Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 45 Papa


__ADS_3

Setelah makan siang bersama di toko kue Bu Mira, Al pun langsung membawa Icha dan Dika menuju Er's boutiqe yang merupakan butik langganan mamanya dulu.


Sesampainya di sana, Al disambut oleh Bu Winda yang merupakan pemegang Er's boutiqe karena pemiliknya sudah meninggal jadinya di kelola oleh asistennya.


"Siang Tan" sapa Al


"Siang Al, apa ini istri dan putramu? tampan sekali Al, sangat mirip denganmu" celoteh Bu Mira


"Iya Tan, kita mau cari baju untuk acara nikahan Kakak iparku" ucap Al


"Apa gak dikenalin dulu Al istrinya" protes Bu Winda


"Ini Icha, Tan. Yang ganteng Ini namanya Dika" ucap Al


Icha hanya tersenyum kikuk saat dikenalkan sebagai istrinya Al.


Setelah saling menyapa, Icha dan Al pun dibawa oleh Bu Winda ke dalam untuk melihat koleksi terbaru butiknya. Terlihat ada dua gadis kecil yang usianya 2 tahun di atas Dika sedang asyik bermain smartphone.


"Ara, Lana kenalin nih ada teman baru" ucap Bu Winda


Kedua gadia kecil itu langsung menghentikan permainannya dan menghampiri Bu Winda yang dipanggilnya Oma.


"Kayaknya Lana udah kenal Oma sama dia" tunjuk Allana, gadis kecil yang dipanggil Lana.


"Ara belum kenal Oma. Hai ganteng tapi lebih gantengan El, kenalin namaku Arabella biasa dipanggil Ara cantik. Nama kamu siapa?" sahut Ara


"Dika" jawab Dika datar


"Kalau Tante cantik tapi lebih cantikan Ara namanya siapa?" tanya Ara lagi


"Kenalin cantik, nama Tante, Icha" ucap Icha dengan tersenyum merasa lucu dengan tingkah gadis kecil di depannya.


"Kalau Om ganteng tapi lebih gantengan El, Ara udah tahu namanya" ucap Ara


"Ara kamu cerewet banget sih?" tegur Allana


"Kata Oma kita harus ramah dengan pelanggan Lana" bela Ara


"Udah-udah jangan ribut, Oma titip Dika dulu ya! Om dan Tante Icha mau fitting baju dulu" ucap melerai kedua gadis kecil itu


Ara memang selalu ramah pada siapapun meskipun kadang ramahnya sedikit berlebihan, berbeda dengan Allana yang cuek dan cenderung judes pada orang yang belum dikenalnya.


"Dika, kamu udah sekolah belum?" tanya Ara


"Udah" jawab Dika dengan mata terus melihat ke arah Allana


"Kenapa kamu lihatin aku terus?" ketus Allana

__ADS_1


"Kak Allana cantik, tapi kenapa galak" tanya Dika


"Bukan urusan kamu" ketus Allana


"Sudah Dika mainnya sama Ara aja, Lana emang suka gitu. Baiknya hanya sama Om Zyan aja"


"Biarin, Om Zy kan emang pangerannya Lana wle" ucap Allana dengan menjulurkan lidahnya ke arah Ara dan Dika.


Ara pun mengajak Dika untuk bermain smartphone bersamanya sedangkan Allana bermain sendiri dengan smartphonenya


Sementara Al yang sedang menunggu Icha mencari baju yang pas untuk acara pernikahan Kakaknya sedikit berbincang dengan Bu Winda.


"Tan, bukannya Allana itu putrinya Pak Andrea dari AP Group ya?" tanya Al


"Kamu kenal dengan Andrea, Al" tanya Bu Winda


"Dia rekan bisnisku, Tan" jawab Al


"Wah ternyata dunia ini sempit ya, Andrea itu putra pemilik butik ini Al" jawab Bu Winda


Setelah mendapatkan apa yang dicari, Al pun mengajak Icha dan Dika untuk pulang ke apartementnya karena kepalanya terasa sangat pusing.


Sesampainya di apartement, Al segera membantingkan badannya ke sofa dengan terus memijit keningnya. Sebenarnya dari mulai berangkat menjemput Dika, Al sudah merasa pusing cuma dia menahannya.


Icha yang melihatnya menjadi khawatir apalagi selama perjalanan pulang tadi dia lebih banyak diam.


