
Mendengar apa yang dikatakan dokter, Al yang tadinya lemas mendadak bersemangat. Dengan satu gerakan, dia menarik Icha hingga terjerembab ke dada bidangnya
"Makasih sayang," ucap Al dengan begitu bersemangat dan tanpa malu mencium bibir Icha sekilas.
Melihat apa yang Al lakukan, Dokter Rio pun segera memperingati Al, "Maaf Tuan muda! Sebaiknya anda lebih berhati-hati, jangan sampai terjadi benturan di perut Nona," ucapnya
"Aku terlalu bersemangat Rio, terima kasih. Nanti Kevin yang akan mengurus bonusmu," ujar Al
"Satu hal lagi tuan muda, sebaiknya anda segera membawa Nona periksa ke dokter kandungan," saran Dokter Rio.
"Baiklah Rio, tolong aturkan jadwalku dengan dokter kandungan," ucap Al
"Baik Tuan muda," ucap Dokter Rio
Setelah menuliskan resep dan memberikannya pada Kevin, dokter itu pun pamit pulang.
"Wah selamat ya Al, jadi hot daddy nih," gurau Kevin
"Aku hebat kan, Vin. Udah mau punya anak dua, kamu kapan nyusul?" Sombong Al
"Boro-boro punya anak, merawanin istri sendiri aja belum," gerutu Kevin dalam hati.
"Aku pasti akan secepatnya nyusul kamu, Al. Nanti kalau anak kita berlainan jenis kelamin, kamu harus menjodohkannya dengan anakku," ucap Kevin
"Tidak masalah kalau memang anakku tertarik dengan anakmu," jawab Al enteng
"Memang Kevin dah punya anak? Nikah sama siapa?" tanya Icha yang merasa aneh dengan pembicaraan suami dan asistennya.
"Diakan nikah sama Vio, sayang. Memangnya Vio tidak memberitahumu?" Al malah balik bertanya pada istrinya, sementara Icha hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Kevin yang menyadari kalau Al keceplosan, akhirnya meminta Icha untuk merahasiakannya.
***
Sore harinya, seperti apa yang dikatakan oleh dokter Rio, Al pun membawa Icha untuk memeriksakan kandungannya pada dokter Obgyn yang sudah didaftarkan oleh dokter Rio.
__ADS_1
Setelah mengkonfirmasi kedatangannya pada resepsionis, Al pun langsung menuju ke ruangan dokter Obgyn. Terlihat seorang wanita paruh baya menyambut kedatangannya, sudah bisa dipastikan kalau beliau adalah dokter senior yang sudah memiliki banyak pengalaman dibidangnya.
Setelah cukup berbasa-basi dan menanyakan keluhan apa yang dirasa saat kehamilan, dokter Arumi pun segera membawa Icha pada ranjang kecil yang biasa dipakai untuk melakukan USG. Seorang perawat melulurkan sebuah gel khusus pada bagian yang akan dilakukan pengecekan untuk menghindari gesekan. Gel tersebut juga untuk memudahkan pengiriman gelombang suara ke dalam tubuh. Saat alat tersebut menyentuh kulit, gelombang suara akan dipantulkan kembali, sehingga muncul gambar yang baik.
Terlihat di monitor ada sebuah titik hitam yang merupakan gambar dari janin yang berkembang dengan baik di dalam perut Icha, Al yang tidak mengerti dengan gambar yang ada di monitor pun hanya diam saja.
"Anda lihat Tuan titik hitam ini, ini adalah calon anak anda, kantung kehamilannya dalam kondisi baik dan perkembangan janinnya pun baik. Kalau dilihat dari perkembangan janin, usia kandungannya sudah lima Minggu," terang Dokter Arumi seraya menggerak-gerakan alat untuk USG di perut Icha.
"Sekecil itu Dok? Apa dia laki-laki atau perempuan?" tanya Al merasa heran kenapa anaknya hanya titik hitam.
"Untuk usia kehamilan lima Minggu memang akan terlihat seperti titik hitam, kalau ingin melihat keseluruhan bentuk janin nanti saat kandungan sudah tujuh bulan. Karena saat usia segitu janin sudah terbentuk sempurna," jelas Dokter Arumi dengan sabar.
"Sayang aku sudah tidak sabar ingin segera melihat anak kita!" seru Al dengan wajah yang berbinar.
