Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Pacar Allana


__ADS_3

Di sinilah sekarang Dika, ditahan oleh Elvano dan Joen. Mereka menuntut penjelasan dengan apa yang sudah dilihatnya.


"Ayo jelasin! Ada hubungan apa kalian berdua?" tanya Elvano.


"Dika, pacarnya Lana!" ujar Allana datar tanpa ekspresi.


"Sejak kapan?" Joen yang sedari tadi diam, angkat bicara.


"Sejak dia kembali ke sini." Lagi-lagi Allana yang menjawab. Dia tidak memberikan Dika kesempatan untuk bicara.


"Benar, Dika?" tanya Elvano kemudian.


"Benar Bang!" Akhirnya Dika pun bisa menjawab.


"Oh oke! Bagus itu, berarti rencana papa tinggal finishing-nya saja." Elvano manggut-manggut sendiri saat merasa yakin dengan apa yang dikatakan oleh adik kembarnya.


Setelah merasa yakin dengan apa yang dikatakan oleh Allana dan Dika, dua saudara itu memperbolehkan Dika untuk pulang.


"Tenang, Dik! Kita semua dukung kamu sama Lana!" bisik Elvano saat mengantar Dika pulang.


Mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, Dika hanya tersenyum menanggapinya.


Sementara gadis cantik dari Keluarga Wiratama, kini sedang uring-uringan sendiri di kamarnya. Dia bingung dengan apa yang akan terjadi besok.


"Ah! Gimana ini? Pasti papa jodoh-jodohkan aku terus dengan bocah itu. Tapi kalau dilihat-lihat, Dika tidak seperti anak bocah," gumam Allana.


Di saat Allana terus berperang dengan pikirannya, terdengar suara pintu diketuk dari luar.


"Masuk!"


Terlihat Andrea memasuki kamar putrinya, aura dingin mulai menyebar saat dia memasuki kamar Allana. Dia sudah bisa memastikan, kalau papanya sedang marah padanya. Sudah pasti hal itu karena kejadian tadi di sekolah.


"Boleh Papa duduk?" tanya Andrea.


"Bo-bo-boleh, Pah!" Entah ke mana keberanian gadis cantik itu, saat berhadapan dengan papanya yang jarang marah itu, tapi sekalinya dia marah membuat Allana seperti tidak berkutik.


Andrea pun duduk di sofa yang ada di kamar Allana dengan menopang satu kaki dan kedua tangannya direntangkan, dengan mata menelisik putrinya yang seperti ketakutan.


"Berikan alasan pada Papa, kenapa kamu menyusahkan guru di sekolah?" tanya Andrea.

__ADS_1


"I-i-itu Lana tidak nyusahin kho, Pah! Mereka saja yang sering nyuruh-nyuruh Lana. Lana gak suka!" cicit Allana.


"Oh! Kamu gak suka di suruh-suruh, Papa juga sama gak suka sama anak yang gak nurut. Berikan dompet kamu!" Andrea langsung menengadahkan tangannya pada putrinya.


Dengan berat hati, Allana menyerahkan dompet miliknya pada papanya. Setelah mendapatkan apa yang dimintanya, Andrea pun melanjutkan ucapannya . "Dompet kamu Papa sita selama sebulan. Mulai besok, uang jajan kamu dua puluh ribu sehari, harus cukup untuk jajan dan ongkos naik angkot. Tidak ada yang akan mengantar jemput. Jadi pergunakan dengan bijak uang jajan kamu. Kalau kamu bolos sekolah sehari di masa hukuman, maka hukumannya diperpanjang satu bulan lagi."


Allana hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh papanya, bisa nambah kalau dia membantahnya. bisa-bisa nanti dia disuruh gantiin Bi Inem buat beres-beres seperti dulu saat dia terus membantah ucapan papanya, besoknya dia yang harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, sedangkan para pekerja rumahnya disuruh beristirahat oleh papanya.


"Bagaimana Lana, apa kamu mengerti?" Lamunan Allana buyar saat mendengar suara papanya.


"I-iya Pah!"


"Bagus, sekarang tidurlah! Hari sudah malam, besok kamu harus bangun pagi-pagi biar tidak ketinggalan sama angkot." Andrea pun bangun dan menghampiri putrinya yang sedang tertunduk duduk di atas ranjang.


Setelah memberikan kecupan singkat di kepala putrinya, Andrea pun beranjak pergi keluar dari kamar Allana.


"Huft! Papa selalu mengerikan kalau lagi kesal meskipun dia tidak bicara kasar tapi terasa sekali mengintimidasi." Allana menghirup udara banyak-banyak setelah tadi dia merasa kesulitan bernapas.


"Sepertinya aku harus minta Dika buat jemput aku sekolah, sekalian juga buat antar pulang. 'Kan lumayan gak keluar ongkos. Kalau minta El, dia ngomongnya suka asal, nyebelin banget punya saudara kembar!" gumam Allana.


Allana pun langsung menyambar ponselnya yang tergeletak di atas kasur, dengan segera dia mengetikan pesan pada Dika. 'Untung saja tadi di sekolah sempat bertukar nomor handphone,' pikir Allana. Setelah mengirim pesan, dia pun terlelap dalam tidurnya.


