
Sesampainya di kamar, Al pun membawa Dika ke kamar mandi dulu untuk mencuci kaki dan tangannya. Sedangkan Icha hanya mematung di ambang pintu karena dia bingung harus masuk atau tidak.
"Cha, katanya mau ke kamar mandi. Kho masih diam di situ." tegur Al. "Masuk aja! Aku akan menemani Dika tidur" lanjutnya.
Icha pun akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam kamar Al untuk menumpang ke kamar mandi. Setelah selesai dengan urusannya, Icha memutuskan untuk ke ruang tengah karena tidak mungkin dia ikut tidur bersama Al dan Dika.
Al terbangun saat mendengar pintu yang tertutup. Dilihatnya wajah damai Dika yang tertidur lelap, seulas senyum menghiasi bibirnya.
"Terima kasih nak sudah hadir diantara Mama dan Papa, meski kamu hadir karena kesalahan Papa." gumam Al
Setelah memastikan Dika baik-baik saja meskipun ditinggal, Al pun beranjak pergi menuju ruang tengah berniat menyusul Icha. Sesampainya di sana, terlihat Icha pun sudah terlelap di atas sofa dengan TV yang menyala.
Al duduk di bawah sofa dekat dengan kepala Icha, lalu dia pun menelungkupkan kepalanya di sofa dengan mata yang terus menatap Icha yang sedang terpejam.
"Tidurlah Cha! Aku akan menjagamu disini" lirih Al.
Al terus memandangi wajah Icha yang tertidur pulas, hingga Teh Lina mengurungkan niatnya saat dia akan ke ruang tengah untuk menyimpan minuman dan beberapa cemilan.
"Den Al sepertinya sangat mencintai Neng Icha, sampai tidur aja dilihatin begitu. Romantis banget Den Al," gumam Teh Lina
Kang Asep yang akan menawari Icha buah mangga yang baru dipetiknya pun ikut mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Sepasang suami istri itu sama-sama mematung di ambang pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan taman dan ruang makan.
"Kita balik lagi aja Lin, kalau Neng Icha sudah bangun baru ke sini lagi." ucap Kang Asep
Terdengar sayup-sayup suara adzan dari mesjid yang tak jauh dari rumah Al, Icha mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya. Namun betapa kagetnya dia, saat melihat Al tertidur dengan wajah tepat di depannya hanya berjarak satu jengkal.
"Kenapa dia tidur begitu, apa tidak pegel-pegel badannya nanti? Tapi saat dia tidur begini, wajahnya memang sangat mirip dengan Dika. Aku tidak menyangka wajah si culun akan seganteng ini" gumam Icha pelan
Al tersenyum saat mendengar gumaman Icha, meski matanya terpejam, tapi sebenarnya Al sudah terbangun saat Icha menggerakkan badannya.
"Sedang mimpi apa dia sampai tersenyum begitu? Senyumnya membuatku oleng. Oh tidak tidak, aku harus menjaga hatiku agar tidak terjatuh dalam pesonanya." lagi-lagi Icha bergumam pelan namun Al masih bisa mendengarnya.
"Jangan selalu membohongi dirimu sendiri, Cha. Aku sangat tidak keberatan kalau kamu oleng dan terjatuh dalam pesonaku, karena aku akan menangkapnya" ucap Al seraya membuka matanya lalu tersenyum dengan sangat manis.
Lagi-lagi Icha terpaku melihat senyuman Al yang sangat jarang dilihatnya saat bersama yang lain.
__ADS_1
Ceklek! Terdengar suara pintu kamar Al dibuka, Al mendongakkan kepalanya.Terlihat Dika sedang mengucek-ngucek matanya, dengan segera Al menghampiri.
"Udah bangun jagoan Om" sapa Al, "Ayo kita bersiap, katanya mau ke alun-alun" lanjutnya.
***
Sementara di sebuah rumah bergaya minimalis terlihat sepasang suami istri yang sedang bersitegang.
