Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 134 Teman Dika


__ADS_3

Yura terus di giring oleh keamanan yang sengaja Al pekerjakan semenjak kejadian Yura mengacau di rumahnya.


Saat sampai lantai bawah, semua orang tercengang dengan keadaan Yura yang sudah di borgol. Terutama Bu Dewi yang sudah menganggap Yura seperti putrinya sendiri. Dengan menahan rasa kecewa di hatinya, Bu Dewi pun menghampiri Yura yang tangannya dipegang kiri kanan oleh petugas keamanan.


"Yura, kenapa kamu melakukannya? Apa kurang, kasih sayang dari Tante selama ini? Meski semua orang meninggalkanmu, tapi Tante, Om dan Oryza selalu ada untuk kamu. Kami semua menyayangimu!" tegas Bu Dewi.


Yura hanya diam saja tidak menjawab apapun yang dikatakan oleh Bu Dewi. Hatinya membenarkan dengan apa yang dikatakan oleh tetangganya itu. Sedari dia kecil hanya keluarga Bu Dewi yang peduli padanya, bahkan saat dia sakit, Bu Dewi pasti membawa Yura untuk tinggal di rumahnya sampai Yura sembuh kembali.


Oryza datang dengan tergesa saat mendapat kabar kalau Yura mencoba mencelakai Al lagi. Untung saja dia sedang berada di daerah sekitar rumah Al karena habis meeting dengan klien.


Kedatangan Oryza ke rumah Al bersamaan dengan Arjuna yang akan membawa Yura ke kantor polisi, sehingga dia segera menghentikan Arjuna sejenak.


"Tunggu, Komandan! Boleh aku bicara sebentar dengan Yura?" Oryza pun segera mengejar Arjuna yang akan masuk ke dalam mobil.


"Silakan!" Arjuna pun memberi ruang pada Oryza untuk bicara dengan Yura.


Setelah mendapat ijin dari Arjuna, Oryza segera mendekat ke arah Yura yang akan masuk ke dalam mobil.


Oryza menggenggam tangan Yura dan berkata, "Yura, kalau kamu berjanji akan berubah, aku pasti akan membantumu."


"Tidak usah membantuku, sudah cukup keluargamu berbuat baik padaku. Aku tidak membutuhkan apapun lagi dari kalian," ucap Yura dengan memalingkan muka tidak mau melihat ke arah Oryza.


"Aku mengerti!" sahut Oryza, "Sudah cukup, Pak. Terima kasih!" sambungnya.


Oryza menatap nanar kepergian Yura, sudah sering dia menasehatinya tapi ternyata sakit hati dan dendam lebih menguasai jiwa Yura dibandingkan dengan kasih sayang yang diberikan oleh keluarga Oryza.


Melihat putranya yang diam mematung, Bu Dewi segera menghampiri Oryza dan menepuk pundaknya. "Sudahlah, Za! Dia sudah memilih jalannya sendirinya," ucap Bu Dewi.


"Mah!" lirih Oryza seraya melihat ke arah mamanya. Terasa ada yang hilang di hatinya, meskipun dia tahu apa yang dilakukan Yura memang salah, tapi hati kecilnya yang sudah menganggap Yura sebagai adik seperti tercubit.


Sementara gadis yang sudah membuat kekacauan, dia hanya menatap dalam ke arah Oryza dan Bu Dewi. Mulutnya terkunci rapat hanya hatinya saja yang berbicara.


Maafkan aku Ryza, Tante Dewi! Aku sudah mengecewakan kalian, batin Yura.


Selepas kepergian Yura, beberapa pekerja sibuk membereskan kamar Al yang seperti kapal pecah sehingga dia berpindah ke kamar yang dulu lain untuk menidurkan baby Zee. Bu Tasya terus menemani Icha di saat Al ada keperluan yang mengharuskan pergi meninggalkan Icha.


Sementara Bu Dewi dan yang lainnya kembali pada kesibukannya, yang memang mereka dari pagi bersiap untuk acara Tasyakuran kelahiran putri kecil di Keluarga Putra.

__ADS_1


"Cha, bagaimana kalau tinggal bersama Mama saja? Di sini sepertinya tidak aman buat kamu." Bu Tasya cemas dengan apa yang telah terjadi pada putrinya sehingga dia berniat untuk memboyong mereka ke kampung halamannya.


"Maafkan Icha, Mah! Icha tidak bisa ikut kalau Al tidak mengijinkan," ucap Icha seraya menundukkan kepalanya. Meskipun sebenarnya dia juga ingin mengikuti ajakan mamanya, tapi sekarang dia sudah menjadi seorang istrinya yang harus patuh pada suaminya.


"Biar nanti Papa yang bicara pada suamimu," timpal Pak Yusuf dengan mata yang tidak lepas dari cucunya.


Sampai terdengar suara kegaduhan dari arah pintu, yang ternyata Dika datang bersama teman sekolahnya.


