
Hangatnya air shower membuat Dika terhanyut dalam lamunan. Dika masih teringat jelas saat dia tidak sengaja mendengar pembicaraan nenek dan kakeknya, sehingga kata-kata yang terucap membekas di ingatannya.
Flashback on
Hari itu, di saat orang tuanya sedang sibuk mempersiapkan acara syukuran atas kesembuhan kakeknya, tanpa sengaja Dika mendengar pembicaraan kakek dan neneknya.
"Papa, Papa lihat kan sekarang! Bagaimana menantu kita? Seharusnya Papa bisa bersikap lebih baik lagi pada cucu kita, Bagaimanapun dia darah daging Icha yang dilahirkan dengan penuh pengorbanan. Meskipun dia lahir dari kesalahan orang tuanya tapi dia tidak bisa memilih dari siapa dan dengan cara apa dia harus lahir." Bu Tasya bicara seperti lupa cara mengerem sehingga dia nyerocos panjang lebar.
"Mah, Papa butuh waktu untuk menerima semuanya. Demi anak itu, Icha berani melawan Papa, dia juga tega meninggalkan kita. Seharusnya Mama mengerti dengan perasaan Papa. Enam tahun dia pergi meninggalkan kita hanya demi menjaga dan mempertahankan Dika. Bahkan dia hampir meregang nyawa setelah melahirkannya. Hati Papa sakit jika mengingat semua itu." Tanpa sadar ujung mata Pak Yusuf sudah meneteskan cairan bening.
"Pah, itu sudah takdir putri kita! Mau bagaimanapun juga semuanya tidak akan bisa kembali. Tinggal bagaimana cara kita memperbaiki kesalahan yang sudah kita lakukan," ucap Bu Tasya.
Setelah mendengar semua itu, Dika langsung berlalu menuju ke kamar mamanya dan tanpa sengaja dia menemukan diary milik Icha yang tersembunyi di bawah tumpukan buku sekolah Icha saat masih SMU, sehingga dia membacanya dan menyimpan diary itu hingga sekarang.
Flashback off
(Flashback ini berhubungan dengan bab 89 dan 90)
"Kak, Kak Dika! Kakak mandi di kamarku?" teriak seorang gadis kecil yang baru pulang sekolah. Siapa lagi kalau bukan Zee, adik satu-satunya Dika.
Mendengar suara adiknya di depan pintu kamar mandi, Dika pun langsung mempercepat mandinya.
"Sebentar Dek! Ini juga mau udahan."Dika ikut berteriak seperti adiknya.
Setelah selesai mandi, Dika pun buru-buru keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
"Kakak, kata mama jangan lama-lama soalnya sudah ditunggu di bawah," ucap Zee saat Dika sudah keluar dari kamar mandi.
"Iya, kakak pakai baju dulu lalu ngajak Lana untuk turun!" sahut Dika
"Kakak, di bawah ada kejora sama Edelweiss, pasti nanti Kakak jadi rebutan mereka," keluh Zee yang merasa risih saat teman-temannya berebut Dika.
"Biarkan saja, Dek! Kakak 'kan sukanya hanya sama Kak Lana," ucap Dika setelah dia tapi dengan baju santainya. Ya, mereka ngobrol terhalang dengan lemari baju karena Dika di walk in closet sedang Zee sedang duduk di ranjangnya..
__ADS_1
Sementara itu, Allana keluar dari kamar mandi dengan celingukan, dia takut ada Dika di dalam kamar karena saat keluar hanya memakai handuk kimono 00. Dirasa aman, Allana pun langsung menuju ke ranjang king size Dika, yang mana di atasnya sudah ada baju ganti untuknya. Dengan kecepatan ala ultrasonic, gadis berponi itu memakai baju. Sampai terdengar suara orang yang membuka pintu, Allana langsung berlari dengan tangan yang baru masuk sebelah ke dalam baju.
"Lana, sudah selesai belum mandinya?" teriak Dika yang baru masuk ke kamarnya.
"Sebentar lagi!" Allana langsung merapikan bajunya, setelah di rasa rapi, dia pun bergegas menghampiri Dika yang menunggunya di sofa depan televisi yang ada di kamarnya.
Melihat Allana yang baru keluar dari walk in closet, Dika langsung menyunggingkan senyumnya. Dia merasa lucu melihat Allana yang memakai baju terusan karena biasanya keseharian dia memakai celana dan kaos oblong. Sangat jarang gadis berponi itu memakai rok atau dress kalau tidak dalam acara tertentu.
