Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 83 Kencan halal 2


__ADS_3

Duk duk duk


Al dan Icha terus berlomba siapa yang paling banyak memasukan bola ke dalam ring, hingga akhirnya Al lebih banyak mencetak skor dibandingkan Icha.


"Kho aku kalah sih? Kamu pasti curang ya?" tuduh Icha yang tidak bisa menerima kekalahan.


Al justru malah tertawa melihat kekesalan istrinya, yang sudah yakin pasti bisa mengalahkannya.


"Ga usah tertawa! Gak lucu tau!" cebik Icha


Al langsung mengusak kepala Icha gemas, ingin rasanya melahap bibir Icha yang dimanyun-manyunkan. Tapi sayang situasinya tidak mendukung. Bisa geger dunia maya saat ada seseorang menggugah videonya sedang mencium Icha. Meskipun sah-sah saja karena sudah halal, tapi adat dan budaya negeri ini sangat tabu melakukan ciuman di tempat umum.


"Jangan marah-marah, sayang! Kalau gak kuat sekarang gendong aku, gak papa nanti malam aja di tempat terindah kita," bisik Al


Icha langsung memukul tangan Al pelan dengan pipi yang sudah merona, "Itu sih maunya kamu, kalau aku sih enggak," sanggah Icha


"Yakin? Lalu kenapa kamu selalu meracau, sayang?"


"Itu karena aku...."


"Gak usah dijawab, karena aku tahu jawabannya," potong Al


"Udah yuk! Kita tukar kuponnya," ajak Icha seraya menarik tangan Al untuk menukar kupon dengan hadiah yang tersedia.


Setelah mendapatkan hadiah dari hasil penukaran kupon, wajah Icha yang tadinya masam karena kalah berman basket, kini kembali bersinar


"Wahhh... senengnya dapat boneka Dolphin, warna putih lagi. Seperti di drakor at the dolphin bay," wajah Icha langsung sumringah dengan terus memeluk bonekanya.


"Aku senang melihatmu ceria seperti dulu, Cha. Senyum dan tawa bahagiamu yang selalu membekas di ingatanku," batin Al


"Sini biar aku yang bawain," pinta Al seraya mengambil boneka dari pelukan Icha.


"Gak usah Al, biar aku peluk saja," tolak Icha


"Katanya mau beli es krim." Al langsung mengingatkan Icha yang meminta makan es krim saat tadi mau berangkat.


"Ya sudah tunggu depan bioskop aja ya, aku beli es krim dulu ke sana," tunjuk Icha pada kedai es krim yag menyediakan es krim beraneka rasa dan ukuran.


Icha pun langsung menuju kedai es krim. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Icha langsung menuju ke tempat dimana Al sedang menunggunya. namun langkah kakinya tertahan, kala dilihatnya begitu banyak gadis yang mengelilingi Al memintanya untuk berfoto bersama.


Icha langsung berbalik dan bersembunyi, melihat Al dari kejauhan dengan mulut yang penuh dengan es krim

__ADS_1


"Katanya cinta, tapi diminta foto bareng sama cewek cantik mau aja," sungut Icha dengan mata terus melihat ke arah Al, sedangkan tangannya tidak berhenti menyendok es krim yang ada dalam cup jumbo hingga ludes tak bersisa.


"Yah habis!" gerutu Icha dengan terus mengumpulkan sisa-sisa es krim yang ada di cup.


"Kenapa? Es krimnya kurang?" selidik Al yang berdiri tepat di depan Icha.


Icha langsung mendongak saat mendengar suara Al tepat ada di di depannya.


"Kenapa bersembunyi di sini? Aku menunggumu lama depan bioskop. Apa kamu sengaja membuatku menunggu seperti orang linglung?" marah Al karena merasa di permainkan oleh Icha.


"Tadi aku udah ke sana, tapi kamu sedang asyik foto-foto sama gadis-gadis cantik," jelas Icha


"Kenapa tidak menghampiriku?" cecar Al


"Aku malu, jadi aku...."


"Kamu malu memiliki suami sepertiku, padahal aku sangat bangga bisa memilikimu. Tadinya aku ingin memperkenalkanmu pada teman-temanku, yang tadi meminta foto bersama, tapi kamu malah bersembunyi di sini."


