Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
S2 Resmi pacaran


__ADS_3

Arabella terdiam di tempatnya menunggu apa yang akan dilakukan oleh pangeran kecilnya. Namun, setelah dia menutup mata selama lima menit, tak pergerakan sedikit pun dari Elvano. Gadis cantik itu pun memicingkan matanya untuk mengintip apa yang Elvano lakukan. Hingga matanya terbuka dengan sempurna, dia hanya mendapati Elvano sedang menatapnya dalam.


"El!" panggil Arabella dengan menepuk pundak Elvano pelan.


Merasa pundaknya ada menepuk, Elvano pun langsung melihat ke arah tangan Arabella yang menempel di pundaknya.


"Ara, kenapa kamu bisa membuatku menjadi orang bodoh? Aku tidak pernah berpikir jika akhirnya aku harus terjebak dalam cintamu." Elvano tertawa hambar. Dia menertawakan dirinya sendiri.


Semenjak perbincangan tadi sore dengan mama papanya, Elvano terus memikirkan rencana perjodohan yang papanya bicarakan. Meski mulutnya selalu menyangkal, tapi hatinya merasa tidak rela jika gadis yang selalu membututinya itu berpindah haluan jadi mengejar orang lain.


"Kenapa kamu mengejekku, El? Aku memang bodoh selalu mengejar laki-laki yang tidak mencintaiku dan lebih bodoh lagi, aku mau panas-panasan dengan laki-laki yang tidak pernah menganggapku." gerutu Arabella.


"Gara-gara kamu, aku jadi orang bodoh Ara. Mulai sekarang kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan padaku." Elvano terus menatap tiap perubahan ekspresi pada wajah Arabella yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Sudahlah El! Jangan bahas yang itu-itu mulu. Aku mau keluar, aku haus!" seru Arabella. Bukan tidak mengerti dengan apa yang Elvano katakan, tapi dia tidak ingin terbuai dalam harapan palsu. Dia sudah menyerah benar-benar menyerah dengan perasaannya pada Elvano sehingga dia tidak ingin percaya dengan apa yang Elvano katakan jika itu bukan di depan orang tuanya.


Elvano langsung menarik tangan Arabella untuk keluar dari labirin. Saat sudah keluar, dia segera menuju kafe yang ada di dalam taman bunga. Nampak di sana Allana dan Dika sedang bersenda gurau dengan sesekali tertawa lepas. Entah kenapa, sudut bibirnya ikut terangkat melihat kemesraan adik kembarnya.


"Nempel terus!" goda Elvano.


"Kayak yang situ kagak aja, Bang!" Cebik Allana dengan memberi kode mata pada tangan Elvano yang menggenggam erat tangan Arabella.


"Sayang, jangan begitu! Biar mereka segera menyusul kita," ucap Dika dengan tersenyum manis.


"Tenang saja, Dik! Besok kita nikah," sahut Elvano dengan entengnya.


"Aku gak mau!" tolak Arabella


"Kenapa?" tanya Allana, Elvano dan Dika kompak.


"Aku gak mau nikah dadakan tanpa acara pacaran, lamaran, tunangan dan siraman. Aku ingin nikah tapi harus melewati step by step prosesnya," jelas Arabella seraya mendudukan bokongnya di kursi.


"Ternyata kamu masih Ara yang dulu, banyak maunya!" cibir Allana. Mendengar penuturan Arabella, hatinya sedikit tercubit karena dia menikah tanpa melewati proses seperti yang sahabatnya katakan.

__ADS_1


Ketika hari sudah menjelang sore, dua sejoli itu memutuskan untuk kembali pulang karena selepas magrib rencananya mau kembali ke ibu kota.


Sesampainya di villa, Allana dan Dika langsung menuju ke kamarnya. Sementara Arabella pergi ke dapur. Dia ingin memasak untuk makan malam mereka. Namun, saat dia sedang berperang dengan wajan dan spatula, ada tangan yang melingkar di perutnya sehingga dia tersentak kaget.


"El!" sentak Arabella.


"Kenapa kaget? Katanya mau pacaran dulu, papa juga suka memeluk mama kalau mama lagi masak," Elvano memasang muka cemberut yang dibuat-buat.


"Kamu tuh aneh! Kapan aku bilang mau pacaran sama kamu?" tanya Arabella.


"Aku gak butuh persetujuan kamu untuk memutuskan kalau kita berpacaran," ketus Elvano seraya dia membuka lemari es, karena sebenarnya dia pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin.


