
Seminggu sudah Kevin, Oryza dan Kia dirawat. Hari ini mereka sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Meski gips yang dipasang belum dilepas, tapi untuk berjalan dengan penyangga sudah bisa mereka lakukan. Namun kedua anak mami itu lebih memilih memakai kursi roda sampai kakinya benar-benar sembuh. Sementara Kia pun sama masih menggunakan sling untuk menyangga tangannya.
Al, Icha, Vio, Aisha dan Abizar sudah siap untuk menjemput kepulangannya. Sementara mama-mama sudah siap dengan masakannya untuk menyambut kepulangan anak-anak kesayangannya.
Sebagai rasa syukur atas kesembuhan anak-anaknya, mamanya Kevin dan Oryza merencanakan untuk mengadakan makan bersama di rumah Oryza yang letaknya tidak jauh dari rumah Kevin.
Semua hidangan sudah siap di atas meja, mamanya Oryza juga sudah menyiapkan kamar sementara untuk Kia sebelum dia sah menjadi istri Oryza. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati Bu Dewi, kenapa Yura pergi ke luar Jawa tidak pamit padanya? Padahal selama ini, kemanapun dia akan pergi pasti berpamitan terlebih dahulu padanya. Merasa tidak menemukan jawaban atas pertanyaan hatinya, Bu Dewi pun memilih untuk mengobrol dengan mamanya Kevin yang sedang asyik bercengkrama dengan putri sulungnya di teras rumah Oryza.
"Mah, jadinya resepsi tuh bocah tetap di pulau C apa pindah ke sini?" tanya Keyla, kakaknya Kevin.
"Kemungkinan masih tetap di sana, soalnya sekalian peresmian resort baru Al." Dengan tidak melepaskan pandangannya, Bu Ranti menjawab pertanyaan putrinya.
"Lihat apa sih, Mah? Serius banget!" Keyla pun tak urung mengikuti arah pandang mamanya yang terfokus pada sebuah rumah megah di samping rumah Oryza.
"Mama lagi kangen sama Yuki, semenjak perceraiannya dengan Steve, dia tidak pernah kembali ke Indonesia dan malah meninggalkan putrinya di sini." Bu Ranti menerawang jauh saat dulu masih bertetangga dengan mamanya Yura. Mereka sering mengasuh anak bersama-sama di playgrup.
"Kamu tahu tidak Ranti? Sekarang rumah itu kosong, Yura dipindah ke Kalimatan tapi dia tidak pamit sekalipun sama aku." Terlihat jelas kesedihan di wajah Bu Dewi. Baginya, Yura sudah seperti pengganti putrinya yang sudah meninggal.
"Memangnya dia ada masalah di kantor Al?" selidik Bu Ranti.
"Aku tidak tahu kalau hal itu, cuma kemarin Aisha bilang sedang membuka lowongan untuk sekertaris Ryza. Kemungkinan juga Kia yang ditarik jadi sekertaris Ryza," ungkap Bu Dewi
Tak lama kemudian, mobil rombongan Al yang baru pulang dari rumah sakit memasuki halaman rumah Oryza.
Melihat kedatangan putranya, Bu Dewi bergegas ke dalam rumah untuk mengambil bunga tujuh rupa, permen, dan uang recehan yang telah disiapkannya.
Saat Oryza sudah sampai teras rumah, Bu Dewi pun segera menghentikan langkah kaki putranya. "Stoppp!!! Ryza, Kia dan Kevin kalian jangan masuk rumah dulu!" suruh Bu Dewi.
"Kenapa Mah?" tanya Oryza bingung
"Sebelum masuk rumah, kalian harus buang sial dulu. Al juga cepat berdiri di samping mereka bertiga!" titah Bu Dewi pada Al yang baru keluar dari mobil.
Tanpa ingin membantah, Al pun mengikuti apa yang tantenya katakan.
"Mama cepetan! Memangnya mau ngapain sih?" gerutu Oryza.
"Sekarang kita berdo'a bersama, semoga kejadian kemarin tidak terulang lagi, dan semoga keberkahan dan keselamatan selalu menyertai langkah kita, Al-Fatihah." Bu Dewi pun langsung memimpin do'a.
__ADS_1
"Aamiin." Kompak semua orang yang hadir setelah menyelesaikan membaca Al-Fatihah.
