Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 114 Merajuk


__ADS_3

Semenjak kepulangannya dari rumah Oryza, kini Al lebih banyak diam dari biasanya. Entahlah Icha tidak mengerti dengan perubahan yang terjadi pada suaminya. Al yang biasanya selalu mengatur ini dan itu, kini membiarkan saja Icha melakukan apapun yang disukainya. Hal itu justru membuat Icha, merasa sudah tidak dipedulikan lagi.


Seperti siang ini, Icha sengaja memesan baso beranak pada Asep untuk makan siangnya, Al diam saja tanpa berkomentar sedikitpun.


Baso yang dippesannya kini hanya teronggok di meja, karena Icha kehilangan selera melihat keterdiaman Al. "Aku mau tidur aja, lagi malas makan," ucapnya seraya pergi menuju ke kamar pribadi Al yang ada di kantornya.


Al langsung menghentikan makannya saat melihat Icha tidak memakan makanan pesanannya. Dengan segera dia bangkit dan langsung menarik tangan Icha.


"Makan bareng sama aku ya! Kasian anak kita pasti udah merasa lapar," bujuk Al


"Yang dia pedulikan hanya anaknya saja, sedangkan emaknya tidak," keluh Icha dalam hati


Melihat Icha yang hanya diam mematung, Al pun membujuk lagi, "Biar sedikit harus diisi, dari pagi kamu kerja, tidak mungkin 'kan kalau tidak lapar."


"Aku tidak berselera, aku ingin tidur." Icha langsung melepaskan pegangan tangan Al dari tangannya.


Tak ingin memaksa, Al pun akhirnya membiarkan saja Icha pergi ke kamar. Dia terus melihat Icha berlalu pergi ke kamarnya, hingga hilang di balik pintu.


"Ada apa dengan dia, kenapa seperti sedang ada masalah?" gumam Al


Al pun melanjutkan makan karena memang perutnya sudah sangat keroncongan, diicip sedikit baso punya Icha, tapi setelahnya muka Al langsung merah padam menahan rasa pedas di lidahnya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Al langsung menyeruput minuman boba milik Icha yang ada di depannya untuk menghilangkan rasa pedasnya.


"Astaga Icha! Makanan seperti ini dia makan, memangnya dia tidak memikirkan bayi yang ada di dalam kandungannya?" gerutu Al pelan


Al langsung menghubungi OB untuk membereskan sisa makanan yang ada di meja, seraya dia memesan makanan sehat untuk istrinya.

__ADS_1


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Al pun segera menyusul Icha dengan tentengan di tangannya.


Dilihatnya orang yang selalu membuatnya kalang kabut sedang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Al hanya menghela napas dalam melihat apa yang Icha lakukan.


Setelah meletakkan tentengan di atas nakas, dia pun langsung bergabung bersama dengan istri tercintanya, merebahkan badannya yang terasa kaku setelah dari pagi dia berkutat dengan pekerjaannya. Namun terdengar ada yang aneh, saat Al menangkap suara isak tangis yang tertahan di bawah selimut tebalnya. Disibaknya selimut yang menutupi seluruh tubuh Icha, terpampang dengan jelas lelehan air mata di kedua sudut mata Icha yang membuat Al menjadi tertegun.


"Sayang, kenapa kamu nangis?" tanya Al kemudian setelah dia tersadar dari keterkejutannya.


"Apa pedulimu? Bukankah hanya anakmu saja yang kamu pedulikan?" ketus Icha disela-sela isak tangisnya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Cha? Aku peduli pada kalian berdua," tegas Al


"Kamu bohong! Yang kamu pikirkan hanya anakmu saja, tapi kamu tidak memikirkan perasaanku." Icha pun mulai merajuk.


Al langsung membawa Icha ke dalam pelukannya, mengecup dalam keningnya dan berkata, "Sayang, kenapa berpikir begitu? Aku sangat menyayangimu, sedikitpun aku tidak bermaksud untuk tidak peduli dengan perasaanmu. Coba sekarang bilang padaku, kenapa kamu menyimpulkan begitu?"


Menyadari Icha seperti sedang ingin menikmati aroma yang keluar dari tubuhnya, Al pun segera melepaskan dasinya dan membuka beberapa kancing bajunya. Membiarkan istrinya menghirup sepuasnya aroma yang menguar dari tubuhnya


"Sayang, aku tidak larang-larang kamu karena aku tidak ingin, kamu merasa tidak nyaman. Menurut buku yang aku baca, Ibu hamil itu harus selalu bahagia , tidak boleh banyak pikiran apalagi stres. Karena hal itu akan berpengaruh pada kesehatanmu dan perkembangan bayi yang sedang dikandung" jelas Al seraya mengeratkan pelukannya.


