Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Mogok Makan


__ADS_3

Sepulang dari kantor polisi, Allana mengurung diri di kamarnya. Dia selalu diam jika diajak bicara, bahkan gadis cantik itu dalam mode mogok makan. Allana marah dengan papanya yang membuat keputusan sepihak.


"Perutku lapar sekali, kalau aku minta makan pasti papa akan merasa menang," gumam Allana.


Bersamaan dengan itu, pintu kamar Allana ada yang mengetuk dari luar. Setelah dipersilakan masuk, terlihat Bi Lilis membawa nampan yang berisi makanan kesukaannya.


"Neng, ayo makan dulu! Ini ayam krispi loh sama sayur capcay. Tadi nyonya juga baru selesai bikin puding brownies. Mau Bibi bawa sekalian, masih panas," rayu lilis pada anak majikannya, karena dari kemarin Allana belum makan apa-apa.


"Bawa saja kembali ke dapur, Bi! Lana gak minat makan," ketus Allana.


"Nanti sakit loh, Neng! Ayo sedikit saja Neng Lana! Dari kemarin 'kan belum makan," rayu Lilis.


"Buat Bibi aja deh! Aku gak lapar," tolak Allana.


Di saat Lilis sedang merayu agar Allana mau makan, terlihat Andrea memasuki kamar Allana dengan tangan di masukkan ke dalam kantong celananya.


"Masih kuat puasanya? Bi simpan saja di nakas nampannya, biar nanti aku yang paksa!" Andrea duduk di tepi ranjang putrinya.


"Baik, Tuan!" Lilis langsung menyimpan nampan yang dibawanya, kemudian undur diri untuk mengerjakan pekerjaan yang lain.


"Permisi, Tuan, Neng Lana jangan lupa dimakan!" pamit Lilis sebelum dia keluar dari kamar. Dia melirik sekilas ke arah anak asuhnya. Ada kecemasan dalam hatinya saat melihat tuannya. Dia takut, tuannya akan menghukum Allana dengan keadaan gadis itu yang belum terisi makanan dari kemarin.


Setelah kepergian Lilis, Andrea pun mulai mengajak bicara pada putrinya. "Mau berapa hari lagi mengurung dari dan mogok makan? Apa susahnya kamu menuruti perintah Papa? Dengar Allana AP Wiratama! Tidak orang tua yang ingin menyesatkan anaknya, mereka pasti mencari cara agar anaknya selalu bahagia." Andrea menatap lekat wajah putrinya yang sedang menunduk.


Allana tak bergeming di tempatnya, dia terus meremas selimut yang dipakainya. Hatinya sedang hancur karena kepergian Dika. Di saat dia ingin memperjuangkan perasaannya, di saat yang sama, orang yang ingin diperjuangkan justru ingin melepaskannya.


Selama satu semester ini, dia dikurung Andrea di mansion dengan guru privat yang sengaja dia datangkan ke mansion. Setiap hari hanya belajar, belajar dan terus belajar. Di saat Allana tidak menjawab dengan benar, maka pelajarannya diulang dari awal. Pernah dia berhasil kabur dari mansion itu,tapi ternyata pengawal menemukannya saat dia sedang bersama dengan Arabella di mall. Saat kelulusan kemarin, sebenarnya itu adalah hari pertama dia dibebaskan dari masa belajarnya.


"Allana, apa kamu tidak bisa bicara? Lihat mata Papa, jangan menunduk seperti itu!" sentak Andrea.


Di saat bersamaan, datang Mitha dengan setengah berlari setelah tadi dia mendengar dari Lilis. Dia khawatir suaminya kelepasan, karena semenjak mertuanya meninggal karena dicelakai orang, Andrea berubah menjadi ambisius. Dia masih tidak terima mamanya dicelakai tapi papanya tidak bisa melakukan apapun pada istri pertamanya itu.


"Andrea!" teriak Mitha, "Aku tidak terima anakku kamu sentak begitu," Mitha langsung memeluk putrinya dan mengusap punggung Allana lembut.


"Sayang, dia tidak mau menurut dengan apa yang aku katakan." Andrea mengadu pada istrinya..

__ADS_1


"Sudahlah! Biarkan Lana menentukan jalan hidupnya sendiri. Tidak perlu memaksakannya!" Baru kali ini Mitha mendebat rencana yang sudah di susun oleh suaminya. Biasanya dia diam dan membiarkan Andrea menjalankan rencananya.


"Ya sudah, terserah kalian! Aku mau ke Bandara. kalau ingin ikut persiapan diri kalian." Andrea langsung keluar dari kamar putrinya menuju ke kamarnya sendiri.


Selepas kepergian suaminya, Mitha pun mencoba berbicara dengan putrinya karena sedari kemarin Allana selalu diam saat diajak bicara.


"Sayang, mogok makannya udahan yuk! Tenang saja, papa tidak akan maksa kamu lagi. Biar urusan papa menjadi urusan Mama," tutur Mitha.


"Mama yakin, papa tidak akan maksa aku lagi?" tanya Allana yang baru membuka suaranya kembali.


"Iya sayang, sekarang makan dulu! Hari ini 'kan Bang Joen akan berangkat ke New York. Apa Lana lupa kalau Bang Joen akan mengurus perusahaan yang di sana sekalian kuliah?" Mitha mulai menyendok makanan dan menyuapi putrinya.


Mitha terus mengajak bicara pada Allana sampai makanan yang di piring habis tak bersisa hingga terbit senyum senang di bibir ranum Mitha.


