
Terlihat Bu Dewi tergopoh-gopoh mencari kamar perawatan putra dan calon menantunya, setelah tadi Aisha memberinya kabar mengenai kecelakaan yang dialami orang-orang terdekatnya. Begitupun dengan Bu Mira yang diminta Icha untuk menjemput Dika ke rumah sakit, karena Icha akan menemani Al.
Saat sampai kamar perawatan Oryza, Bu Dewi langsung menangis tersedu melihat Oryza yang di gips kakinya sedangkan Kia tangannya yang mengalami keretakan.
"Bagaimana bisa begini Za? Pernikahanmu tinggal dua minggu lagi, kalian malah kecelakaan seperti ini," ucap Bu Dewi di sela Isak tangisnya.
"Ryza gak tahu Mah, mungkin ini sudah takdir." Oryza menjawab dengan sedikit meringis karena Bu Dewi menekan luka yang ada di tangannya.
"Kata Aisha, mobil Aldrich blong makanya gak bisa rem saat ketemu mobil kamu yang mau masuk." Bu Dewi.
"Mungkin karena yang punya mobil abis ciuman makanya ngiri malah cium mobil Al," ucap Oryza dengan wajah tanpa beban. Berbeda dengan Kia yang mukanya langsung merah padam mendengar apa yang Oryza katakan.
"Maksud kamu, anak mama ini abis ciuman sama Kia terus kecelakaan?" Bu Dewi sangat antusias mendengar putranya mencium calon menantunya.
Oryza hanya mengangguk-anggukan kepalanya pertanda membenarkan apa yang dikatakan mamanya.
"Wah Mama seneng banget dengernya, akhirnya kamu bisa bersama dengan orang yang kamu cintai bukan selalu menjadi pengagum rahasia perempuan yang kamu sukai." Saking bahagianya Bu Dewi lupa kalau bahu yang dia goyang-goyangkan terasa sakit bagi Oryza.
"Mah sakit," rengek Oryza
"Akh iya maaf sayang," ucap Bu Dewi kemudian beralih ke bed Kia yang berada di samping Oryza.
"Sayang, nanti sepulang dari rumah sakit tinggal di rumah Mama aja ya! Biar ada yang ngurusin, apalagi tangannya di gips gitu pasti susah kalau sendiri di apartemen," Bu Dewi terus mengelus rambut Kia dengan sayang, sangat berbeda saat tadi bersama Oryza.
"Tapi Tante...." Belum selesai Kia bicara, Bu Dewi sudah memotongnya
"Mama sayang, bukan Tante. Nanti harus terbiasa panggil Mama oke!" tegas Bu Dewi
"Iya Tan....Eh Mama," ucap Kia dengan tersenyum kaku. Meskipun Bu Dewi sering memintanya untuk memanggil mama tapi tetap saja lidah Kia belum terbiasa.
"Sudah, Mama gak butuh penolakan kamu. Pulang dari sini harus ikut Mama pulang ke rumah."
"Bener Kia, kamu ikut pulang ke rumah aja. Nanti kita tidurnya satu kamar, bener kan Mah?"
"Maumu itu sih Za, sabar nunggu dua minggu lagi boleh kalian satu kamar," ucap Bu Dewi
__ADS_1
Kia hanya tersenyum simpul menanggapinya, dia merasa menemukan kembali seorang ibu yang sayang dan peduli padanya. Tidak seperti istri muda papanya yang selalu bermuka dua saat Kia pulang ke rumahnya.
***
Sementara di kamar sebelah, terlihat Icha dan Vio yang sedang duduk di sofa tunggu menjaga suaminya, sedangkan Dika sudah dibawa pulang oleh Bu Mira.
Al masih terlelap dalam pengaruh obat tidur yang diberikan oleh dokter, membuat Icha menjadi cemas.
"Vio, kenapa Al masih belum bangun ya? Ini udah malam, Kevin aja udah makan," keluh Icha cemas.
"Sabar Cha, mungkin dalam proses pemulihan." tebak Vio, "Cha, kalau cape tidur aja, biar aku yang jaga mereka berdua. Kalau Al bangun, nanti aku bangunin kamu," lanjutnya
"Ya udah Vio, aku ngantuk sekali. Aku titip Al dulu ya!" Icha pun langsung tiduran di sofa hingga akhirnya dia memejamkan matanya.
