
Semua sahabat dan saudara yang menjenguk Dika sudah pulang, begitupun dengan Dika yang sudah terlelap tidur karena pengaruh obat. Kini tinggallah Al dan Icha yang masih terjaga.
Semenjak Dika sadar dan tidak mengingatnya lagi, Icha selalu diam dan tidak merespon tiap Al mengajaknya berbincang, hingga Al merencanakan pernikahannya dengan Icha sehari setelah Dika keluar dari rumah sakit pun, Icha hanya mengangguk menyetujui.
Al teringat dengan apa yang dikatakan oleh
Bu Mira tentang Icha yang terserempet mobil Pak Bagas hingga akhirnya merawat Icha dan mengangkat Dika sebagai anak.
Flashback on
"Nak Al, bisa kita bicara sebentar?" ucap Bu Mira.
"Iya Tan, ada apa?" tanya Al
"Kita cari tempat yang nyaman ya!" ajak Bu Mira
Al dan Bu Mira pun memutuskan untuk berbincang di Kantin rumah sakit sekalian makan siang.
"Tante senang mendengarnya, akhirnya Icha akan menikah dengan Nak Al. Tante berharap kalian hidup bahagia bersama Dika," ucap Bu Mira
"Tante hanya mau menitipkan Icha dan Dika. Meskipun Icha dan Dika bukan anak kandung Tante, tapi Tante sangat menyayangi mereka."
"Tante yakin sekarang Icha pasti merasa terpukul karena Dika tidak mengenalinya, padahal perjuangan Icha untuk membesarkan Dika begitu berat. Icha kabur dari rumah karena papanya menyuruh Icha untuk menggugurkan kandungannya. Bahkan saat Icha melahirkan Dika, dia mengalami pendarahan hebat sehingga harus di rawat di rumah sakit selama satu bulan. Untung saja Icha mendapat transferan uang dari hasil penjualan mobil sehingga bisa menutupi biaya rumah sakit." jelas Bu Mira
"Kenapa Dika memanggil kakak pada Icha Tan?" tanya Al
"Sebenarnya Tante yang mengusulkan, agar Icha dan Dika tidak mendapat hujatan dari tetangga karena hamil diluar nikah. Namun ternyata ada yang membocorkan rahasia besar Icha,"
Flashback off
"Aku janji akan membahagiakan kalian berdua," lirih Al.
Al melihat Icha yang sedang rebahan di sofa, kemudian dia mendekatkan tubuhnya pada Icha dan menggenggam tangannya.
"Cha, aku minta maaf dengan semua kesalahanku. Aku juga sangat berterima kasih karena kamu sudah mempertahankan Dika." ucap Al tulus.
"Dika putraku, sudah sepantasnya aku mempertahankannya," sahut Icha
"Cha, mari kita mulai semuanya dari awal. Aku janji akan...."
"Jangan menjanjikan apapun padaku. Aku tidak ingin terbuai dan kecewa lagi," serobot Icha memotong ucapan Al.
"Baiklah! Mari kita bahagia bersama!" ucap Al seraya mencium tangan Icha. "Aku minta
maaf tidak melamarmu dengan benar," lanjutnya.
Icha hanya membiarkan Al terus menciumi tangannya seraya berkata, "Berapa banyak kesalahanmu hingga dari tadi terus meminta maaf?"
__ADS_1
"Tak terhitung, tapi beruntungnya istriku orang yang pemaaf," sahut Al
"Aku tidak ingin mengotori hatiku dengan memupuk kebencian," jelas Icha
"Terima kasih sayang!" ucap Al tulus seraya mengikis jarak dan langsung meraup benda kenyal yang sedari tadi menggodanya. Mereka saling mengecap saling menyesap, hingga Al pun semakin memperdalam c*umannya membuat Icha langsung mengalungkan tangannya ke leher Al, hingga suara itu terdengar membuat mereka menghentikan aktifitasnya.
"Mama Papa, Dika haus."
***
Hari pun telah berganti, hari ini Dika sudah diperbolehkan pulang. Al pun membawa Icha dan Dika ke rumahnya.
Dika sangat antusias saat Al menceritakan kalau di rumahnya ada kolam renang, membuatnya tidak sabar untuk segera sampai di kediaman keluarga Putra.
