
"Makasih sayang," ucap Icha langsung memeluk Al, rasa haru menyeruak memenuhi dadanya hingga dia tidak bisa berkata-kata lagi.
Melihat Icha yang memeluk Al, Dika pun tidak mau ketinggalan dengan kedua orang tuanya sehingga mereka bertiga berpelukan.
"Semoga kalian bahagia selalu, sudah cukup kesedihan dan kesepian yang Al rasakan selama ini. Kini saatnya untuk dia bahagia bersama keluarganya," lirih Kevin seraya merangkul pundak Vio yang berdiri di sampingnya.
"Aku senang melihatnya sudah bisa tersenyum, tidak seperti saat dia ditinggal oleh Om dan Tante yang seperti mayat hidup." Oryza menyeka ujung matanya yang tidak sengaja mengeluarkan cairan bening tanpa permisi.
"Teruslah bahagia Al," lirih Aisha dengan menatap lekat sepupunya
'Aku bahagia melihatmu bahagia, Cha. Meski terasa ada yang hilang di hatiku,' batin Abizar
Saat semua terlarut dalam suasana, tiba-tiba ada sebuah suara yang membuat suasana menjadi ambyar karena ada seorang petugas bioskop yang masuk ke dalam studio.
Brutt Brut bruttt
"Eh maaf Mas, Mbak aku kelepasan." Petugas bioskop menjadi panik saat tanpa sengaja gas beracunnya keluar tanpa permisi.
"Kurang ajar sekali kamu!!!" bentak Al yang posisi nya tidak jauh dari petugas bioskop itu.
"Sudah sayang, kita keluar aja yuk! Bau nih," ajak Icha yang langsung menarik tangan Al dan Dika agar mengikutiinya.
Akhirnya pesta dadakan itu berakhir dengan suara bom molotov dari petugas kebersihan bioskop.
Setelah sampai di luar, tanpa komando Kevin dan Oryza tertawa kencang dengan kejadian tadi di dalam bioskop. Begitupun dengan Icha, Kia dan Vio, berbeda dengan Al yang diam saja karena merasa ditertawakan.
"Sudah tertawanya?" tanya Al
Sontak saja kelima orang itu langsung membungkam mulutnya tidak berani bersuara lagi. Melihat Al yang sepertinya kesal, Icha pun langsung merayunya. "Sayang, beliin aku es krim dong! Dika mau juga kan?"
"Mau Mah, Dika mau es krim," ucap Dika dengan wajah berbinar.
Mendengar anak dan istrinya menginginkan es krim, AL langsung membawa mereka ke kafe yang menyediakan beraneka macam es krim. Tak ketinggalan yang lainnya juga ikut mengekor.
Saat sampai di kafe yang di tuju, Icha langsung memilih tempat yang di pinggir jendela dengan pemandangan jalanan ibu kota.
"Sayang, mau rasa apa?" tanya Al sesaat setelah dia mendudukkan bokongnya di kursi samping Icha.
__ADS_1
"Aku mau rasa cokelat dan vanila," jawab Icha, "Dika mau rasa apa?" tanyanya kemudian.
"Dika mau cokelat aja, Mah. Tapi yang jumbo ya, Pah!" tawar Dika
Kevin dan Oryza yang duduk di meja sebelah, segera memanggil pelayan dan membuat pesanan. Namun, saat pelayan itu beralih ke meja Icha, sesaat mereka beradu pandang sebelum akhirnya Icha mengenali pelayan itu duluan.
"Loh, bukannya Melly?" tunjuk Icha
"Icha kan? Sama Abizar juga?" Melly yang merupakan teman SMU Icha dan Abizar menunjuk balik ke arah Icha.
Icha langsung bangun dari duduknya dan memeluk Melly. "Kamu apa kabar, Mel?" tanya Icha
"Aku baik, Kalian sudah menikah?" tanya Melly seraya menunjuk ke arah Icha dan Abizar yang membuat Al melototkan matanya kaget dengan pertanyaan Melly.
"Aku suaminya Icha," serobot Al sebelum Icha maupun Abizar menjawab.
'Bisa-bisanya dia berpikir Icha menikah dengan Abizar. Sudah jelas aku yang duduk di samping Icha.' Sungut Al dalam hati.