Setelah selesai berdo'a bersama, Bu Dewi pun segera melemparkan bunga, permen, dan uang recehan ke arah mereka berempat yang sudah dirawat di rumah sakit sebagai saweran.
Pletak
Pletak
Pletak
Pletak
"Aduhhh..." ringis Oryza yang terkena uang koin seribuan di jidatnya.
Begitpun dengan Al, Kia dan Kevin yang langsung mengelus kepalanya yang terkena lemparan uang koin.
"Tante apa-apaan sih? Katanya biar selamat tapi malah dibikin celaka," gerutu Al dalam hati.
"Elah Tante, kuno banget sih saweran segala. Lihat jidatku malah benjol!" rutuk Kevin dalam hati.
Sementara Dika dan Icha malah sibuk memunguti uang saweran dan permen yang dilemparkan oleh Bu dewi.
"Mama lihat, Aku dapat banyak!" seru Dika
"Mama juga dapat banyak nih." Icha memperlihatkan apa yang ada di genggamannya.
"Wahhh...kita kaya, Mah! Uang kita banyak." Dika tersenyum senang mendapatkan uang saweran yang memenuhi kedua tangannya.
Melihat kelakuan anak dan istrinya, Al hanya mengusap wajahnya kasar.
"Astaga Dika! Uang papa kamu tuh banyak. Segitu mah hanya butiran debu buat dia," jelas Kevin yang tidak habis pikir dengan kelakuan anak dan istri sahabatnya.
"Om Kevin bohong! Dika gak pernah lihat papa bawa uang banyak, paling kalau jajan chicken hanya pake kartu," elak Dika
"Sudah sayang!!! Ayok kita ke dalam, jangan ngobrol di luar!" Al langsung melerai perbincangan Kevin dan Dika.
"Cha, itu uangnya kasih saja ke Pak Satpam, sekalian permennya juga!" suruh Al, "Abizar, ambil uang saweran yang ada di tangan Icha dan Dika!"
__ADS_1
"Tapi kan ini uang Dika, Pah!" tolak Dika.
"Nanti Papa kasih uang yang lebih banyak dari itu," ucap Al dengan mengangkat jari kelingkingnya dan langsung disambut oleh Dika hingga jari kelingkingnya saling bertautan, pertanda mereka sedang melakukan janji kelingking.
Dengan terpaksa Dika pun memberikan uang sawerannya pada Abizar. "Om Aby, permennya Dika minta ya!" Bisik Dika saat Abizar mengambil uang dan permen yang ada di tangan Dika
Melihat Dika dengan tatapan mata yang memohon, Aby pun menyimpan satu permen di telapak tangan Dika. "Jangan bilang Papa kamu, nanti Om yang dimarahin," lirih Oryza pelan.
Dika dengan segera menyimpan permennya ke dalam kantong celananya.
Sementara Aisha yang melihat kejadian itu hanya tersenyum geli, bisa-bisanya anak bos makan permen saweran seperti yang tidak pernah dibelikan permen saja.
Setelah acara drama saweran di teras, kini semua orang berkumpul di meja makan, menikmati semua hidangan yang tersedia. Tak terkecuali Al dan Icha yang selalu lengket seperti lem Aibon.
"Sayang, sayurnya dimakan!" suruh Al seraya mengambilkan sayur capcay ke piring Icha.
"Al, ini sudah kebanyakan. Semua sayur kamu masukin ke piringku," protes Icha
"Semua sayur ini, bagus untuk anak kita." Tangan Al langsung terulur mengelus perut buncit Icha.
"Dulu juga aku makan asal, tapi Dika sehat-sehat saja," elak Icha yang sukses membuat muka Al berubah jadi murung.
Menyadari perubahan muka Al, Abizar yang duduk persis di depan Al pun angkat bicara. "Sudah makan aja, Cha! Istri itu harus menuruti perintah suami," tegur Abizar.
Icha pun akhirnya memakan sayur yang sudah Al simpan di piringnya, diliriknya Al yang makan tanpa bersuara.
"Kenapa Al jadi diam? Apa dia tersinggung dengan kata-kataku?" batin Icha
"Tiap kali Icha membicarakan saat kehamilan pertamanya, rasa bersalahku selalu menghantui. Aku menyesal, sangat menyesal dengan apa yang telah kulakukan dulu. Maafkan aku, Cha!"
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan, dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...
👉 Next part
__ADS_1