"Cantik," gumam Dika dengan mata yang tidak lepas dari Allana.
"Makasih, Dika! Aku memang dari orok sudah cantik, jadi kamu tidak perlu terpesona begitu." Allana langsung mendudukkan bokongnya di samping Dika.
"Sebentar lagi aku sweet seventeen, boleh aku minta sesuatu dari kamu!" tanya Dika dengan menatap Allana lekat.
"Boleh! Asal jangan kiss!" Allana menggoyang-goyangkan kakinya dengan tangan menumpu tubuhnya.
"Aku hanya mau minta kamu untuk jadi pacar aku lagi tapi bukan pacar bohongan, apa kamu bisa mengabulkannya?" tanya Dika.
"Aku belum bisa menjawabnya, maaf!" sesal Allana.
Allana langsung mengikuti Dika dari belakang, saat sampai di bawah, terlihat suasana yang ramai karena saudara-saudara papanya Dika sedang berkumpul.
"Wah, Al! Sebentar lagi kamu hajatan nih, Dika udah bawa calon aja ke rumah!" seru Kevin saat melihat Dika turun bersama Allana.
"Kita gak jadi besanan Al! Padahal tinggal nunggu beberapa tahun lagi, anakku sudah jadi gadis," seloroh Oryza.
"Ck! Aku gak mau menjodohkan anakku sama anak kalian, kartu as kalian sudah ada di tanganku semua," ucap Al
"Papa Al kho gitu? Padahal Kejora maunya nikah sama Kak Dika," celetuk gadis bernama Kejora yang merupakan putri pasangan Kevin dan Vio.
"Enak saja kamu, Ra! Kak Dika itu pangeran berkuda putihnya aku," sangkal Edelweiss, putri pasangan Oryza dan Kia.
"Kamu kenapa rebut pangerannya aku? Katanya pangeran kamu Dave?" sewot Kejora.
__ADS_1
"Tapi aku juga mau sama Kak Dika, dia kan baik suka kasih aku coklat," sanggah Edelweiss.
Allana hanya diam mendengar perdebatan dua bocah di depannya. Entah kenapa hatinya merasa was-was.
Kenapa Dika selalu jadi rebutan? Apa dia begitu istimewa? batin Allana.
"Lana, sini sayang!" ajak Icha saat melihat Allana mematung di belakang Dika.
Allana pun langsung menghampiri Icha dan mencium punggung tangannya, begitupun pada Al dan yang lainnya. Dika semakin terkagum melihat pribadi Allana. Meskipun terkadang suka seenaknya, tapi dia sopan pada orang tua.
"Karena sekarang semua sudah lengkap, ayo kita serbu masakannya Bi Sari dan kawan-kawan!" seru Icha sebagai nyonya rumah.
Setelah mendapat ajakan dari nyonya rumah, semuanya berpindah ke meja makan. Obrolan pun dilanjut setelah acara makan selesai, karena saat makan tidak diperbolehkan untuk berbincang. Namun, Dika langsung membawa Allana ke ruang baca yang bangunannya terpisah dari rumah utama. Hanya saja ada jalan penghubung menuju ke sana sehingga tidak akan kehujanan.
Saat sampai di sana, Dika langsung mendudukkan bokongnya di sofa yang berada di pojok ruangan. Dia sedang malas berkumpul karena oleh sahabat papanya selalu dijadikan objek obrolan yang un-faedah. Apalagi putri mereka yang selalu memperebutkan dirinya.
"Dika, yang tadi itu siapa?" tanya Allana kepo.
"Yang tadi, yang mana maksudnya?" tanya Dika yang tidak konek dengan maksud Allana.
"Dua anak cewek yang tadi rebutan kamu!" tegas Allana.
"Oh, dia putri Om Ryza dan Om Kevin! Kenapa, apa kamu cemburu?" tanya Dika dengan menelisik raut muka Allana.
"Nggak! Aku hanya heran, kenapa mereka rebutan kamu?" Allana mengedarkan pandangannya melihat ke seisi ruang baca yang penuh dengan buku-buku yang tersusun rapi.
"Aku malah senang jika kamu cemburu, Lana!" Dika mencondongkan wajahnya ke arah Allana yang duduk berada di sampingnya.
"Kenapa?" Allana sedikit menggeser duduknya karena posisinya yang sangat dekat dengan Dika.
"Berarti kamu suka sama aku!" Dika tersenyum manis dengan memamerkan giginya yang rapi.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...