
Seminggu sudah Icha di rawat, hari ini dia sudah diperbolehkan untuk pulang. Begitupun dengan Pak Bagas yang dipaksa pulang ke rumah Keluarga Putra agar bisa dirawat selama masa penyembuhannya. Selama satu Minggu itu pula Yura tidak menampakkan batang hidungnya. Entah dia bersembunyi di mana, yang jelas beberapa kali polisi mendatangi rumahnya, pasti tidak ada tanda-tanda keberadaan Yura di sana.
Semua keluarga dekat sudah berkumpul di rumah akan menyambut kedatangan keluarga baru. Saat Icha keluar dari mobil bersama bayi kecilnya, Bu Dewi sudah bersiap dengan ritual sawerannya. Namun saat dia akan melemparkan beberapa uang koin dan permen, Al langsung menghentikannya.
"Stop!!! Gak usah pake saweran, Tan! Nanti kena anakku." Al langsung menyembunyikan anak dan istrinya di balik badan tegapnya.
"Ini adat Aldrich, kalau tidak boleh pake koin, sini uang lembaran kamu kasih Tante buat sawer anak dan istrimu." Bu Dewi menengadahkan tangannya meminta uang untuk saweran.
Al pun langsung mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberikan lembaran berwarna pink dan beberapa lembaran dolar yang ada di dompetnya. Melihat tuannya akan saweran dengan uang lembaran yang bernilai lumayan untuk beli baso, para pekerja pun bersiap di belakang Icha untuk berebut uang saweran.
Benar saja, semua berebut untuk mendapatkan uang yang dilemparkan oleh Bu Dewi sampai tidak ada yang menyadari seseorang telah menyusup masuk lewat pintu samping. Melihat semua pekerja berebut uang, Tuan Ardi pun tidak mau ketinggalan untuk melemparkan uang saweran ke arah cicitnya. Dia tidak menengok ke rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang sedang menurun semenjak kejadian tempo hari.
Al langsung membawa Icha masuk ke dalam untuk beristirahat dan membiarkan orang-orang larut dengan acara berebut uang.
"Baby Zee sepertinya lapar, ayo kita kasih susunya di kamar saja!" ajak Al.
"Zee?" Icha mengerutkan keningnya, pasalnya mereka belum menemukan nama yang cocok untuk putri kecilnya.
"Lovely Zevania Marchdika Putri, apa kamu suka sayang?" tanya Al pada istrinya yang sedang menggendong bayi kecil itu.
"Iya bagus, tapi namaku gak ikutan dibawa." Icha sedikit merengut karena namanya tidak ada yang dibawa oleh kedua anaknya.
"Maunya gimana, sayang?" tanya Al dengan tangan yang terus mengelus pipi chubby putri cantiknya.
"Udah yang itu aja, aku suka namanya." Senyum Icha pun kembali mengembang mengingat nama putrinya yang menurutnya memang cantik.
Saat sampai kamar, Icha langsung menidurkan baby Zee di atas ranjangnya karena box bayi belum di masukan ke dalam kamarnya.
"Sayang istirahat ya! Aku mau ke bawah dulu melihat persiapan untuk acara syukuran nanti malam," ucap Al setelah dia menyelimuti Icha.
__ADS_1
Icha hanya menurut dengan apa yang Al katakan, meski hatinya sedikit was-was takut kejadian sebelum dia lahiran terulang lagi.
Namun, saat Al akan beranjak pergi, Icha pun langsung memanggil suaminya kembali.
"Sayang, jangan tinggalkan aku hanya berdua dengan baby Zee. Aku takut!" Icha tidak bisa berpura-pura tidak cemas saat Al akan pergi dari kamarnya.
Mendengar permintaan istrinya, Al pun mengurungkan niatnya untuk turun ke bawah. Dia langsung mengirim pesan pada Bi Sari untuk membawa air minum dan cemilan ke kamarnya.
"Sayang, apa sebelumnya Yura pernah datang menemui kamu di sini?" tanya Al.
"Aku ...." Sebelum Icha melanjutkan bicaranya, Al langsung memotong ucapan istrinya.
"Sayang, ceritakan padaku semuanya, jangan ada yang ditutupi!" Al langsung menghadap ke arah Icha dengan muka serius.
"Waktu itu aku lagi tidur siang, entah datang dari mana, tiba-tiba ada yang membekap aku dengan bantal. Aku terus berusaha untuk melepaskan diri tapi tenaganya sangat kuat, untung saja tanganku dapat meraih gelas yang ada di atas nakas sehingga aku bisa memukul kepala dia dengan gelas. Aku kaget saat tahu Yura yang membekapku, tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke luar kamar dan bertemu denganmu," terang Icha dengan menundukkan kepalanya.