Keesokan harinya, Dika sudah datang dengan mobil sports ke rumah kekasihnya itu. Dia sengaja membawa mobil karena merasa tidak tega jika Allana harus kedinginan dengan udara pagi yang menusuk kulit. Pemuda tampan itu langsung mengucapkan salam saat dia bertamu ke rumah orang lain.


"Wa'alaikumsalam," jawab Lilis yang sedang membersihkan ruang tamu. "Masuk, Den! Neng Lana sudah menunggu di dalam!"


Dika hanya tersenyum menanggapi ucapan pekerja di rumah Allana seraya dia masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama kemudian, Andrea datang dari dalam utuk menemani Dika yang duduk sendiri d ruang tamu.


"Hai Boy! Tambah ganteng saja calon mantu Om," sapa Andrea saat melihat Dika yang sedang duduk dengan ponsel di tangannya.


"Om, bisa saja! Apa kabar, Om?" Dika langsung mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Andrea..


"Om, baik! Nanti titip Allana, soalnya sedang Om kasih hukuman," pesan Andrea setelah Dika duduk kembali. "Pasti dia kan yang minta dijemput?" tebaknya.


"Om, tahu saja!" Dika tersenyum menanggapi ucapan Andrea.


Saat terdengar suara gaduh di dalam, Andrea pun langsung mengajak Dika untuk sarapan bersama. Dia tahu pasti anak-anaknya sudah berkumpul di meja makan. Tak ingin mengecewakan tuan rumah, Dika pun mengikuti ke dalam untuk bergabung bersama keluarga Allana.


Selalu sambutan hangat yang Dika terima dari keluarga Allana dari semasa dia masih anak-anak dulu sampai sekarang. Meski diantara mereka tidak ada hubungan darah, tapi kedekatan hati yang membuat seseorang merasa cocok satu sama lain.

__ADS_1


Setelah acara sarapan, Mereka pun bergegas untuk pergi sekolah. Namun, saat sampai di luar rumah, Allana celingukan mencari motor Dika yang kemarin dipakainya.


"Cari apa?" tanya Dika di belakang Allana.


"Motor kamu mana?"


"Aku bawa mobil hari ini," terang Dika


"Kenapa bawa mobil sih? Aku tuh bosan naik mobil terus!" Allana langsung cemberut saat ekpektasinya tidak sesuai dengan kenyataan.


"Kamu ingin pake motor?" tanya Dika


Allana mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengiyakan apa yang Dika tanyakan


"Ya sudah, pulang sekolah mampir ke rumahku dulu! Kita ganti pakai motor," ucap Dika


"Ck! Tetap saja, nanti anak-anak lihat kamu pakai mobil keren begitu. Tambah saja rasa kagum mereka sama kamu," gerutu Allana.


Dika langsung merangkul pundak Allana dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. "Untuk seminggu ini, aku milik kamu. Entah nanti kalau kamu ingin putus setelah satu minggu itu.


Allana termenung di kursi penumpang setelah dia mendengar apa yang dikatakan oleh Dika. Hatinya mulai gamang untuk menentukan pilihan hatinya. Entahlah, sejak Dika menciumnya di lorong toilet itu, bayang wajah Dika selalu mengusik pikirannya sehingga dapat mengalihkan sedikit perhatiannya pada seseorang yang seharusnya tidak dia inginkan untuk menjadi pendamping karena ada darah yang sama yang mengalir tubuhnya.


"Lana, pakai sabuknya!" ucap Dika saat dia akan menjalankan mobilnya, tapi saat melihat ke arah Allana ternyata masih sibuk dengan lamunannya.


Merasa tidak mendapat respon dari kekasihnya, Dika pun mencondongkan tubuhnya untuk mengambil seat belt dan memakaikannya pada Allana yang sukses membuat Allana tersadar dari lamunannya saat merasakan tangan Dika yang tidak sengaja menyentuh paha Allana.


"Eh, ka-kamu mau ngapain?" tanya Allana kaget.


Dika yang sedang memasangkan seat belt langsung mendongak melihat wajah Allana yang sudah bersemu merah. Terasa hangat hembusan napas kekasihnya yang menerpa wajah. Dika terdiam menatap wajah yang ada di depannya hingga akhirnya pandangan mata mereka bertemu. Entah ada setan dari mana, Allana memejamkan matanya membuat Dika tersenyum tipis melihat tingkah gadis di depannya. Dika masih asyik melihat wajah cantik kekasihnya hingga beberapa menit kemudian Allana membuka matanya kembali. Dika pun langsung memberikan senyum manisnya pada Allana.


"Nanti saja di kamarku kalau kamu ingin kucium." Allana langsung menutup wajah dengan kedua tangannya setelah mendengar apa yang Dika katakan. Malu? Sudah sangat jelas, ingin rasanya dia masuk ke lubang semut untuk menutupi rasa malunya. Namun, beberapa saat kemudian dia dikejutkan dengan benda kenyal yang terasa dingin di dahinya. Ya, Dika mengecup dahi Allana sebelum akhirnya dia menjalankan mobilnya.


"Gak usah malu, aku hanya takut kesiangan kalau kita ...." Ucapan Dika menggantung di udara saat Allana memotongnya.


"Sudah! Gak usah dibahas!"


...*****...


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Jangan lupa klik like comment vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih 🙏🏻...


__ADS_2