"Assalamualaikum ...." ucap keempat anak lelaki dan dua anak perempuan di ambang pintu.


"Wa'alaikumsalam ...." sahut Icha, Bu Tasya dan Pak Yusuf


"Mama, Dika kangen! Kenapa lama sekali?" tanya Dika seraya memeluk Icha erat.


"Mama juga kangen, Sayang!" Icha pun membalas pelukan dari putra sulungnya.


Sementara teman-temannya Dika langsung mengerubungi bayi kecil setelah mereka bersalaman pada orang tua.


"Dika, adiknya cantik sekali mirip denganku." Arabella terus menatap lekat bayi kecil di dalam box, ada keinginan di hatinya untuk memiliki adik bayi lagi seperti Dika.


"Memang kamu cantik Ara? Kata mama, Aku yang paling cantik," ketus Allana tidak terima Ara menyamakan bayi cantik itu dengannya.


"Coba tanyakan Dika, siapa yang lebih cantik diantara kita berdua?" tanya Allana.


"Kak Ara cantik dan Kak Lana sangat cantik," ucap Dika dengan tersenyum.


"Belain aja terus Allana! Aku sumpahin kamu Lana biar nikah sama Dika." Arabella kesal karena dia tidak mendapat dukungan dari Dika. Padahal menurut kedua gadis itu, penilaian Dika tidak memihak.


"Bagaimanapun bisa? Aku kan maunya sama Om Zyan. Tunggu sepuluh tahun lagi, aku pasti udah nikah sama Om Zyan!" seru Allana sewot.


Pletak


Tanpa tedeng aling-aling, Elvano langsung menyentil dahi adik kembarnya. Dia suka kesal kalau sudah mendengar adiknya itu suka dengan Omnya sendiri.


Allana langsung meringis mendapat sentilan dari kakaknya. Seandainya sekarang sedang di rumah, dia pasti sudah mengadu pada mamanya.


"El!!!" Joen yang sedari tadi diam, langsung memperingati keponakannya.

__ADS_1


"Iya Bang, maaf!" ucap Elvano.


Melihat interaksi Dika dengan temannya, Icha hanya mengulum senyum. Dia senang melihat Dika bisa diterima baik oleh teman-temannya, seperti saat dulu sebelum ada gosip tentang anak haram, Dika berteman baik dengan teman sekolahnya yang dulu, bahkan teman Dika juga baik padanya.


" Anak-anak, apa mama dan papa kalian tahu mau pada main ke sini?" tanya Icha


"Tahu, Tan. Tadi Pak Supir sudah menelpon mama," jelas Elvano yang gayanya terlihat sedikit slengean.


"Tante, nama adik bayinya siapa?" tanya Allana dengan mata yang tidak lepas dari baby Zee.


"Lovely Zevania Marchdika Putri, panggil saja Zee!" sahut Icha


"Adik Zee cantik sekali, boleh gak jadi adiknya Lana?" Tangan Allana terulur ingin mengelus pipi mulusnya baby Zee. Namun, sebelum dia menyentuhnya, Elvano sudah menghentikan adik kembarnya itu.


"Jangan sentuh-sentuh Lana! Tangan kamu kotor, bukankah kamu belum cuci tangan setelah tadi makan cilok?" Peringatan Elvano pada adiknya.


Allana langsung cemberut karena tidak bisa mengelus adiknya Dika. Melihat itu Icha pun langsung ambil sikap.


"Lana sayang, kalau mau cuci tangan bisa di kamar mandi sana," tunjuk Icha pada sebuah pintu di belakang lemari pakaian.


"Dika, ayo antar aku ke kamar mandi!" ajak Allana dan Dika pun menurut saja mengikuti ajakan kakak kelasnya itu.


Tak berapa lama kemudian, Bu Sari dan Bi Sumi datang membawa makanan dan minuman untuk Dika dan teman-temannya. Namun, Icha menyuruhnya untuk menyimpan di kamar Dika biar sekalian anak-anak itu istirahat setelah ilang dari sekolah.


Saat Allana selesai dari kamar mandi, dia merasa kaget karena semua saudaranya sudah tidak ada di kamar yang mamanya Dika tempati.


"Tante, yang lain pada ke mana?" tanya Allana celingukan.


"Mereka pulang duluan, Lana nginep di sini saja ya! Bukannya ingin jadi kakaknya baby Zee?" Goda Icha yang sukses membuat putri rekan bisnis suaminya itu menjadi bengong. Ingin menolak, dia merasa tidak enak. Mau mengiyakan tapi dia tidak berpikir sampai ke sana.


"Lana mau pulang saja, Tan. Mama pasti kangen sama Lana," kilah Allana.


"Jangan pulang dulu! Yang lain ada di kamar Dika, mungkin sedang istirahat di sana."


...*****...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih 🙏🏻...


__ADS_2