Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Kembali bertemu


__ADS_3

Delapan tahun kemudian,


Di sebuah pemakaman, nampak tanah merah itu terlihat masih basah. Hari ini dua sahabat menghembuskan napasnya yang terakhir. Dua sahabat yang saling menyayangi dari semenjak mereka masih kanak-kanak, kini jasadnya sudah tak bernyawa lagi.


Flashback on


Di usianya yang sudah memasuki 80 tahun, Tuan Satya sering sakit-sakitan. Apalagi semenjak kematian putranya, membuat dia menjadi banyak pikiran dan darah tingginya menjadi kambuh. Namun, kehadiran Dave membuat dia terus memacu dirinya untuk tetap sehat demi cicitnya yang masih kecil.


Semakin bertambahnya usia, Tuan Satya dan Tuan Ardi selalu bergantian dirawat di rumah sakit. Sampai pada suatu hari Tuan Ardi jatuh di kamar mandi dan menyebabkan pembuluh darah di otaknya pecah sehingga dia tidak tertolong dan meninggal saat akan dibawa ke rumah sakit.


Saat mengetahui kabar kematian sahabatnya, Tuan Satya langsung terkena serangan jantung dan akhirnya menyusul Tuan Ardi menghadap Sang Pencipta.


Flashback off


Sepulang dari pemakaman, Al dan keluarga langsung pulang ke rumahnya. Mereka baru tiba di tanah air dengan menggunakan jet pribadi, karena jauh sebelum meninggal, kakeknya berpesan saat dia meninggal nanti agar dimakamkan di tanah kelahirannya.


Para pelayat sudah kembali pulang ke rumahnya masing-masing, kini tinggallah keluarga inti yang masih bertahan di rumah Al.


Nampak Zee bersama dengan para sepupunya, anak dari Kevin, Oryza dan Aisha. Sementara Dika memilih beristirahat di kamarnya ketimbang nimbrung bersama keluarga yang lainnya.


"Al, kamu balik ke sini lagi kan? Kakek kan sudah gak ada, untuk apa kamu masih di sana?" tanya Kevin.


"Aku gimana anak dan istriku saja, karena bagiku London adalah rumah keduaku. Bagaimana sayang, apa mau menetap di sini atau balik lagi ke sana?" tanya Al pada Icha.


"Aku mau di sini saja, di sana gak ada yang namanya jualan cilok atau piscok!" tegas Icha.


"Ya sudah! Nanti aku minta Mark untuk mengurus kepindahan sekolah anak-anak," ucap Al menyetujui keinginan istrinya.


Keesokan harinya, Dika yang memang sudah janjian dengan Arkana di cafe Mizy, langsung pergi setelah dia berpamitan pada kedua orang tuanya. Namun saat sampai di sana, dia dikejutkan dengan kedatangan seorang gadis cantik yang mengajaknya untuk berpacaran


"Hai! Kenalin nama aku Allana, nama kamu siapa?" tanya Allana yang tidak mengenali Dika.


"Aku Aldrich!" jawab Dika datar seraya matanya menelisik gadis di depannya.


"Oh, Aldrich ya! Boleh aku minta tolong gak?" tanya Allana


"Minta tolong apa?" tanya Dika yang tidak sengaja matanya melihat ke arah gelang yang dipake oleh Allana. Dulu dia yang membuat gelang itu saat menginap di rumah keluarga Wiratama.

__ADS_1


"Kamu mau gak jadi pacar aku seminggu saja? please ya!" Allana menangkupkan kedua tangannya pertanda dia memohon pada Dika.


Dika tidak menjawab permintaan Allana, Dia memilih berlalu pergi menuju ke meja Arkana berada.


Melihat Dika yang tidak memperdulikannya, Allana pun langsung mengejar Dika dan menarik tangan Dika. Saat sudah sampai di lorong toilet, Allana langsung memojokkan Dika ke dinding. Sebelah tangannya menyamping menahan dada Dika, sementara tangan yang satunya dia pakai untuk mencengkeram kerah baju Dika.


Pemuda enam belas tahun itu hanya diam saja, dia ingin tahu apa yang akan Allana lakukan dengan menyeretnya dan memojokkannya di dinding.


Allana, kenapa menjadi bar-bar begini? Dia bahkan tidak mengenaliku, batin Dika.


"Hai dengar! Mulai saat ini kamu pacarku, tepatnya pacar pura-puraku. Aku akan membayar apapun yang kamu mau. Kamu tinggal menyebutkan apa yang kamu inginkan." Allana mendongakkan kepalanya melihat wajah Dika karena memang tinggi kalah dengan tinggi Dika.


"Apapun?" tanya Dika datar.


