
"Mau apa kalian ikut masuk?
"Aku disuruh oleh Rio untuk periksakan Vio, katanya penyakitku menular," jawab Kevin
"Iya sama Al, aku juga disuruh oleh Rio ke sini." Dengan wajah melas, Oryza menjawab pertanyaan sepupunya.
"Kenapa kalian tidak antri di luar? Aku saja tadi mengantri dulu," ketus Al
Melihat sepertinya akan terjadi perdebatan, Icha pun segera angkat bicara. "Sudah sayang, kasihan mereka lagi sakit."
Meski sebenarnya dia masih kesal, tapi Al langsung mengikuti apa yang Icha katakan. Sementara Dokter Arumi hanya menggelengkan kepala melihat anak dari sahabatnya berdebat di depan pintu.
"Kalian kalau mau masuk, masuklah! Jangan mengalangi jalan begitu," suruh Dokter Arumi.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter Arumi, Al pun segera membawa Icha untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Sekarang giliran siapa dulu yang mau diperiksa duluan?" tanya Dokter Arumi
"Tentu saja istriku, Dok. Aku yang sudah dari tadi menunggu," serobot Al yang tidak ingin didahului oleh sahabatnya.
Mendengar suara Al yang sedikit ketus, Dokter Arumi hanya mengulum senyumnya.
"Baiklah, ayo kita pindah ke sana!" ajak Dokter Arumi seraya menunjuk sebuah bed dengan Alat ultrasonografi di sampingnya. Setelah perawat memberi gel di perut buncit Icha, Dokter Arumi pun segera menempelkan alat USG empat dimensi.
Dengan menggunakan teknologi ultrasonografi empat dimensi, membuat calon ibu bisa lebih mudah mengamati keadaan janin, termasuk wajah dan jenis kelaminnya. Kehadiran teknologi ini memperbaiki kekurangan yang ada pada teknik USG sebelumnya.
Sebetulnya USG 4D dan USG 3D memiliki banyak kesamaan. Dengan kedua teknik USG itu, calon ibu bisa melihat bentuk mulut dan hidungnya, kaki, tangan, dan organ lain. Tapi USG 4D bisa menampilkan aktivitas gerak bayi secara langsung dalam bentuk video, seperti menguap dan menendang, bahkan ketika menjulurkan lidah.
Al begitu terkesiap saat melihat bayi kecilnya pada sebuah monitor yang terhubung dengan alat USG. Tak henti dalam hatinya dia bersyukur bisa menemani istri tercinta dalam melewati kehamilannya yang kedua.
"Sayang, dia mirip sekali denganmu." Tak terasa buliran bening itu memaksa keluar dari sudut matanya.
"Iya, aku sudah tidak sabar untuk mengajaknya shopping, main gundu, main ketapel sama petak umpet," cerocos Icha.
__ADS_1
"Dia bayi perempuan, cantik seperti mamanya. Melihat dari usia kandungan dan perkembangan janin, semuanya baik, berat badannya sudah ada 1000 gram. Detak jantungnya normal, Air ketubannya juga normal," jelas Dokter Arumi.
Dengan seksama Al mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dokter Arumi. Setelah cukup berbincang dan mendengarkan setiap penjelasan dari Dokter Arumi, kini giliran Kevin dan Vio yang diperiksa.
Sebenernya Dokter Arumi sudah diberi tahu mengenai sakitnya Kevin dan Oryza oleh Dokter Rio, tapi dia tidak ingin mengatakannya langsung pada Vio dan Kia sehingga dia hanya menyuruh mereka untuk melakukan USG untuk mengetahui benar tidaknya sedang hamil.
Setelah Vio dan Kia bergantian di USG, sekarang mereka sedang menunggu penjelasan dari Dokter Arumi.
"Memang benar dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Rio, sepertinya istri kalian tertular dan harus mendapatkan penanganan khusus, perhatian, dan kasih sayang dari seorang suami," jelas Dokter Arumi
"Memang Istriku sakit apa, Dok?" tanya Kevin
"Sebenarnya ini hal yang istimewa, karena sekarang istri kalian sedang hamil lima Minggu. Apa sebelumnya kalian janjian?" Dengan memicingkan mata melihat ke arah Kevin dan Oryza.