Tak berselang lama, semua masakan yang Arabella olah sudah siap untuk dihidangkan, sehingga Elvano membantu pacar paksaan itu untuk menyiapkan di meja makan.


Setelah semua selesai, mereka pun bergegas untuk membersihkan diri karena hari sudah mulai gelap. Selesai dengan agenda kamar mandi, kini semuanya sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati santapan makan malam.


"Sebelum kita makan, ada yang mau Abang bicarakan dengan kalian." Elvano memandang serius satu persatu yang ada di meja makan.


"Kenapa Bang?" tanya Allana yang sudah mencicipi udang goreng tepung buatan sahabatnya.


Uhuk uhuk


Udang sebesar jempol langsung masuk ke dalam tenggorokan Allana, membuat gadis itu menjadi tersedak. Dika yang ada di samping Allana langsung memberinya minum dengan tangan yang satunya menepuk pelan punggung istrinya.


Sementara Arabella langsung membulatkan matanya penuh merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"El, kamu jangan bercanda! Kapan kamu nembak aku dan bilang I love you?" Arabella semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Elvano.


"Papa juga nikah sama mama gak ada acara tembak-menembak dulu. Buktinya mereka mesra sampai sekarang," kilah Elvano, "lagian, aku yakin kamu pasti mau meski gak aku tembak."


"Iya sih bener juga!" gumam Arabella yang masih bisa di dengar oleh Allana.


"Ara, kenapa kamu gampang banget dirayu Bang El? Tarik ulur dulu napa? Biar Bang El juga ngerasain apa yang kamu rasakan selama ini." Bukannya senang, Allana malah geram karena sahabatnya sangat mudah sekali terpedaya oleh kembarannya.

__ADS_1


"Aku takut tidak punya kesempatan lagi, Lana!" sahut Arabella sendu.


"Sudahlah Lana! Kamu tuh harusnya memberi selamat bukan ngomporin yang gak bener." Elvano langsung memakan makanannya dengan kasar. Dia kesal karena tidak mendapat dukungan.


"Selamat Bang El! Semoga kalian cepat menyusul ke pelaminan." Dika langsung menjulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Elvano.


"Hanya Dika yang selalu jadi orang baik dari dulu sampai sekarang," sarkas Elvano.


"Jadi menurut Abang aku gak baik?" Allana malah tersulut emosi dengan ucapan saudara kembarnya.


"Sudah Sayang! Ayo kita makan, biar gak kemalaman nanti di jalan. Besok aku mulai ngantor," ucap Dika.


***


Keesokan harinya, Dika sudah siap dengan jas kantornya. Begitupun dengan Allana yang sudah mulai kembali bekerja di rumah sakit setelah mengambil cuti panjang. Sebelum ke kantor papanya, Dika terlebih dahulu mengantar istrinya ke rumah sakit meskipun dia harus memutar arah karena letak rumah sakit dan Putra Group berlawanan arah.


Tanpa harus memperkenalkan siapa Dika, semua karyawan Putra Group sudah dapat menyimpulkan kalau Dika putra pemilik perusahaan tempatnya bekerja, karena kemiripan yang begitu kentara antara Dika dan papanya seperti pinang dibelah dua.


Kevin membawa Dika ke ruangannya yang tak kalah bagus dari ruangan papanya. Dia juga sudah disediakan sekretaris untuk membantu pekerjaannya.


"Dika, ini ruangan kamu. Apa kamu suka? Sebentar lagi HRD akan mengirimkan seorang sekertaris untukmu," terang Kevin saat sudah sampai di ruangan yang bernuansa putih.


"Suka Om! Nanti kalau ada yang kurang biar Dika saja yang desain," jawab Dika.


Tak berapa lama, pintu ruangan Dika ada yang mengetuk dari luar. Setelah dipersilakan masuk, terlihat Diana sebagai staf HRD datang bersama dengan seorang gadis cantik yang akan menjadi sekertaris Dika.


"Permisi Pak Kevin, Mas Dika! Ini sekertaris untuk Mas Dika," ucap Diana. "Ayo perkenalkan namamu," suruh Diana kemudian.


"Selamat pagi, Pak! Perkenalkan saya Emily Karenina," ucap Emily


Mendengar nama dan suara yang sudah tidak asing lagi, Dika pun langsung mendongak dan tersenyum hangat pada gadis yang ada di depannya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih!...


__ADS_2