
Sesampainya di luar, terlihat Pak Bagas dan Bi Sari yang sedang menunggu dengan raut wajah yang harap-harap cemas. Melihat Al keluar dari ruang bersalin, Pak Bagas segera memburu Al dengan banyak pertanyaan.
"Bagaimana Icha, Al? Dia baik-baik saja kan? Terus bayinya bagaimana, sehat kan? Al kenapa diam saja? Om ingin tahu keadaan Icha." Pak Bagas terus menggoncang-goncangkan bahu Al agar dia segera menjawab pertanyaannya.
"Kita harus banyak berdo'a, Om. Icha tidak sadarkan diri setelah dia melahirkan putri kami." Tanpa bisa ditahan lagi, Al langsung memeluk Pak Bagas dan menangis terisak di bahunya.
Menyadari Al yang sedang menangis, Pak Bagas langsung memeluk Al dan mengelus punggungnya untuk memberikan kekuatan. Lagi, Icha tak sadarkan diri setelah dia melahirkan. Pak Bagas merasa de javu dengan kejadian dulu saat Icha melahirkan Dika. Mungkinkah sekarang juga dia mengalami pendarahan hebat? Terus saja hal itu yang berputar-putar di pikirannya.
Sampai tak berapa lama kemudian, seorang perawat datang meminta Al untuk mengadzani bayinya.
"Permisi, Tuan! Putri Anda sudah dibersihkan dan saatnya untuk diadzani," tutur perawat itu.
Setelah Al dapat menguasai dirinya, dia pun mengikuti perawat itu menuju ke ruang khusus perawatan bayi. Namun saat dia baru saja melangkah, terdengar suara ada yang membuka pintu dan dilihatnya Dokter Arumi keluar dari ruang bersalin.
Melihat Dokter Arumi yang keluar dari ruang bersalin, Al pun langsung menghampirinya.
"Dok, bagaimana keadaan istriku?" tanya Al dengan tidak sabaran.
Dokter Arumi hanya menghela napas dalam sebelum dia berbicara pada Al. "Istrimu kehilangan banyak darah, dia membutuhkan transfusi golongan darah O negatif. Namun rumah sakit tidak memiliki stok. Tadi kami sudah menghubungi PMI pusat, katanya di sana ada dua kantong. Tolong secepatnya ambil ke sana!"
"Biar Om yang ke sana, Al. Kamu jaga anak dan istrimu. Waktu Dika lahiran juga, Om yang mengambil ke sana." Pak Bagas langsung memotong saat melihat Al akan bicara.
"Gak papa, Om?" tanya Al memastikan.
"Iya, Om hanya titip anak-anak sama kamu. Tolong jaga mereka dengan baik. Om pastikan, darah untuk Icha pasti datang dengan selamat. Kalau Mira menelpon tolong katakan, aku pergi." Pak Bagas berpesan panjang lebar sebelum dia pergi menuju PMI pusat untuk mengambil darah yang dibutuhkan oleh Icha.
Setelah berpesan pada Al, Pak Bagas pun bergegas menuju PMI pusat meskipun di luar sedang hujan petir. Sedangkan Al langsung menuju ruang perawatan bayi setelah berpamitan pada Dokter Arumi.
Saat sampai di sana, perawat langsung memberikan bayi mungil yang cantik itu kepada Al.
__ADS_1
"Subhanallah, kamu cantik sekali sayang. Do'ain mama ya, agar cepat sadar dan kembali berkumpul bersama kita." Tanpa terasa setetes air matanya jatuh di pipi bayi cantik yang sedang tertidur.
Al segera menghapus air matanya dan mulai mendengungkan adzan di telinga kanan bayi kecilnya, kemudian dilanjut membaca iqamat di telinga kirinya.
Terdapat makna melakukan adzan saat bayi baru lahir, yaitu mengusir gangguan setan atau jin agar tidak mengganggu bayi yang baru lahir. Seperti diketahui, setan akan lari terbirit-birit mendengar lantunan adzan.
Setelah Al merasa cukup puas memandang wajah cantik putri kecilnya, dia pun memberikan kembali pada perawat yang menjaga putrinya.
Sementara di lain tempat, Pak Bagas terlihat sangat bahagia setelah mendapatkan dua kantong darah untuk Icha. Hatinya merasa sangat lega, karena ada di saat putri angkatnya membutuhkan dia. Dia tidak peduli dengan hujan deras yang mengguyur ibu kota ataupun suara petir yang memekakkan telinga. Pak Bagas hanya berpikir untuk secepatnya sampai di rumah sakit tempat Icha di rawat.
