Terjebak Cinta Mantan

Terjebak Cinta Mantan
Bab 143 Kesempatan kedua


__ADS_3

Keesokan paginya, setelah sholat subuh Al mengajak Dika untuk lari padi di sekitar apartemen. Dia ingin memanfaatkan waktu luangnya agar lebih dekat dengan putranya. Namun, kini Al dibuat terpaku dengan pertanyaan yang Dika lontarkan.


"Papa, kakek yang kemarin siapa? Kenapa dia jahat sama Papa? Coba saja Dika punya pistol, pasti sudah Dika tembak mereka!" Dengan mulut yang mengunyah permen karet, Dika pun berceloteh.


"Dika, belajar menembak itu hanya untuk bela diri, bukan untuk menembak sembarangan orang." tak urung, Al pun mengingatkan putranya, karena dia khawatir Dika menyalahgunakan kemampuannya


"Mereka itu orang jahat, Pah! Papa Bagas saja sampai berdarah," cicit Dika.


"Sebenarnya Kakek Raka baik kho! Hanya saja, dia sedang khilaf jadi seperti itu," terang Al.


"Masa sih, Pah? Dika gak suka sama Kakek Raka, dia jahat udah nyakitin Papa Bagas." Cebik Dika kesal.


"Oh iya, Dika mau ikut jenguk Papa Bagas, gak?" tanya Al untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin di hati Dika menyimpan dendam buat orang yang telah menyakitinya karena itu hanya akan membuat masalah baru dalam hidupnya. Cukup ikhlaskan dan maafkan karena akan ada tangan Tuhan yang mengadilinya.


"Mau, Pah!" jawab Dika dengan antusias.


"Nanti kita ajak mama juga ya!" ujar Al


"Siap Papa!" Dika memberi hormat pada Al seperti seorang prajurit memberi hormat pada komandannya. Al pun menanggapi dengan apa yang dilakukan putranya, dia memberi hormat kembali pada Dika.


Setelah puas berkeliling taman apartemen, kini dua lelaki tampan berbeda generasi itu kembali ke apartemen untuk membersihkan diri.


Saat sampai di sana, terlihat Icha yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya, dibantu oleh Bi Sari. Sementara Baby Zee terlihat asyik bermain di kereta dorongnya.


"Dede cantik, Abang mandi dulu ya!" pamit Dika saat melihat adiknya sedang sendirian di kereta dorongnya.


Melihat putrinya hanya sendiri, Al pun membawa Zee ke balkon dapur dan mengajak berjemur bersama.


"Zee main sama Papa dulu ya, Sayang! Mama masih sibuk bikin sarapan," ucap Al. Meskipun Al tidak berani menggendong putrinya karena dia belum membersihkan diri setelah berolah raga, papa muda itu terus mengajak berceloteh pada bayi kecil kesayangannya.


Melihat Al yang asyik mengajak Zee bicara, Bi Sari hanya bisa tersenyum bahagia melihat anak asuhnya tidak seperti dulu lagi.


Setelah semuanya terhidang di meja makan, Icha pun menggantikan Al menjaga Zee sedangkan suaminya itu akan membersihkan badannya setelah berolah raga. Sedangkan Dika nampak segar dan wangi karena dia sudah mandi duluan.


"Mama, kata papa mau jenguk Papa Bagas, apa mama mau ikut?" tanya Dika.

__ADS_1


"Ikut sayang, nanti kita beli buah dulu sebelum ke sana," ucap Icha.


"Mama, nanti kalau Dika sudah besar, Dika mau jadi jagoan biar bisa nolongin Mama sama Papa kalau ada orang jahat!" seru Dika dengan berapi-api.


Icha hanya mengaminkan apa yang diinginkan oleh putranya lalu berkata, "Abang, ayo makan dulu! Tuh, papa sudah datang."


Dika pun mengikuti apa yang Icha katakan karena memang dia juga sudah lapar setelah tadi berolahraga bersama papanya.


"Ayo, Bang! Makan yang banyak biar cepat tinggi", ucap Al saat mereka sudah duduk di kursi meja makan.


"Iya, Pah!" Dika langsung duduk di dekat papanya, sedangkan Icha di seberang Dika.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Al membawa Icha dan Dika untuk menjenguk Pak Bagas. Tak ketinggalan juga Bu Mira ikut menengok dengan membawa putranya.


Saat sampai di rumah sakit, terlihat pak Bagas yang sedang diperiksa oleh dokter. Dia ?terlelap tidur sendiri di ruang perawatan membuat Dika langsung menghambur ke pelukannya.


"Papa, cepat sembuh, Pah!" ucap Dika .


