
Hari telah menjelang malam, alam pun sudah terlihat gelap. Terlihat Icha yang sedang menemani Dika belajar, hanya menemani karena Dika seorang anak yang pintar, tanpa diajari pun dia bisa belajar sendiri.
"Mama, boleh tidak Dika main ke rumah Arkana?" tanya Dika disaat dia sudah selesai belajar.
"Arkana siapa? Apa dia teman sekolahmu?" tanya Icha
"Iya Mah. Kata temanku, keluarga Arkana pemilik Wijaya kontruksi," jelas Dika.
"Apa mungkin teman sekolah Dika semuanya anak orang kaya?" tanya Icha
"Mungkin Mah, baju mereka semuanya bagus-bagus." jawab Dika
"Apa mereka semuanya baik sama Dika?" tanya Icha lagi yang merasa cemas takut kejadian di sekolah lama Dika terulang lagi.
"Baik Kho Mah! Dika juga kenalan sama kakaknya Arkana, walau cerewet tapi Kak Ara baik dan sayang sama Arkana," terang Dika
"Mama senang kalau Dika betah di sekolah barunya," ungkap Icha
"Memang sekolah lamaku kenapa Mah?" tanya Dika
Glek
Icha menelan ludahnya kasar, tidak mungkin kalau dia bilang di sekolah lamanya Dika dibully oleh teman-temannya.
"Sekolah lama Dika kejauhan, makanya sama Papa dipindah ke sekolah yang baru, yang lebih lengkap fasilitas, agar Dika bisa belajar dengan baik." Icha menjelaskan tidak sepenuhnya bohong.
"Gitu ya Mah! Dika sayang banget sama Papa, karena Papa juga sayang banget sama Dika," ungkap Dika
"Sama Mama, Dika sayang gak?" tanya Icha dengan suara bergetar.
"Tentu saja sayang, karena Mama baik sama Dika," ucap Dika senyum mengembang.
Icha hanya mengulas senyum lalu memeluk Dika
"Mungkin Dika belum bisa melihat kasih sayangku sehingga dia menyayangiku karena melihat aku selalu baik padanya bukan karena aku begitu menyayanginya." jerit hati Icha
Sementara di ruang tamu, terlihat Kalisa sedang menangis sesenggukan saat dia tahu bahwa Al sudah menikah.
"Kenapa Kakek jahat sama aku, bukankah Kakek ingin aku yang menjadi istri Al," ucap Kalisa di tengah tangisannya.
"Maafkan Kakek Lisa! Sebenarnya Kakek juga sayang sama kamu, tapi Kakek juga sangat kecewa, karena kamu ternyata sudah memiliki kekasih." Ungkap Tuan Ardi
__ADS_1
"Aku mencintai Al, Kek. Aku begitu karena Al selalu dingin padaku," ucap Kalisa.
"Sudahlah Lisa, sekarang Al sudah menikah. Lebih baik kamu mencari laki-laki yang juga mencintaimu." Nasihat Tuan Ardi
"Bagaimana bisa begitu Kek, aku akan menunggu Al sampai dia menceraikan istrinya," ungkap Kalisa.
"Kamu salah kalau berniat begitu Nak, karena Al begitu mencintai istrinya," ucap Tuan Ardi yang sedari tadi mendengar curahan hati Kalisa.
Icha yang akan ke dapur untuk mengambil minum dan susu Dika, tanpa sengaja mendengar samar-samar ada suara seorang perempuan yang sedang menangis, membuat Icha menjadi penasaran dan mengikuti arah suara. Namun langkahnya terhenti saat tahu siapa yang sedang menangis.
Icha langsung memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit setelah mendengar ucapan Kalisa yang mengharapkan perceraiannya dengan Al, padahal pernikahan mereka belum ada satu bulan.
"Tidak! Aku akan mempertahankan Al apapun yang terjadi, karena Dika begitu menyayanginya begitupun denganku. Aku tidak akan menyerahkan Al pada siapapun. Biarlah aku egois sekali ini saja." tekad Icha dalam hati.
Keesokan paginya, lagi-lagi Icha dibuat kaget karena Al sudah tidur di sampingnya. Icha ingat, semalam setelah Icha memberikan susu pada Dika, dia langsung ke kamar Al karena Dika tidak mau tidur ditemani. Katanya, 'Dika ingin seperti teman-temannya di sekolah yang sudah biasa tidur sendiri'.