"Kamu kenapa, Al?" tanya Icha


"Sudah"


"Cha, tolong ambilkan obat yang ada di laci nakas kamarku" pinta Al


Icha pun segera mengambil obat yang ada di nakas samping tempat tidur Al. Setelah mendapatkannya, Icha ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil air putih.


"Al, ini obatnya dan ini air minumnya" ucap Icha seraya memberikan botol obat pada Al.


"Makasih" ucap Al setelah dia meminum obatnya.


"Al, sebaiknya kamu tidur di kamar aja. Aku mau pulang dulu" ucap Icha


"Baiklah!"


Al pun menuju kamarnya dengan langkah gontai. Setelah memastikan Al tidur dengan nyaman, Icha segera pulang ke apartementnya karena ingin berganti pakaian.


"Biarlah Dika tidur bersama Al dulu" gumam Icha.


***

__ADS_1


Setelah Icha membersihkan diri dan berganti pakaian, Icha pun berniat untuk kembali ke apartementnya Al. Namun saat membuka pintu apartementnya, betapa terkejutnya Icha saat mendapati Mama dan Papanya berdiri di depan pintu dengan di belakangnya ada Farish dan calon istrinya.


"Mama Papa" lirih Icha


Pak Yusuf langsung menerobos masuk dan memeluk Icha. Dia tidak peduli nanti istrinya akan bicara apa. Yang dia tahu, dia ingin segera memeluk putri kesayangannya.


Icha yang mendapat pelukan dadakan dari Papanya hanya diam mematung, hingga dia mendengar suara Papanya barulah dia tersadar.


"Maafkan Papa, Dek!" lirih Pak Yusuf


"Icha yang harusnya minta maaf sama Papa. Maafkan Icha udah jadi anak durhaka, tidak mau mengikuti apa yang Papa katakan" lirih Icha dengan terisak.


Setelah puas melepas rindu dengan Papa Mamanya, Icha pun segera menyuruh masuk Kakak dan juga calon Kakak iparnya yang masih mematung di ambang pintu.


"Kenalin Dek, calon istri kakak" ucap Farish


"Icha Kak"


"Violet"


"Bentar Kak, apa Kakak punya adik bernama Viola" tebak Icha


"Iya, dia bekerja di Putra Group" jawab Violet


"Ya Allah, Kak! Dia kan sahabat aku, dulu kita satu bagian sebelum akhirnya kita di pisahkan karena ketahuan sedang rumpi oleh Pak CEO" ungkap Icha


"Kamu rumpi di saat kerja Dek?" tanya Farish heran.


Icha hanya cengengesan membenarkan apa yang Farish katakan.


"Ya Ampun Dek! Ini tuh bukan jaman sekolah yang bisa berbuat semaunya. Untung kamu pacaran sama CEOnya. Kalau tidak, bisa dipecat kamu" tegur Farish


"Iya Icha emang salah" cebik Icha


"Gak dikenalin sama Mama Papa, Dek" tanya Bu Tasya


"Kak Farish bohong, Mah! Dia mah lagi ngingau. orang Icha masih jomblo juga" gerutu Icha


"Tidak apa-apa, Dek beneran juga. Mama merestui" ucap Bu Tasya


Setelah saling bercerita untuk melepas rindu, Bu Tasya, Pak Yusuf, dan calon pengantin pun akhirnya pamit undur diri karena hari sudah beranjak gelap.


Setelah kepergian keluarganya, Icha pun segera ke apartement Al untuk memastikan keadaan Dika dan Al yang sedang sakit. Sesampainya di sana, Icha disuguhkan oleh pemandangan yang membuat matanya mengembun. Bagaimana tidak, Al dengan sabar mengajari Dika belajar menggambar sampai Dika bisa menggambar dengan hasil yang bagus untuk anak seusianya.


Icha jadi teringat dengan Papanya, meski Papa tegas dalam mendidiknya tapi dia juga sayang dan perhatian pada Icha


"Seorang anak memang butuh figur seorang ayah, agar dia bisa belajar tentang disiplin, kemandirian dan arti tanggung jawab. Lalu bagaimana dengan Dika saat Om Bagas yang dijadikan role modelnya jauh. Apa aku harus jujur dengan Al tentang Dika?"

__ADS_1


...*****...


👉Next part


__ADS_2