Icha mengurai pelukan Al dan kembali mengendus seraya mengabsen roti sobek yang terpampang di depannya. Dia lupa kalau sebenarnya sedang merajuk, mata yang tadinya bersimbah buliran air mata, kini sudah berubah menjadi berbinar.


"Kamu suka sayang?" tanya Al dengan suara yang serak menahan hasratnya.


Icha mendongak ke arah asal suara, dilihatnya mata Al yang sudah berkabut. Dengan iseng, Icha pun mulai mengelus roti sobek Al hingga ke bawah sana. Merasa puas mengerjai suaminya, Icha pun langsung menghentikan gerakannya dan beranjak bangun dari tidurnya. Namun ternyata, singa yang sedang tidur itu sudah bangun karena sentuhannya. Dengan satu gerakan kini Icha sudah dalam kungkungan Al dan siang yang terik itu bertambah hot di kamar pribadinya.


Sementara itu, Aisha terus modar-mandir di depan pintu ruangan Al. Pasalnya, tadi Kakek Ardi mengabarkan kalau Kalisa meninggal dunia setelah melahirkan bayi laki-lakinya dan meminta Al untuk menyusul ke sana. Tapi rasanya tidak mungkin Al langsung terbang ke tanah kelahiran neneknya itu, secara dua hari lagi acara pernikahan Oryza dan Kia, sekaligus pembukaan resort barunya di pulau Cinta. Namun, Kakek Ardi terus meminta untuk bicara dengan Al karena dari tadi terus menghubungi nomor Al, tapi tidak pernah diangkat.

__ADS_1


"Sedang apa sih mereka? Aku ketuk-ketuk tidak ada yang menyahut. Nanti kalau aku masuk sendiri malah melihat pemandangan yang mencemari mataku," gerutu Aisha pelan.


Tak lama kemudian orang HRD datang memberitahukan bahwa Yura tidak pernah datang ke kantor cabang yang ada di Kalimantan. Hal itu tentu saja membuat Aisha kaget dan khawatir kalau tiba-tiba dia datang dan berulah.


"Mbak Aisha, masih lama tidak ya? Aku ada interview anak baru. Mungkin sekarang sudah menunggu di ruangan," keluh Bu Retno


"Bu Retno interview saja dulu, nanti selesai interview balik lagi ke sini kalau memang ada perlu dengan Pak Aldrich," saran Aisha.


"Baiklah, Mbak! Nanti saya kembali ke sini lagi. Kalau Pak Al sudah bisa dihubungi, tolong konfirmasi ke saya ya, Mbak Aisha!" pinta Bu Retno.


"Iya, Bu! Nanti saya sampaikan kalau Bu Retno ada perlu dengan Pak Al," ucap Aisha


"Kalau begitu saya permisi, Mbak Aisha!" Bu Retno pun langsung pergi setelah berpamitan pada Aisha.


Selepas kepergian Bu Retno, Aisha menghembuskan napasnya kasar. Bagaimana tidak, dia di sini uring-uringan. Sementara yang ada di dalam sana mereguk kenikmatan yang memabukkan.


"Bisa-bisanya Aldrich senang- senang, sementara kerjaan numpuk karena Kevin belum masuk kerja juga. Nyebelin banget sih punya sepupu, hanya mikirin kesenangannya sendiri." Aisha terus saja menggerutu hingga tanpa sadar sudah ada orang yang berdiri di belakangnya sedang bersidekap dada.


"Kamu sedang mengumpatiku, Aisha!" seru Al


Degh!


Jantung Aisha terasa lompat dari tempatnya karena kaget mendengar suara yang ada di belakangnya, "Kapan dia ada di belakangku? Kenapa aku tidak mendengar suara pintu dibuka?" batin Aisha


"Gak usah kaget begitu, Aisha. Aku dari tadi di sini mendengar semua gerutuanmu. Kenapa kamu keberatan jika aku bermesraan dengan Icha? Kalau kamu merasa iri, kenapa kamu tidak melakukannya dengan Abizar?" tuduh Al


Aisha tidak menjawab ucapan Al, karena menurutnya akan berbuntut panjang jika dia membantah apa yang Al katakan.

__ADS_1


"Punya sepupu kho gini amat, Ya Tuhan! Bukannya aku ngiri tapi kamu yang tidak tahu waktu, Aldrich." Hanya dalam hati Aisha merutuki sepupunya itu. Akh seandainya saja dia itu kutu, sudah Aisha bunuh dari tadi.


__ADS_2