
Mentari bersinar begitu cerahnya, secerah hati seorang gadis yang akan bertemu dengan kekasih hatinya. Semalam Abizar memberitahu akan menjemput Aisha sepulang kerja. Tentu saja hal itu membuat hati Aisha begitu berbunga-bunga. Sudah lebih dari sebulan dia tidak bertemu dengan Abizar dan hari ini kerinduannya terobati sudah.
"Sha, hari ini lembur ya! Aku butuh laporan keuangan untuk besok meeting. Apa kamu sudah memeriksa semuanya?" tanya Al saat melihat Aisha hanya tersenyum di depan monitor tanpa mengerjakan apapun.
"Aku gak bisa, Al! Hari ini aku ada urusan penting, jadi aku minta maaf tidak bisa mengikuti perintah kamu untuk kali ini," tolak Aisha.
Al hanya mendengus kesal karena Aisha menolak perintahnya. Padahal sebelumnya, Aisha selalu menuruti apa yang Al katakan.
Sementara Aisha hanya menatap punggung kokoh sepupunya berlalu pergi tanpa mengucapkan kata lagi. Sampai jam kerja berakhir, Al tidak keluar lagi dari ruangannya. Begitupun dengan Aisha yang mulai fokus kembali mengerjakan pekerjaannya setelah Al menyuruhnya untuk lembur.
Setelah berpamitan pada Al, Aisha pun langsung menuju ke lobby perusahaan karena Abizar sudah menunggunya di sana.
Dengan senyum yang tak surut dari bibir tipisnya, Aisha mendekati Abizar yang sedang asyik melihat layar ponselnya.
"Sudah lama Bee?" tanya Aisha dengan sedikit mendongakkan kepalanya mengintip apa yang Abizar lihat.
Abizar langsung membalas senyuman Aisha yang terlihat semakin cantik di matanya. "Baru lima belas menit," ucap Abizar seraya melihat ke jam tangan.
"Jalan yuk!" ajak Aisha seraya menjulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Abizar.
Mereka pun berjalan beriringan saling menautkan jari jemari seolah takut kehilangan satu sama lain, hingga terdengar suara yang sudah tidak asing di telinganya.
"Sepertinya ada yang melepas rindu nih! Pantas saja tadi disuruh lembur gak mau," goda Kevin yang baru turun bersama dengan Vio.
"Ya, iyalah! Emang situ doang yang pacaran tidak mengenal waktu, gak di rumah, gak di kantor kerjaannya nempel terus," cibir Aisha membalas Kevin.
"Wajarlah, Sha! Kita 'kan udah halal, jadi mau di mana saja juga sudah sah." Kevin terus menggandeng Vio yang perutnya sudah mulai membuncit.
"Halal juga tahu tempat, Vin. Jangan bermesraan di depan seorang gadis terus!" sungut Aisha.
"Hahaha... Kamu pengen ya, Sha! Tuh udah ada layan. Mau koprol atau nungging juga gak masalah, asal jangan sampai enak-enakan!" Kevin pun mendadak berubah jadi kompor meleduk.
Sementara Abizar hanya tersenyum mendengar perdebatan kekasihnya itu. "Kamu ingin seperti mereka," bisik Abizar seraya menunjuk Kevin dan Vio.
Aisha memukul tangan Abizar pelan untuk melampiaskan rasa malunya karena Abizar mengetahui keinginannya.
"Gak usah malu, Sha! Kita juga bisa buat kenangan indah. Ayo kita mulai membuat kenangan yang tidak bisa kita lupakan." Abizar membawa Aisha masuk ke mobilnya, kemudian dia membawa Aisha ke suatu tempat yang sudah dia persiapkan sebelumnya.
__ADS_1
"Bee, kenapa kemarin-kemarin susah sekali dihubungi?" tanya Aisha saat mereka berada di mobil
"Aku sibuk, Sha! Aku ingin cepat-cepat selesai dan kembali ke sini." Dengan mata yang menatap lurus ke arah jalan.
"Bukan karena kamu punya lagi di sana, kan?" Aisha memicingkan matanya menyelidik reaksi Abizar.
"Untuk apa aku mencari gadis lain, sedangkan ada gadis cantik yang menungguku di sini." Abizar menghentikan mobilnya saat sudah sampai pada sebuah rumah berlantai dua dengan gaya modern minimalis.
Merasa mobil yang dibawa oleh Abizar berhenti, Aisha pun langsung mengedarkan pandangan melihat ke sekelilingnya. "Bee, mau ke rumah siapa?" tanya Aisha heran.
"Yuk turun!" Bukannya menjawab, Abizar malah mengajak Aisha turun dari mobilnya.
Aisha pun hanya mengikuti apa yang Abizar katakan. Dia terus mengikuti ke mana pun Abizar melangkahkan kakinya.
"Assalamualaikum," ucap Abizar.
"Wa'alaikumsalam," jawab orang yang berada di dalam rumah seraya membuka pintu rumahnya yang terkunci dari luar.
"Loh, Mama!!!" pekik Aisha kaget saat mendapati calon mertuanya ada di rumah itu.
