
"Berarti kamu suka sama aku!" Dika tersenyum manis dengan memamerkan giginya yang rapi.
Seperti terhipnotis, Allana hanya diam terpaku melihat senyum Dika yang seperti mengandung nikotin membuat dia menjadi candu untuk melihat senyum itu. Memang Dika suka tersenyum pada siapa pun tapi itu hanya senyuman yang sekilas sebagai senyuman keramahtamahan.
Di saat mereka dalam posisi yang terlihat intim, dari arah pintu datang Bi Sari dengan membawa nampan yang berisi minuman hangat dan beberapa cemilan.
"Permisi, Den! Ini minumannya," ucap Bu Sari.
Mendengar suara Bi Sari, Dika segera membenarkan posisi duduknya. Begitupun dengan Allana yang langsung merona. Dia malu terlihat begitu dekat dengan Dika.
"Masuk saja, Bi!" suruh Dika.
Bi Sari tersenyum melihat kedua anak baru gede itu terlihat malu karena ketahuan sedang berdekatan. Namun dia hanya diam tidak berani menggoda ataupun berkomentar. Setelah menyimpan apa yang dibawanya, Bi Sari pun bergegas undur diri tidak ingin mengganggu terlalu lama anak majikannya itu. Namun sebelum dia keluar, rasa gatal yang menyerangnya membuat dia tidak kuat untuk menggoda Dika.
"Den, hati-hati ya! Jangan sampai kebablasan, mending di resmikan dulu!" bisik Bi Sari.
Dika hanya tersenyum menanggapi godaan Bi Sari tapi tidak dengan hatinya yang mengingatkan Dika bagaimana dia terlahir.
Setelah Bu Sari keluar dari ruang baca, Dika langsung menjaga jarak dan mengajak Allana bermain game online untuk mengisi waktu sambil menunggu hujan reda
Di saat yang bersamaan, di sebuah apartemen elit, terlihat dua anak manusia yang sedang duduk di atas sofa depan televisi. Dengan berbalut baju seragam sekolah, anak gadis itu terus memilin ujung rok seragamnya.
"El, kenapa kamu tidak bisa memberi aku kesempatan untuk menjadi kekasihmu? Kamu kan tahu kalau aku menyukaimu dari kita masih kecil." Gadis yang bernama Arabella itu seperti sudah tidak punya rasa malu, karena dia selalu merengek ingin menjadi kekasih teman kecilnya.
"Ara, kamu itu terlalu berisik, aku tidak suka!" Sudah berulang kali Elvano menolak keinginan Arabella tapi sepertinya gadis itu pantang menyerah.
"El, coba dulu pacaran sama aku. Sebulan aja dulu, kalau kamu nanti jatuh cinta sama aku, kita lanjut sampai nikah," saran Arabella.
Elvano terdiam mendengar apa yang dikatakan gadis ini yang selalu mengusik hari-harinya. Di saat gadis lain selalu malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya, dia justru selalu berterus terang dan mengklaim kalau Elvano miliknya membuat pemuda tampan itu justru menjadi risih.
__ADS_1
"Kalau kamu ingin jadi pacar aku, kamu harus mau tidur denganku dan menyerahkan dirimu seutuhnya sama aku," cetus Elvano yang sebenarnya ingin gadis di depannya itu menyerah dengan syarat yang diberikannya.
"Aku bersedia, aku milikmu seutuhnya." Arabella langsung duduk di pangkuan Elvano dan memeluk tubuh Elvano erat. Dia senang setelah sekian tahun akhirnya keinginannya untuk menjadi pacar Elvano terkabul
Elvano langsung membulatkan matanya kaget dengan apa yang di dengarnya, dia tidak menyangka teman kecilnya akan segila itu menyetujui syarat yang dia berikan.
"Ka-ka-kamu yakin Ara?" tanya Elvano gugup karena Arabella tidak mau diam di atas pangkuannya membuat yang di bawah sana jadi menegang.
"Kenapa aku tidak yakin? Orang tua kita bersahabat sudah sangat lama, kalau nanti aku sampai hamil, kan tinggal nikah sama kamu." Gadis itu terus mendusel-dusel di dada Elvano yang masih terbalut seragam sekolah.
Lagi-lagi Elvano membulatkan matanya, dia merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Kenapa pikiran dia sangat pendek, bagaimana kalau nanti aku mencampakkannya setelah mendapatkan mahkotanya, batin Elvano.
"El, kenapa diam? Katanya kamu mau kita tidur bersama, ayo aku sudah siap!" ajak Arabella seraya menengadahkan kepalanya melihat ke arah lelaki yang sangat dicintainya.