Icha langsung membalikkan badannya menghadap ke arah Al, dilihatnya wajah lelah Al sedang tertidur pulas. Dielusnya pipi Al secara perlahan.
"Aku mencintaimu Aldrich Marchdika Putra," lirih Icha
"Aku sangat sangat mencintaimu Farisha Yumna, tetaplah di sisiku apapun yang terjadi." Lirih Al seraya membuka matanya.
Hari pun telah berganti, kini weekend telah tiba. Al berencana mengajak Dika dan Icha bermalam di villa yang ada di puncak, lalu besoknya main di taman Safari. Tak lupa dia pun mengajak sepupu dan sahabatnya untuk ikut, begitupun dengan Icha yang mengajak kedua sahabatnya.
Al, Icha dan Dika sudah siap dengan baju couplenya, seperti keluarga kecil yang bahagia. Mereka sedang menunggu teman-temannya datang, karena rencananya akan berangkat bersama di rumah Al.
Tak berselang lama, apa yang ditunggunya satu persatu datang ke rumah Al. Setelah semuanya datang, mereka pun berangkat bersama dengan minibus yang baru dibelinya.
Selama perjalanan, riuh canda tawa mengiringi kebersamaan mereka. Meski semua tertawa tapi Al tidak memperdulikannya, dia asyik memainkan tangan Icha dengan menuliskan kata-kata. Membuat Icha merasa geli dengan apa yang Al lakukan.
"Al, geli ikh!" rengek Icha
"Kenapa sayang? Mau di cium?" tanya Al dengan tidak tahu malu
Kia yang kebetulan duduk di kursi depannya hanya meringis mendengar percakapan pengantin baru.
"Ikh kamu mah, tangan akunya lepasin," pinta Icha
"Kenapa harus dilepas?" tanya Al seraya menciumi tangan Icha, sedangkan Dika asyik duduk di depan bersama Abizar dan Aisha.
"Al...."panggil Icha
__ADS_1
"Kenapa sayang, manggil aku terus. Sabar ya , nanti aja kalau udah sampai," sahut Al
"Aldrich!" seru Icha
"Kenapa Icha? Panggil aku terus," tanya Al
"Aku pengen pipis," ujar Icha dengan mengerucutkan bibirnya.
"Astaga! Kenapa gak bilang dari tadi?"
Al dengan segera meminta Kevin mencari toilet terdekat. Setelah menuntaskan hajatnya, Icha langsung kembali ke mobil yang menunggunya di parkiran.
Icha yang diantar Kia dan Vio ke toilet, langsung bergabung dengan yang lain saat dilihatnya mereka sedang asyik makan baso.
"Sayang sini, sudah aku pesan basonya," panggil Al pada Icha
"Saya dipesenin gak Pak?" tanya Kia
"Kamu pesan sendiri." Bukan Al yang menjawab tapi Oryzaa
"Ikh Pak Ryza mah suka gitu sama calon pacar," goda Kia yang sukses membuat Oryza menahan malu karena godaan Kia.
"Udah jadian aja Za, biar kita pas pasangannya." Abizar pun ikut mengompori Oryza
"Masalahnya, aku tuh gak suka pacaran sama dia, kalau sama Icha mau," tuturnya
Al langsung menatap Oryza tajam setelah dia mendengar apa yang dikatakan oleh Oryza
"Om, kata Mama gak boleh pacaran," ucap Dika
"Mama sama papa kamu aja pacaran sampai punya kamu." ingin rasanya Abizar berkata seperti. Namun dia hanya berani bicara di dalam hatinya
Setelah menghabiskan basonya, mereka pun segera melanjutkan perjalanannya. Kini di mobil tak ada yang bersuara, karena mereka terlelap tidur. Begitupun dengan Dika yang tertidur di kursi yang sudah disetting untuk rebahan.
Berbeda dengan kursi belakang tempat dua insan yang sedang dimabuk cinta. Mereka begitu asyik dengan dunianya, seakan yang lain hanya mengontrak saja.
...*****...
...Jangan lupa terus dukung author ya!...
...Terima kasih...
__ADS_1