
Malam ini, langit terlihat sangat indah dengan kelap-kelip cahaya bintang yang menghiasi angkasa dan rembulan yang bersinar terang.
Aisha sudah bersiap di kamarnya dengan kebaya modern yang melekat ditubuhnya. Yang awalnya hanya acara lamaran, kini mendadak berubah menjadi acara pernikahan atas permintaan papanya Aisha yang kesehatannya semakin menurun akibat penyakit kanker paru yang di deritanya.
Memang, sedari awal orang tua Aisha meminta untuk cepat-cepat membawa calon suami ke rumahnya, karena papanya khawatir tidak bisa menyaksikan putrinya menikah. Namun kini, kekhawatirannya sirna saat Abizar datang dan mengatakan orang tuanya akan datang meminang Aisha. Sehingga acara lamaran itu berubah menjadi pernikahan dadakan.
Dengan acara seserahan yang sederhana, Keluarga Abizar datang ke rumah Aisha pada sore harinya. Tak ketinggalan Icha pun datang dengan memboyong bayi kecilnya.
Meskipun serba mendadak, tak urung rumah Aisha dihias sedemikian cantiknya oleh anak buah Bu Dewi.
Terlihat Al yang sedari tadi menemani papanya Aisha, Pak Tyo Nugraha seorang pengusaha restoran dan cafe yang kini segala aktivitasnya mengandalkan kursi roda.
"Al, seandainya nanti Om pergi, tolong jaga Aisha dan Tante kamu! Om sudah lelah Al, Om hanya menunggu Aisha bertemu dengan jodohnya." Terlihat ada setetes cairan bening di sudut mata Pak Tyo. Kanker paru stadium empat yang di deritanya membuat dia kehilangan harapan untuk hidup. Hanya karena ingin melihat Aisha menikah, dia berjuang untuk melawan penyakitnya meski perkiraan dokter umurnya tinggal menunggu hari.
"Om, jangan bicara seperti itu! Apa Om tidak ingin merasakan bagaimana menimang cucu? Bertahanlah Om, Aisha dan Tante Dessy sangat membutuhkan kehadiran Om di tengah-tengah mereka." Al berusaha menghibur Pak Tyo meski sebenarnya dia juga merasa tidak memiliki harapan Pak Tyo akan kembali sembuh seperti semula.
Tak lama kemudian, Pak penghulu dan beberapa orang tetangga datang untuk menjadi saksi pernikahan Aisha dan Abizar. Meski tanpa persiapan yang matang, Abizar dengan lantang membacakan ijab dan kabul dalam satu tarikan napas.
"Saya terima nikah dan kawinnya saudara Aisha Khumaira Nugraha binti Tyo Nugraha dengan maskawin 50 gram emas murni dibayar tunai."
"Apakah saksi sah?" tanya Pak Penghulu.
"Sah...." Kompak hadirin yang menyaksikan acara pernikahan Aisha dan Abizar.
"Alhamdulillah."
Terlihat Aisha menuruni tangga ditemani oleh Icha, Abizar yang melihat kedua wanita yang dicintainya itu hatinya menjadi sedikit gamang. Bagaimanapun perasaannya pada Icha belum hilang sepenuhnya.
__ADS_1
Aisha langsung mendekat pada Abizar yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Abizar pun segera menjulurkan tangannya dan langsung disambut Aisha dengan mencium punggung tangan Abizar, sedangkan Abizar mencium kening Aisha.
Aku akan terus memantapkan hati, hanya kamu perempuan satu-satunya yang akan menjadi pendamping hidupku dan menjadi ibu dari anak-anakku, batin Abizar.
Alhamdulillah ya Rabb! Engkau menjodohkanku dengan laki-laki yang selama ini aku cintai. Semoga pernikahanku untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya, batin Aisha.
Setelah Abizar dan Aisha menandatangani surat nikah, Pak Penghulu pun membacakan do'a pernikahan, dilanjut dengan memberikan nasihat kepada pasangan pengantin baru.
"Kunci sukses hubungan adalah dengan adanya komunikasi. Jalinlah komunikasi yang baik dengan pasangan. Jika ada persoalan, baik dalam keluarga ataupun masalah anak, sebaiknya dibicarakan dengan pasangan. Jangan sembunyikan apa pun dari pasanganmu karena jika tahu dari orang lain, akan menjadi pemicu pertengkaran. Sebaiknya, minimalisir segala kemungkinan yang bisa menyebabkan pertengkaran agar rumah tangga yang terbina menjadi langgeng."
