
Sesampainya di basement apartement Al, Icha masih terdiam di kursi penumpang sambil memangku Dika. Sedangkan Al sudah keluar terlebih dahulu.
Al membuka pintu di samping Icha berniat akan menggantikan Icha menggendong Dika ke atas.
"Cha, sini biar Dika kugendong" tawar Al
Icha masih diam belum memberikan Dika kepada Al karena dia masih ragu, ada ketakutan tentang kejadian malam itu terulang. Apalagi mereka di apartement sebagai dua orang dewasa yang bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan meskipun ada Dika bersamanya.
Melihat Icha diam saja, Al pun kembali bersuara.
"Cha, sini biar Dika aku yang gendong. Kamu gak usah takut, aku gak akan ngapa-ngapain kamu sebelum kita menikah" Al berusaha menyakinkan Icha yang terlihat masih ragu.
Icha hanya melototkan matanya mendengar kata terakhir yang Al ucapkan. Bagaimana bisa Al ngomong begitu sementara Icha tidak pernah berpikir sejauh itu. Icha takut saat menikah nanti, suaminya tidak bisa menerima Dika makanya dia tidak ingin memikirkan soal pernikahan.
Setelah Dika diberikan pada Al, Icha pun mengekor dari belakang dengan langkah pelan seakan sedang menarik batu yang sangat berat.
Melihat Icha yang lambat jalannya, Al segera menarik tangan Icha dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan yang satunya menggendong Dika.
Sesampainya di kamar, Al langsung membaringkan Dika dengan perlahan di ranjang king size miliknya.
Dipandanginya Dika yang sedang tertidur pulas, segurat senyum tercetak di bibir sensualnya saat melihat wajah polos Dika. Entah ada tarikan darimana sehingga Al sangat ingin memberikan ciuman di kening Dika yang sedang tertidur.
Icha tertegun di ambang pintu saat melihat Al mencium kening Dika. Hatinya menghangat, tetapi Icha segera menepisnya. Dia tidak boleh terhanyut dengan semua perhatian yang Al berikan. Icha takut hatinya terluka lagi seperti saat dulu Al mencampakkannya setelah dia merenggut miliknya yang sangat berharga.
Saat Al berbalik, dia mendapati Icha dengan tatapan kosongnya.
"Cha, jangan bengong di ambang pintu! " tegur Al
"Ehhh, nggak Kho" seru Icha kaget
"Istirahatlah! Aku di kamar sebelah" suruh Al lalu beranjak pergi.
Setelah Al pergi, Icha segera menutup pintu kamar dan beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam kamar.
"Mewah sekali apartementnya, pasti harganya mahal" gumam Icha
Setelah urusannya di kamar mandi selesai, Icha pun segera menghampiri Dika dan ikut merebahkan badannya di samping Dika. Namun Icha tidak bisa memejamkan matanya, karena pikirannya terus melayang memikirkan Om dan Tantenya yang bertengkar hebat.
Karena rasa kantuk itu tak kunjung datang, Icha pun memutuskan untuk ke balkon kamar.
"Kamu merokok Al?" tegur Icha saat dia melihat Al sedang menyesap sebatang benda bernikotin Itu sambil melihat jauh ke depan.
"Kadang-kadang kalau lagi banyak pikiran." jawab Al. " Kamu gak bisa tidur?" lanjutnya kemudian
__ADS_1
"Aku jarang nginep di tempat orang jadi butuh waktu untuk penyesuaian" terang Icha
"Cha, apa benar Dika putra Om dan Tantemu?" tanya Al
Deg
Jantung Icha serasa berhenti berdetak mendengar pertanyaan Al.
"Kenapa kamu tanya begitu" elak Icha
"Tadi aku gak sengaja dengar pertengkaran Om dan Tantemu" terang Al
"Kenapa kamu tidak berpikir kalau Dika anaknya Om Bagas dan perempuan lain" desak Icha
"Karena aku merasa tidak ada kemiripan Dika dengan mereka, tapi kalau aku banyak kemiripan dengan Dika" jelas Al
"Terus karena mirip kamu berharap dia anakmu Al? In your dreams" ketus Icha
Al menghela nafas dalam mendengar jawaban dari Icha. Mungkinkah dia yang terlalu berlebihan mengharapkan seorang anak dari hasil kesalahannya.
