
"Apa yang kalian lakukan?"
Bu Rofiah begitu kaget saat dia masuk ke rumah anaknya yang tidak tertutup rapat. Apalagi tadi dia memberi salam tapi tidak seorangpun yang menyahutnya, sehingga Bu Rofiah pun masuk karena rasa penasaran mendengar suara-suara yang menjijikan di telinganya.
Mendengar suara ibu mertuanya di ambang pintu, Serena segera membungkus tubuhnya dengan selimut yang ditidurinya.
"I--I--Ibu kapan ibu datang?" tanya Serena gugup
Bu Rofiah langsung masuk ke dalam kamar yang dipakai oleh Serena dan Dedi untuk memadu kasih.
"Dedi!!! Kamu dan Serena melakukan hubungan terlarang di rumah anakku!!! Apa yang ada di otak kalian Hahh!!!" murka Bu Rofiah saat mendapati ternyata Serena bermain serong dengan teman suaminya sendiri. "Jangan-jangan anak yang di kandung Serena bukan anaknya Bagas," lanjutnya.
Dedi malah tersenyum menanggapi ucapan Bu Rofiah. Dia terus memunguti pakaiannya yang berserakan tanpa malu dilihat oleh Bu Rofiah, 'Mungkin sudah waktunya mereka tahu yang sebenarnya' pikirnya.
Sambil memakai kembali pakaiannya, Dedi pun menjawab kecurigaan Bu Rofiah, "Ibu memang benar, anak yang dikandung Serena adalah anakku bukan anak Bagas. Aku sudah mengatakannya pada Bagas, tapi dia masih tidak melepaskan Serena. Asal ibu tahu, sebelum menikah dengan Bagas, Serena adalah kekasihku dan dia menikah dengan Bagas saat mengandung anakku," jelas Dedi
"Mas apa yang kamu katakan?" marah Serena karena membongkar rahasianya
"Kenapa kamu marah Serena? Bukankah selama ini kamu sering mengeluh karena Bagas tidak pernah menyentuhmu dan memintaku untuk menghangatkan ranjangmu," sanggah Dedi
Mendengar apa yang dikatakan oleh menantu dan teman anaknya, membuat darah Bu Rofiah mendidih. "Kalian bener-bener pasangan kurang ajar, cepat keluar dari rumah anakku!!!" usir Bu Rofiah
"Ibu tidak perlu mengusirku, karena aku akan keluar sendiri. Ayok Serena kita pulang ke rumahku," ajak Dedi
Serena langsung memakai bajunya yang sudah dipunguti oleh Dedi, kemudian mengikuti apa yang Dedi katakan. Dia takut melihat kemarahan mertuanya akan mencelakakan anak yang ada dalam kandungannya.
"Aku menyesal dulu menyuruh Bagas untuk menikahi wanita ular itu. Aku tidak pernah menyangka Serena yang terlihat anggun dan selalu berkata sopan ternyata kelakuannya nauzubillah. Aku jadi merasa sangat bersalah pada Mira, mungkinkah dia memaafkanku?" batin Bu Rofiah
***
Sementara di lain tempat, Pak Bagas yang pergi bersama Icha ke rumah Bu Mira dibuat kaget karena melihat ada beberapa orang yang sedang melempari rumah Bu Mira dengan batu.
"Pelakor, keluar kamu!!! Jangan sembunyi terus, perlihatkan wajah busukmu!!!" teriak seorang ibu muda yang terus melempari rumah Bu Mira dengan batu
Pak Bagas langsung turun dari mobil dan menghampiri ibu muda itu, "Apa yang kamu lakukan? Kenapa melempari rumah orang?" tanyanya.
__ADS_1
"Pelakor itu sudah merebut suamiku, dia diam-diam menikah dengan Wisnu," jelas Rika istri Wisnu.
"Hentikan!!! Kita bisa bicara baik-baik," suruh Pak Bagas
"Kenapa membelanya, dia itu pelakor yang harus dimusnahkan di muka bumi," seru Rika dengan berapi-api
Icha yang ingin mendekat tidak diperbolehkan oleh Al karena takut kenapa-kenapa dengan kandungannya.
Pak Bagas langsung bergegas menuju ke rumah Bu Mira yang memang dikunci dari dalam, terlihat pecahan kaca jendela berserakan di teras rumah Bu Mira.
"Heyyy.... Tidak usah menolong pelakor itu kalau kamu tidak ingin terkena lemparan batu," teriak salah satu ibu muda yang ikut melempari rumah Bu Mira dengan batu.
"Hentikan!!! Kalian sudah bertindak anarkis dengan melempari rumah orang, kenapa aparat di sini tidak bertindak?" Pak Bagas tak kalah berteriak dengan merentangkan tangannya di depan rumah Bu Mira
Pletak
Sebuah batu kerikil mendarat sukses di kening Pak Bagas membuat dia sedikit terhuyung ke belakang dengan darah yang mengucur dari keningnya.