"Aku berubah pikiran, aku tidak mau kita ...." Elvano menggantungkan ucapannya saat benda kenyal itu terasa dingin menyapa bibirnya. Hasratnya bergejolak, apalagi yang di bawah sana sudah meminta untuk dilepaskan dari sangkarnya.
Tak berbeda jauh dengan gadis itu, Elvano pun ikut terhanyut dalam permainan yang pertama kali dia rasakan. Meskipun dia sering bergonta-ganti pacar, tapi sekalipun dia belum pernah melakukan hal jauh seperti apa yang dilakukannya sekarang.
Di saat pasokan oksigen keduanya sudah menipis, mereka pun melepaskan pagutannya. Elvano dan Arabella langsung berebut oksigen dengan rakus, menetralkan degup jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Ara, kamu yang memulainya dan kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan!" ucap Elvano dengan napas yang masih memburu.
"Aku akan bertanggung jawab, El! Kalau kamu memintaku untuk menikahi kamu, aku akan bersedia!"
"Tidak! Bukan itu, kamu harus membantuku menidurkannya kembali." Elvano langsung menyerang kembali Arabella yang masih terduduk di pangkuannya. Hasratnya sudah mengalahkan akal sehatnya sampai terdengar suara ponsel miliknya yang terus berdering, barulah dia melepaskan kecupannya yang sudah merambah ke bukit kembar Arabella.
Diraihnya ponsel yang dia simpan di saku celananya, terlihat nama 'Mommy' dalam layar ponselnya. Elvano pun langsung menggeser ke gambar gagang telepon yang berwarna hijau untuk menerima panggilan telepon dari mamanya.
__ADS_1
"Hallo, Mah! Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, El lagi di mana? Adik kamu juga belum pulang, mama khawatir! Mana hujannya gede lagi," keluh Mitha di seberang sana.
"El di apartemen, Mah! Kata Ara, Lana ikut sama Dika." Elvano langsung mengikuti apa yang Arabella katakan dengan isyarat bibirnya.
"Kamu sedang dengan Ara di apartemen? Apa kalian hanya berdua? El kamu jangan macam-macam!" Terdengar suara mamanya yang kaget dengan apa yang di dengarnya.
"Mama tenang aja! Mana mau El sama Ara, dianya saja yang terus ngikutin aku!" Seperti tanpa beban Elvano bicara di depan Arabella membuat gadis itu menggembungkan pipinya.
Mana mau katanya? Tadi aja minta nambah saat aku cium duluan! gerutu Arabella dalam hati.
Elvano pun berpindah ke balkon melihat air hujan yang semakin deras mengguyur ibu kota dengan ponsel yang menempel di telinganya. Percakapannya masih berlanjut dengan mama tercintanya.
"El, awas saja kalau sampai kamu rusak anak orang sekalipun itu Ara, mama gak mau lagi ngakuin kamu sebagai anak. Ingat kamu itu punya adik perempuan yang harus kamu jaga!" Jurus kereta api emak-emak keluar begitu saja dari mulut Mitha saat tahu putranya hanya berdua dengan putri sahabatnya. Bukan tanpa alasan dia merasa khawatir, tapi takut Arabella mengikuti jejak mamanya yang mengorbankan segalanya demi sebuah kata yang keramat bernama CINTA.
"Iya, Mah! El pasti ingat apa yang mama katakan! Mah udah dulu, di sini ada petir. Assalamu'alaikum." Elvano langsung mematikan teleponnya. Kupingnya terasa panas karena sedari tadi mendengar nasihat mamanya. Namun baru saja dia memutuskan sambungan teleponnya, tiba-tiba ada tangan mungil yang melingkar di perutnya. Elvano terdiam sesaat hingga akhirnya dia membalikkan badannya menghadap Arabella.
"Ara, memang kamu tidak malu selalu mengejar aku?" tanya Elvano dengan menatap lekat wajah cantik Arabella yang mungil seperti Barbie.
"Hanya kamu yang aku kejar, jadi untuk apa aku malu. Lagipula papa sama mamamu tidak masalah kalau aku suka sama kamu." Arabella menatap dalam manik mata lelaki yang mampu membuatnya seperti orang gila. Dia terus mengejarnya meski selalu mendapat penolakan sampai saat kemarin dia memegang kartu as Elvano, membuat Elvano mengikuti apa yang diinginkan oleh gadis itu.
Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu, El! batin Arabella
Sial banget harus berurusan dengan Ara! Tapi, ciumannya tadi membuat aku ingin merasakannya lagi. Bukankah kalau hanya kiss gak bakal hamil ya! batin Elvano.
Saat keduanya terhanyut dalam suasana, dengan guyuran air hujan yang deras membuat kedua tubuh itu saling mendekat dengan sendirinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...