah dapat hukuman," tanya Dika seraya melihat ke arah Allana.
"Tadi ada papa di ruangan kakek, dia yang menghukum aku bukan BK itu!" jelas Allana dengan cemberut.
Melihat Allana yang kesal, Dika pun mengeluarkan kotak di balik bukunya. "Nih! Lunas ya, janji aku!" ucap Dika seraya memberikan coklat pada Allana.
Senyum Allana kembali terbit saat melihat coklat yang diberikan Dika. "Makasih, Dika!" ucapnya.
Dika hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, arah pandangnya hanya melihat bibir Allana yang sedang penuh dengan coklat. Ingin sekali dia mengecup lagi bibir itu, pasti rasanya lebih manis dari tadi. Namun, dia menahannya. Tidak mungkin Dika melakukan hal itu di lingkungan sekolah.
Aku akan memintanya sebagai bayaran jadi pacar bohongan dia, batin Dika.
Suara bel tanda istirahat telah berakhir, menyadarkan Dika dari lamunannya. Dia pun segera bergegas untuk masuk ke kelas, begitupun dengan Allana yang mengikuti saat Dika menarik tangannya.
__ADS_1
Saat sampai kelas, semua orang dibuat melongo melihat Dika yang sedang menarik tangan Allana, karena tidak biasanya gadis itu mau dipegang, apalagi di tarik tangannya oleh teman lelakinya.
"Wah! Lana langsung meleleh sama anak baru itu, kita jadi tidak punya kesempatan untuk mendekatinya," ucap salah satu temannya.
"Denger-denger mereka pacaran loh!" ucap teman
yang satunya lagi.
Mendengar bisikan-bisikan temannya yang sedang membicarakan dirinya, Allana pun langsung angkat suara. "Dika memang pacar aku, kalian mau apa?"
"Gak apa-apa, Lana! Kita senang kamu jadi cewek normal, tidak terus halu nikah sama Om Zyan
itu," celetuk Celline, most wanted sekolah Garuda.
Dika langsung menarik Allana sebelum gadis itu akan membalas ucapan temannya. "Sudah! Atau kamu mau, aku cium di sini!" Ancam Dika.
Allana langsung mengikuti Dika, takut pemuda tampan itu melakukan ancamannya. Meski mulutnya tidak mau mengakui ketampanan Dika, tapi hatinya mengiyakan.
Saat sampai di kursinya, Allana langsung menghempaskan bokongnya membuat Dika yang duduk di belakangnya hanya menggelengkan kepala.
"Dika, beneran kamu pacaran sama dia? Aku yakin kamu gak bakal tahan lama pacaran sama cewek galak itu," bisik Carlo.
Mendengar bisikan dari temannya, Dika hanya tersenyum tanpa berniat untuk menjawabnya. Sementara Allana malah asyik melanjutkan makan coklatnya karena perutnya merasa sangat lapar.
"Lana, bagi dong! Makan kho sendiri aja!" gerutu Arabella langsung mencomot coklat dalam kotak persegi itu yang ada di tangan sahabatnya.
"Aku tuh lapar, Bella! Tadi istirahat gak makan karena ketiduran di taman. Dika juga gak bangunin aku." Allana langsung menggembungkan pipinya dengan mulut yang penuh dengan coklat.
Merasa malas merayu Allana agar memberinya coklat, Arabella langsung mencomot lagi coklat yang ada di tangan sahabatnya itu. Sesegera mungkin dia memakannya agar tidak diminta lagi sama pemiliknya.
"Bella itu coklat dari Dika buat aku, kenapa kamu memakannya?" Sewot Allana.
...*****...
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih 🙏🏻...