"Iya, apapun? Kamu tinggal menyebutkan merk baju, sendal, sepatu, jam tangan apa yang kamu inginkan. Aku pasti akan membelikannya, tapi kamu harus berpura-pura jadi pacarku di depan semua saudaraku," jelas Allana.


"Berapa lama?"


"Satu Minggu cukup," jawab Allana.


"Baiklah! Aku akan mengambil DP-nya sekarang." Dika langsung mencondongkan wajahnya dan menempelkan bibirnya dengan bibir Allana. Membuat Allana diam mematung tidak percaya dan hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.


Jangan salahkan aku! Kamu sendiri yang menyodorkan diri padaku, batin Dika.


Allana tersadar dan langsung menjauhkan diri dari Dika, kemudian dia berlalu pergi menuju ke toilet yang tidak jauh dari tempatnya berada. Sementara Dika hanya tersenyum tipis melihat Allana yang berlari ke toilet.


Tanpa memperdulikan Allana, Dika langsung pergi ke rooftop cafe Mizy tempat Arkana menunggunya.


Sementara Allana langsung membasuh bibirnya berkali-kali dengan air kran.


Kenapa dia yang mencurinya? Kenapa bukan dengan Om Zyan? Aku sial sial ... Gara-gara kalah taruhan,aku jadi kehilangan ciuman pertamaku, batin Allana.


Setelah puas meluapkan kekesalannya, Allana pun langsung menuju ke meja di mana Arabella menunggunya. Saat sampai di sana, terlihat' Arabella sedang asyik makan es krim.


"Enak banget ya! Makan es krim dalam porsi jumbo?" Sinis Allana saat sudah sampai di meja yang tadi dia tempati.


"Tentu saja, sayang! Lana dari mana, lama sekali?" tanya Arabella, sahabat Allana.

__ADS_1


"Aku dari toilet! Gara-gara kamu, aku harus kehilangan ...." Allana menggantungkan ucapannya saat akan keceplosan mengatakan apa yang telah terjadi. Dia pun langsung mendudukkan bokongnya di kursi.


"Oh! Tadi El sama Joen juga naik ke atas. Katanya mau ketemu teman lama," terang Arabella yang masih asyik dengan es krimnya.


"Tumben kamu gak ngikutin, El?" Tangan Allana terulur mengambil gelas jus strawberry kesukaannya lalu meminumnya hingga tandas.


Arabella hanya melirik sekilas saat melihat Allana menenggak minumannya sampai habis seperti kehausan setelah berlari ribuan kilometer.


"Kamu kenapa, Lana?" tanya Arabella heran.


"Ara, kalau taruhan kita batalkan masih bisa gak?" Allana merasa tidak ingin melanjutkan permainan bersama sahabatnya itu.


"Boleh! Tapi kamu harus siap jadi babu aku selama sebulan plus harus bantu aku jadian sama El," sahut Arabella enteng.


"Mana bisa jadi sebulan, sementara pacaran aja hanya seminggu," protes Allana.


"Itu karena kamu jadi anak orang yang ingkar maka hukumannya ditambah," cicit Arabella dengan tersenyum senang karena bisa membuat Mrs. Arogant di depannya tidak berkutik.


"Ah kamu ngambil kesempatan dalam kesempitan, Ara!" seru Allana sewot. Bagaimana tidak, keduanya tidak ada yang menguntungkan untuknya. Seandainya tadi, saat main tebak-tebakan tidak mengusulkan untuk taruhan, mana mungkin sekarang dia berada di posisi sulit.


Setelah menghabiskan es krimnya, Arabella langsung berdiri dari duduknya. Dia pun mengajak Allana untuk menyusul El dan Joen ke rooftop tempat saudaranya berkumpul.


"Lana, ayo kita lihat ke atas! Sebenarnya dengan siapa mereka bertemu," ajak Arabella seraya menarik tangan Allana.


Sampai di rooftop di cafe itu, nampak saudaranya sedang berbincang hangat dengan seorang anak lelaki yang tadi sudah mengambil ciuman pertamanya.


"Hai, Sayang! Kamu menyusul aku ke sini?" Anak lelaki yang tak lain adalah Dika langsung menyapa duluan saat melihat Allana dan Arabella menghampiri mejanya.


"Apa Dik, kamu pacaran sama Kak Lana? Sejak kapan?" tanya Arkana kaget, karena gak mungkin Allana yang selalu ketus bisa pacaran dengan Dika.


"Apa Ar? Dik? Jadi dia ...." Allana menggantungkan ucapannya saat kata-katanya terasa tercekat di tenggorokan.


"Wow! Aku senang sekali, kamu pulang langsung jadi adik ipar aku." Elvano langsung merangkul pundak Dika dengan wajah sumringah sedangkan Dika hanya tersenyum mesem.


Senang sekali melihat ekspresi kamu yang seperti itu, Lana! batin Dika.


...*****...

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2