
Sepulang dari cafe, Dika dipaksa oleh teman-temannya untuk ikut latihan menembak di mansion Keluarga Wiratama. Tentu saja hal itu membuat Allana menjadi kehilangan mood-nya. Dia menjadi cemas ketahuan kalau hanya pura-pura pacaran dengan Dika, sedangkan Dika hanya tersenyum tipis melihat gelagat Allana.
"Lana, konsen latihannya! Lihat tembakan kamu melesat semua," tegur Elvano pada saudara kembarnya.
"Aku gak mau latihan!" ketus Allana seraya pergi dengan menghentakkan kakinya.
"Ck! Udah gede juga gak berubah tuh bocah, ngambekan." Elvano hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik kembarnya.
"Kamu juga, El! Kalau negur Allana jangan terlalu keras," Joen yang sedari tadi hanya memperhatikan, angkat bicara.
Dika yang berada di dekat dua saudara itu langsung berinisiatif untuk mendekati Allana yang terlihat kesal.
"Aku bawa coklat Belgia, apa kamu mau?" Sepertinya Dika sudah menghilangkan panggilan formalnya pada Allana.
"Beneran?"
"Hm! Kalau kamu mau besok aku bawa ke sekolah," ucap Dika.
"Memang kamu mau pindah ke sekolah mana?" tanya Allana mulai mencair kekesalannya saat mendengar kata coklat dari Dika. Pikirannya langsung melayang pada kenikmatan rasa coklat yang akan dimakannya.
"Tadi pagi papa sudah mengurus kepindahan aku ke SMA Garuda Internasional School," terang Dika.
"Kita satu sekolah tapi untungnya beda kelas." Terdengar Allana cekikikan karena senang tidak akan bareng terus dengan Dika meski mereka satu sekolah, apalagi El dan Joen berbeda sekolah karena mereka memilih sekolah di SMK Negeri.
"Mungkin kita beda kelas, tapi saat di sana aku pernah ikut ujian akselerasi." Dika terus menyelidik pada leher Allana, karena tanpa sengaja dia melihat kalung yang sepertinya tidak asing baginya.
Dika hanya tersenyum tipis saat menyadari kalau kalung yang dipakai Allana adalah pemberiannya dulu.
Aku tidak mengerti denganmu, Lana! Kamu terkadang sangat ketus padaku tapi ternyata kamu masih menghargai pemberianku, batin Dika.
Tak berapa lama kemudian, yang lain ikut bergabung dengan Dika dan Allana. Mereka senang melihat Allana yang mulai mencair pada Dika. Karena selama ini, Allana terlihat terobsesi pada Om-nya sendiri. Jelas saja itu membuat orang tua dan saudaranya merasa khawatir, sehingga mereka berharap banyak pada Dika yang selalu bisa merayu Allana di saat dia sedang merajuk.
...***...
__ADS_1
Hari pun telah berganti, Dika sudah siap dengan seragam sekolahnya. Hari ini, dia sudah mulai bersekolah di sekolah yang sama dengan Arkana sahabatnya. Begitupun dengan Allana dan Arabella yang memang bersekolah di sekolah yang sama.
Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, Dika membawa coklat yang dia bawa dari Negeri Ratu Elizabeth. Sebenarnya, coklat itu milik Zee adiknya tapi Dika mengambilnya tanpa permisi. Biarlah urusan adiknya belakangan karena dia selalu mudah untuk dirayu saat sedang merajuk.
Sesampainya di sekolah, terlihat suasana sekolah yang mulai ramai karena siswa-siswinya sudah mulai berdatangan. Kedatangan Dika yang ganteng maksimal, tentu saja menjadi perbincangan di kalangan siswi sekolah itu. Apalagi, badan Dika yang tinggi tegap menyamarkan usia dia yang baru 16 tahun
Berita tentang kedatangan siswa baru yang membuat mata anak perempuan melotot tak berkedip, tentu saja sampai ke telinga Allana dan Arabella yang terkenal badung dan semaunya di sekolah. Namun, tidak ada satu pun guru yang berani menghukum mereka selain memberikan tugas tambahan pada kedua gadis cantik itu, karena mereka takut kena hukuman dari pemilik sekolah yang merupakan kakek dari Allana.
Meskipun Allana dan Arabella masuk dalam kelas IPA yang notabenenya siswa rajin dan disiplin, tapi tidak berlaku pada kedua gadis itu. Seperti saat ini, dikala semua siswa sedang mengerjakan tugas, kedua gadis itu sedang asyik mendengarkan musik sehingga dia tidak menyadari kedatangan guru yang membawa murid baru.