"Sekarang, Lana mandi ya! Sepertinya sudah bau dari kemarin belum mandi. Nanti Mama tunggu di bawah." Mitha pun merapikan bekas makan putrinya dan akan membawanya ke dapur.


"Iya, Mah!" sahut Allana


Setelah mamanya keluar, Allana pun bergegas ke kamar mandi. Dia jadi teringat dengan Dika yang akan pergi ke luar negeri juga untuk menuntut ilmu.


Acara mandi pun telah selesai, kini Allana sudah rapi dengan celana jeans dan kaos oblong ditambah sweater hoodie yang dipakainya. Tak lupa sepatu kets yang selalu membuatnya nyaman untuk berjalan.


Saat tiba di bawah, nampak keluarganya sudah berkumpul di ruang keluarga. Melihat kedatangan Allana, Joen langsung menghampiri keponakan yang sudah seperti adiknya sendiri. Paman kecilnya itu langsung merangkul pundak Allana dan mengajaknya untuk bergabung.


"Abang pasti kangen sama Lana! Jangan sering-sering mendebat papamu, kasihan dia sudah tua. Takut darah tingginya naik." Joen suka sekali meledek Kakaknya, tapi meskipun begitu Andrea tidak tersinggung pada omongan adik satu-satunya.


"Abang, Lana ikut dengan Abang saja. Papa suka galak sama Lana," keluh Allana dengan mata berkaca-kaca.


"Papa kamu yang tidak akan mengijinkan Abang bawa kamu kabur. Nanti kita berdua bisa digorok kalau mode devil-nya lagi kambuh." Joen terus saja mengolok kakaknya.


"Hai bocah! Aku batalkan keberangkatan kamu kalau sekali lagi ngomong gak bener sama anakku," sewot Andrea.


"Sudah! Mau pergi jauh juga masih dimarahin kamu mah, Yang!" Mitha langsung melerai kakak beradik itu. "Ayo, nanti ketinggalan pesawat!" ajaknya kemudian.


"Lagian kamu Joen, malah naik pesawat di Bandara. Kenapa gak di pangkalan aja?" gerutu Elvano yang memang sangat kesal karena akan berpisah dengan paman kecilnya. Sebenarnya dia ingin ikut bersama Joen, tapi papanya melarang. Dia disuruh belajar mengurus AP Technology karena JS Internasional akan dipegang oleh Joen. Sementara Allana memilih untuk menjadi seorang dokter.

__ADS_1


"Papa kamu juga suka begitu, El! Dia pasti naik pesawat komersial kalau ke mana-mana berangkat sendiri," ucap Joen.


"Itu karena Papa pelit! Punya jet banyak juga maunya naik yang umum. Memang gak mampu buat beli bahan bakarnya," tuduh Elvano.


"Kamu tuh El, ikut-ikutan Joen aja! Papa kan efisiensi biaya, ngapain pake jet kalau berangkatnya cuma sendiri. Mending pake pesawat komersial yang jelas-jelas gak usah bayar karena perusahaan yang nanggung." Andrea tersenyum bangga dengan pemikirannya sendiri.


"Sudah! Kapan berangkatnya kalau ngobrol terus." Mitha sebagai penengah dalam keluarga kecilnya mengingatkan untuk segera berangkat. Mungkin karena jarak antara bapak dan anak yang hanya 19 tahun membuat mereka terkadang tidak mengenal batas kesopanan. Andrea dan kedua anak lelaki di rumahnya sudah seperti teman main. Berbeda dengan Allana yang selalu dimanja oleh seisi rumah karena dia anak perempuan satu-satunya.


Sesampainya di bandara, keluarga kecil itu langsung menuju ruang tunggu. Tanpa sengaja, mereka berpapasan dengan keluarga Dika yang telah mengantarkan putra sulungnya untuk berangkat menuntut ilmu di negeri orang.


"Bang Andrea, mau berangkat ke mana?" tanya Al heran.


"Kita mau mengantar Joen, apa Dika sudah berangkat?" tanya Andrea.


"Iya, barusan dia boarding pass." Al terus menelisik gadis yang memakai hoodie di kepalanya dan masker di wajahnya.


Tiba-tiba datang seseorang yang berlari dari arah dalam dengan terburu-buru, "Papa!!!" panggilnya.


Semua orang menoleh ke arah suara yang sangat dikenalnya. Nampak Dika yang sedang berlari mendekat.


"Pah, Ini kunci mobil ke bawa sama Abang." Dika menunduk dengan kedua tangan menopang pada lutut. Dia masih terus mengatur napasnya yang masih naik turun karena tadi berlari kencang mengejar keluarganya.


Allana menundukkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca. Ingin rasanya dia mengucapkan salam perpisahan namun kaberanian seperti hilang tak bersisa.


"Untung saja Papa masih belum jauh, Bang!" Al tersenyum melihat putranya yang pemikirannya lebih dewasa daripada umurnya.


"Bro, kirain kita sudah berangkat. Sukses ya di negeri orang!" Elvano menepuk pundak Dika pelan sehingga pemuda tampan itu menyadari kalau bukan hanya keluarganya saja yang ada di sana.


"Makasih, Bang El! Loh Bang Joen, Om, Tante." Dika menjeda ucapannya saat melihat ke arah gadis yang memakai sweater hoodie yang sama dengannya, "Lana," lirihnya.


...*****...


...~Bersambung~...


...Kasih Author penyemangat dong! Dengan klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2