"Aku kurang tahu motif dia apa mengganggu kita, tapi aku curiga dia tahu tentang masa lalu orang tuanya." Al langsung menerawang jauh pada saat kejadian orang tuanya kecelakaan.
"Maksud kamu?" tanya Icha heran.
Sebelum menjawab pertanyaan Icha, Al menghela napas dalam. Dia menyembunyikan penyebab kematian orang tuanya bertahun-tahun. Meski banyak orang yang mengira karena ada sabotase dari rekan bisnis papanya, tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi.
"Aku tidak tahu, ada hubungan apa antara papa dengan mamanya Yura, tapi sebelum mama dan papaku meninggal, mereka bertengkar hebat. Apalagi saat papa memutuskan untuk membawa Yura bersama kami, mama menentang keras. Mama gak mau merawat anak hasil perselingkuhan papa meski papa selalu mengelak kalau sebenarnya hanya kecelakaan saat papa tidur bersama mamanya Yura. Meski mama menentang, tapi papa bersikukuh untuk membawa Yura bersama kami karena dia merasa kasihan saat tahu orang tuanya bercerai dan meninggalkan Yura di sini. Sampai akhirnya pertengkaran mereka di dalam mobil membuat kami bertiga kecelakaan dan hanya aku yang selamat." Al langsung menunduk menyembunyikan matanya yang sudah terasa panas ingin mengeluarkan cairan bening.
Namun, semua itu tidak berlangsung lama karena terdengar suara orang yang bertepuk tangan dari arah balkon kamarnya.
Prok prok prok
Terlihat Yura yang sedang bertepuk tangan dengan senyum devil yang membuat Icha bergidik ngeri. Dia terus berjalan mendekat ke arah Al dan Icha berada.
__ADS_1
"Wah wah wah, ternyata Kak Aldrich lebih tahu dari aku. Aku gak nyangka bisa jatuh cinta dengan kakakku sendiri." Sinis Yura.
"Aku malah gak yakin, kalau kamu adikku. Kamu tidak memiliki darah yang sama denganku, apa kamu memiliki RH-null?" selidik Al.
"Tentu saja aku punya, karena itu papa tidak mau membawaku bersamanya. Karena itu mamaku pergi kembali ke negaranya. Aku benci dengan darah yang mengalir di tubuhku dan aku benci padamu yang memiliki darah sepertiku!!! Aku benci pada keluarga putra yang tidak mau mengakui aku. Padahal darahku sama dengan kalian, tapi kalian semua mengabaikan keberadaan aku. Apa salahku???" bentak Yura
"Aku tidak peduli dengan darah yang mengalir di tubuhmu, bagiku kamu hanya penyebab kematian orang tuaku." Al terus waspada takut Yura bertingkah melukai anak dan istrinya.
Sementara Icha langsung menggendong putrinya, dia gemetar melihat sorot mata Yura yang dingin.
"Aku juga yang akan jadi penyebab kematian Keluarga Putra. Kamu juga harus merasakan bagaimana rasanya di tinggalkan, tidak dipedulikan sama seperti yang aku rasakan selama ini." Yura langsung menyerang Al dengan pisau lipat di tangannya. Gerakannya seperti sudah terlatih, dia terus menyerang Al dari berbagai sisi. Begitupun Al yang berusaha menghindari setiap serangan dari Yura. Mereka bertarung saling menyerang dan mempertahankan diri.
Icha perlahan mengendap berjalan ke arah pintu sambil menggendong bayinya, dia takut kalau sampai Yura menyakiti putrinya yang masih bayi.
Melihat Icha yang akan keluar kamar, Yura pun segera mengejar Icha. Namun langkahnya terhenti saat Al berhasil mengejarnya.
"Cha, pijit tombol merah yang ada di handle pintu!" suruh Al sambil menahan pergerakan Yura.
Icha langsung mengikuti apa yang Al katakan sebelum dia keluar hingga terdengar suara sirine tanda bahaya yang membuat beberapa anggota keamanan segera menuju ke kamar Al. Mereka pun langsung melumpuhkan Yura dan membawanya ke kantor polisi.
Melihat istrinya yang ketakutan, Al pun segera menghampiri Icha dan memeluknya memberi ketenangan.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan? Semua sudah selesai, Yura tidak akan mengganggu kita lagi."
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih 🙏🏻...
__ADS_1