"Hati-hati, Nak! Lukanya cukup dalam," ucap Dokter


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Bu Mira.


Perlahan Pak Bagas membuka matanya, menyesuaikan dengan cahaya, terlihat senyum yang terukir di bibirnya saat melihat mantan istri dan putranya ada di samping ranjang.


"Mira, maafkan aku dengan semua kesalahanku! Tolong jaga Barra saat aku tidak bisa bersama kalian lagi!" lirih Pak Bagas.


"Jangan bicara begitu! Kamu pasti baik-baik saja!" tegas Bu Mira.


"Aku sudah tidak kuat, Mira." Pak Bagas pun kembali menutup matanya, membuat Bu Mira menjadi panik takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada mantan suaminya itu.


"Bagas, Bagas bangun, jangan seperti ini! Jangan tinggalkan Barra sendirian, dia masih butuh kamu!" seru Bu Mira panik.


Melihat Bu Mira panik, Icha dan Al yang menunggu di sofa pun mendekat. "Ada apa, Tan?" tanya Icha.


Seolah tidak mendengar apa yang Icha katakan, Bu Mira terus berusaha membangunkan Pak Bagas.

__ADS_1


"Bagas bangun! Aku akan menuruti apa yang kamu inginkan, asalkan kamu bangun! hiks ... hiks...." Bu Mira sangat takut Barra akan kehilangan sosok ayah saat Paka Bagas harus pergi untuk selama-lamanya.


"Tante, apa keinginan terakhir Om Bagas sebelum dia koma?" tanya Icha sok tahu yang mengatakan Pak Bagas Koma.


"Tante tidak tahu, Cha! Hanya saja sebelum kejadian itu, Om kamu meminta rujuk terus sama Tante," terang Bu Mira.


"Kenapa Tante tidak menuruti keinginan Om Bagas? Mungkin dia kehilangan harapan hidup karena terus ditolak oleh Tante," tebak Icha sambil menggendong Barra sedangkan Zee bersama dengan Al.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Icha, Bu Mira pun berpikir membenarkan apa yang Icha katakan. 'Mungkin memang benar, Bagas menyerah dengan sakitnya karena dia merasa hidupnya tidak berarti lagi setelah sering mendapat penolakan dariku. Apa aku harus menerimanya kembali agar Bagas tidak seperti mayat hidup.' pikir Bu Mira.


"Tante, biasanya orang koma itu mendengar apa yang kita katakan. Mungkin kalau Tante bisa jujur dengan perasaan Tante, Om Bagas akan berjuang untuk hidup agar bersama Tante lagi." Icha terus mengompori Bu Mira sehingga Bu Mira pun termakan dengan omongan Icha.


"Apa benar begitu, Cha?"


"Iya, Tan! Coba Tante jujur dengan perasaan Tante pada Om Bagas!" Icha terus mengompori Bu Mira yang terlihat panik sehingga tidak bisa berpikir jernih.


Mendengar apa yang Icha katakan, Bu Mira pun langsung menggenggam tangan Pak Bagas erat. Dia ingin mantan suaminya itu kembali memiliki semangat hidup dan berjuang untuk kesembuhannya.


"Bagas, bangunlah! Aku janji akan memberi kamu kesempatan lagi, asal kamu sembuh! Jangan tinggalkan Barra, dia sangat membutuhkanmu!" lirih Bu Mira.


Bu Mira terus mengoceh mengungkapkan perasaannya pada Pak Bagas, hingga terdengar sebuah suara yang membuatnya begitu senang.


"Apa benar dengan apa yang kamu katakan? Kamu akan memberiku kesempatan lagi?" lirih Pak Bagas.


"Iya, tapi kamu jangan mati dulu! Barra masih membutuhkanmu." Tidak ingin lagi memungkiri perasaannya, Bu Mira pun hanya mengiyakan apa yang Pak Bagas tanyakan.


"Terima kasih, Mira! Aku pasti secepatnya sembuh, agar bisa kembali berkumpul dengan kalian," ungkap Pak Bagas.


Sementara Icha dan Al hanya saling mengode mata dengan senyum mengembang di bibirnya. Akhirnya rencananya berhasil juga untuk menyatukan kembali dua insan yang masih saling mencintai.


Sepertinya Mereka harus berterima kasih pada Kevin dan Oryza, karena mereka yang memberitahu Pak Bagas untuk berpura-pura terluka parah. Meskipun memang benar peluru bersarang di perut Pak Bagas tapi beruntung posisinya tidak terlalu dalam sehingga tidak mengenai organ dalam tubuh Pak Bagas.


"Sayang, sebentar lagi kita akan hajatan!" bisik Al pada Icha.


...*****...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Dengan Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


__ADS_2