"Mama tadi beneran ke rumah Bu Anwar?" tanya Pak Yusuf ketus
"I iya Pah" gagap Bu Tasya
"Mah, bukan hanya berselingkuh yang dosa, tapi bohong sama suami juga dosa" tegur Pak Yusuf
"Maksud Papa apa? Memangnya Mamah bohong apa sama Papa? Papa jangan asal tuduh sama Mama kalau tidak punya bukti. Lagian Mama juga tidak suka bohong" cerocos Bu Tasya
"Papa tahu Icha pulang kesini kan? Mama habis ketemu sama Icha kan?" tebak Pak Yusuf
"Pa Papa tahu darimana?" gagap Bu Tasya karena ketahuan bohong oleh suaminya.
"Tadi pagi ada temannya datang mencari Icha kesini, dia pikir Icha pulang ke rumah. Katakan! sekarang Icha dimana?" tegas Pak Yusuf
"Icha sudah pulang lagi ke kota J Pah" bohong Bu Tasya.
"Jadi selama ini Icha di kota J?" seru Pak Yusuf
"Keceplosan lagi" gumam Bu Tasya
"Iya Pah, dia sudah bekerja di perusahaan besar" jawab Bu Tasya
"Apa anak itu sudah besar?" tanya Pak Yusuf sendu
"Udah Pah! Anak laki-laki yang sangat tampan, tapi sepertinya anak itu mirip ayahnya karena tidak mirip Icha sama sekali" kenang Bu Tasya saat pertemuannya tadi dengan Icha dan Dika cucunya.
"Padahal aku juga sangat ingin bertemu dengan putri kesayanganku. Tapi sepertinya Icha takut bertemu denganku. Maaafkan Papa, Nak! Kalau selama ini terlalu keras mendidikmu" batin Pak Yusuf
__ADS_1
"Papa ingin bertemu dengan Icha?" tebak Bu Tasya yang melihat suaminya menjadi murung, "Nanti pas nikahan Farish kita berkunjung ke rumahnya aja Pah, sekalian kita bertemu dengan orang yang sudah merawat Icha selama ini. Mama ingin berterima kasih dengan orang baik yang sudah menolong Icha" lanjutnya.
"Iya! Minggu depan juga kita ke kota J" jawab Pak yusuf
"Tapi Papa jangan marahin Icha lagi Pah, Mama tidak ingin sampai kehilangan jejak Icha lagi" pesan Bu Tasya
"Papa tidak akan marah-marah lagi sama Icha, asal Icha masih mau mengakui Papa sebagai ayah kandungnya" ucap Pak Yusuf seraya pergi ke mesjid untuk menunaikan sholat ashar.
"Apa mungkin si Papa sebenarnya menyesal membuat Icha kabur dari rumah?" gumam Bu Tasya
***
Setelah membersihkan diri di rumah Al, kini Icha, Al dan Dika bergegas untuk kembali ke cottage yang Icha tempati. Namun sebelumnya mereka akan mampir ke alun-alun kota seperti yang Al janjikan.
"Al kho lewat sini?" tegur Icha saat mobil Al mengarah ke rumah Icha.
"Lewat depan rumahmu kan lebih cepat sampai ke alun-alun, Cha" jawab Al enteng. "Dika mau mampir ke rumah Enin gak?" imbuhnya
"Mau Om!" jawab Dika antusias
Icha langsung terdiam mendengar ucapan Al, bagaimana bisa Icha membawa Dika ke rumahnya. Sementara untuk bertemu Papanya saja dia masih takut.
Melihat Icha yang langsung murung, Al pun langsung meralat ucapannya.
"Mungkin nanti kalau kita ke sini lagi ya Dek, kalau sekarang takut gak puas main di alun-alunnya karena kesorean" ucap Al
Icha hanya melirik sekilas ke arah Al saat Al membatalkan untuk mampir ke rumahnya. Hati Icha menjadi tidak karuan saat
melihat lapangan Volly tempat Icha dulu sering menghabiskan waktunya bersama Abizar dan Farish Kakaknya untuk bermain, pertanda sebentar lagi dia akan melewati rumahnya dan juga rumah Abizar.
Tanpa sengaja netranya menangkap sesosok pria dewasa yang menjadi cinta pertamanya sedang berjalan sendiri dengan memakai baju koko, sarung dan kopiah.
"Papaa" gumam Icha pelan.
...*****...
__ADS_1
...Terima kasih sudah membaca karya author, semoga berkenan di hati pembaca semua....
👉Next part