Vio masih asyik berselancar di dunia maya, sedangkan Kevin sudah tertidur kembali setelah tadi minum obat yang diberikan dokter.
Tak berselang lama, Al terbangun dari tidurnya. Badannya sekarang sudah bertenaga meski masih sedikit pusing di kepala akibat benturan tadi.
Diedarkannya pandangan Al, melihat sekeliling ruangan. "Aku masih di rumah sakit," gumamnya
Vio yang melihat Al terbangun langsung menghampirinya, "Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanyanya.
"Dari tadi siang Icha di sini, sekarang dia tertidur di sofa, mungkin lelah karena menangis terus. Kalau Dika sudah pulang bersama Bu Mira," terang Vio
"Bagaimana keadaan Kevin?" tanya Al kemudian.
"Kaki kanannya retak, jadi di gips," jawab Vio seraya membuka tirai di sebelah Al memperlihatkan Kevin yang sedang tertidur.
Al langsung mencari keberadaan Icha dan saat dilihatnya Icha yang tidur meringkuk di atas sofa, Al pun segera memindahkannya ke bed tempat dia tadi tidur.
"Vio, kalau kamu ngantur tidur berdua saja dengan Kevin, agar badanmu tidak merasa sakit tidur di sofa," saran Al
"Iya Pak, makasih sarannya," ucap Vio
Huft
__ADS_1
Vio menghembuskan napas kasar. Setelah AL masuk ke dalam kamar mandi. Baru kali ini dia ngobrol banyak dengan Al. Meski mereka pernah jadi teman sekolah, tapi Al sangat jarang ngobrol dengan perempuan selain Aisha dan Kalisa.
Vio pun mengikuti apa yang Al katakan. Dia mulai merebahkan dirinya di samping Kevin. Meskipun terus mencoba untuk memejamkan matanya, tapi pikiran Vio berkelana pada kejadian tadi siang saat dia tidak sengaja mendengar omongan Yura yang sedang menerima telepon dari temannya.
"Dengar, Kamu tidak berhak mengaturku! Dia yang telah mengabaikanku harus menerima pembalasan dariku."
Namun Vio tidak bisa mendengar lebih banyak karena Yura menaydari ada orang yang sedang mengupingnya.
"Ya Tuhan, semoga kejadian ini tidak ada hubungannya dengan Yura, Aku takut kalau harus berhubungan dengan seorang psycho," batin Vio
Saat Vio akan memejamkan matanya, terdengar decit pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam. Vio yakin kalau itu pasti Al yang sudah selesai urusannya di kamar mandi. Dia tidak ingin dikira mengintip atau menguping sehingga memaksa matanya untuk terpejam dan akhirnya menyusul Kevin ke dunia mimpi tanpa batas.
Setelah membersihkan badannya yang terasa lengket, Al pun kembali merebahkan dirinya disamping Icha. Dilihatnya wajah lelah itu yang sedikit sembab karena lelah menangis. "Tidurlah sayang, aku akan selalu ada untuk menemanimu, tak satupun manusia yang boleh memisahkan kita. Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, dari dulu, sekarang maupun nanti," lirih Al sebelum akhirnya dia menyusul Icha yang terlelap.
Hari sudah beranjak pagi, sayup-sayup terdengar suara adzan subuh dari kejauhan. Icha yang sudah terbiasa bangun saat adzan subuh berkumandang, langsung mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya.
Saat kesadarannya sudah kembali, Icha langsung membalikkan badannya melihat orang yang telah memeluknya dari belakang. "Sayang bangun!" ucapnya seraya mengguncangkan tangan Al yang masih melingkar di perutnya.
Merasa tidurnya terganggu, Al pun segera membuka matanya melihat wajah cantik yang selalu terbayang di matanya.
"Apa tidurmu lelap?" tanya Al dengan tersenyum hangat.
"Tentu saja! Karena ada kamu yang selalu memberikan kehangatan," jawab Icha
Lagi-lagi Al tersenyum mendengar kata manis dari Icha. Dengan menoel hidung Icha, Al pun berkata, "Istriku pintar sekali membuat hati suaminya senang."
"Kan kamu yang ngajarin aku," ucap Icha dengan membalas senyuman Al.
"Woyyy masih subuh udah pada ngebucin aja, sholat sono!" teriak Kevin dibalik tirai yang menjadi penghalang bed diantara mereka.
"Berisik Kevin!" ketus Al
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...
👉 Next part