
Aisha merombak habis dandanan Icha hingga dia pun merasa terpukau dengan kecantikan Icha. Icha yang biasa tampil alami kini terlihat lebih dewasa dengan sentuhan make up ditambah lagi Aisha memakaikan lipstik berwarna merah, membuat Icha terkesan lebih berani.
"Aku yakin Cha, pasti Al semakin oleng saat lihat kamu dandan seperti ini" kelakar Aisha
"Aku gak mau ada yang oleng karena aku Sha, karena aku gak mau saat aku mulai cinta malah disakitin" ucap Icha sendu
"Gak semua cowok gitu kho, Cha. Buktinya Abizar nggak" bela Aisha
"Itukan Abizar, beda sama sepupu kamu" kilah Icha
"Kamu aja yang gak peka, Cha. Dia udah sering kasih kode buat balikan sama kamu kho!" terang Aisha
"Udahlah! Aku gak mau bahas" ucap Icha seraya pergi meninggalkan Aisha sendiri di toilet
Meski aku masih mencintainya, tapi aku belum yakin jika harus kembali padanya. Aku takut dia kembali melukaiku seperti dulu. Meski aku tahu, aku pun salah tapi haruskah dia menghancurkan aku seperti itu, batin Icha
Icha pun langsung berkutat dengan pekerjaannya, begitupun dengan Aisha yang sudah kembali dari toilet. Hingga jam makan siang tiba, keduanya masih asik di depan monitor.
Kringg kringg
Terdengar telepon kantor berdering, Aisha pun segera mengangkat telepon.
"Hallo"
"......."
"Baik Pak"
Sambungan pun langsung terputus karena dari seberang memutuskannya sepihak. Dengan segera Aisha memesan makanan karena tadi Al menyuruh untuk makan di kantor saja.
Kevin sudah datang untuk mengajak makan bersama begitupun dengan kedua sahabat Icha yang mengajak Icha untuk makan di kantin.
"Wihh Cha, beda banget hari ini. Jadi lebih cantik" puji Kia
"Iya, karena selama ini aku jelek. Iya kan?" sahut Icha dengan mengerucutkan bibirnya.
"Udah yuk Cha, nanti keburu penuh kantinnya" ajak Vio
Icha pun mulai membereskan mejanya agak tidak berantakan saat dia tinggalkan untuk makan siang.
"Cha, kata Pak Al, kita makan di ruangannya" kata Aisha, "Tadi aku sudah pesan makanan kesukaanmu" imbuhnya
"Tapi maaf Sha, aku udah janji dengan Vio dan Kia mau makan bareng" ujar Icha. "Aku berangkat dulu ya!" lanjutnya.
Dengan segera Icha menggandeng Vio dan Kia menuju lift agar Al tidak bisa mengejarnya.
"Cha, nanti kalau Pak Al marah gimana?" cemas Kia
"Udah gak akan, makanya cepetan sebelum ada dia kita pergi duluan!" seru Icha.
__ADS_1
Meskipun sedikit ragu, Kia dan Vio akhirnya mengikuti Icha.
Sesampainya di kantin, terlihat suasana begitu riuh karena kebanyakan dari karyawan yang makan di sana, sambil cerita dan bercanda bersama temannya.
Icha menunggu di meja sedang Kia dan Vio yang memesan makanan. Mereka membagi tugas karena takut tidak dapat tempat duduk jadinya satu orang bertugas menjaga meja agar tidak ditempati orang lain.
"Wow! Udah jadi sekertaris CEO dandanannya jadi beda ya! Udah seperti pec*n" seru Siska yang kebetulan lewat depan meja icha bersama temannya.
"Apaan sih Mbak Sis, aku cantik malah ngiri" gerutu Icha.
"Sis, ada Pak Al tuh" bisik Rina temannya Siska
"Apa? Pak Al?" seru Siska kaget
Icha yang mendengar Al masuk kantin jadi ikutan kaget. Terlihat Al sedang mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Icha langsung menyadari kalau Al sedang mencarinya, sehingga dia bersembunyi di balik tubuh Siska berusaha menutupi tubuhnya.
Icha berjalan perlahan dengan membungkuk mensejajarkan tubuhnya dengan meja kantin. Hingga saat terasa jauh dia mulai mempercepat jalannya.