"Iya, Mel. Ini suamiku, Aldrich Marchdika Putra. Apa kamu masih ingat?" tanya Icha
"Oh! Kalian mau pesan apa?" tanya Melly mengakhiri obrolannya karena dia merasa tidak enak hati sama managernya malah mengobrol di jam kerja.
Setelah Icha menyebutkan satu persatu pesanannya dan Melly pun mencatatnya, dia pun segera beranjak pergi untuk membuatkan pesanan yang dicatatnya.
Merasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Melly, Al pun pergi mencari Melly dengan dalih akan ke toilet.
AL langsung menuju ruang manager kafe dan meminta pada managernya untuk memanggil Melly.
Melly yang tiba-tiba dipanggil oleh manager, jelas saja dia merasa kaget. Karena biasanya orang yang dipanggil di jam kerja itu bermasalah.
Dengan hati deg-degan, Melly pun mengetuk pintu ruangan manager. Setelah di persilahkan masuk, barulah Melly berani memutar knop pintu dengan perlahan.
'Ya Tuhan, semoga tidak ada masalah yang menimpaku,' batin Melly
"Permisi Pak! Ada apa ya, Bapak memanggil saya?" tanya Melly gugup.
"Bukan aku yang ada kepentingan, Mel. Pak Al ada sesuatu yang ingin ditanyakan sama kamu," terang Manager Kafe, "silahkan, Pak!" lanjutnya.
__ADS_1
"Bisa tinggalkan kami berdua!" pinta Al
"Baik, Pak!" Tanpa bicara lagi, manager itu pun langsung keluar dari ruangannya.
Setelah manager itu keluar, barulah Al berbicara pada Melly. "Aku hanya ingin tahu dengan maksud pertanyaanmu tadi. Apa Icha dan Abizar pernah ada hubungan?" tanya Al.
Melly yang bingung harus menjawab apa, akhirnya diam saja. Dia merasa di posisi serba salah, kalau jujur takut hubungan mereka bermasalah. Apalagi dia sudah berjanji untuk merahasiakannya. Tapi kalau tidak jujur, dia takut Al mengusik pekerjaannya setelah dia melihat kalau managernya begitu patuh pada Al.
"Melly, jawab pertanyaanku!" seru Al
"Maaf, Pak! Hubungan mereka hanya bersahabat karena Icha tidak pernah tahu dengan perasaan Abizar yang sesungguhnya," jelas Melly dengan menundukkan kepalanya.
'Maaf, Abi! Aku menghianati kepercayaanmu,' batin Melly
"Maksud kamu, Abizar diam-diam mencintai Icha?" tanya Al dengan melototkan matanya merasa tidak percaya.
"Itu dulu, Pak. Saat Icha belum pacaran sama Dika, karena saat Abizar tahu Icha pacaran dengannya, dia langsung berusaha untuk melupkan Icha." Melly pun akhirnya mengatakan yang sebenarnya.
"Sudahlah! Aku sudah mengerti, sekarang kamu boleh keluar dan panggilkan managermu," suruh
Al.
'Pantas saja, Abizar selalu beralasan saat Aisha meminta untuk segera dilamar. Ternyata dia belum yakin dengan perasaannya sendiri pada Aisha,' batin Al.
Tanpa menunggu lama, Melly pun keluar ruangan dan mencari managernya. Ada kelegaaan di hatinya saat sudah berada di luar ruangan itu, yang menurutnya seperti berada di ruang hampa.
Setelah Al berbasa-basi dengan manager kafe, dia pun kembali ke mejanya. Dilihatnnya Icha yang sedang makan es krim dangan bibir yang belepotan. Diusapnya bibir itu dengan jempol tangannya dan tanpa ada rasa sungkan ataupun jijik, Al langsung memakan sisa es krim Icha yang ada di tangannya.
"Al, itu kan bekas aku, emang kamu gak jijik?" tanya Icha.
"Untuk apa aku jijik, bahkan kita sudah..." Sebelum Al melanjutkan ucapannya, Icha sudah membungkam mulut Al dengan sesendok es krim yang ada di tangannya.
"Ngomongnya difilter, ada anak kecil," ketus Icha lalu melanjutkan makan es krimnya.
Bukannya marah, Al malah meminta icha untuk menyuapinya lagi dan lagi hingga es krim yang berukuran jumbo itu habis tak bersisa.
'Aku tidak akan membiarkan siapapun berharap banyak pada Icha, karena hanya aku yang boleh memilikinya,' batin Al
__ADS_1