"Al dengerin aku dulu! Aku tidak malu memiliki suami sepertimu, tapi aku merasa malu dengan teman-temanmu itu. Mereka gadis yang berkelas, sedangkan aku hanya gadis biasa," tutur Icha


"Aku mengerti, ayok ikut aku!" Al langsung menarik tangan Icha tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu dari Icha.


Icha berjalan terseok-seok karena langkah kakinya tidak selebar langkah kaki Al.


"Salon," jawab Al singkat


Icha langsung menghempaskan tangan Al seraya berkata, "Aku tidak mau ke salon!"


Al langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Icha.


"Bukankah kamu ingin terlihat berkelas seperti gadis-gadis tadi? Aku mampu untuk membawamu ke salon dan membeli barang-barang branded," tutur Al


"Bukan begitu maksud aku, aku tidak butuh semua yang kamu sebutkan tadi," ketus Icha


"Lalu maunya gimana, Cha?"


"Aku mau nonton, tapi kamu pake masker aja biar gak ada yang ngenalin lagi," ujar Icha


Akhirnya Al pun mengikuti apa yang Icha katakan. Setelah mereka membeli masker, kini keduanya sedang berada di tengah-tengah studio yang sudah di sewa Al. Sehingga tidak ada pengunjung lain selain mereka berdua.


"Al kenapa sepi? Aku gak mau nonton kalau hanya kita berdua yang ada di sini," ujar Icha

__ADS_1


"Kenapa takut? Kan ada aku yang jagain. Lihat filmnya sudah di putar," tunjuk Al pada layar besar di depan sana.


Icha yang awalnya takut karena tidak ada orang lagi selain mereka, akhirnya larut dalam alur film yang ditontonnya. Begitupun dengan Al yang sangat menikmati kebersamaannya dengan Icha. Hingga saat ada adegan kiss di film yang ditontonnya, Al pun langsung ikut praktek dengan mencium Icha yang terlihat serius melihat adegan di layar bioskop.


***


Berbeda dengan Kevin yang sengaja mengajak Vio ke bukit bintang yang ada di kota sebelah, sehingga dapat melihat pemandangan kota J yang seperti bertabur bintang karena banyaknya lampu kelap kelip yang menghiasi malam.


"Kho kamu tahu tempat ini, Vin?" tanya Vio


"Tentu saja aku tahu, kalau suntuk kadang aku ke sini sendiri," ungkap Kevin


"Vin, sepertinya ini yang terakhir kita jalan bersama. Setelah ini, ku harap kita hanya jadi teman biasa saja," ucap Vio


"Maksud kamu apa, Vio? tanya Kevin heran.


"Aku tidak ingin melanjutkan hubungan kita lagi, dan ku harap kamu tidak pernah memaksaku lagi untuk mengikuti keinginanmu," tutur Vio


"Apa karena papamu tidak setuju kamu jalan denganku?"


Vio hanya menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya berbicara.


"Keputusanku tidak ada sangkut pautnya dengan papa. Aku memilih mundur dari hubungan yang tidak sehat ini,"


"Vin, makasih untuk hari-hari yang telah kita lalui bersama. Semoga kamu mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku," ucap Vio tulus.


Kevin masih terdiam mendengarkan apa yang Vio katakan, sebelum akhirnya dia angkat bicara.


"Kalau kamu berpikir, aku hanya ingin mempermainkanmu, kamu salah Vio. Aku serius dengan perasaanku. Namun aku juga menghargai keputusanmu, jika kamu ingin berpisah denganku."


"Hatiku selalu terbuka untukmu, Vio. Kapan saja kamu ingin mengisinya, aku akan menunggumu."


"Masih bolehkan aku memelukmu Vio?" tanya Kevin


Vio hanya mengangguk pertanda menyetujui keinginan Kevin. Lama mereka saling berpelukan di bawah sinar bulan dengan langit bertabur bintang, hingga keduanya terbawa suasana dan menyatukan benda kenyal itu, saling memagut, saling mengecap, saling menyesap sebagai salam perpisahan.


...*****...


...Terus dukung author ya kawan! Dengan klik like favorite comment gift dan kasih rating ⭐⭐⭐⭐⭐...


...Terima kasih!...

__ADS_1


👉Next part


__ADS_2