Brukkk
Awww
Icha terpental dan jatuh terduduk sedangkan Al meringis kesakitan karena benda keramatnya tertabrak kepala Icha.
Sebisa mungkin Al menyembunyikan rasa linunya dengan diam mematung menatap tajam ke arah Icha.
Tidak ada yang berani melihat langsung kejadian tadi karena Al mengedarkan pandangan ke semua karyawan dengan mata elangnya.
"Hehehe, mana berani Pak," kilah Icha.
"Bangun!" Al langsung mengulurkan tangannya agar Icha bisa bangun. Dengan terpaksa Icha pun menerima uluran tangan Al.
Dirasa Icha sudah berdiri tegak, Al langsung menarik Icha dan membawanya keluar dari kantin membuat desas desus diantara para karyawan yang sedang menikmati makan siangnya. Kevin dengan sigap mengembalikan situasi seperti semula.
"Silahkan kalian bergosip tentang CEO kita, tapi setelah itu tunggu surat pemecatan kalian!" seru Kevin.
Seketika desas desus itu pun terhenti, 'Daripada di pecat mending tidak bergosip' pikir semua karyawan dengan mode penyelamatan diri.
Sementara itu, Al langsung membawa Icha menuju basemen perusahaannya. Saat sampai mobilnya, barulah Al bersuara. "Masuk!" perintahnya.
Icha langsung masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Setelah Al berada di dalam mobil, barulah Icha pun angkat bicara.
"Al kita mau kemana?" tanya Icha.
"Pulang."
"Al kamu marah?"
Al hanya menatap Icha tajam tanpa berniat menjawabnya.
__ADS_1
Ngeri banget kalau lagi marah gini, tapi kenapa dia marah hanya karena aku gak mau makan bareng dia.
***
Sesampainya di apartemen, Al langsung membawa Icha ke apartemen miliknya. Padahal apartemen yang disewa Tante Mira tepat ada di depan apartemen Al.
"Cha, buatkan makanan untuk makan siang kita, aku ke kamar dulu!" suruh Al.
Tanpa menunggu jawaban dari Icha, Al langsung menuju kamarnya.
"Akh ICHA linunya belum ilang juga." keluh Al.
Al pun segera mengisi bathtub dengan air hangat, berharap linunya akan cepat hilang. Sementara Icha langsung menuju dapur untuk membuat makan siang. Dilihatnya begitu banyak bahan makanan di kulkas tapi Icha orangnya praktis gak mau ribet, jadinya yang dipilih mie rebus pake telur juga sayur sawi dan wortel. Setelah semuanya matang, Icha pun langsung menaruhnya di meja makan.
"Kenapa Al belum keluar juga ya!" gumam Icha. "Ah bodoh amat, mending aku ke balkon lihat mobil jadi pada kecil," lanjutnya.
Icha pun menuju balkon yang terhubung dengan dapur, dari lantai 10 apartement Al terlihat mobil yang lewat begitu kecil membuat Icha tersenyum melihatnya. Icha yang begitu asyik melihat ke bawah, tanpa sadar Al sudah ada dibelakangnya melingkarkan tangan ke perut rata Icha.
"Hari ini kamu sukses membuatku kesal, Cha. Hukuman apa yang kamu inginkan?" bisik Al tepat di samping telinga Icha, membuat Icha merinding geli.
"A A Al" gagap Icha. "Lepaskan!" pintanya
"Iya ini aku" Al bukannya melepaskan pelukannya, tetapi semakin mengeratkan tangannya di perut Icha
"Ka-kamu mau apa Al?"
"Aku ingin menghukum kamu!"
"Ja-jangan Al, tolong maafkan aku!"
"Kamu ingin aku maafkan hm?"
Icha sontak mengangguk-anggukan kepalanya
"Baiklah akan ku maafkan tapi kamu harus membayarnya."
"Hahh bayar pake apa?"
Al pun melepaskan pelukannya dan membawa Icha ke kursi malas yang ada di balkon dapur.
"Sungguh kamu ingin membayarnya?" tanya Al memastikan dan lagi-lagi Icha hanya menganggukkan kepalanya.
Perlahan Al mendekatkan wajahnya dan tanpa menunggu lama Al langsung melahap benda kenyal dengan pewarna merah yang sangat menggodanya.
...*****...
👉Next part
Mampir juga ke karya othor keceh satu ini... ceritanya bikin awet muda
__ADS_1