Namun manusia hanya bisa berencana. Saat dia akan membelokkan mobilnya menuju arah rumah sakit, ada sebuah minibus dengan kecepatan tinggi menghantam mobil yang Pak Bagas bawa.
Brakkk
Semua orang yang melihat kejadian itu berteriak histeris melihat minibus menghantam mobil sport yang akan berbelok masuk ke arah rumah sakit. Dengan sisa kesadarannya, Pak Bagas meminta tolong pada warga yang membantunya keluar dari mobil.
"Pak, to-to-tolong antar darah.... Yang ada di kotak itu.... Pada Farisha Yumna...Di-dia baru melahirkan." Pak Bagas berbicara dengan napas yang tersengal.
"Ini Pak, sudah ketemu." Seseorang yang menemukan kantong darah itu pun ikut berteriak.
"Cepat berikan pada pasien yang udah melahirkan, namanya Farisha Yumna." Lagi-lagi orang itu berteriak seraya di membopong tubuh Pak Bagas yang sudah berlumuran darah.
Dengan segera Pak Bagas pun dibawa ke IGD untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara orang ynag membawa kantong darah untuk Icha, dia segera menuju ruang bersalin. Namun saat sampai di sana, dia tidak menemukan pasien yang bernama Farisha Yumna karena sudah di pindah ke ICU. Hingga saat melihat perawat keluar dari ruang bersalin, dia pun langsung menanyakan keberadaan Icha.
"Maaf Mbak, yang namanya Farisha Yumna, pasien abis melahirkan di mana ya?" tanya Udin, orang yang membawa kantong darag untuk Icha.
"Oh, istrinya Pak Aldrich. Dia sudah dipindah ke ruang ICU karena kondisinya kritis," jelas perawat ber-name tag Novi di bajunya.
"Begini Mbak, saya di suruh mengantarkan darah untuk Mbak Farisha, karena orang yang seharusnya mengantarkan mengalami kecelakaan di depan rumah sakit," Udin pun menjelaskan maksudnya mencari Icha.
__ADS_1
"Biar saya yang mengantarkan darah ke Mbak Icha," tawar perawat itu.
"Biar saya ikut, Mbak. Saya juga ingin tahu keadaannya." Udin pun kekeh ingin mengantarkan langsung ke yang bersangkutan
"Ya sudah, ikut saya!" suruh Novi
Yah gagal mau tebar pesona ke Pak Aldrich. Lagian orang kampung ini sok jadi pahlawan banget sih, sungut Novi dalam hati.
Saat sampai di ruang ICU, terlihat Al yang sedang memejamkan matanya dengan kedua tangan menyugar rambutnya dan kepala mendongak ke atas. Meski terlihat jelas raut kecemasan di wajahnya, tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya, yang sukses membuat Novi menelan ludahnya melihat keindahan yang ada di depannya.
Kapan lagi aku bisa lihatin dia seperti ini, kalau bersama istrinya pasti memakai masker, batin Novi
Melihat Novi yang diam mematung, Udin pun merasa heran dan langsung bertanya, "Mbak, ruangan pasien Farisha Yumna sebelah mana? katanya kondisinya kritis, pasti dia membutuhkan darah ini." Ucapan Udin sukses mengagetkan Novi dan membuat Al langsung membuka matanya.
"Kamu membawa darah untuk istriku? Di mana Om Bagas? Kenapa kamu yang membawanya?" tanya Al kaget.
"Orang yang membawa darah ini, mengalami kecelakan saat mau berbelok ke sini. Saya diminta mengantarkan darah untuk Farisha Yumna yang habis melahirkan," jelas Udin.
"Sini cepat berikan! Dan kamu tidak boleh pergi ke mana-mana dulu," suruh Al seraya mengambil kotak yang berisi darah untuk Icha.
Setelah Al memberikannya pada Dokter Arumi, dia pun kembali menemui Udin yang setia menunggunya di kursi tunggu rumah sakit.
"Terima kasih, kamu membawanya tepat waktu. Lalu, bagaimana keadaan Om Bagas?" tanya Al.
"Dia di bawa ke IGD, kondisinya sangat memprihatinkan. Minibus menabrak pas di posisi dia sedang menyetir," jelas Udin
Al memejamkan matanya mendengar penuturan dari Udin. Dia tidak menyangka Pak Bagas akan mengalami kecelakaan.
Setelah dia mampu menguasai dirinya dari kekagetannya, Al pun bicara lagi pada Udin. "Ini sedikit, sebagai rasa terima kasihku karena telah membantu Om Bagas," ucap Al seraya menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan yang asal dia ambil di dompetnya.
__ADS_1
...*****...
Untuk melihat karya Author yang lain, bisa klik profil ya!