Seakan terhipnotis, semua hadirin mendengarkan dengan seksama nasihat yang diberikan oleh Pak Penghulu pada pengantin. Karena memang benar adanya, banyaknya terjadi perceraian karena kurangnya komunikasi diantara pasangan suami istri sehingga menimbulkan salah paham dan berujung pertengkaran.
Setelah acara demi acara berjalan dengan lancar, Pak Penghulu dan para tetangga pun berpamitan pulang. Kini tinggallah keluarga inti yang sedang asyik berfoto dengan pengantin. Begitupun dengan semua sahabat Aisha yang tidak ingin ketinggalan moments berharga dalam hidup Aisha dan Abizar.
"Ayo Al kita foto berempat dulu!" ajak Kevin, "Abizar, pinjem dulu Aisha," lanjutnya.
Oryza, Aisha, Al dan Kevin pun foto berempat. Mereka seakan mengenang saat-saat masa kecil dulu yang kemana-mana pasti berempat dan kadang berlima dengan Kalisa. Namun sepertinya, Al merasa kurang suka jika berfoto tidak dengan istrinya sehingga dia hanya memasang wajah datar di saat yang lain berfoto dengan gaya alay anak muda kekinian. Sehingga Icha pun melayangkan protes pada suaminya.
"Dari dulu aku gak suka difoto, kecuali sama kamu!" tegas Al.
"Masa sih? Coba yuk kita foto berdua!" ajak Icha.
"Ayok! Sekalian ajak Dika dan baby Zee, kita bikin foto keluarga." Tak tanggung-tanggung, kini Al dan Icha yang menguasai pelaminan, sedangkan pengantinnya berpamitan untuk mengganti baju dulu.
Setelah sesi foto keluarga Al selesai, kini Oryza dan Kevin yang bergantian ingin berfoto bersama pasangannya.
Sementara yang lain sedang asyik berfoto, pengantin barunya kini berduaan di kamar Aisha. Abizar mengedarkan pandangannya melihat seisi kamar Aisha yang terdapat banyak fotonya. Baik yang berukuran kecil maupun yang berukuran poster. Bahkan foto kebersamaan mereka semasa kuliah dulu terpampang indah menghiasi dinding kamar.
__ADS_1
"Sha, bukankah foto ini saat pertama kali kita bertemu?" tunjuk Abizar pada sebuah foto dirinya yang sedang berada di halte bis sedang menunggu hujan reda.
"Kamu masih ingat?" tanya Aisha yang berdiri di samping Abizar.
"Tentu saja aku ingat! Waktu itu kamu sedang menunggu Oryza menjemputmu, kan? Dulu, aku pikir kalian itu pacaran, ternyata sepupu." Abizar terkekeh geli mengingat saat-saat dulu mereka kuliah di kampus yang sama.
"Kamu tahu gak? Aku pertama kali suka sama kamu itu saat kita berdua menunggu hujan reda di halte, tapi sepertinya kamu tidak tertarik sedikit pun sama aku." Kenang Aisha.
"Itu udah lewat, yang penting kedepannya kita harus saling terbuka, saling menjaga kehormatan dan pastinya saling membuka baju," canda Abizar yang sukses mendapat pukulan dari Aisha di tangannya.
"Memang kamu sudah siap?" tanya Aisha yang kini sudah berada dalam dekapan Abizar.
"Tentu saja aku sudah siap! Kita harus berusaha keras, Sha! Agar secepatnya memberikan cucu untuk papa kamu, mumpung dia masih ada kesempatan bersama kita." Abizar langsung mengeratkan pelukannya pada Aisha. Menghirup aroma tubuh Aisha yang mampu menegangkan urat syarafnya. Namun saat dia akan memulai aksinya, datang segerombolan manusia tak berperasaan mengganggu acara bermesraan dua insan yang saling mencintai.
"Woyy.... Masih sore, udah ngamar aja!" seru Kevin yang langsung menerobos masuk ke kamar Aisha disusul oleh Oryza dan Al sedang di belakangnya istri-istri mereka terlihat mengekor dengan Icha membawa baby Zee di gendongannya.
"Mau pada ngapain sih ke sini?" ketus Aisha.
"Sabar Mbak Bro, kita hanya mau numpang tiduran di kamar kamu." Tanpa rasa bersalah, Oryza menjawab dengan entengnya.
"Kalian ngeselin banget!!!" sewot Aisha yang malah ditertawakan oleh sahabatnya.
Sementara Abizar hanya menggelengkan kepalanya karena dia tahu, mereka sengaja menggagalkan malam pertamanya.
"Sudah, Sha! Masih banyak malam yang lain, kita tunggu sampai mereka puas mengerjai," bisik Abizar.
...*****...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...