Icha hanya tersenyum.menanggapinya. Ada kehangatan di hati Icha saat melihat Al begitu mengharapkan kehadiran bayi kecil diantara mereka.
Dokter Arumi pun menjelaskan dengan detail apa yang harus dan tidak boleh ibu hamil lakukan untuk menjaga kehamilannya.
Setelah merasa puas mendengarkan penjelasan Dokter Arumi, Al dan Icha pun undur diri karena memang masih ada pasien lain yang menunggu di luar.
"Icha....Icha...." panggil Pak Bagas yang kebetulan mengantar Serena untuk periksa kandungannya
Sayup-sayup Icha mendengar ada yang memanggil namanya, sehingga dia pun menghentikan langkahnya. Begitupun dengan Al yang ikut menghentikan langkahnya.
"Kenapa kho berhenti?" tanya Al
"Tadi kaya ada orang yang memanggilku," jawab Icha.
Pak Bagas datang tergopoh-gopoh menghampiri Icha dan Al yang terdiam di tempat.
"Icha apa kabar?" tanya Pak Bagas, "Bagaimana keadaan Tantemu?" lanjutnya
"Om, Icha baik," ucap Icha seraya mencium punggung tangan Pak Bagas. "Udah lama Icha gak ketemu Tante, Om."
"Entah kenapa Om kepikiran dia terus, Apa dia baik-baik saja?" Terlihat raut cemas di wajah Pak Bagas
__ADS_1
"Om ingin memastikan keadaannya, tapi Om tidak tahu dimana dia tinggal. Bisakah Icha mengantar Om atau memberikan alamat rumahnya yang sekarang,"
Melihat raut wajah Pak Bagas yang terlihat begitu cemas, akhirnya Icha menyanggupi.
"Kita ke sana bareng aja, Om. Apa Om ada waktu sekarang? Sekalian Icha pulang,"
"Ayo kita berangkat!" Pak Bagas langsung menyetujui ajakan Icha tanpa peduli pada Serena yang sedang mengantri menebus resep obat.
Mengetahui Pak Bagas pergi meninggalkannya, Serena pun langsung meminta Dedi untuk menjemputnya.
Tak berselang lama, Dedi datang menemui Serena.
"Mau ke rumahku dulu apa langsung pulang?" tawar Dedi
"Aku langsung pulang aja," ketus Serena yang masih kesal karena ditinggal oleh Pak Bagas.
"Apa anak kita tidak merindukan papanya? Sudah seminggu ini aku tidak menengoknya, Serena." Tangan Dedi terus mengelus sayang perut Serena.
Wajah Serena yang tadinya masam berubah jadi sendu, karena semenjak Pak Bagas meragukan anak yang ada di kandungannya, sedikitpun dia tidak pernah menyentuhnya apalagi mengelus sayang seperti apa yang dilakukan Dedi. Sehingga Serena selalu diam-diam menemui Dedi untuk memuaskan hasratnya yang tidak dia dapatkan dari Pak Bagas.
"Kita pulang saja, lagipula Bagas pergi dengan anak pungutnya tidak tahu mau ke mana," ujar Serena
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan saat bersama Serena, Dedi pun langsung membawa Serena pulang setelah mendapatkan obat yang diresepkan dokter.
Saat sampai rumah Pak Bagas, terlihat suasana rumah yang sepi karena memang penghuninya sedang berada di luar. Dengan leluasa Dedi merangkul Serena dan membawanya masuk ke dalam rumah Bagas. Tidak tahan menahan gejolak hasratnya, Dedi pun langsung mencumbunya di sofa ruang tamu dengan Serena yang duduk di pangkuannya. Merasa posisinya yang kurang nyaman untuk menengok bayi dalam kandungan Serena, pasangan itu pun berpindah ke kamar tamu yang tidak jauh dari situ.
Dedi terus berpacu memuaskan hasratnya dan hasrat Serena, melupakan tempat dimana mereka berada sekarang. Suara laknat memenuhi kamar hingga terdengar ke ruang tamu, menggema saat mereka mendapatkan pelepasan bersama, membuat seseorang yang baru datang merasa kaget dengan suara yang di dengarnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
...*****...
...Dukung terus Author ya kawan, dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih...
__ADS_1
👉Next part