"Apa, Dok??? Hamill??" pekik Kevin dan Oryza
"Iya, istri kalian hamil lima Minggu. Selamat ya!" ucap Dokter Arumi.
"Selamat ya Vio dan Kia," ucap Icha tulus
Berbeda dengan Al yang langsung tertawa saat tahu ternyata kedua sahabatnya mengalami kehamilan simpatik seperti dirinya dulu.
"Hahaha.... Selamat menikmati jadi orang ngidam bro!" ejek Al dengan menepuk pundak Kevin dan Oryza bergantian.
"Sialan kamu, Al!" umpat Kevin
Setelah Dokter menuliskan resep vitamin untuk Vio dan Kia, mereka pun berpamitan pada Dokter Arumi.
***
Semakin hari tingkah bapak hamil itu semakin aneh, ada-ada saja yang harus dia bawa ke kantor. Mulai dari mainan, makanan yang kata orang lain tidak enak tapi menurutnya sangat enak bahkan Kevin setiap hari meminta makanan bekas Vio.
Seperti hari ini, saat Al memulai meeting dengan karyawannya, Kevin terlihat gelisah seperti kehilangan sesuatu membuat Al keheranan dengan sikap Kevin yang tidak profesional dalam bekerja.
__ADS_1
"Vin, kamu kenapa? Seperti tidak fokus dengan pekerjaanmu?" bisik Al heran.
"Al, aku kehilangan sesuatu. Bolehkan kalau aku mencarinya?" Tangan Kevin terus mencari di setiap kantong bajunya, tapi barang yang dicarinya tidak ditemukannya.
"Ya sudah cepat sana cari! Kalau sudah ketemu langsung balik ke sini," suruh Al, "memangnya apa yang hilang?" lanjutnya.
"Boneka barbie yang kecil, tadi aku simpan di kantong celanaku." Kevin langsung beranjak pergi tanpa mau melihat ekspresi Al yang menahan kesalnya.
Setiap sudut ruangan dia susuri, tapi Barbie itu tidak juga ditemukannya. Meja kerja yang tadinya rapi Kevin acak-acak hanya untuk mencari Barbie kesayanganya yang selalu dia bawa setiap hari. Bahkan laci dan lemari tidak terlewatkan menjadi sasaran pencariannya. Sampai Vio datang ke ruangan Kevin dan melihat suaminya yang sedang mengobrak-abrik file yang ada di atas meja, barulah Kevin menghentikan kekacauan yang dibuatnya.
"Vin, kenapa diberantakin?" tanya Vio heran.
"Aku bingung Vi, udah cari kemana-mana tapi tidak ketemu juga. Apa kamu melihat barbie yang kecil itu?" melas Kevin.
"Astaga Kevin!!! Hanya karena nyari Barbie kamu berantakin semua?" Vio tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya.
"Iya Vi, apa kamu melihatnya?" tanya Kevin
"Bukankah tadi pagi kamu titip di tas aku," jawab Vio.
Kevin langsung menepuk jidatnya saat baru saja mengingat, kalau sebenarnya dia menitipkan barbie kecil itu di tas Vio. Tanpa menunggu lama lagi, dia langsung menyuruh Vio untuk mengambilnya. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Kevin pun kembali ke ruang meeting yang tadi ditinggalkannya.
Melihat kedatangan Kevin, Al pun langsung bernafas dengan lega, akhirnya asistennya itu datang juga.
Selesai meeting, Al langsung pulang ke rumah karena perasaannya menjadi tidak enak. Dia terus kepikiran dengan Icha, karena semenjak usia kehamilan Icha tujuh bulan, dia berhenti kerja sehingga terkadang Al merasa malas kalau berlama-lama di kantor.
Saat sampai rumah, ternyata Pak Bagas sedang berkunjung untuk melihat putranya. Semenjak dia tahu kalau anak yang dilahirkan oleh mantan istrinya adalah darah dagingnya, Pak Bagas selalu menyempatkan diri untuk melihat baby Barra meski tidak setiap Minggu, paling tidak dia akan datang sebulan sekali untuk memberikan sejumlah uang pada Bu Mira yang memang sekarang sudah tidak bekerja semenjak melahirkan Al Barra.
...*****...
Sambil nunggu up, yuk kepoin karya Author yang baru rilis
__ADS_1