Melihat semua itu, Al langsung keluar dari mobilnya. Sebenarnya dia sudah menghubungi polisi untuk segera datang, sehingga hanya menunggu di dalam mobil khawatir Icha ikut keluar.
Rika dan teman-temannya malah terpaku menatap ketampanan Al. Meskipun mereka usianya sepuluh tahun lebih tua dari Al, tapi jiwa mudanya meronta-ronta melihat ketampanan Al dengan tubuh yang tegap itu datang menghampirinya.
"Brondong manisku," gumam Rika dengan mata yang tak lepas dari Al
"Yang ampun pangeran berkuda putih itu nyata," sahut Ibu muda yang satunya lagi.
"Aku mau jadi di simpanannya," sahut Ibu muda yang satunya di lagi
"Berisik kalian! Dia pasti sanggup main lebih dari tiga ronde," gumam Ibu muda yang tadi melempari Pak Bagas dengan batu.
Al melihat satu persatu Ibu muda yang ada di depannya, dia heran kenapa diusianya yang sudah tidak muda lagi, masih suka main tawuran seperti anak-anak belasan tahun. Dengan tatapan tajam seperti elang yang ingin merobek mangsanya, Al pun mengancam Ibu muda itu.
"Kalian tahu! Apa yang kalian lakukan ini tindakan kriminal, sudah mengganggu ketenangan orang lain dan meresahkan warga. Kenapa kalian tidak memakai otak kalian sebelum bertindak," bentak Al hingga membuat Rika dan teman-temannya kicep.
Ada sesal dihati Rika dan teman-temannya sudah terpesona oleh Al tapi matanya masih saja memuja ketampanan orang yang sudah membentaknya.
__ADS_1
Sementara Al memarahi keempat ibu muda itu, Pak Bagas memaksa masuk ke rumah Bu Mira lewat jendela yang pecah. Dia terus mencari keberadaan Bu Mira ke setiap ruangan yang ada di rumah itu. Hingga saat ke ruang makan, barulah dia menemukan Bu Mira yang berada di bawah meja makan sedang memegangi perutnya yang kram.
Dengan wajah panik, Pak Bagas segera menghampiri Bu Mira. "Mira, bagaimana keadaanmu?" tanya Pak Bagas
"Mas perutku sakit sekali," rintih Bu Mira
Pak Bagas segera mengeluarkan Bu Mira dri bawah meja makan. Namun betapa kagetnya dia, melihat cairan kental berwarna merah ada di kaki Bu Mira.
"Mas tolong selamatkan anak kita," ucap Bu Mira sebelum akhirnya tak sadarkan diri dalam pelukan mantan suaminya.
Pak Bagas segera membopong Bu Mira, tapi saat sampai pintu, dia merasa kesusahan karena kondisi pintu yang terkunci dari dalam sedangkan tangannya sedang menggendong Bu Mira. "Cha, tolong tante pingsan," teriak pak Bagas.
Mendengar suara teriakan Pak Bagas, Al dan beberapa orang polisi yang mengamankan Rika dan temannya datang membantu untuk mendobrak pintu.
Bu Mira segera dilarikan ke rumah sakit diantar oleh Pak Bagas karena Al tidak mengijinkan Icha untuk kembali ke rumah sakit mengingat kondisinya yang sedang hamil muda.
Keesokan harinya, barulah Icha menengok Bu Mira yang sudah melakukan operasi caesar semalam untuk menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungan Bu Mira.
"Tante, bagaimana keadaan Tante?" tanya Icha saat dia, Dika dan Al menengok Bu Mira.
"Alhamdulillah kalian datang tepat waktu, jadi bayi Tante masih bisa diselamatkan meskipun lahir prematur," ucap Bu Mira yang masih belum bisa banyak bergerak.
"Laki-laki atau perempuan Tan?" tanya Icha lagi.
"Laki-laki, mirip sekali dengan Om kamu, Cha." Bu Mira tersenyum mesem-mesem mengingat mantan suaminyalah yang datang menyelamatkannya dari kemarahan istri pertama Wisnu.
Mengingat Wisnu, Bu Mira jadi ragu untuk melanjutkan pernikahan. Apalagi sekarang dia memiliki anak dari mantan suaminya bukan dari Wisnu yang sekarang sah jadi suaminya.
"Mungkin saat nanti Wisnu pulang berlayar, aku akan meminta cerai padanya. Aku tidak ingin mengganggu pernikahannya lagi. Biarlah aku menjanda merawat putraku sendiri," batin Bu Mira
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan, dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1
👉Next part