"Assalamualaikum!" ucap Tiara selaku guru BK.
"Wa'alaikumsalam!" kompak anak kelas IPA 1.
Tiara mengedarkan pandangannya dan melihat ada dua orang gadis yang sedang menundukkan kepalanya. Merasa curiga, guru BK itu pun langsung menghampiri kedua anak muridnya itu.
"Hot banget dance-nya!" seru Tiara di belakang Arabella dan Allana.
"Tentu saja! Bukankah ini idola kamu ya, Lana?" tanya Arabella.
"Sepertinya, Om kamu itu lebih cocok dengan Ibu yang sudah dewasa." Tiara masih ingin tahu sampai mana kedua muridnya itu menyadari kehadirannya.
Mendengar ada yang menginginkan Om-nya, emosi Allana pun langsung tersulut. Tanpa melihat siapa yang bicara, Allana langsung berdiri dari duduknya.
"Heyy!!! Jaga bicaramu! Tidak akan aku biarkan siapapun merebut Om Zyan," tunjuk Allana pada Tiara
"Allana, Arabella ikut ibu ke ruang BK. Mumpung ada papa kamu di sini, jadi biar dia yang menentukan hukuman apa yang pas untukmu." Tiara langsung berlalu pergi ke depan untuk memperkenalkan murid baru yang di bawanya. Sementara Allana dan Arabella lasung mengekor di belakang guru BK itu.
"Ayo Dika, perkenalkan diri!" suruh Tiara.
"Hai, namaku Aldrich Marchdika. Biasa dipanggil Dika," ucap Dika.
"Dika rumah kamu di mana, nanti aku mau main buat ketemu calon mertua."
__ADS_1
"Dika sudah punya pacar belum? Kalau belum, aku mau daftar dong!"
"Dika no handphone kamu berapa?"
"Dika bagi sosmed kamu dong! Nanti aku follow!"
Terus saja semua siswa kelas IPA heboh dengan kedatangan murid baru yang membuat mata mereka menjadi segar kembali, setelah berkutat dengan rumus fisika yang membuat kepala terasa mau meledak. Namun kehebohan itu langsung berhenti saat ada seseorang yang berteriak di depan kelas.
"STOP IT!!! Kalian katrok semua, baru melihat cowok ganteng hah? Sampai heboh kayak gitu," Teriak Allana dengan sorot mata yang penuh dengan kekesalan.
Tiara sampai geleng-geleng kepala melihat apa yang Allana lakukan, dalam hatinya dia berkata 'Mungkin anak itu terlalu dimanja sehingga selalu semaunya.'
"Sudah Allana! Kalian berdua ikut ibu dan kamu Dika bisa duduk di kursi belakang Allana yang kosong." Tiara langsung menengahi, dia khawatir emosi Allana yang mudah meledak menimbulkan kegaduhan di kelas.
"Baik Bu!" ucap Dika
Tiara langsung keluar kelas diikuti oleh Allana dan Arabella. Namun saat dia berpapasan dengan Dika, Allana langsung memberikan ancaman.
"Awas kamu macam-macam dengan cewek di sini! Ingat seminggu ini, kamu pacar aku!" bisik Allana.
Dika hanya tersenyum menanggapi ancaman dari Allana, dalam hatinya dia bertanya, 'apa Allana sedang cemburu?'.
Setelah kepergian Allana dan yang lainnya, Dika pun menuju ke kursi yang tadi ditunjuk oleh guru BK. di sana sudah ada seorang cowok dengan penampilan yang jauh dari kata rapi.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Dika.
"Duduk saja! Kamu jangan heran, kalau nanti dua gadis di depanmu selalu berisik."
"Masa? Oh iya namamu siapa?" tanya Dika pada anak lelaki yang akan jadi teman sebangkunya.
"Carlo Damian," ucap Carlo seraya mengulurkan tangannya.
"Kamu pasti sudah tahu namaku!" ujar Dika seraya mendudukkan bokongnya di kursi dan menyimpan tas punggung yang dibawanya.
__ADS_1
"Tentu saja! Hari ini kamu jadi artisnya, dari pagi anak cewek di sekolah ini heboh dengan kedatanganmu." Carlo membenarkan duduknya dan menghadap ke arah Dika, "tapi ada satu cewek yang gak boleh kamu sentuh di sini, Allana. Hati-hati dengan dia, selain bekingannya kuat, dia juga jago bela diri."
Aku juga sudah tahu kalau Allana jago bela diri karena sering ikut latihan bareng mereka saat dulu masih kecil, batin Dika.