"Oke! aku tidak akan bertanya lagi" pungkas Al.
Hening!
"Cha, aku sama Kalisa tidak punya hubungan apapun. Kami bersahabat dari kecil, dia memang selalu bersikap manja padaku" jelas Al
"Aku gak nanya Al" tukas Icha
"Tapi aku yakin kamu ingin tahu kebenarannya."
"Aku hanya tidak suka dengan cewekmu itu, karena dia...." Icha menggantungkan ucapannya karena Al langsung memotong apa yang akan Icha katakan.
"Karena dia dekat denganku dan selalu menempel padaku? Aku akan menjauhinya kalau kamu tidak suka" potong Al
"Bukan begitu maksudku"
"Aku mau tidur, jangan terlalu malam di luar Cha. Gak baik!" potong Al lalu dia beranjak pergi menuju kamarnya.
Icha menghembuskan nafasnya kasar, "Hampir saja Al menyadari tentang Dika." batinnya.
Tak lama berselang setelah kepergian Al, Icha pun masuk ke kamar mencoba memejamkan matanya. Namun pikirannya terus berkelana, teringat dengan Om Bagas dan Tante Mira, teringat kecurigaan Al pada Dika, teringat juga pada kedua orang tua dan kakaknya hingga sudah lewat tengah malam, Icha kesulitan untuk terlelap.
Ceklek
__ADS_1
Terdengar pintu kamar ada yang membuka, samar-samar Icha melihat bayangan Al mendekat karena Icha hanya tidur ayam.
Al duduk disamping dekat Dika, dipandangunya wajah polos Dika yang sedang terlelap, lalu diambilnya arloji kuno yang ada foto saat Al kecil bersama kedua orang tuanya.
"Dia memang sangat mirip denganku saat aku masih kecil."
Setelah puas memandangi Dika, Al beralih ke sisi Icha yang tadi membelakangi Dika.
"Aku memang kecewa dan marah saat tahu dijadikan bahan taruhan olehmu Cha, tapi ternyata cintaku lebih besar dari rasa kecewa itu" gumam Al
Al lalu mengecup kening Icha lama, "Maafkan Aku!" bisiknya
***
Keesokan paginya setelah sholat subuh, Icha sudah berkutat di dapur untuk membuat sarapan. Meski dulu Icha tidak pernah mau masuk ke dapur apalagi disuruh memasak, tapi semenjak tinggal bersama Bu Mira, Icha mulai belajar memasak dan membuat kue.
"Apartement sebagus dan semewah ini, isi kulkasnya cuma ada telur dan minuman dingin" gumam Icha
Icha pun mencari bumbu lain tapi dia tidak menemukan apapun selain mie instan.
"Mending beli di luar aja sarapannya daripada pagi-pagi Dika harus makan Mie, tapi aku mau ke rumah dulu memastikan keadaan Tante Mira" gumam Icha lagi.
Icha pun beranjak hendak menitipkan Dika pada Al. Namun saat akan mengetuk pintu, ternyata pintu dibuka dari dalam sehingga Icha terhuyung ke depan dan menabrak dada bidang Al yang bertelangjang dada.
"Masih pagi udah godain aku Cha" goda Al membuat muka Icha memerah karena malu
"Pede sekali anda" cibir Icha. "Al aku titip Dika sebentar mau ke rumah dulu, kalau nangis telpon aku aja" lanjutnya
"Oke, jangan lama ya!" pesan Al
"Gak akan paling enam tahun" sahut Icha
Al hanya tersenyum mendengar jawaban Icha.
Icha langsung berangkat ke rumah Bu Mira, sesampainya di sana rumah sudah bersih seperti sebelum terjadi pertengkaran itu.
Terlihat Bu Mira sedang berkutat di dapur, Icha pun langsung menyapanya.
"Pagi Tante!" sapa Icha
"Eh Icha, pagi juga sayang. Dikanya mana?"
...*****...
__ADS_1
👉Next part