Sesampainya di kediaman Putra, terlihat para pekerja di rumah itu sudah berdiri dengan rapi untuk menyambut kedatangan Dika. Tak terkecuali Tuan Ardi dan juga Pak Mun asisten pribadinya Tuan Ardi.
Al turun dari mobil, kemudian dia menggendong Dika dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sementara
Icha hanya mengekor dari belakang.
Semua pekerja di kediaman Putra menyambut kedatangan Dika dan Icha dengan sukacita. Begitupun dengan Tuan Ardi yang sangat senang saat melihat cicitnya yang berada dalam gendongan Al.
"Apa kabar jagoan?" tanya Tuan Ardi pada Dika.
"Kakek siapa?" tanya Dika
"Assalamualaikum Eyang, namaku Dika!" ujar Dika
"Wa'alaikumsalam sayang! Ayo ikut Eyang!" ajaknya
"Nanti aja kek, biar dia istirahat dulu. Aku akan membawanya ke atas." tolak Al
"Ya sudah biar nanti Eyang yang nyusul ke atas," ucap Tuan Ardi
"Cha, hey! Kenapa menunduk?" tanya Al menyadarkan Icha yang sedari keluar mobil terus menundukkan kepalanya.
"Eh, maaf! Siang Tuan Ardi, Pak Mun." Icha pun memberi salam seperti saat dia sedang bekerja di kantor.
"Sayang, panggil Kakek saja. Ini di rumah, bicaranya jangan terlalu formal," tegur Al
Icha mendongakkan kepalanya melihat ke arah Al dan Tuan Ardi bergantian lalu berkata, "Aku...."
"Sudah, biasakan dengan rumah ini. Jangan sungkan kalau butuh apapun." Tuan Ardi langsung memotong ucapan Icha.
Al hanya menghela nafas dalam melihat Tuan Ardi yang seperti kurang welcome pada Icha.
"Bi Sari, tolong bawakan minuman dan cemilan ke kamar Dika," suruh Al
__ADS_1
"Baik Den!" ucap Bi Sari
"Kek, Pak Mun, aku ke atas dulu," pamit Al. "Ayo sayang!" ajaknya pada Icha
"Permisi Tuan, Pak Mun," pamit Icha
Icha pun sedikit berlari mengikuti langkah kaki Al yang sudah pergi duluan.
Sesaat setelah kepergian Al dan Icha, Tuan Ardi menghela nafas dalam. Di hati kecilnya dia masih ingin berbesanan dengan sahabatnya, Satya. Namun di sisi lain, dia juga sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Kalisa.
"Mun, kita kembali ke ruang kerja," ujar Tuan Ardi
"Baik Tuan!" ucap Pak Mun
Sementara di kamar atas, tepatnya di kamar khusus yang dibuat untuk Dika. Terlihat nuansa warna biru yang dominan dengan salah satu dinding terdapat gambar tata surya. Ranjang ukuran queen size ditengahnya, meja belajar dan lemari khusus mainan, sedangkan untuk lemari pakaian ada di walk in closet.
"Apa Dika suka?" tanya Al
"Suka Pah, kamarnya bagus," puji Dika
"Dijaga ya sayang kamarnya. Kamar Papa ada di depan kamar Dika, kalau yang di ujung itu punya eyang," terang Al
"Kalau kamar Mama di mana Pah?" tanya Dika
"Nanti Mama tidurnya sama Papa," jelas Al
"Kenapa aku tidak diajak bobo bareng Pah?" tanya Dika
"Ayo kita bobo bareng di sini," ajak Al
Dika pun hanya menurut dengan ajakan Al, hingga tidak butuh waktu lama, Dika langsung terlelap.
Sementara itu, Icha masih sibuk membereskan barang-barang Dika yang dibawakan oleh Bu Mira ke rumah sakit.
Perlahan Al melepaskan diri dari pelukan Dika, lalu beranjak menghampiri Icha. Tanpa bicara, Al langsung memeluk Icha dari belakang.
"Al....," pekik Icha
"Syut .... Jangan berisik! Dika lagi tidur," terang Al
"Tapi kenapa kamu peluk aku?" tanya Icha bingung
"Aku kangen sama kamu," ucap Al seraya membalikkan badan Icha hingga menghadap ke arahnya.
Tanpa bicara lagi, Al langsung meraup candunya membuat Icha gelagapan karena kaget. Namun lama kelamaan Icha pun menikmatinya.
...*****...
__ADS_1
👉Next part