"Alhamdulillah baik, Mah!" Aisha langsung mencium punggung tangan Bu Irene. "Kapan Mama datang?" lanjutnya.
"Baru kemarin, Sha! Ayo masuk, masa di depan pintu!" ajak Bu Irene dengan menarik tangan Aisha agar masuk ke dalam rumah barunya.
Setelah ketiganya duduk, Bu Irene pun mulai berbicara serius pada Aisha. "Maaf ya, Sha! Abi tidak buru-buru melamar kamu. Dia ingin, saat kalian menikah nanti sudah memiliki sebuah rumah. Jadi kemarin-kemarin uangnya Abi tabung dulu untuk membeli rumah ini," terang Bu Irene.
Mendengar penuturan Bu irene, tak terasa mata Aisha sudah berkaca-kaca. Perasaan haru memenuhi rongga hatinya. Dia yakin tidak salah memilih Abizar sebagai calon imamnya.
"Beneran, Bi?" tanya Aisha memastikan pendengarannya.
"Iya, Sayang!" Abizar mengelus sayang rambut Aisha yang panjang. Kini hatinya sudah mantap untuk meminang Aisha sebagai istrinya.
"Insya Allah, besok Mama sama Papa akan berkunjung ke rumahmu untuk bersilaturahmi," ucap Bu Irene.
"Iya, Mah! Pintu rumah Aisha selalu terbuka untuk Mama dan Papa." Lagi-lagi Aisha merasa terharu, harapannya untuk bersanding dengan orang yang dicintainya sebentar lagi akan terwujud.
"Ya sudah, kalian lanjutkan saja ngobrolnya! Mama mau menyiapkan untuk makan malam," pamit Bu Irene.
__ADS_1
"Biar Aisha bantu, Mah!" Aisha pun hendak beranjak mengikuti calon mertuanya, tapi Bu Irene langsung mencegahnya.
"Tidak usah, Sha! Kamu istirahat saja di kamar Abi, pasti lelah setelah seharian kerja."
"Udah yuk, Sha! Kita pindah ke kamar, katanya kangen sama aku," goda Abizar yang sukses membuat pipi Asha bersemu merah muda.
Aisha hanya mengikuti saja saat Abizar menarik tangannya menuju ke kamar di lantai dua. Dia juga penasaran dengan kamar kekasihnya itu.
Saat sampai di kamar Abizar, Aisha mengedarkan pandangan melihat seisi kamar pujaan hatinya, yang tampak rapi meskipun tidak sebesar kamar di rumah Aisha.
"Sha, sini duduk!" Abizar menepuk kasur yang kosong di sebelahnya.
Aisha pun langsung menghampiri Abizar dan duduk di tepi ranjang bersama Abizar. "Kamarnya nyaman, Bi."
Abizar tersenyum mendengar apa yang Aisha katakan. Dia semakin kagum dengan sosok sederhana di sampingnya. Semenjak masa kuliah dulu, Aisha tidak pernah memamerkan kekayaannya. Dia berlaku seperti orang biasa pada umumnya. Mungkin hal itu yang membuat Abizar mampu mengikis perasaannya pada Icha sedikit demi sedikit.
"Sha, aku minta maaf! Jika nanti kamu menjadi istriku, mungkin aku tidak bisa memberikan kemewahan seperti yang keluargamu atau Al berikan. Hanya kehidupan sederhana yang mampu aku tawarkan," ucap Abizar sendu.
"Apa selama ini, aku pernah mempermasalahkan hal itu? Aku mencintaimu apa adanya kamu bee, bukan ada apanya kamu," ucap Aisha tulus.
Mendengar apa yang Aisha katakan, Abizar mulai mengikis jarak diantara mereka berdua hingga tercium aroma napas mint yang menyegarkan. Perlahan Abizar membenamkan bibirnya dengan bibir tipis Aisha, menyatukan rasa yang bergejolak di dada hingga suara decakan itu mengiringi dua insan yang sedang bertukar saliva. Perlahan tapi pasti, ciuman itu semakin menuntut hingga tanpa sadar, tangan nakal itu sudah bermain-main di atas bukit kembar, membuat Aisha menikmati sensasi yang memabukkan itu. Namun, kegiatan yang membuat darah berdesir hebat itu harus terhenti, saat terdengar suara pekikan di ambang pintu kamar.
"Astagfirullah," pekik Bi Ijah kaget saat melihat kegiatan panas di depan matanya.
"Bi Ijah, kenapa gak ketuk pintu?" gerutu Abizar.
"Pintunya tadi terbuka sedikit jadi Bibi masuk saja. Maaf ya, Den!" ujar Bi Ijah.
"Iya, tapi Bibi gak boleh bilang-bilang sama mama ya! Kalau sampai bocor, gajinya aku potong," ancam Abizar.
"Siap! Tapi lain kali pintunya di tutup ya, Den Abi! Biar Bibi tidak bisa lihat."
...*****...
Sambil nunggu up, yuk kepoin karya Author yang lain.
__ADS_1